Penyuluhan “Pembibitan Tanaman dan Pemanfaatan Biji Buah Karet sebagai Pakan Ikan Alternatif untuk Mendukung Kemandirian Pangan dan Ekonomi di Kelompok Wanita Tani Kemuning”. FOTO: Dok, P3M Polsri)
KINGDOMSRIWIJAYA, Muara Enim – Sumatera Selatan (Sumsel) adalah salah satu daerah produsen karet di Indonesia. Hamparan perkebunan karet ada tersebar di Prabumulih dan Muara Enim. Dari daerah ini setiap tahunnya, ada ribuan ton biji buah karet (Hevea brasiliensis) hanya tergeletak begitu saja di bawah pohon, menjadi limbah yang jarang tersentuh manfaat ekonomis.
Sejak beberapa waktu lalu, pemandangan tersebut perlahan berubah berkat sinergi antara Pertamina EP Prabumulih dan Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri), yang menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning dalam sebuah langkah inovatif berkelanjutan.
Di wilayah Kemuning, Muara Enim, Pertamina dan Polsri baru saja berkolaborasi menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bertajuk “Pembibitan Tanaman dan Pemanfaatan Biji Buah Karet sebagai Pakan Ikan Alternatif untuk Mendukung Kemandirian Pangan dan Ekonomi di Kelompok Wanita Tani Kemuning”. Bayangkan, biji buah karet yang selama ini tersia-siakan kini memberi berkah bagi warga setempat.
Kolaborasi kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan biasa, melainkan jembatan ilmu pengetahuan dari dunia pendidikan dan industri menuju masyarakat, untuk mengubah cara pandang terhadap sumber daya lokal yang melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Tim Polsri dipimpin Martha Aznury, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) beranggotakan Ahmad Zikri, Madyasta Anggana Rarassari, serta tiga mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, Adelia Syarlieta, Hani Maulidiani, dan Saqilla Putri Aulia.
Pada penyuluhan tersebut, Tim Polsri mengungkap potensi tersembunyi biji karet untuk perikanan sebagai angin segar bagi sektor perikanan sekaligus pengelolaan limbah. “Selama ini, biji buah karet sering dianggap tidak memiliki nilai guna setelah getah pohon diambil. Padahal, kajian ilmiah menunjukkan bahwa biji karet menyimpan kandungan protein, serta kadar energi yang cukup tinggi dan bisa menjadi pakan ikan”, kata Martha, Kamis (23/7).
Namun, ada tantangan yang harus dihadapi, biji karet mentah mengandung senyawa antinutrisi seperti asam sianida dan tanin yang dapat menghambat penyerapan nutrisi serta bersifat racun bagi hewan ternak maupun ikan. Melalui kegiatan ini, tim Polsri memperkenalkan solusi sederhana namun efektif untuk mengatasinya, yaitu melalui proses fermentasi, perebusan, atau penjemuran yang tepat guna menurunkan kadar senyawa tersebut hingga tingkat aman, dan bernilai guna sebagai pakan alternatif.

Selama penyuluhan berlangsung, peserta kegiatan menunjukkan antusiasme yang tinggi selama sesi sosialisasi dan diskusi berlangsung. Berbagai pertanyaan mengenai teknik pembibitan, pengelolaan media tanam, proses fermentasi biji karet, hingga formulasi pakan ikan alternatif menjadi topik yang banyak dibahas bersama narasumber.
Kegiatan ini bagi Pertamina dan Polsri tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi sumber daya lokal secara lebih optimal. Melalui penerapan teknologi sederhana dan inovasi berbasis lingkungan, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan sekaligus memperoleh peluang ekonomi tambahan.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pembibitan tanaman dan pemanfaatan biji karet sebagai pakan ikan merupakan contoh inovasi sederhana yang dapat diterapkan secara langsung untuk mendukung kemandirian pangan, meningkatkan produktivitas, serta mengurangi limbah yang belum termanfaatkan”, ujar Kepala P3M Polsri, Martha Aznury.
Pada kesempatan itu Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning juga mendapatkan penyuluhan teknik pembibitan tanaman yang baik dan benar, mulai dari pemilihan benih, persiapan media tanam, penyemaian, hingga perawatan bibit agar menghasilkan tanaman yang sehat dan berkualitas.
Martha Aznury menjelaskan bahwa pembibitan merupakan tahapan penting dalam budidaya tanaman karena menentukan kualitas tanaman pada fase pertumbuhan berikutnya. “Bibit yang sehat dan kuat akan memiliki daya adaptasi yang lebih baik terhadap kondisi lingkungan sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanaman”, katanya.
Tim dari Polsri juga memaparkan bahwa pembibitan adalah fondasi utama dari seluruh keberhasilan budidaya tanaman. Bibit yang baik akan menentukan pertumbuhan tanaman selanjutnya. Mulai dari cara memilih benih yang unggul, menyiapkan media tanam yang kaya nutrisi, teknik penyemaian yang tepat, hingga perawatan rutin untuk mencegah serangan hama dan penyakit—semuanya harus dilakukan dengan standar yang benar.

Potensi Tersembunyi Biji Karet
Jika bagian pembibitan memperkuat sisi pertanian, pemanfaatan biji karet menjadi angin segar bagi sektor perikanan sekaligus pengelolaan limbah. Selama ini, biji buah karet sering dianggap tidak memiliki nilai guna setelah getah pohon diambil. Padahal, kajian ilmiah menunjukkan bahwa biji karet menyimpan kandungan protein berkisar sampai 25 persen, serta kadar energi yang cukup tinggi—komposisi yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ikan.
Sementara bagi warga yang memelihara ikan, biaya pakan yang merupakan komponen terbesar dalam budidaya ikan, dengan pemanfaatan biji karet maka biaya pakan bisa ditekan, sehingga keuntungan peternak ikan menjadi lebih besar.
Sementara bagi lingkungan dengan pemanfaat biji karet sebagai pakan alternatif juga memiliki dampak lingkungan yang positif. Selama ini, biji yang menumpuk di lantai perkebunan dapat membusuk dan memicu pertumbuhan jamur atau hama tanaman. Dengan mengambil biji tersebut untuk diolah, kita sekaligus membersihkan area perkebunan dan mengubah limbah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Sustainable Development Goals
Kolaborasi antara Pertamina EP Prabumulih dan Polri menjadi bukti nyata bahwa industri dan perguruan tinggi memiliki peran besar dalam memajukan kesejahteraan masyarakat. Melalui program tanggung jawab sosial dan pengabdian masyarakat, kedua belah pihak berkomitmen menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Program ini juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain: menghilangkan kelaparan dan menjamin ketahanan pangan (SDG 2), menjamin pendidikan yang berkualitas sepanjang hayat (SDG 4), mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pekerjaan yang layak (SDG 8), serta melestarikan dan memanfaatkan ekosistem darat secara berkelanjutan (SDG 15).
Dengan adanya inovasi pemanfaatan biji karet ini, diharapkan akan lahir peluang usaha baru bagi masyarakat—mulai dari pengumpulan biji, pengolahan, hingga pemasaran pakan ikan olahan lokal. Sumber daya alam yang selama ini terabaikan kini berubah menjadi berkah yang memberi manfaat ganda: menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengangkat taraf ekonomi masyarakat setempat. (maspril aries)






