Catatan YURNALDI (Sastrawan dan Juri Menulis Cerita/Cerpen Tingkat SMP Kota Padang)
KINGDOMSRIWIJAYA — Hanya 17 dari 45 SMP di Kota Padang yang mengirim peserta dalam lomba bercerita/cerpen (cerita pendek). Angka itu tampak sederhana. Namun di baliknya, tersembunyi sebuah alarm besar tentang wajah literasi kita hari ini.
Itu bukan sekadar soal lomba yang sepi peserta. Itu pertanda bahwa sebagian sekolah belum menjadikan literasi sebagai denyut kebudayaan pendidikan. Lebih menyedihkan lagi, sastra—yang seharusnya menjadi ruang tumbuh empati, imajinasi, dan kepekaan—perlahan dianggap tidak penting.
Alasan yang muncul pun klasik: tidak ada guru pembina, guru kurang menyukai sastra, dan sekolah lebih fokus pada bidang yang dianggap “bergengsi” dan menghasilkan medali cepat. Akibatnya, anak-anak yang sebenarnya memiliki bakat menulis, bercerita, membaca puisi, atau mengarang, tumbuh tanpa panggung dan tanpa pendamping.
Padahal, sejarah bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang kuat literasinya. Para pendiri republik adalah pembaca tekun, penulis tajam, dan pencinta gagasan. Mereka memahami bahwa kata-kata mampu menggerakkan masyarakat lebih kuat daripada sekadar kekuasaan.
Hari ini, kita justru menghadapi generasi yang semakin dekat dengan gawai, tetapi semakin jauh dari kedalaman berpikir. Anak-anak mampu membuat video pendek berjam-jam, tetapi kesulitan menulis satu halaman cerita yang utuh. Mereka cepat bereaksi, tetapi lambat merenung. Dan sekolah, sayangnya, kadang ikut menyerah pada keadaan itu.
Sastra dianggap pelengkap. Literasi hanya dijadikan slogan di spanduk dan sudut baca yang jarang disentuh. Program membaca hadir saat lomba tiba, lalu hilang kembali setelah seremoni selesai.
Masalah utamanya memang bukan pada siswa. Anak-anak pada dasarnya menyukai cerita. Mereka menyukai dongeng, kisah petualangan, humor, drama, dan imajinasi. Masalahnya adalah: siapa yang menyalakan api itu di sekolah?
Banyak guru bahasa Indonesia sendiri tumbuh dalam sistem pendidikan yang terlalu administratif dan miskin apresiasi sastra. Mereka dibebani target kurikulum, laporan, asesmen, dan pekerjaan birokrasi yang melelahkan. Akibatnya, sastra diajarkan sebatas teori: mencari unsur intrinsik, menentukan amanat, menghitung jumlah tokoh. Sastra kehilangan ruhnya sebagai pengalaman batin.
Anak-anak akhirnya mengenal sastra sebagai tugas, bukan kegembiraan.
Karena itu, solusi persoalan ini tidak cukup hanya dengan mengadakan lomba tahunan. Yang dibutuhkan adalah membangun ekosistem literasi yang hidup di sekolah.

Pertama, pemerintah daerah dan dinas pendidikan harus mulai serius menyiapkan guru pembina literasi dan sastra. Tidak semua guru harus menjadi sastrawan, tetapi setiap sekolah minimal memiliki satu guru yang diberi ruang, pelatihan, dan penghargaan untuk mengembangkan kegiatan literasi. Guru pembina jangan hanya ada untuk Olimpiade Sains atau olahraga. Sastra pun memerlukan pelatih dan pendamping.
Kedua, sekolah perlu mengubah cara pandang terhadap prestasi. Selama ini, prestasi sering diukur dari medali akademik dan angka-angka kompetitif. Padahal, kemampuan menulis dan bercerita adalah keterampilan masa depan. Dunia modern membutuhkan manusia yang mampu berpikir, menyampaikan gagasan, dan memahami emosi orang lain. Semua itu tumbuh dari literasi.
Ketiga, kegiatan sastra harus dibuat menyenangkan dan dekat dengan kehidupan siswa. Jangan mulai dari teori yang berat. Mulailah dari cerita tentang keluarga, sekolah, persahabatan, kampung halaman, atau pengalaman sehari-hari. Biarkan siswa merasa bahwa menulis adalah cara memahami dirinya sendiri.
Keempat, sekolah perlu menghadirkan penulis, wartawan, pegiat literasi, dan sastrawan ke ruang-ruang kelas. Anak-anak membutuhkan figur nyata yang memperlihatkan bahwa menulis bukan pekerjaan sia-sia. Kadang satu pertemuan dengan penulis mampu mengubah keberanian seorang anak untuk mulai berkarya.
Kelima, kepala sekolah memegang peran penting. Jika pimpinan sekolah menganggap literasi penting, budaya membaca akan hidup. Tetapi jika literasi hanya dianggap kegiatan tambahan tanpa nilai strategis, maka perpustakaan akan terus sepi dan lomba sastra akan terus kekurangan peserta.
Kita sesungguhnya sedang menghadapi pertarungan yang lebih besar daripada sekadar lomba cerpen. Ini adalah pertarungan mempertahankan daya pikir generasi muda di tengah banjir informasi instan.
Anak yang terbiasa membaca dan menulis biasanya lebih mampu berpikir runtut, memahami perbedaan, serta tidak mudah terseret kebencian dan hoaks. Sastra melatih manusia menjadi lebih halus dalam memandang kehidupan. Dan bangsa yang kehilangan tradisi literasinya perlahan akan kehilangan kedalaman peradabannya.
Karena itu, rendahnya partisipasi sekolah dalam lomba bercerita dan cerpen seharusnya tidak dipandang sebagai angka statistik biasa. Ia adalah cermin bahwa sebagian sekolah belum benar-benar menghadirkan literasi sebagai jantung pendidikan.
Kita tentu berharap, ke depan lebih banyak sekolah berani mengirim peserta, bukan semata mengejar juara, tetapi karena mereka percaya bahwa anak-anak perlu diberi ruang untuk berpikir, berimajinasi, dan menulis tentang dunia mereka.
Sebab dari sebuah cerita sederhana yang ditulis anak sekolah hari ini, bisa lahir penulis besar, pemikir besar, bahkan pemimpin besar di masa depan.
Padang-Payakumbuh, 15/5/2026





