Home / Eduaksi / Dari Sekayu Menuju Negeri Sakura Bersama Etika Memakai Sumpit

Dari Sekayu Menuju Negeri Sakura Bersama Etika Memakai Sumpit

Peserta pelatihan belajar menggunakan sumpit. (FOTO: Dok. Disnakertrans)
Peserta pelatihan belajar menggunakan sumpit. (FOTO: Dok. Disnakertrans)

KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORLK – Hari masih pagi, matahari cahayanya baru menyapa ruangan aula UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Sekayu. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kacal memantul pada meja-meja latihan, di mana 33 anak muda Musi Banyuasin duduk dengan wajah penuh konsentrasi. Suasana hening, hanya terdengar suara dentingan sumpit kayu yang saling beradu dan instruksi lembut tetapi tegas dari seorang instruktur yang dipanggil “Sensei”.

O-hashi wa kō yoku mite ” ujar Sensei Zulfikar, sambil menunjukkan cara memegang sumpit yang benar. Para peserta memperhatikan gerakannya dengan saksama, seolah setiap milimeter posisi jari bisa menentukan masa depan mereka di Jepang. (O-hashi wa kō yoku mite artinya, “Pegang sumpit seperti ini perhatikan baik‑baik”.)

Di antara deretan peserta, seorang pemuda bernama Apri Liansyah tampak memusatkan perhatian penuh. Jari telunjuknya sedikit kaku, jemarinya berkeringat, tetapi ia terus mencoba. “Pelan-pelan, jangan menusuk makanannya pegang dengan tenang ” suara Sensei memberi arahan, dan Apri mengangguk dengan mata berbinar.

Bagi Apri dan para peserta lain, latihan memegang sumpit bukan sekadar kegiatan budaya. Itu adalah simbol kesiapan—bahwa mereka sedang melangkah memasuki dunia baru, sebuah lingkungan kerja yang disiplin, sarat nilai, dan jauh berbeda dari kampung halaman.

Mimpi yang Ditata dari Sebuah Ruang Pelatihan

Sejak Jumat, 5 Desember 2025, Aula BLK Sekayu menjadi pusat harapan. Di situlah Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Pemkab Muba) melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) mempersiapkan generasi muda untuk bersaing di pasar tenaga kerja global—khususnya Jepang.


Ilustrasi menyambut pekerja magan dari Muba. (FOTO: AI)
Ilustrasi menyambut pekerja magan dari Muba. (FOTO: AI)

Sebanyak 33 peserta pelatihan vokasi Bahasa Jepang dan Budaya Jepang mengikuti serangkaian sesi intensif. Mereka belajar bukan hanya untuk bisa berbicara dalam bahasa asing, tetapi juga memahami nilai-nilai kedisiplinan, kesabaran, kerja keras, serta etika sosial yang melekat dalam budaya Jepang.

Kepala Disnakertrans Muba, Herryandi Sinulingga AP, “BLK Sekayu ini adalah pusat pengembangan SDM unggul di Muba. Kami bertekad menciptakan agen perubahan, dan kuncinya bukan hanya keterampilan kerja, tetapi juga adaptasi budaya” katanya.

Sinulingga menekankan bahwa pelatihan ini adalah langkah nyata pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membuka kesempatan kerja, dan pada akhirnya mengurangi angka pengangguran. Semuanya sejalan dengan visi dan misi Bupati Muba HM Toha Tohet dan Wakil Bupati Kyai Abdur Rohman Husen—menuju Muba Maju Lebih Cepat dan masyarakat yang sejahtera.

“Pendidikan vokasi ini kita jalankan untuk menciptakan generasi muda Muba yang unggul”, ujarnya.

Bahasa Jepang: Lebih dari Sekadar Tata Bahasa

Di ruang pelatihan, papan tulis penuh coretan huruf Hiragana dan Katakana. Para peserta dengan giat menyalin, mengulang, mencoba melafalkan setiap kosakata.

“Ohayou gozaimasu arigatou gozaimasu watashi wa suara mereka bergema hampir serempak. ( Ohayou gozaimasu = Selamat pagi, Arigatou gozaimasu = Terima kasih banyak, Watashi wa = Saya adalah / Saya )

Meski begitu, belajar bahasa Jepang tidak berhenti pada hafalan. Para peserta juga mengenal konteks penggunaan, intonasi, dan bentuk kesopanan (keigo), karena Jepang terkenal memiliki tingkat bahasa khusus untuk menghormati lawan bicara. Mereka belajar bahwa percakapan di tempat kerja tidak bisa sembarangan.


Kepala Disnakertrans Muba memberikan pengarahan kepada peserta pelatihan. (FOTOL Dok. Disnakertrans)
Kepala Disnakertrans Muba memberikan pengarahan kepada peserta pelatihan. (FOTOL Dok. Disnakertrans)

Beberapa peserta bahkan mulai terbiasa membungkuk saat berbicara—refleks, karena sudah terlalu sering diajarkan bahwa membungkuk adalah ekspresi sopan santun.

Etika Sumpit

Dari semua materi, ada satu sesi yang sering menjadi perbincangan hangat, yaitu pembelajaran budaya dan etika makan dengan sumpit. Sesi ini membangkitkan rasa penasaran sekaligus tantangan.

Sensei Zulfikar membuka kelas dengan memperlihatkan sepasang sumpit sederhana, lalu menjelaskan makna di balik penggunaannya.

“Di Jepang, makan bukan hanya soal kenyang. Ada nilai kesopanan, kebersihan, dan penghormatan dalam setiap gerakan”, ujar Zulfikar sambil menunjukkan posisi tangan yang benar.

Ia memeragakan berbagai larangan yang tidak boleh dilakukan, seperti: Sashi-bashi = menusuk makanan dengan sumpit, Hiroi-bashi = mengoper makanan dari sumpit ke sumpit, Neburi-bashi = menjilat sumpit. Serta cara meletakkan sumpit dengan rapi saat istirahat makan.

Kelas berlangsung penuh antusias. Banyak yang gugup, banyak pula yang tertawa ketika sumpit mereka jatuh atau gagal menjepit makanan kecil yang sudah disiapkan.

Apri Liansyah, peserta yang sudah sejak lama memimpikan bekerja di Jepang, bercerita bahwa pelatihan ini membuatnya memahami bahwa disiplin budaya Jepang bukan sekadar cerita.

“Kami tidak hanya belajar kosa kata, tapi juga praktik etika. Latihan sumpit ini mengajarkan kami pentingnya kesabaran dan ketelitian, yang merupakan nilai-nilai penting dalam budaya kerja Jepang”, ungkapnya.

Menurutnya, bimbingan dari Sensei Zulfikar sangat membantu peserta pelatihan. “Ternyata memegang sumpit itu tidak semudah kelihatannya”, ujarnya sambil tersenyum. Bagi Apri, setiap sesi seolah menambah satu kepingan baru dalam persiapan mentalnya.


Pelatih mengajarkan cara menggunakan sumpit. (FOTO: Dok. Disnakertrans)
Pelatih mengajarkan cara menggunakan sumpit. (FOTO: Dok. Disnakertrans)

Gedung BLK Sekayu tidak pernah lengang sejak program dimulai. Dari pagi hingga sore, ruangan dipenuhi suara belajar, diskusi, dan latihan.

Seorang peserta perempuan tampak mengulang percakapan sederhana dalam bahasa Jepang sambil berjalan mondar-mandir—mencoba menghafal dialog yang sudah diberikan.

Di sudut ruangan, peserta lain menempelkan sticky notes bertuliskan kosakata Jepang di meja dan dinding. Metode belajar kreatif muncul tanpa diminta.

Para instruktur menekankan bahwa keberangkatan ke Jepang bukan hanya soal kemampuan teknis. Jepang menghargai disiplin, komitmen, dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, BLK Sekayu memadukan pelatihan bahasa, budaya, etika, serta pembinaan karakter. Menurut Sinulingga Kabupaten Muba bukan sedang mencetak tenaga kerja semata, melainkan duta bangsa.

Pelatihan di BLK tidak hanya menyiapkan mereka untuk bekerja, tetapi juga untuk menjadi representasi positif Musi Banyuasin di mata dunia.

Dengan kurikulum yang komprehensif—dari bahasa, budaya, karakter hingga praktik keseharian—BLK Sekayu menjadi tempat yang menumbuhkan rasa percaya diri baru bagi para peserta.

Ketika semua sesi selesai, para peserta tidak hanya membawa catatan hafalan atau buku latihan. Mereka membawa nilai-nilai baru yang tertanam melalui proses panjang. Mereka sedang belajar berdiri tegak sebagai generasi muda Muba yang siap bersaing di tingkat internasional.


Peserta mengikuti pelatihan dengan serius. (FOTO: Dok. Disnakertrans)
Peserta mengikuti pelatihan dengan serius. (FOTO: Dok. Disnakertrans)

Di akhir sesi, Sensei Zulfikar memberi pesan yang membuat seluruh ruangan hening. “Kalian bukan hanya belajar untuk magang. Kalian belajar untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Ketika kalian berada di Jepang nanti, semua yang kalian lakukan akan mencerminkan diri kalian, keluarga kalian, dan daerah kalian. Karena itu, lakukanlah dengan hati”.

Para peserta mengangguk perlahan. Beberapa menunduk, merenungkan perjalanan yang sedang mereka tempuh.

Hari itu, pelatihan sumpit ditutup dengan tepuk tangan kecil namun penuh kebanggaan. Apri Liansyah dan teman-temannya tersenyum—masih banyak hal yang harus mereka pelajari, tetapi mereka merasa langkah besar telah dimulai.

Herryandi Sinulingga menyampaikan harapannya sebelum peserta meninggalkan ruangan. “Dengan fasilitas dan kurikulum di BLK Sekayu, kami ingin kalian tidak hanya profesional, tetapi juga mampu beradaptasi dan menjalin hubungan baik di lingkungan kerja Jepang. Semoga program vokasi seperti ini dapat terus dilaksanakan di Musi Banyuasin”.

Di penghujung tahun 2025, dari sebuah aula sederhana di Sekayu, mimpi 33 anak muda mulai dirawat, dibentuk, dan diarahkan. Mungkin perjalanan mereka ke Jepang masih beberapa bulan lagi, tetapi semangat mereka sudah berlayar lebih dulu—menembus batas geografis, membawa nama Musi Banyuasin menuju dunia yang lebih luas.


Kepala Disnakertrans Muba memberikan pengarahan kepada peserta pelatihan. (FOTOL Dok. Disnakertrans)
Kepala Disnakertrans Muba memberikan pengarahan kepada peserta pelatihan. (FOTOL Dok. Disnakertrans)

Di balik keseriusan latihan, terdapat potongan-potongan kisah pribadi yang menjadi bahan bakar semangat para peserta. Ada peserta yang ingin membantu orang tua membiayai sekolah adiknya. Ada yang bercita-cita menabung untuk membuka usaha setelah kembali dari Jepang. Ada pula yang sekadar ingin merasakan pengalaman tinggal di luar negeri.

Namun semua sepakat: pelatihan ini adalah langkah pertama menuju perubahan hidup.

Pelatihan ini tidak hanya menyiapkan mereka untuk bekerja, tetapi juga untuk menjadi representasi positif Musi Banyuasin di mata dunia.

Dengan kurikulum yang komprehensif—dari bahasa, budaya, karakter hingga praktik keseharian—BLK Sekayu menjadi tempat yang menumbuhkan rasa percaya diri baru bagi para peserta.

Menuju Jepang lebih dari sekadar perjalanan geografis Sensei Zulfikar berpesan, “Kalian bukan hanya belajar untuk magang. Kalian belajar untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Ketika kalian berada di Jepang nanti, semua yang kalian lakukan akan mencerminkan diri kalian, keluarga kalian, dan daerah kalian. Karena itu, lakukanlah dengan hati”.

Hari itu, pelatihan sumpit ditutup dengan tepuk tangan kecil namun penuh kebanggaan. Apri Liansyah dan teman-temannya tersenyum—masih banyak hal yang harus mereka pelajari, tetapi mereka merasa langkah besar telah dimulai.

Herryandi Sinulingga juga menyampaikan harapannya, “Dengan fasilitas dan kurikulum di BLK Sekayu, kami ingin kalian tidak hanya profesional, tetapi juga mampu beradaptasi dan menjalin hubungan baik di lingkungan kerja Jepang. Semoga program vokasi seperti ini dapat terus dilaksanakan di Musi Banyuasin”.

Dari sebuah aula sederhana di Sekayu, mimpi 33 anak muda mulai dirawat, dibentuk, dan diarahkan. Mungkin perjalanan mereka ke Jepang masih beberapa bulan lagi, tetapi semangat mereka sudah berlayar lebih dulu—menembus batas geografis, membawa nama Musi Banyuasin menuju dunia yang lebih luas. (maspril aries)

#Penulisan berita ini dibantu dengan menggunakan AI.

Tagged: