Tim peneliti mahasiswa Unsri bersama dosen pembimbing. (FOTO: Dok, Ricco Andreas)
KINGDOMSRIWIJAYA, Palembang – Tahun 2026 mahasiswa lintas disiplin dari Universitas Sriwijaya (Unsri) menorehkan prestasi pada ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Sebuah tim lintas disiplin dari Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) berhasil lolos pendanaan PKM-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH).
Prestasi yang ditorehkan mahasiswa Unsri tersebut pada ajang salah satu kompetisi akademik paling bergengsi bagi mahasiswa Indonesia tersebut setelah proposal penelitian mereka berjudul, “Tumutan Tujuh Sebagai Model Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Berbasis Hukum Adat Suku Semende Muara Enim di Tengah Ekspansi Industri Geotermal” berhasil lolos dari lubang jarum seleksi yang ketat.
“Tahun ini, seleksi PKM mencatat rekor partisipasi dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, ada lebih dari 30.000 proposal yang dikirimkan oleh mahasiswa. Persaingannya sangat ketat, dan hanya sekitar 1.200 proposal terbaik yang dinyatakan lolos serta berhak mendapatkan pendanaan untuk melaksanakan penelitian mendalam”, kata Ricco Andreas dosen FH Unsri yang menjadi pembimbing penelitian, Jumat (5/6).
Tim mahasiswa lintas disiplin FH dan FKIP tersebut terdiri dari M. Renaldi sebagai ketua dengan anggota Bagas Saputra, Safira Putri Syalsabila, Zella Jayanti, dan Susidah Ernawati.
Menurut Ricco, berbeda dengan kebanyakan penelitian akademik yang sering kali berfokus pada teknologi mutakhir atau isu-isu kekinian, tim ini justru menoleh ke belakang, menggali nilai-nilai yang telah hidup ratusan tahun di tengah masyarakat adat Semende, Kabupaten Muara Enim.
Di tengah gempuran modernisasi dan pesatnya pembangunan industri, ternyata ada warisan leluhur yang tersimpan rapi di lereng Pegunungan Bukit Barisan. Di pegunungan yang memanjang dari ujuang selatan pulau Sumatera di Lampung sampai ke ujung Utara di Aceh ternyata menyimpan jawaban atas tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia: ancaman bencana hidrometeorologi.
Kisah berharga ini kini terangkat ke kancah nasional, berkat langkah berani sekelompok mahasiswa Unsri yang berhasil membawa nama daerah dan kearifan lokal Semende bersaing di ajang paling bergengsi bagi insan akademik muda tanah air pada PKM 2026.
Dari judul penelitian dari peneliti muda tersebut menyimpan makna yang dalam dan relevansi yang sangat tinggi. Di saat banjir dan tanah longsor kerap menjadi ancaman nyata di berbagai wilayah Indonesia, masyarakat Semende ternyata telah memiliki sistem pengelolaan lingkungan yang teruji waktu dan terbukti ampuh menjaga keseimbangan alam.

Tumutan Tujuh bukan sekadar istilah budaya, melainkan sebuah sistem hukum adat yang mengatur perlindungan ketat terhadap tujuh sumber mata air utama serta seluruh daerah aliran sungai yang berhulu di kawasan Gunung Patah. Di dalamnya tertanam aturan-aturan tegas yang wajib dipatuhi seluruh warga, dilarang mendirikan bangunan di pinggiran sungai, dilarang menebang pepohonan dan vegetasi di sekitar aliran air, serta dilarang mengambil batu dari dasar sungai secara berlebihan.
Aturan ini bukan sekadar larangan tanpa alasan, melainkan kearifan yang lahir dari pemahaman mendalam leluhur Semende bahwa menjaga sumber air sama artinya dengan menjaga keselamatan dan keberlangsungan hidup seluruh masyarakat.
Kini, di tengah gencarnya ekspansi industri geotermal yang masuk ke wilayah tersebut, nilai-nilai ini justru menjadi semakin penting untuk dikaji dan dilestarikan. Melalui penelitian ini, tim mahasiswa Unsri akan turun langsung ke sejumlah desa di wilayah Semende, berdialog dengan tokoh adat, juru pelihara kawasan, perangkat desa, dan warga setempat untuk mengumpulkan data dan fakta lapangan. Tujuannya jelas, merumuskan model mitigasi bencana yang berbasis hukum adat, yang nantinya dapat dijadikan rekomendasi nyata bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengurangan risiko bencana yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Bagi Unsri, keberhasilan ini adalah bukti nyata kualitas akademik yang dimiliki mahasiswanya. Namun, maknanya jauh melampaui sekadar sebuah piala atau gelar prestasi. Keberhasilan ini membuktikan bahwa inovasi dan solusi terbaik tidak selalu lahir dari laboratorium canggih atau teknologi impor. Sering kali, jawaban atas masalah besar justru tersembunyi di dalam kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat kita sendiri.
Prestasi ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa dari daerah memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Di tengah derasnya arus perubahan zaman, penelitian ini menjadi pengingat manis: warisan budaya bukan sekadar barang masa lalu yang harus disimpan, melainkan harta karun ilmu pengetahuan yang bisa dikembangkan menjadi solusi masa depan.
Semangat yang ditunjukkan oleh tim ini diharapkan dapat menjadi api penyulut bagi generasi muda lainnya. Bahwa dengan rasa cinta terhadap budaya sendiri dan keberanian untuk meneliti, setiap pemuda dapat berkarya, berinovasi, dan menghadirkan gagasan yang tidak hanya membanggakan daerah asalnya, tetapi juga bermanfaat bagi bangsa dan negara tercinta. Dari lereng Bukit Barisan, kearifan Semende kini berbicara kepada seluruh Indonesia: warisan leluhur adalah jalan menuju masa depan yang lebih aman dan sejahtera. (maspril aries)





