Ilustrasi (FOTO: AI)
Cerpen Oleh: Maspril Aries – Memperingati 5 Windu Berkarya, 2026
Ia berusia kurang lebih 50 tahun, ini terlihat dari kerut di wajahnya dan rambutnya yang mulai memutih.
Dalam umur setua itu biasanya orang sudah mulai mencari ketenteraman hidup. Tapi ia adalah orang yang bersemangat dalam bergaul, orang yang pandai bicara walau ia bukan orator. Dalam setiap pembicaraannya ia pengagum keindahan dan pemuji kecantikan seorang wanita, tapi ia bukan seorang papa bravo alias playboy. Ia sanggup menggambarkan seorang wanita cukup dengan goresan katanya saja, dengan goresan katanya ia bercerita dan pendengarnya akan dapat menggoreskan bagaimana bentuk wanita itu jika ada disitu.
Di saat usianya yang sudah mencapai setengah abad ini, seharusnya ia menjadi seorang yang duduk tenang bermalasan di rumah. Menjadi seorang pendidik yang cermat dan bertanggungjawab dari pada anak cucunya di rumah, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang seusianya yang mendapatkan jaminan dihari tuanya.
Tapi keharusan itu tak ada satu pun padanya, wataknya jauh berbeda. Ia lebih suka keluar malam, ngobrol di warung kopi yang berada di ujung gang rumahnya. Apalagi kini ia aktif membantu penerbitan surat kabar mingguan milik sahabatnya, ia diangkat menjadi wakil pimpinan redaksi. Pada saat sekarang ini rumahnya hanya dipakai sebagai markas saja layaknya dan tempat tidur di waktu lelah menggayut dirinya. Dan warung kopi ini dibanggakannya sebagai tempat yang nikmat di dunia ini, sebagai tempat pelarian resah, tempat yang selalu memberi inspirasi dan ilham bagi dirinya. Di warung kopi ini bergabung berbagai manusia yang berbeda status sosialnya, terangkum dari berbagai macam bentuk kehidupan serta berbagai macam problema sosialnya.
Pantas bila ia dijuluki dengan pengarang, pakaiannya selalu rapi walau sederhana, rambutnya ikal agak panjang dan kering seperti tak pernah dikeramas suka diberi pomade. Dan matanya bulat sedang dinaungi alis yang hitam setebal telunjuk. Rokok Filtra tak pernah lepas dari bibirnya yang hitam seperti bibir perokok berat.
Ia menawarkan rokoknya padaku.
“Terima kasih”. Aku menolaknya.
“Maaf bung, waktu muda sayapun seperti bung”, katanya padaku sambil menghirup kopinya yang masih mengeluarkan asap.
“Saya bebas sekali, pulang terkadang jam 3, jam 4 malam atau pulang pagi. Orang tua saya tak terlalu ambil pusing, mungkin mereka tahu bakat saya dan akhirnya sampai sekarang ini saya selalu bebas tidak ingin terikat pada suatu kewajiban”.
Aku pikir sebenarnya dia menyindir ku tapi biarkan saja ia terus dengan ceritanya, tak ada gunanya untuk dibantah toh dia tahu kalau aku dirumah sangat terikat oleh kewajiban. Walau rumahku berhadapan dengan warung ini, aku jarang ikut ngobrol malam hari di sini, apa lagi sampai larut malam seperti sekarang ini.
“Sudah lama saya jadi pengarang dan saya banyak membaca juga mengetahui nilai-nilai pengarang muda sekarang ini. Mereka lebih mementingkan hasil karyanya dari pada meningkatkan mutu karangannya, itulah kesalahan mereka dan kalau koran atau majalah sudah kemasukan karangan yang seperti mereka buat ah…… sudahlah tak ada nilainya lagi. Pembaca akan membeli angin atau disuguhi gambarnya saja karena pengarang itu tidak bisa menarik minat pembacanya”.
Dia menghentikan ceritanya. Kembali dihirupnya kopinya yang telah dingin.
“Sekarang orang ramai membaca kemampuan berbahasa Indonesia para anak didik cukup memprihatinkan dan menurut saya para pengarang saat ini mengalami hal yang sama, mereka mengalami krisis sastra. Kemampuan sastra di dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik itu tidak mereka kuasai dan menurut saya bukan sastranya yang krisis tapi pengarangnya sendiri yang krisis, mereka menulis karena mementingkan harga karangannya saja sehingga mereka jadi lupa dengan maksud dan tujuan sastra.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda ikut merasakan kekurangan yang sedang dialami oleh masyarakat sekarang ini.

“Selama saya menjadi redaktur sekali saya memeriksa cerpen yang hendak dimuat dan memilihnya mana yang terbaik. Tidak kurang dari 100 cerpen setiap minggunya, saya bangga dengan animo sastra dari generasi muda sekarang ini apalagi pada tahun sekarang ini sebagai tahun milik para pemuda tapi sayang mereka kebanyakan lari pada soal cinta……. cinta gagal….. kawin, cerai….. dan sebagainya, segala peristiwa percintaan. Bukan hanya itu terkadang mereka tidak memikirkan akan nilai sastra sama sekali. Penulisannya tergesa-gesa, terkadang alur ceritanya terputus-putus dan kemudian dibelakangnya diganti dengan yang lain sehingga tidak dapat ditangkap oleh para pembaca”. Ia menghentikan bicaranya sejenak dan menghirup kopinya kembali dan terus berbicara lagi.
“Memang banyak kesukarannya jadi seorang redaksi, semua naskah harus dibaca dan harus dinilai yang lebih lagi menanyakan honorariumnya. Honorariumlah ditanyakan?”
Aku hanya tersenyum dengan perasaan geli melihat mimik mukanya.
“Bung sudah baca mingguan Cendekia yang terakhir?” tanyanya mengalihkan perhatian ku.
“Oh ya, sudah pak”.
“Cerpennya sudah bung baca?”
“Sudah!” jawabku.
“Bagaimana pendapat bung?”
“Realistis sekali pak”.
“Memang masyarakat dewasa ini lebih suka dengan realitas!”
Dan kembali diteguknya kopinya sampai habis dan dihisapnya rokoknya dalam-dalam. Memang dalam mingguan Cendekia terbitan yang terakhir dimuat sebuah cerpen karangannya yang berjudul, “Fragmen di Terminal Antar Kota”. Menurut ku cerpennya tidak begitu menarik, cerpennya biasa-biasa saja.
Ia menilai kisahnya dari terminal bus Rajabasa dan dia sendiri menjadi pemeran utama dalam cerita itu. Waktu itu dia hendak ke Jakarta, di terminal Rajabasa dia melihat seorang gadis yang tujuannya akan ke Jakarta juga, ia berusaha untuk dapat berkenalan dengan gadis itu. Gadis itu naik ke dalam sebuah bis yang akan berangkat cepat ia mengikutinya dan duduk di samping gadis itu. Tapi sampai di Jakarta tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya dia diam menyesali dirinya. Seminggu ia bertemu kembali dengan gadis itu di Lampung Plaza. Di situ ia baru mengetahui bahwa gadis yang diimpikannya telah bersuami. Ia melihat Gadis itu turun dari mobil Galant hijau digandeng oleh seorang lelaki tua yang sebaya dengannya. Ia kecewa dan ceritanya habis.
Aku merasa salut dan mengacungkan jempol ku. Ternyata tokoh pengarang tua ini cukup terampil menyusun tata bahasa. Meremaja, lincah, berbobot dan penuh realita. Bahkan dengan cerpennya ini ia dapat bangga dengan mengkritik para pengarang muda yang dianggapnya saingannya.
“Bung tahu bagaimana karangan saya itu sampai dimuat?”
Aku menggeleng.
“Menjadi pengarang itu mudah asal sungguh-sungguh, ceritanya berbobot dan sederhana dan tentu redaksi mau menghargainya. Saya tak pernah mendapatkan penghasilan seperserpun bung, kecuali dari mengarang ini. Tidak ada satupun yang telah saya tulis atas pesanan orang lain”, jawabnya agak berfilsafat. “Dan juga tidak pernah menulis kebetulan untuk mendapatkan uang. Menurut pikiran saya ialah aku harus mengarang mendapatkan uang, bukan untuk mencari satu kesuksesan”.
Aku hanya diam saja sambil mereguk isi gelas kopi ku, ku pikir lebih baik menjadi pendengar yang baik. Biar ia teruskan bicaranya tak perlu diberi komentar, sebab ia lebih banyak tahu persoalan di bidang sastra. Bicaranya percampuran antara dialog seni dan filsafat.
Hari telah larut malam, gelas kopi kami sudah kosong. Pengunjung warung pun telah sepi hanya tinggal beberapa orang tukang beca yang sedang asyik main gaple di sudut belakang.
Pengarang tua itu mengakhiri ceritanya sambil pamit. “Bung saya permisi dulu, dirumah masih ada cerpen yang belum usai. Selamat bung sampai jumpa esok malam.”
Ia melangkah keluar setelah membayar segelas kopi yang diminumnya. Ia menghilang di gelap malam yang semakin dingin. Aku tersenyum sendiri. Memang kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar pada generasi muda saat ini cukup memprihatinkan. Tapi pengarang tua ini diusianya yang setengah abad, semangatnya tidak pernah hilang. Aku salut dengan kemampuannya dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. ●
# Cerpen ini pernah dimuat 40 tahun lalu di Harian Merdeka – 16 Februari 1986. Cerpen ini ditulis kembali untuk memperingati 5 Windu (40 Tahun) Berkarya pada Tahun 2026.






