Peserta lokakarya bersama pembicara dan panitia Kite Aerial Photography. (FOTO: Christian Saputro)
KINGDOMSRIWIJAYA, Yogyakarta — Di saat langit dipenuhi dengung baling-baling drone, seutas tali kembali mengajarkan manusia cara lain memandang bumi. Tak ada motor listrik. Tak ada baterai lithium. Hanya bentangan kain yang menangkap angin, lalu perlahan mengangkat sebuah kamera menuju ketinggian.
Dari atas sana, kota, sawah, pantai, hingga wajah manusia menjelma mozaik yang tenang. Inilah Kite Aerial Photography (KAP), fotografi udara berbasis layang-layang yang sudah ada sejak lama sebelum teknologi drone ditemukan, dan kini kembali menemukan momentumnya.
Di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, Selasa (7/7) kembali diperkenalkan teknik foto udara yang nyaris tenggelam oleh kemajuan teknologi melalui pameran dan lokakarya. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari hingga 9 Juli 2026, diikuti mahasiswa, pegiat fotografi, dan masyarakat. Mereka diajak mengenal bahwa memotret dari langit tidak selalu membutuhkan mesin. Kadang cukup angin, kesabaran, dan kemampuan membaca alam.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026, yang akan mencapai puncaknya di Pantai Parangkusumo, Bantul, pada 11–12 Juli. Dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini akan menunjukkan bahwa layang-layang kini tidak lagi dipandang sekadar permainan tradisional, melainkan bagian dari diplomasi budaya, pendidikan, dan ekonomi kreatif.
Pembukaan kegiatan ditandai dengan penandatanganan nota kerja sama antara Angkasa Satu sebagai penyelenggara JIKF dan UKDW. Kolaborasi itu membuka ruang pertemuan antara seni, teknologi, dan dunia akademik.
Ketua Angkasa Satu, RDA Yuristianto, mengakui bahwa istilah Kite Aerial Photography masih terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Yogyakarta. Karena itu, kampus dipilih sebagai ruang untuk memperkenalkan teknologi alternatif yang lebih bersahabat dengan alam.

“Mahasiswa memiliki kreativitas tinggi dan keterbukaan terhadap inovasi. Kami ingin menunjukkan bahwa fotografi udara tidak selalu identik dengan drone. Dengan memanfaatkan energi angin, kita tetap dapat menghasilkan karya visual yang luar biasa”, ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penanda bahwa KAP bukanlah pesaing drone, melainkan menawarkan cara pandang yang berbeda. Drone bekerja melalui algoritma, sensor, dan stabilisasi elektronik. Sebaliknya, KAP mengandalkan dialog antara manusia dan angin. Fotografer harus memahami arah embusan udara, membaca cuaca, mengendalikan tarikan tali, lalu mempercayakan kameranya kepada keseimbangan layang-layang.
Bahwa setiap foto menjadi hasil negosiasi dengan alam. Tidak ada pengambilan gambar yang benar-benar bisa diprediksi. Justru di sanalah letak pesonanya.
Lokakarya menghadirkan dua narasumber yang telah lama menekuni bidang ini, yakni Martinus, peneliti Auto Kite Aerial Photography, serta Anshori Djausal dari Lampung merupakan salah seorang pelopor sekaligus pengembang Kite Aerial Photography di Indonesia.
Dalam paparannya, Anshori yang pernah menjabat Ketua Pelangi (Perhimpunan Layang-layang Indonesia) mengajak peserta menelusuri sejarah panjang fotografi udara berbasis layang-layang yang telah dimulai sejak akhir abad ke-19. Ia menjelaskan bagaimana teknologi sederhana itu berkembang dari kamera berpelat kaca hingga kini mampu membawa kamera digital, sensor lingkungan, bahkan perangkat pemetaan.
Namun bagi Anshori, nilai KAP tidak berhenti pada aspek sejarah. Teknologi ini memiliki banyak manfaat praktis, mulai dari penelitian lingkungan, dokumentasi kawasan, survei bentang alam, pemetaan sederhana, konservasi situs budaya, hingga media pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi.

“KAP menghasilkan perspektif visual yang sangat khas. Selain tanpa emisi karbon dan tanpa kebisingan, teknologi ini juga mengajarkan kita untuk memahami alam, bukan sekadar mengendalikannya”, kata Anshori yang pernah menjabat Wakil Rektor Universitas Lampung (Unila).
Pandangan itu mendapat sambutan positif dari Wakil Rektor I UKDW, Rosa Delima. Menurutnya, kolaborasi semacam ini memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu identik dengan perangkat yang mahal ataupun teknologi yang rumit. “Kegiatan ini memperkaya kreativitas mahasiswa dalam menciptakan karya visual yang inovatif, sekaligus mengajarkan mereka menghargai teknologi sederhana yang memiliki nilai ilmiah maupun artistik”, katanya.
Sebagai kegiatan pertama yang membahas layang-layang dan fotografi, terlihat semangat kolaborasi yang tinggi dengan keterlibatan Unit Kegiatan Mahasiswa Duta Wacana Photography (DWPh) bersama Program Studi Desain Produk UKDW. Mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga terlibat sejak tahap perencanaan, kurasi pameran, hingga demonstrasi lapangan.
Menariknya, gaung KAP ternyata telah menembus batas negara. Di antara peserta hadir Shameem, warga Lebanon yang sengaja mengikuti lokakarya tersebut. Baginya, KAP menawarkan pengalaman yang berbeda dari fotografi udara modern. Ia berharap teknik ini terus berkembang dan kelak memiliki jaringan serta kompetisi internasional yang lebih luas.
Selama pameran berlangsung di Atrium Gedung Agape UKDW, pengunjung dapat menyaksikan berbagai hasil foto udara yang diambil menggunakan layang-layang, sekaligus melihat perangkat KAP yang digunakan untuk menerbangkan kamera ke angkasa. Dari rangka kamera, sistem suspensi, hingga berbagai jenis layang-layang, semuanya memperlihatkan bahwa teknologi tidak selalu identik dengan kerumitan.
Di tengah zaman yang bergerak semakin cepat dan serba otomatis, Kite Aerial Photography menawarkan jeda. Ia mengajak manusia kembali mendengarkan arah angin. Mengajarkan kesabaran ketika langit belum bersahabat. Dan mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berarti meninggalkan cara-cara lama. Kadang, justru dari seutas tali yang menembus langit, manusia belajar melihat bumi dengan lebih utuh. (Christian Saputro-Yogyakarta)





