Home / Budaya / Jejak yang Berjalan ke Timur (Bagian 2)

Jejak yang Berjalan ke Timur (Bagian 2)

Cerpen Oleh: AI

Empat Puluh Tujuh Menit

Pagi 11 Juli 1948 dimulai dengan kabut tipis yang menyelimuti lembah. Matahari terbit perlahan, seperti enggan menyaksikan apa yang akan terjadi. Di al-Ludd, Tariq sedang menyiapkan kelas. Ia menulis di papan tulis: Al-Watan la yuḥtam. Tanah air tidak bisa dikompromikan. Ia belum selesai ketika suara pertama terdengar.

Bukan suara ayam jantan. Bukan suara pasar. Tapi deru mesin. Suara ban besi yang menghantam tanah kering. Suara yang asing, keras, dan penuh ancaman.

Tariq keluar. Di perbukitan sebelah timur, ia melihat asap. Kemudian, kilatan. Kemudian, teriakan.

Serangan dimulai tepat pukul 11.07.

Tentara Israel, didukung batalion yang dipimpin perwira berpengalaman, bergerak dari tiga arah. Kendaraan lapis baja dengan kanon kecil memimpin. Di belakangnya, infanteri berlari dalam formasi. Di antara mereka, ada wajah-wajah yang pernah bermain bola di alun-alun al-Ludd. Ada mata yang pernah minum dari air mancur yang sama. Ada tangan yang pernah memegang buku yang sama.

Milisi Arab mencoba bertahan. Mereka menembak dari balik dinding rumah, dari atap masjid kecil, dari balik pohon zaitun. Tapi mereka kalah dalam segala hal, jumlah, senjata, pelatihan, koordinasi. Dalam 47 menit, perlawanan utama runtuh. Tapi 47 menit itu adalah 47 menit yang abadi dalam ingatan manusia.

Tariq berlari ke pasar. Ia meneriakkan nama-nama. Ia menyuruh perempuan dan anak-anak masuk ke dalam. Ia mengambil senapan tua yang hanya berisi tiga peluru. Ia tidak tahu cara menembak dengan baik. Tapi ia tahu cara berdiri. Ia tahu cara tidak lari ketika orang lain membutuhkan perlindungan.

Sebuah granat meledak di dekat toko roti. Debu terbang. Suara teriakan pecah seperti kaca. Tariq melihat seorang perempuan tua terbaring di tanah, tangan masih menggenggang roti yang baru dipanggang. Matanya terbuka, menatap langit yang tiba-tiba terasa sangat jauh.

“Tidak”, bisik Tariq. “Tidak seperti ini”.

Di sisi lain kota, Avram berada di garis depan. Ia memegang senapan. Jantungnya berdebar seperti drum perang. Ia melihat rumah-rumah yang ia kenal. Ia melihat halaman tempat ia pernah meminjam buku. Ia melihat air mancur yang kini retak dan kering. Ia merasa mual.

“Maju!” teriak komandannya. “Rebut posisi kunci!”

Avram berlari. Kakinya terasa seperti bukan miliknya. Pikirannya terbagi dua: satu bagian mengikuti perintah, satu bagian berteriak dalam diam. Ia melihat seorang pemuda Arab keluar dari balik pintu, mengangkat tangan kosong. Bukan senjata. Tangan kosong. Tanda menyerah? Atau tanda minta ampun?

Avram tidak menembak. Ia berbelok, bersembunyi di balik tembok yang runtuh. Napasnya tersengal. Di telinganya, suara ledakan, teriakan, tangisan, dan komando bercampur menjadi satu simfoni kehancuran.

“Ini bukan yang diajarkan Lehmann”, gumamnya. “Ini bukan yang dijanjikan tanah ini”.

Tapi sejarah tidak menunggu jawaban. Ia terus berjalan. Posisi kunci kota jatuh. Tentara Israel menguasai pusat al-Ludd. Ribuan penduduk Palestina dipaksa berkumpul di masjid besar. Pintu-pintu dikunci dari luar. Panas meningkat. Air habis. Anak-anak menangis. Perempuan tua berdoa. Laki-laki menatap dinding, menatap langit, menatap nasib yang tiba-tiba menjadi asing.

Di dekat masjid kecil, sekelompok pemuda Arab mencoba perlawanan terakhir. Mereka menembak dari jarak dekat. Peluru mengenai perisai kendaraan lapis baja. Tidak mempan. Tapi cukup memicu kemarahan.

Balasan datang tanpa peringatan.

Granat dilontarkan ke rumah-rumah. Peluru antitank menghantam dinding masjid kecil. Atap runtuh. Dinding retak. Asap hitam membumbung. Dalam 30 menit, dua ratus lima puluh orang tewas. Bukan prajurit. Bukan pejuang. Tapi perempuan yang sedang memasak. Orang tua yang sedang duduk di teras. Anak-anak yang sedang bermain di halaman. Manusia yang hanya punya satu dosa, hadir di tempat yang salah, pada waktu yang salah, dengan identitas yang salah.


“Zionisme telah melakukan pembantaian di al-Ludd,” tulis seorang sejarawan kelak. Tapi pada hari itu, tidak ada yang menulis. Hanya darah yang mengalir. Hanya debu yang menyerapnya. Hanya langit yang menutup mata.

Tariq berhasil keluar dari masjid melalui lubang di dinding belakang. Ia berlari ke rumahnya. Ia membuka peti yang ia kubur. Ia mengeluarkan dokumen, foto, buku. Ia memasukkannya ke dalam tas kain. Ia menoleh ke kamar. Umm Nour terbaring di tempat tidur, wajah pucat, tangan meraba perut.

“Tariq… anak kita…”.

“Ia akan lahir di dunia yang masih punya tempat untuk kita”, jawab Tariq, meski ia tahu itu kebohongan yang ia butuhkan untuk tetap berdiri.

Ia membantu Umm Nour berjalan. Mereka keluar melalui jendela belakang.

Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/733440/jejak-yang-berjalan-ke-timur-bagian-1/

Di jalanan, mereka melihat pemandangan yang akan menghantui mimpi mereka selamanya, barisan manusia. Tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak. Memanggul barang seadanya. Beberapa membawa hanya sepotong roti. Beberapa hanya membawa foto keluarga. Beberapa tidak membawa apa-apa kecuali tubuh yang lelah dan mata yang kosong.

Mereka berjalan ke timur. Menuju padang yang kering. Menuju ketidakpastian. Menuju pengasingan yang tidak tahu kapan berakhir.

Tariq dan Umm Nour bergabung dengan barisan. Tidak ada pilihan. Hanya langkah. Langkah demi langkah. Napas demi napas. Doa demi doa.

Di garis depan, Avram menurunkan senapannya. Ia melihat barisan itu. Ia melihat wajah-wajah yang ia kenal. Ia melihat anak kecil yang pernah ia ajak bermain bola, kini berjalan dengan kaki telanjang yang berdarah. Ia melihat perempuan yang pernah memberinya kurma, kini menunduk, bungkuk oleh beban yang bukan miliknya.

Ia merasa sesuatu di dalam dadanya pecah. Bukan tulang. Bukan otot. Tapi sesuatu yang lebih dalam, keyakinan bahwa dunia ini adil, bahwa sejarah punya arah, bahwa kemanusiaan bisa bertahan di tengah mesin perang.

“Dokter Lehmann benar”, bisiknya. “Kita kehilangan mata kita”.

Seorang perwira mendekati. “Mengapa senapanmu turun?”

Avram tidak menjawab. Ia hanya menatap barisan yang berjalan ke timur. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menghentikan ini. Ia tahu bahwa ia adalah bagian dari ini. Ia tahu bahwa ia akan hidup dengan ini. Selamanya.

Jalan ke Timur

Malam turun perlahan, seperti selimut berat yang menutupi kota yang telah kehilangan nyawanya. Tapi barisan tidak berhenti. Ia terus bergerak. Langkah demi langkah. Kaki demi kaki. Air mata yang mengering di pipi, tapi tidak di hati.

Di depan, padang kering membentang. Tanah retak. Batu-batu kecil menggores telapak kaki. Angin membawa debu yang masuk ke mulut, ke hidung, ke mata. Tidak ada air. Tidak ada naungan. Hanya matahari yang baru saja pergi, dan bulan yang enggan menyorot jalan ini.

Mula Cohen, seorang prajurit dari Ben Shemen, berdiri di pos pemeriksaan sementara. Ia ditugasi memastikan tidak ada yang kembali. Tidak ada yang berbalik. Tidak ada yang mencoba menyembunyikan diri di reruntuhan. Ia melihat barisan itu dengan mata yang tidak bisa berkedip.

Ia ingat Lehmann. Ingat kuliah-kuliah tentang humanisme. Ingat janji bahwa mereka datang untuk membangun, bukan menghancurkan. Tapi realitas di hadapannya adalah pengusiran massal. Tiga puluh lima ribu orang. Dipaksa keluar dari rumah, dari tanah, dari sejarah. Hanya karena mereka bukan “kami”. Hanya karena label yang berbeda. Hanya karena ketakutan yang dipupuk menjadi kebijakan.

Seorang laki-laki tua berhenti di dekat pos. Ia meletakkan tas kainnya di tanah. Ia membuka. Keluar beberapa buku, sebuah jam saku, seikat surat yang diikat pita. Ia menatap barang-barang itu lama. Lalu, dengan tangan gemetar, ia meninggalkan semuanya. Ia tidak bisa membawa semuanya. Tidak mungkin. Pengasingan mengajarkan pelajaran pertama dengan kejam, kau harus memilih apa yang benar-benar penting. Dan kadang, yang penting tidak bisa dibawa.

Cohen menatap punggung laki-laki itu yang terus berjalan. Ia merasa sesuatu menekan di dada. Bukan nyeri fisik. Tapi beban moral yang tak terukur. Ia menyaksikan pembunuhan. Ia menyaksikan penjarahan. Ia menyaksikan rasa marah yang berubah menjadi dendam, dan dendam yang berubah menjadi kebijakan. Ia menyaksikan “pendidikan humanis” yang ia terima di Ben Shemen runtuh seperti rumah kartu di hadapan angin sejarah.

“Aku tidak merasa bersalah”, katanya pada diri sendiri, tapi suara itu terdengar seperti pertanyaan. “Aku hanya melaksanakan perintah. Perang tidak manusiawi. Tapi perang memecahkan soal-soal yang tak terpecahkan di masa damai”.


Kata-kata itu terdengar familiar. Ia pernah mendengarnya dari atasan. Dari buku. Dari narasi yang membenarkan kekerasan sebagai alat penciptaan. Tapi di hadapan barisan yang berjalan ke timur, kata-kata itu terdengar kosong. Seperti gema di gua yang tidak punya dasar.

Ia tahu bahwa tanpa ini, Negara Israel mungkin tidak akan berdiri. Ia tahu bahwa tanpa pengusiran, tanpa pembersihan, tanpa kekerasan terstruktur, mimpi itu akan tetap mimpi. Tapi ia juga tahu bahwa mimpi yang dibangun di atas reruntuhan manusia akan selalu dihantui oleh hantu-hantu yang tak bisa dikubur.

“Bagaimana kita akan mengajar anak-anak kita tentang hari ini?” gumamnya. “Akan kita katakan bahwa kita melakukan ini untuk kelangsungan hidup? Atau akan kita akui bahwa kita kehilangan kemanusiaan kita untuk mendapatkannya?”

Tidak ada jawaban. Hanya langkah kaki yang terus bergerak ke timur.

Di antara barisan itu, Tariq berjalan dengan Umm Nour di sampingnya. Istrinya semakin lemah. Kontraksi mulai datang. Tapi tidak ada bidan. Tidak ada tempat bersih. Hanya tanah dan langit.

“Tariq… aku tidak kuat…”

“Bertahanlah, Umm. Anak kita harus melihat cahaya.”

“Cahaya apa, Tariq? Di sini hanya gelap.”

“Gelap bukan akhir. Ia hanya jeda sebelum fajar.”

Tapi Tariq tahu bahwa fajar mungkin tidak datang untuk mereka. Mungkin tidak dalam hidup mereka. Mungkin hanya dalam ingatan. Mungkin hanya dalam janji yang diwariskan.

Nour lahir di tengah padang, di bawah bulan yang dingin, di atas kain yang direntangkan di tanah retak. Tariq memotong tali pusat dengan pisau kecil. Ia membungkus bayi itu dengan selendang usang. Ia menatap wajahnya yang merah, matanya yang tertutup, napasnya yang lemah.

“Selamat datang, Nour,” bisiknya. “Di dunia yang mengusirmu sebelum kau sempat mengenalnya”.

Umm Nour tersenyum lemah. “Ia akan kuat. Seperti tanah ini. Seperti akar zaitun.”

Tapi tanah ini tidak lagi milik mereka. Akar zaitun telah dicabut. Dan mereka hanya punya langkah yang terus bergerak ke timur.

Di belakang, al-Ludd menjadi sunyi. Rumah-rumah kosong. Pasar sepi. Air mancur kering. Masjid besar berdiri seperti makam yang belum selesai. Ben Shemen masih ada, tapi Lehmann telah pergi. Ia meninggalkan desa itu dengan hati yang hancur, dengan keyakinan bahwa ia telah gagal. Ia tahu bahwa anak-anak yang ia besarkan akan tumbuh menjadi prajurit, bukan petani. Akan memegang senapan, bukan cangkul. Akan melihat musuh di seberang perbatasan, bukan saudara di seberang jalan.

“Kita datang sebagai yang kehilangan rumah”, katanya pada asisten yang menangis di sampingnya. “Dan kita berakhir sebagai yang mengusir yang kehilangan rumah. Lingkaran setan yang tidak akan pernah selesai jika kita tidak berani memutusnya”.

Tapi sejarah tidak mendengarkan permohonan. Ia hanya mencatat. Hanya menghakimi. Hanya menunggu generasi berikutnya untuk mengulang atau menolak.

Jejak yang Tak Berhenti

Tahun-tahun berlalu seperti air yang mengalir di sungai kering. 1950. 1967. 1987. 2000. 2014. Dan seterusnya.

Al-Ludd menjadi Lod. Nama yang berbeda, tapi luka yang sama. Rumah-rumah Arab direnovasi, dijual, dihuni oleh keluarga baru yang tidak tahu bahwa di bawah lantai kayu itu, masih ada jejak kaki yang pernah berjalan pergi. Pohon-pohon zaitun yang punah diganti dengan pinus dan ekaliptus. Air mancur yang pernah menjadi simbol kebersamaan kini hanya foto di museum lokal. Masjid besar tetap berdiri, tapi dikelilingi pagar dan kamera pengawas.

Tapi ingatan tidak bisa dipagari. Ia tidak bisa dihapus dengan cat baru atau jalan aspal. Ia hidup dalam mimpi. Dalam lagu-lagu yang dinyanyikan di pengungsian. Dalam peta-peta yang digambar oleh anak-anak yang tidak pernah melihat rumah leluhur mereka. Dalam nama-nama yang diucapkan dengan rindu: al-Ludd. al-Ludd. al-Ludd.

Tariq tidak pernah kembali. Ia meninggal di kamp pengungsi di Yordania pada 1972, dengan tas kain yang masih menyimpan dokumen, foto, dan buku puisi. Umm Nour meninggal tiga tahun kemudian, tangan masih menggenggam selendang yang pernah membungkus Nour. Nour tumbuh menjadi perempuan yang mengajar sejarah di sekolah kamp. Ia tidak mengajar versi yang resmi. Ia mengajar versi yang hidup. Versi yang mengatakan: “Kita diusir bukan karena kita salah. Kita diusir karena kami takut. Dan ketakutan, ketika dijadikan kebijakan, menjadi kejahatan”.

Nour memiliki seorang putra, Khalil. Khalil memiliki seorang putri, Layla. Layla lahir di Gaza, di tengah blokade, di tengah serangan udara, di tengah dunia yang sering menutup mata. Tapi ia tumbuh dengan cerita. Cerita tentang pohon zaitun. Cerita tentang air mancur. Cerita tentang barisan yang berjalan ke timur. Cerita tentang guru yang tidak mau lupa. Cerita tentang tanah yang tidak pernah menyerah.


Di sisi lain perbatasan, Avram menua. Ia tidak pernah menikah. Ia menghabiskan hidupnya di perpustakaan, menulis surat yang tidak pernah dikirim, mengunjungi bekas lokasi Ben Shemen yang kini menjadi sekolah pertanian modern. Ia tidak menyesal menjadi Yahudi. Ia tidak menyesal ingin bangsa selamat. Tapi ia menyesal pada cara. Ia menyesal pada keheningannya. Ia menyesal pada pilihan yang ia anggap satu-satunya, padahal sejarah selalu punya cabang yang tidak diambil.

“Kita bisa memilih”, katanya pada seorang mahasiswa yang mewawancarainya pada 2014. “Bahkan di tengah perang. Bahkan di tengah ketakutan. Bahkan di tengah perintah. Selalu ada pilihan untuk melihat wajah manusia. Selalu ada pilihan untuk menolak menjadi mesin. Selalu ada pilihan untuk mengatakan: ini cukup”.

Tapi pilihan itu mahal. Dan sejarah jarang menghargai yang memilih jalan yang sulit.

Mula Cohen meninggal pada 1990. Di ranjang kematiannya, ia berkata pada putranya, “Jangan pernah percaya pada narasi yang mengatakan bahwa kekerasan adalah satu-satunya jalan. Karena sekali kau percaya itu, kau kehilangan kemampuan untuk membayangkan dunia yang lebih baik”.

Lehmann tidak pernah kembali ke Palestina. Tapi namanya tetap diucapkan di kalangan yang percaya bahwa kemanusiaan tidak boleh dikorbankan untuk ideologi. Kliniknya di al-Ludd menjadi cerita. Desanya menjadi legenda. Tapi prinsipnya tetap hidup, tumbuh berarti berbagi akar.

Dan akar tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu musim yang tepat.

Pada suatu hari di 2023, Layla, cucu Nour, berdiri di perbatasan Gaza. Ia tidak membawa senjata. Ia membawa buku. Buku puisi. Buku sejarah. Buku yang berisi nama-nama yang hilang. Ia membacakannya dengan suara lantang. Angin membawa kata-katanya ke luar. Ke dunia yang sering tuli. Tapi beberapa orang mendengar. Beberapa orang mencatat. Beberapa orang bertanya, mengapa sejarah ini masih berulang? Mengapa al-Ludd masih terjadi di tempat lain, dengan nama lain, dengan wajah yang sama?

Jawabannya tidak sederhana. Tapi pertanyaannya harus tetap hidup. Karena selama pertanyaan itu hidup, selama ingatan itu tidak dikubur, selama kemanusiaan masih diakui sebagai ukuran tertinggi, maka jejak yang berjalan ke timur tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan berubah menjadi suara. Menjadi tuntutan. Menjadi janji bahwa kesewenang-wenangan tidak boleh terjadi lagi.

Sejarah memang tidak menjanjikan penutup yang bahagia untuk semua. Ia tidak memberi happy ending yang abadi. Tapi sejarah juga terdiri atas tindakan yang tak henti-hentinya membangkang. Menuntut. Mengingat. Menolak lupa. Menolak menyerah pada narasi yang membenarkan pengusiran sebagai takdir.

Dan di bawah langit yang sama, di lembah yang sama, di tanah yang sama, akar-akar zaitun yang pernah dicabut masih menyimpan memori. Mereka menunggu. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk pengakuan. Untuk kebenaran. Untuk dunia yang berani berkata: cukup.

Jejak itu masih berjalan ke timur. Tapi kini, ia tidak lagi hanya membawa pengusiran. Ia membawa ingatan. Ia membawa harapan. Ia membawa janji bahwa kemanusiaan, meski sering dikorbankan, tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu kita untuk memilihnya kembali.

Dan selama masih ada yang memilih, selama masih ada yang mengingat, selama masih ada yang berdiri di tengah badai dan berkata, “Ini tidak boleh terjadi lagi”, maka sejarah yang brutal itu tidak akan pernah benar-benar menang. Ia hanya akan menjadi pelajaran. Dan pelajaran, meski pahit, adalah awal dari perubahan.  (Tamat)

(Dikembangkan dari Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad berjudul “Al-Ludd, 1948-2014-…” Majalah Tempo, 10 Agustus 2014)

Penyunting: Maspril Aries

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *