Home / Olahraga / Catatan Hitam dan Emas Sejarah Piala Dunia (Dari Ancaman Maut Hingga Gol Hantu)

Catatan Hitam dan Emas Sejarah Piala Dunia (Dari Ancaman Maut Hingga Gol Hantu)

RESENSI BUKU

Judul Buku: Piala Dunia 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi

Penulis: M. Syahran W. Lubis

Penerbit: Jernih Pustaka, 2026

Jumlah Halaman: vi + 115 halaman


Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada dan Mexico memasuki babak akhir, pertandingan babak 16 besar sudah mulai dipertandingkan pada 5 Juli 2026. Bagi para pecinta sepak bola, Piala Dunia bukan sekadar turnamen empat tahunan yang mempertemukan tim-tim terbaik dari seluruh penjuru dunia. Ia adalah panggung di mana mimpi dibangun dan dihancurkan dalam sekejap, di mana sejarah ditulis dengan keringat, air mata, kadang dengan darah, dan sering kali dengan tinta yang berbau kecurigaan.

Selama 96 tahun sejak gelaran pertamanya di tanah Uruguay tahun 1930, turnamen ini telah menjadi saksi bisu kehebatan individu yang melampaui logika, persatuan bangsa yang terbelah, hingga bayang-bayang kekuasaan politik yang mencoba menguasai lapangan hijau sepenuhnya.

Menjelang Piala Dunia 2026 dimulai terbit sebuah buku berjudul “Piala Dunia 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi”  karya M. Syahran W. Lubis. Buku ini adalah buku digital, tidak ada edisi cetaknya. Buku setebal 120 halaman ini tidak hanya menyajikan sekadar daftar juara atau perbandingan statistik gol yang melesak ke gawang lawan. Sebaliknya, ia membuka selubung yang selama ini tersembunyi di balik sorotan lampu stadion—mengangkat kisah-kisah yang kadang terlupakan, menyambung benang kusut di balik keputusan wasit yang menimbulkan tanda tanya besar, serta menampilkan wajah lain dari turnamen yang paling banyak ditonton umat manusia ini.

Buku ini hadir seperti peluit panjang yang memecah keheningan: mengajak kita berhenti sejenak dari keriuhan sorak sorai, lalu melihat bahwa setiap trofi yang diangkat bukanlah hasil kerja keras semata, melainkan juga kisah panjang tentang pertarungan antara keadilan dan kecurangan, harapan dan keputusasaan, serta kebesaran jiwa dan kebencian yang meluap. Dengan gaya bercerita yang mengalir seperti serangan balik cepat yang membelah pertahanan lawan, penulis menyusun kisah dari edisi ke edisi, menyisipkan istilah dan kiasan sepak bola yang membuat pembaca seolah duduk di pinggir lapangan, menyaksikan setiap detik drama yang terjadi.

Dari 23 cerita yang ditulis mantan wartawan harian Bisnis Indonesia ini, rangkaian kisah, drama  dan kontoversi dari setiap edisi Piala Dunia pertama tahun 1930 sampai Piala Dunia 2026, semua ditulis sebagai penggalan cerita atau kisah yang menarik. Semua cerita tersebut bisa dikelompokan edisi Piala Dunia (1930-1938), Piala Dunia (1950–1970), Piala Dunia (1974–1998), dan Piala Dunia (2002–2026).

1930-1938

Piala Dunia edisi 1930–1938, adalah masa membuka babak dari lapangan yang belum siap ke ancaman maut. Pertandingan pertama dalam buku ini dimulai dari tahun 1930, di Uruguay—saat sepak bola dunia masih berjalan dengan langkah gontai, tanpa rute penerbangan langsung dan dikelilingi bayang-bayang depresi besar. Penulis langsung menancapkan “bola” ke tengah lapangan dengan kisah Stadion Centenario yang belum selesai dibangun saat turnamen dimulai, seolah-olah tuan rumah sendiri pun belum siap menyambut pesta terbesarnya. Di sini kita bertemu dengan wasit Gilberto de Almeida Rego yang membuat keputusan seolah matanya tertutup kain, meniup peluit akhir enam menit lebih cepat saat Prancis sedang berusaha mengejar ketertinggalan, lalu membiarkan gol Uruguay sah meski bola ditendang masuk kembali ke lapangan oleh polisi dari luar garis batas.

Belum lagi kisah final yang mempertemukan dua rival abadi, Uruguay dan Argentina. Di sini penulis menceritakan perseteruan yang tajam seperti tekel keras ke kaki lawan—dari perselisihan tentang bola yang dipakai (setengah waktu pakai buatan Argentina, setengah lagi buatan tuan rumah), hingga ancaman pembunuhan yang diterima pemain Argentina Luis Monti. Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah fakta bahwa Monti sendiri empat tahun kemudian akan membela warna Italia, menjadi bagian dari rencana besar diktator Benito Mussolini yang ingin menjadikan sepak bola sebagai alat propaganda fasisme.

Dan itulah yang terjadi pada edisi 1934 di Italia. Di sini suasana berubah menjadi dingin seperti hujan deras yang membasahi rumput tanpa ampun. Mussolini dikabarkan memberikan pesan singkat namun mematikan kepada para pemainnya, “vincere o morire”— menang atau mati. Penulis menggambarkan bagaimana tim Italia bergerak di lapangan dengan dukungan wasit yang seolah sudah memegang kartu merah di tangan lawan sejak awal. Laga melawan Spanyol di perempat final menjadi bukti nyata, tujuh pemain Spanyol tak bisa tampil di laga ulang karena cedera parah akibat permainan kasar Italia, sementara keputusan wasit yang berpihak membuat kemenangan tuan rumah terasa seperti dicuri dengan tangan terbuka.


Kisah berlanjut ke 1938 di Prancis, di mana bayang-bayang kekuasaan semakin pekat. Adolf Hitler menganeksasi Austria dan memaksa pemain terbaiknya membela Jerman—kecuali Matthias Sindelar yang memilih kesetiaan pada negaranya sendiri, yang kemudian berakhir dengan kematian misterius yang hingga kini belum terjawab tuntas. Tak kalah menarik adalah kehadiran tim Hindia Belanda—pendahulu Timnas Indonesia—yang menjadi satu-satunya wakil Asia yang lolos ke putaran final. Di balik keberangkatan mereka tersimpan kisah pergolakan antara PSSI yang berjuang demi kemerdekaan dan persekutuan sepak bola bentukan penjajah, serta skuad yang terdiri dari pribumi, Belanda, dan Tionghoa yang berjuang dengan semangat tinggi meski akhirnya kalah telak dari Hongaria.

1950–1970

Setelah masa perang dunia yang meluluhlantakkan banyak negara usai, Piala Dunia kembali digelar tahun 1950 di Brasil—dan di sini terjadi salah satu luka yang tak pernah sembuh bagi sepak bola Brasil, Maracanazo. Penulis menceritakan momen itu dengan penuh kepekaan, seolah kita bisa mendengar keheningan mendadak di stadion raksasa Maracana saat Alcides Ghiggia menembakkan bola ke sudut gawang, mematahkan harapan jutaan orang Brasil yang sudah yakin akan gelar juara. Moacir Barbosa, kiper yang disalahkan atas kekalahan itu, menjadi simbol bagaimana satu momen kesalahan bisa membayangi seluruh sisa hidup seseorang—seperti kartu merah yang tak pernah bisa dicabut kembali meski waktu berlalu puluhan tahun.

Kemudian Piala Dunia edisi 1954 di Swiss membawa kisah Keajaiban Bern, di mana tim Jerman Barat membalikkan keadaan dan mengalahkan Hongaria yang saat itu tampak tak terkalahkan seperti tembok beton yang kokoh berdiri. Namun keajaiban ini pun ternoda oleh dugaan penggunaan zat terlarang—seperti noda yang sulit dibersihkan dari seragam juara—serta pertarungan fisik yang dikenal sebagai Pertempuran Bern, di mana pemain dan ofisial saling beradu kekuatan bahkan hingga ke lorong ruang ganti.

Piala Dunia edisi 1958 di Swedia menjadi panggung bagi kelahiran bintang abadi Pele yang saat itu baru berusia 17 tahun, mencetak gol yang disebut sebagai salah satu yang terindah dalam sejarah final Piala Dunia. Namun di balik kehebatan itu tersimpan kisah boikot negara-negara Asia dan Afrika yang menolak bertanding melawan Israel sebagai bentuk solidaritas, hingga drama seragam Brasil yang harus membeli kaos polos di toko setempat dan menjahit lambang tim sendiri karena tak mau memakai warna putih yang dianggap membawa sial setelah kekalahan tahun 1950.

Kemudian datang tahun 1962  Piala Dunia berlangsung di Cile—yang dijuluki sebagai turnamen paling brutal sepanjang masa. Laga Pertempuran Santiago antara Cile dan Italia menjadi bukti bahwa di lapangan ini kadang lupa bahwa sepak bola bukan perkelahian telanjang dada. Pemain saling pukul, patah tulang menjadi hal biasa, dan polisi harus turun tangan berkali-kali untuk meredakan kerusuhan. Bahkan cedera yang dialami bek Uni Soviet Eduard Dubinski akhirnya berujung pada kematiannya tujuh tahun kemudian, membuktikan betapa mahalnya harga yang dibayar di lapangan hijau saat itu.

Edisi 1966 di Inggris, Piala Dunia menghadirkan kisah yang tak kalah unik. Trofi Piala Dunia dicuri dan ditemukan kembali berkat seekor anjing bernama Pickles, serta “gol hantu” Geoff Hurst yang hingga kini masih diperdebatkan apakah bola benar-benar sudah melewati garis gawang atau belum. Penulis juga menyoroti ketidakadilan yang dialami tim Amerika Selatan, serta keberanian FIFA yang memaksa Inggris menerima kehadiran Korea Utara meski saat itu belum menjalin hubungan diplomatik.

Menutup babak ini adalah tahun 1970 di Meksiko, di mana Brasil menjadi juara untuk ketiga kalinya dan berhak menyimpan trofi Piala Dunia yang bernama “Jules Rimet” selamanya. Namun di balik kemegahan itu ada kisah pemecatan pelatih Joao Saldanha yang berani menolak campur tangan presiden militer Brasil, tuduhan pencurian gelang yang menimpa kapten Inggris Bobby Moore, serta gol aneh yang dicetak Meksiko setelah mengambil tendangan bebas milik El Salvador—seperti mencuri bola dari kaki lawan tanpa rasa bersalah.

1974–1998

Piala Dunia edisi 1974 berlangsung di Jerman Barat dibayangi oleh kenangan kelam pembantaian atlet Israel di Olimpiade Munchen dua tahun sebelumnya, yang dikenal sebagai peristiwa “Black September”. Namun edisi ini juga menyimpan kisah ketegangan antara Jerman Barat dan Jerman Timur yang akhirnya bertemu di lapangan. Di sini kita juga melihat momen lucu saat pemain Zaire Mwepu Ilunga menendang bola tendangan bebas Brasil keluar lapangan—sebagai protes diam-diam atas ancaman diktator negaranya yang melarang mereka pulang jika kalah terlalu telak.

Piala Edisi 1978 berlangsung di Amerika Latin, tepatnya di Argentina. Turnamen ini dianggap sebagai salah satu turnamen paling kotor, di mana rezim militer  Argentina memanfaatkan ajang ini untuk menutupi pelanggaran hak asasi manusia. Penulis menyoroti kemenangan Argentina 6–0 atas Peru yang sangat mencurigakan—dengan dugaan suap berupa gandum, kredit uang, hingga pertukaran tahanan politik—yang membuat mereka lolos ke final dengan cara yang tidak jujur. Di sini juga diceritakan absennya Johan Cruyff karena percobaan penculikan keluarganya, serta keputusan FIFA yang kemudian mengubah aturan agar pertandingan terakhir babak grup dimainkan bersamaan setelah melihat ketidakadilan yang terjadi.

Masuk ke Piala Dunia tahun 1982 di Spanyol, Italia mencatat sejarah unik sebagai satu-satunya tim yang lolos ke babak selanjutnya tanpa pernah menang di fase grup, namun akhirnya menjadi juara dunia. Di sini Claudio Gentile menunjukkan bagaimana cara menjaga lawan bintang dengan cara yang sangat ketat—bahkan sampai melanggar batas wajar—saat menjaga Diego Maradona, sementara Maradona sendiri akhirnya harus menerima kartu merah setelah menendang lawan karena tak tahan dengan permainan kasar yang diterimanya.


Penulis M Syharan W Lubis dengan buku terbarunya. (FOTO: FB/AI)

Belum lagi kisah “Aib Gijon” di mana Jerman Barat dan Austria bermain aman untuk menyingkirkan Aljazair, serta intervensi pangeran Kuwait yang turun ke lapangan untuk membatalkan gol lawan.

Piala Dunia Tahun 1986 di Meksiko menjadi milik Maradona sepenuhnya—baik keberhasilan maupun kontroversinya. “Gol Tangan Tuhan” dan “Gol Abad Ini” menjadi dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, sekaligus simbol kemenangan simbolis bagi Argentina atas Inggris setelah Perang Falkland atau Malvinas. Namun penulis juga tak lupa menyebutkan kartu merah tercepat dalam sejarah yang dialami Jose Batista hanya 56 detik setelah pertandingan dimulai, serta kasus internal tim Portugal yang hampir mogok main karena masalah bonus dan dugaan doping.

Edisi 1990 di Italia menjadi ajang Piala Dunia yang menyajikan salah satu final terburuk dan paling kontroversial, penalti yang diberikan kepada Jerman Barat dianggap terlalu lunak, membuat Maradona menangis di tengah lapangan dan menuduh FIFA merampas kemenangan Argentina. Ada juga kisah “Skandal Air Suci”, kartu merah ganda di final, hingga insiden lucu saat Gary Lineker buang air besar di lapangan karena tak berani memberi tahu pelatih bahwa ia sakit perut. Belum lagi usaha curang kiper Cile Roberto Rojas yang menyayat dahi sendiri agar pertandingan dihentikan—sebuah tindakan yang memalukan sepak bola dunia.

Tahun 1994 Amerika Serikat menjadi tuan rumah. Piala Dunia ini menyisakan tragedi paling menyedihkan: penembakan Andres Escobar hanya karena membuat gol bunuh diri. Kejadian ini mengajarkan bahwa di luar lapangan, dampak dari sebuah pertandingan bisa berakibat fatal bagi kehidupan seseorang.

Tak kalah heboh adalah kasus doping Maradona yang mengakhiri karier internasionalnya, serta rekor jumlah penonton yang belum terpecahkan hingga kini meski banyak yang meragukan kemampuan sepak bola negara ini.

Menutup babak ini adalah edisi 1998 di Prancis yang menyimpan misteri kesehatan Ronaldo yang sempat dicoret dari daftar pemain sebelum tampil, serta pertemuan Iran dan Amerika Serikat yang sarat ketegangan politik namun berlangsung dengan penuh rasa hormat. Di sini juga David Beckham dikartu merah karena terpancing provokasi, dan Laurent Blanc menjadi korban akting yang membuatnya absen di final.

2002–2026

Abad ke-21 dimulai dengan Piala Dunia 2002. Untuk pertama kalinya Piala Dunia berlangsung di benua Asia dengan Korea Selatan dan Jepang menjadi tuan rumah. Piala Dunia ini dikenang sebagai turnamen dengan keputusan wasit paling memihak tuan rumah. Byron Moreno dan Gamal Al-Ghandour membuat keputusan yang seolah mereka memakai kacamata buta saat menghadapi Italia dan Spanyol, sementara Rivaldo menunjukkan akting yang memalukan saat pura-pura terluka untuk membuang waktu. Penulis menggambarkan bagaimana Korea Selatan melangkah jauh ke semifinal dengan cara yang meragukan, hingga kini masih menjadi perdebatan apakah itu prestasi yang pantas dibanggakan atau kemenangan yang penuh noda.

Kemudian edisi 2006 di Jerman diwarnai insiden menanduk Zinedine Zidane kepada Marco Materazzi di final—momen yang menggambarkan betapa emosi kadang menguasai akal sehat bahkan bagi pemain paling tenang sekalipun. Italia juara dunia hanya dua bulan setelah skandal Calciopoli yang mengguncang sepak bola negaranya, membuktikan bahwa mereka selalu mampu bangkit dari keterpurukan seperti bola yang memantul kembali ke udara setelah jatuh ke tanah. Ada juga rekor kartu terbanyak di satu pertandingan serta kekeliruan wasit yang memberikan tiga kartu kuning kepada satu pemain yang sama.

Tahun 2010 untuk pertama kalinya edisi Piala Dunia berlangsung di benua Afrika dengan Afrika Selatan sebagai tuan rumah yang membawa kontroversi “Tangan Gaul” Thierry Henry yang membawa Prancis lolos ke turnamen, serta tangan Luis Suarez yang menghalau bola di garis gawang—sebuah tindakan yang dianggap curang oleh sebagian orang namun disebut cerdas oleh yang lain.

Kemudian ada “Gol hantu” Frank Lampard yang tidak disahkan akhirnya mendorong penggunaan teknologi garis gawang, sementara tendangan kungfu Nigel de Jong di final menunjukkan betapa kerasnya pertarungan memperebutkan trofi.

Sementara itu edisi Piala Dunia 2014 di Brasil menjadi mimpi buruk bagi tuan rumah. Kekalahan 1–7 dari Jerman di semifinal adalah luka yang tak akan pernah terlupakan, diperparah dengan cedera punggung Neymar yang mengancam masa depannya. Di sini juga Luis Suarez kembali mencuri perhatian dengan menggigit lawan untuk ketiga kalinya dalam kariernya, serta penalti kontroversial yang mengubah arah pertandingan pembuka.

Piala Dunia 2018 di Rusia menghadirkan drama panjang Paolo Guerrero yang hampir gagal tampil karena kasus doping namun akhirnya bisa membela negaranya berkat intervensi pengadilan dan dukungan dari kapten tim lawan. Muncul juga protes atas pelanggaran hak asasi manusia, aneksasi Krimea, serta penggunaan VAR yang kadang terasa tidak konsisten—seperti memegang peta yang salah arah saat menentukan keputusan penting.


Timnas Hindia Belanda/ Dutch East Indies (Indonesia) yang ikut Piala Dunia 1938. (FOTO Repro buku "Piala Dunia 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi"/ FIFA)
Timnas Hindia Belanda/ Dutch East Indies (Indonesia) yang ikut Piala Dunia 1938. (FOTO Repro buku “Piala Dunia 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi”/ FIFA)

Edisi terbaru tahun 2022 di Qatar menyimpan noda sejak proses pemilihan tuan rumah yang dituduh penuh suap, pelanggaran hak asasi terhadap pekerja konstruksi, serta perubahan jadwal yang memaksa turnamen digelar di akhir tahun. Meskipun demikian, kita menyaksikan kehebatan Lionel Messi yang akhirnya melengkapi koleksinya, Maroko yang mencetak sejarah bagi dunia Arab dan Afrika, serta lima penalti yang didapat Argentina sepanjang turnamen—rekor yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Buku ini pun menutup kisahnya dengan membahas Piala Dunia edisi tahun 2026 yang akan digelar di tiga negara Amerika Utara, namun sudah terbayang kontroversi politik akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump, penambahan peserta yang dianggap terlalu membebani pemain, serta jadwal pertandingan siang hari yang berisiko bagi kesehatan demi keuntungan siaran televisi.

Buku “Piala Dunia 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi” adalah karya yang sangat layak dibaca oleh siapa saja—baik penggemar berat sepak bola maupun mereka yang hanya menonton sesekali saat ada pertandingan penting. Penulis Syahran Lubis yang masa mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung (Unila) dan aktivis pers mahasiswa Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra yang rajin menulis cerpen dan puisi, pada buku inii berhasil menyajikan materi yang luas dan mendalam dengan bahasa yang hidup, menggunakan istilah sepak bola dengan tepat sehingga pembaca merasa akrab dengan setiap kisah yang disampaikan.

Kelebihan utama buku ini terletak pada kemampuan penulis untuk menghubungkan peristiwa di lapangan dengan konteks sosial, politik, dan budaya yang melingkupinya. Ia tidak hanya menceritakan siapa yang mencetak gol atau siapa yang mendapat kartu merah, tetapi juga menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi, siapa yang diuntungkan, dan dampak apa yang ditimbulkannya bagi dunia sepak bola maupun masyarakat luas. Seperti seorang pelatih cerdas yang melihat celah di pertahanan lawan, penulis menemukan sisi-sisi yang sering terlewatkan dalam buku sejarah biasa dan menyajikannya dengan cara yang menarik.

Sebuah buku yang tetap saja ada kekurangannya, karya manusia tiada yang sempurna. Seperti pada beberapa peristiwa yang terjadi di era awal disajikan dengan keterbatasan sumber yang jelas, sehingga kadang hanya berupa dugaan tanpa bukti yang kuat. Selain itu, pembahasan mengenai edisi 2026 yang belum terjadi sepenuhnya lebih bersifat prediksi dan berita yang sedang berkembang, sehingga ada kemungkinan kenyataan nantinya akan berbeda dengan apa yang tertulis di sini.

Meski begitu, hal itu tidak mengurangi nilai buku yang ditulis penulis buku “Para Jawara Piala Dunia” yang terbit 2014, ini sebagai karya yang penting. Ia mengajarkan kita bahwa sepak bola bukan sekadar permainan—ia adalah cermin dari dunia nyata: tempat di mana kebaikan dan keburukan berjalan beriringan, di mana keadilan kadang tertunda namun akhirnya akan muncul, dan di mana semangat juang manusia selalu mampu mengalahkan segala rintangan jika dikelola dengan benar.

Buku ini seperti pertandingan yang tak terlupakan, menyajikan momen-momen yang membuat kita tersenyum, marah, hingga meneteskan air mata. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap trofi yang berkilau, ada kisah panjang tentang usaha, pengorbanan, dan kadang kesalahan yang tak disengaja.

Bagi siapa saja yang ingin memahami makna sesungguhnya dari Piala Dunia—bukan sekadar angka di papan skor—buku karya M. Syahran W. Lubis ini adalah teman yang paling tepat. Ia mengajak kita melihat bahwa selama 96 tahun, turnamen ini telah menjadi panggung bagi segala sisi kehidupan manusia, baik dan buruk, mulia dan hina, serta harapan yang tak pernah padam meski badai menghantam dengan keras.

Seperti bola yang tak pernah berhenti menggelinding selama pertandingan belum selesai, drama dan kontroversi Piala Dunia pun tak akan pernah berhenti. Dan buku ini adalah bukti bahwa kisah-kisah itu layak untuk dicatat, diingat, dan dipelajari oleh generasi yang akan datang. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *