Kegiatan eksploitasi batu bara di tambang Tanjung Enim, Sumatera Selatan. (FOTO: Humas PTBA)
KINGDOMSRIWIJAYA, Jakarta – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) pada paruh pertama tahun 2026 bisnisnya terus melaju di tengah dinamika pasar energi global yang terus berubah. Anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID ini tampil semakin tangguh dan penuh keyakinan.
Pada awal pekan ini BUMN yang berkantor pusat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) ini resmi merilis laporan kinerja keuangan konsolidasian untuk periode enam bulan pertama yang berakhir pada 30 Juni 2026, yang memukau segenap pemangku kepentingan dengan pertumbuhan laba yang luar biasa tinggi, disertai penguatan fundamental bisnis dan langkah strategis menuju masa depan energi yang berkelanjutan.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari dalam webinar Public Expose Live 2026 di Jakarta, Senin (7/9) menjelaskan, prestasi paling mencolok dari kinerja Semester I 2026 PTBA terletak pada lonjakan profitabilitas yang sangat signifikan. “Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, naik 8 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Namun yang lebih mengesankan, laba bersih PTBA melonjak tajam menjadi Rp2,65 triliun, atau naik sebesar 218 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini membuktikan kemampuan perseroan dalam mengelola bisnis secara efisien dan memanfaatkan peluang pasar dengan sangat baik”, katanya.
Kinerja gemilang PTBA ini didukung oleh pemulihan operasional yang kuat pada kuartal kedua, pertumbuhan penjualan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara yang cukup berarti. Secara operasional, PTBA mencatat produksi batu bara sebesar 19,45 juta ton dan penjualan mencapai 21,10 juta ton.
Komposisi penjualan terbagi hampir seimbang antara pasar ekspor dan domestik, yang menunjukkan kekuatan perseroan dalam melayani kebutuhan dalam negeri sekaligus memperluas jangkauan ke pasar internasional. Penjualan ekspor perseroan mencapai 10,33 juta ton, meningkat sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Negara-negara tujuan ekspor terbesar PTBA meliputi Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Ini menunjukkan kepercayaan pasar Asia terhadap kualitas batu bara serta layanan perseroan tetap terjaga dengan baik. Sementara itu, penjualan domestik tercatat sebesar 10,77 juta ton atau setara dengan 51 persen dari total penjualan, menegaskan komitmen PTBA dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional.

Menurut Una, kenaikan harga batu bara di pasar global turut memberikan kontribusi positif yang nyata. Pada Semester I 2026, Newcastle Index — acuan harga batu bara internasional — naik 25 persen yoy, sementara Indeks Harga Batu Bara Indonesia (ICI-3) juga naik 15 persen yoy. Kondisi ini mendorong kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) PTBA sebesar 10 persen yoy, yang secara langsung berperan besar dalam meningkatkan pendapatan dan tingkat keuntungan perseroan di tengah fluktuasi volume produksi dan penjualan.
Pemulihan Kinerja dan Strategi Adaptif
Sementara itu Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian tersebut, sekaligus menegaskan bahwa hasil ini menjadi fondasi yang kokoh bagi perseroan untuk melanjutkan pertumbuhan ke depan melalui penguatan bisnis inti serta pengembangan sumber-sumber pertumbuhan baru.
“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan. Momentum penguatan harga batu bara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya”, kata Bambang seraya menjelaskan faktor-faktor keberhasilan yang diraih sepanjang semester pertama tahun ini.
PTBA menyadari bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan tak lepas dari ketersediaan infrastruktur yang memadai dan efisien. Oleh karena itu, perseroan terus melanjutkan upaya pengembangan infrastruktur pertambangan dan logistik guna memperkuat bisnis inti. Salah satu proyek strategis unggulan yang sedang digarap adalah jalur angkutan batu bara Tanjung Enim–Kramasan di Sumsel, yang bertujuan meningkatkan kapasitas angkutan serta memperkuat sistem logistik dan distribusi batu bara secara menyeluruh.
Hingga akhir Semester I 2026, progres pembangunan proyek jalur strategis tersebut telah mencapai sekitar 93 persen. PTBA juga telah memperoleh komitmen pendanaan melalui penandatanganan Lembar Syarat Pembiayaan (Term Sheet) dengan bank-bank milik negara (Himbara) untuk Fasilitas Pinjaman Jangka Panjang hingga senilai Rp3,56 triliun. Langkah ini memastikan kelancaran pembiayaan proyek agar dapat diselesaikan tepat waktu dan segera beroperasi.
Selain itu, PTBA juga mempercepat realisasi pembangunan fasilitas Penanganan Batu Bara atau Coal Handling Facility (CHF) dan Stasiun Pemuatan Kereta Api atau Train Loading Station (TLS) jalur 6–7 pada jalur angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan. Pengembangan infrastruktur ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas angkutan dan pemuatan batu bara, serta mendorong efisiensi rantai pasok secara menyeluruh.

“Penguatan infrastruktur merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis. Kami terus mempercepat pengembangan proyek Tanjung Enim–Kramasan serta fasilitas CHF dan TLS 6–7 agar sistem logistik batu bara semakin terintegrasi dan mampu mendukung kebutuhan pelanggan secara optimal”, ujar Bambang yang menegaskan pentingnya fondasi infrastruktur yang kuat.
Sejalan dengan arah transformasi bisnis nasional, BUMN PTBA juga terus mendorong program hilirisasi dan diversifikasi usaha. Tujuannya jelas: meningkatkan nilai tambah dari sumber daya yang dikelola, sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru yang tidak hanya bergantung pada harga batu bara mentah.
Dalam bisnis hilirisasi, PTBA bersama mitra strategis terus mengeksplorasi pengembangan bahan bakar alternatif Dimethyl Ether (DME) dan Metanol, mencakup kajian aspek teknologi, kelayakan keekonomian, hingga skema bisnis yang paling tepat. Tak hanya itu, perseroan juga tengah mengembangkan produk unggulan hasil olahan batu bara bernama Kalium Humat – produk yang berpotensi besar mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian di Indonesia. Saat ini, pabrik percontohan atau pabrik uji coba Kalium Humat telah memiliki kapasitas sekitar 171 ton per tahun, dengan target pengembangan hingga 10.000 ton per tahun pada tahap selanjutnya agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
“Hilirisasi menjadi salah satu fokus utama kami untuk menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar. Kami melihat potensi yang sangat luas dari kekayaan sumber daya yang dimiliki PTBA untuk dikembangkan menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi, mulai dari DME, Metanol, hingga Kalium Humat”, ujar Bambang yang didampingi direksi PTBA.
Energi Terbarukan
Menghadapi perubahan lanskap energi dunia yang semakin beralih ke energi bersih, PTBA juga memperluas portofolio bisnis ke sektor energi terbarukan. Salah satu langkah nyata adalah kerja sama yang sedang dibangun dengan PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk menjajaki pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), terutama di lahan bekas tambang dan area sekitar wilayah operasional perseroan.

Pengembangan PLTS ini dirancang dengan memanfaatkan berbagai potensi aset dan lokasi yang dimiliki perseroan, termasuk pemanfaatan lahan bekas tambang yang telah melalui proses reklamasi, yang merupakan sebuah langkah cerdas yang sekaligus mendukung pemulihan lingkungan dan pemanfaatan lahan secara optimal. Hingga saat ini, total kapasitas portofolio PLTS yang telah dimiliki PTBA mencapai sekitar 1,2 MegaWatt Puncak (MWp).
Kerja sama PTBA dengan anak perusahaan Pertamina ini menjadi bagian dari strategi besar perseroan dalam mengoptimalkan aset yang dimiliki, memperkuat portofolio energi hijau, mendorong percepatan transisi energi nasional, sekaligus menciptakan sumber-sumber pertumbuhan bisnis baru.
Dalam menyongson masa depan, PTBA menegaskan akan terus mengidentifikasi berbagai proyek potensial yang menjanjikan di bidang hilirisasi, energi terbarukan, optimalisasi aset dan pemanfaatan lahan pascatambang, serta bidang-bidang bisnis potensial lainnya. Setiap rencana pengembangan proyek akan dikaji secara mendalam dan selektif, dengan mempertimbangkan aspek kelayakan ekonomi, kesiapan teknologi yang digunakan, kepastian pasar, besaran kebutuhan investasi, serta potensi sinergi yang dapat dibangun dengan bisnis inti perseroan.
Bambang menyatakan, bahwa bisnis batu bara tetap menjadi kekuatan utama dan penopang kinerja PTBA untuk saat ini. Di saat yang sama, perseroan juga tak tinggal diam dan terus mempersiapkan diri menghadapi perubahan lanskap energi serta industri yang terus berubah, dengan cara membangun dan mengembangkan portofolio bisnis yang semakin beragam. Seluruh langkah tersebut tetap dilandasi prinsip kehati-hatian serta komitmen untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.
“Prinsip dasar yang selalu kami pegang adalah membangun bisnis yang sehat, memiliki prospek jangka panjang, dan memberikan manfaat serta nilai tambah, baik bagi para pemegang saham maupun segenap pemangku kepentingan. Dengan terus memperkuat bisnis inti sekaligus mengembangkan bisnis-bisnis baru yang prospektif, kami tetap optimis PTBA dapat terus tumbuh berkelanjutan serta memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan energi dan kemajuan perekonomian nasional”, ujar Bambang.
Dengan kinerja keuangan yang semakin kokoh, fondasi infrastruktur yang semakin kuat, serta visi transformasi yang jelas menuju hilirisasi dan energi terbarukan, PT Bukit Asam tampak siap melangkah lebih jauh — tidak hanya sebagai pemain batu bara yang andal, tetapi juga sebagai pelopor transformasi energi Indonesia yang berkelanjutan. (maspril aries)





