Cerpen Oleh: AI (GLM-4.5)
Angin laut bercampur aroma kayu tua dan lilin memenuhi lorong Museum Bahari, Jakarta. Fajar, mahasiswa arkeologi yang sedang menulis tesis tentang Srivijaya, berhenti di depan diorama yang megah. Kapal-kapal bercadik berukuran besar, dihiasi ukiran naga dan lotus, tampak berlayar di lautan biru diorama. Di kejauhan, sebuah kompleks istana terbuat dari kayu jati dan atap ijuk menjulang gagah, dikelilingi pepohonan mangrove dan sungai yang lebar. Plakat di sampingnya bertulis, “Rekonstruksi Ibu Kota Srivijaya, Palembang, Abad ke-8 Masehi”.
“Seperti mimpi yang terwujud dari abu sejarah”, bisik Fajar pada dirinya. Dia melepas kacamata, mengusap mata yang agak pedih. Semalam suntuk dia membaca naskah kuno dan berita penemuan terbaru di sekitar Sungai Musi. Tetapi diorama ini, meski indah, hanya bayangan statis.
Dalam hatinya bergejolak pertanyaan. Seperti apa kehidupan sesungguhnya di sana? Bagaimana debu pasar terasa di wajah, bagaimana denting logam dari bengkel pandai besi, atau deru sungai yang mengantar kapal-kapal dari negeri seberang?
Fajar pejamkan mata. Angin dari nampar wajahnya seolah membawa aroma angin dan asing dari masa lalu. Dan saat dia membukanya lagi, dia tidak lagi berada di ruang museum yang hening. Dia berdiri di tepi sungai yang lebar, luas, dan hidup. Di hadapannya, bayangan sebuah kerajaan – bukan diorama, tapi kenyataan yang membara – mulai terbentuk dari kabut sejarah. Namanya diucapkan dengan penuh hormat oleh para pelaut dan saudagar, “Srivijaya”.
Kabut pagi masih melayang rendah di atas permukaan Sungai Musi yang lebar dan tenang, seperti selimut sutra abu-abu menutupi perut sungai yang mengalir deras. Dari jauh, terdengar gelembung-gelembung air terpecah oleh sesuatu yang bergerak. Raguna, seorang muda dari vanua (desa semi-urban) di hulu, mengencangkan ikat sarungnya. Dia ikhlas meninggalkan sawahnya yang subur untuk beberapa hari ini. Tugasnya membawa sepasang ekor rusa hasil buruannya ke Palembang, pusat Kedatuan Srivijaya.
“Jangan lupa, Raguna”, pesan Bapak sebelum dia berangkat menyusuri anak sungai menuju Musi dengan perahu sampan kecilnya. “Bawa hasil yang baik ke Palembang. Tukar dengan garam dan besi. Dan jika ada kesempatan, dengarkan pidato Dapunta Hyang di Bale Paseban. Katanya, ia akan membahas jaringan pelabuhan baru di Selat Sunda”.
Raguna mengangguk hormat. Dapunta Hyang – pemimpin tertinggi mereka, Maharaja dari Srivijaya – namanya terasa sakral, membawa bayangan kekuasaan dan kemakmuran setelahnya. Palembang bukan hanya ibu kota, tapi pusat tali pusat yang menghubungkan dunia.
Sampan Raguna menyelinap di antara perahu-perahu lain yang sudah lebih dahulu menggelar sayapnya di sungai. Ada perahu jung besar dari China, dengan layar berbentuk persegi yang khas, mirip sayap kelelawar raksasa. Ada pula kolandiaphontoi, kapal-kapal lancip dari Arab atau Persia, dengan tiang-tiang tinggi menjulang menerobos kabut. Aroma campuran antara rempah-rempah yang kuat – cengkeh, pala, kayu manis – tercium dari beberapa kapal itu, bercampur dengan bau tEr yang digunakan untuk melumasi kayu, aroma ikan asin, dan bau anyar logam dari bengkel di tepi sungai.
“Hai, Raguna! Buruan sampai! Pasar sudah ramai!” seru seorang nelayan tua yang dikenal Raguna, mengarahkan perahunya ke arah yang sama. “Ada perahin dari Kedah membawa sutra halus! Harganya pantas untuk ditawar!”

Raguna mengayuh lebih cepat. Kabut mulai menipis, memperlihatkan pemandangan yang membuatnya selalu terpana. Dari tepi sungai yang ramai, deretan bangunan mulai terlihat. Istana Maharaja Dapunta Hyang tidak berada tepat di bibir pantai, tapi agak ke daratan, di atas bukit kecil yang dikelilingi parit air melingkar. Bangunan utamanya megah, berbentuk panggung tinggi (rumah panggung) dengan tiang-tiang kayu jati berukir motif lotus dan naga laut, atapnya yang berundak-undak melambung dengan genteng merah menyala. Di sekelilingnya, bangunan lain menjulang, gudang-gudang kayu besar untuk menyimpan hasil bumi dan barang dagangan, wihara (tempat ibadah Buddha) dengan gentengnya yang hijau keemasan, serta Bale Paseban – balai pertemuan terbuka di mana rakyat biasa bisa mendengar pengumuman penting.
Raguna menambatkan sampannya di dermaga kayu yang ramai. Aktivitas sudah seperti sarang lebah. Para pedagang dari berbagai suku bangsa berteriak menawarkan dagangan dalam bahasa yang campur aduk, Melayu kuno, Sanskerta, Tamil, bahasa Kanton. Ada gerobak berisi hasil hutan dari pedalaman – damar, rotan, kayu cendana – ada lagi tumpukan kantong-kantong lada hitam yang mengeluarkan aroma pedas menusuk. Pria bertubuh kekar dengan kulit hitam legam menggendong keranjang berisi ikan segar. Wanita dengan kain batik motif awan yang halus menjual makanan di atas daun pisang.
Raguna membawa hasil buruannya ke salah satu gerai penampung hasil hutan yang diresmikan Datu setempat. Seorang pria paruh baya dengan ikat kepala kain merah, wajahnya tegas namun matanya waspada, memeriksa kualitas daging rusa.
“Bagus, Raguna. Dagingnya segar dan besar”, kata si penampung, melemparkan sekeping uang logam perak kecil ke tangannya. “Ambillah garam dan beberapa batang besi di gudang nomor tujuh. Katakan saja dari Datu Harimbau”.
“Terima kasih, Tuan Datu”, Raguna membungkuk. Hatinya lega. Dia bisa membawa pulang barang yang dibutuhkan desa. Tapi pesan Bapaknya terngiang-ngiang di telinga. “Dengarkan pidato Dapunta Hyang”. Dia melihat ke arah Bale Paseban. Seorang juru bicara (pawang kata) sedang berdiri di atas panggung, menepuk-nepuk kentongan (genderang kecil) untuk memanggil perhatian.
“Rakyat Srivijaya yang berbahagia!” seru si pawang kata, suaranya jelas melintasi keramaian pasar yang mulai mereda. “Dengarkanlah sabda Yang Mulia Dapunta Hyang Sri Maharaja Rakai Panangkaran! Ia akan berbicara tentang kekuatan laut kita, tentang jaringan pelabuhan, dan tentang ancaman yang mengintai dari Jawa!”
Raguna tertarik. Ancaman dari Jawa? Dia mendekati Bale Paseban, mencari tempat berdiri yang bisa sedikit melihat ke atas panggung. Dia melihat Datu Harimbau, sang penampung dagingnya, juga berdiri di dekat sana bersama beberapa Datu lainnya, wajah mereka serius.
Di atas panggung tertinggi, berdirilah seorang pria yang langsung membuat semua mata tertuju padanya. Dapunta Hyang Sri Maharaja Rakai Panangkaran. Usianya mungkin sudah mendekati setengah abad, namun posturnya tegap seperti pohon beringin. Wajahnya tampan dan tegas, dengan janggut hitam yang dirapihkan, mata yang tajam seperti elang mengawasi lautan. Dia mengenakan kain Songket emas dan merah menyala, dililitkan di pinggang, atasnya hanya baju kampuh (baju tanpa lengan) dari kain tipis berwarna ungu tua, menunjukkan otot lengan yang kekar. Di kepalanya, sebuah mahkota daun dari emas, dihiasi permata merah melambangkan kekuasaan spiritual dan duniawi. Aura keagungan dan kharisma memancar darinya, membuat seisi pasar juga ikut terdiam.
“Anak-anakku”, ucap Dapunta Hyang, suaranya tenang namun membawa kekuatan yang menggetarkan, tidak perlu berteriak. “Kita semua tahu, mengapa kita berdiri di sini, di negeri yang makmur ini. Mengapa kapal-kapal dari China, dari India, dari negeri Arab singgah di pelabuhan kita? Bukan karena tanah kita yang subur semata. Bukan karena keberanian para pelaut kita saja”.

Dia berjalan perlahan di panggung, matanya menelusuri wajah-wajah di bawah.
“Tapi karena Sungai. Karena Laut”. Dia menunjuk ke arah Sungai Musi yang mengalir deras. “Sungai Musi adalah nadi kita. Dari hulu, dia mengalirkan hasil hutan, emas, kayu cendana. Dari hilir, dia menyambut kapal-kapal besar yang membawa sutra, tembikar, pengetahuan. Dan kita, rakyat Srivijaya, mengendalikan aliran darah negeri ini. Kita menjadi jantung perdagangan antara dua lautan, Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Kita adalah pencekatan di Selat Malaka, di Selat Karimata, di Selat Sunda!”
Teriakan “Srivijaya! Srivijaya!” berkumandang singkat dari kerumunan.
Dapunta Hyang mengangkat tangannya, meminta tenang. “Tapi kekuasaan tidak datang dengan sendirinya. Tidak datang hanya karena kita berdiri di persimpangan jalur perdagangan”. Wajahnya mengeras sedikit. “Ada yang menginginkan jalur ini. Ada yang menolak untuk tunduk pada kekuatan kita, pada aturan yang kita tegakkan untuk keamanan bersama. Di Jawa, di kerajaan yang mereka sebut Tarumanegara bagian barat, ada penguasa angkuh yang menolak membayar pajak lalu lintas untuk kapal-kapalnya yang melewati perairan kita. Dia ingin membuat aturan sendiri, mengancam stabilitas yang kita bangun susah payah!”
Suasana menjadi tegang. Murid-murid Datu Harimbau yang berdiri dekat Raguna tampak menggenggam erat gagang keris mereka.
“Ini tidak bisa dibiarkan!” Dapunta Hyang suaranya meninggi, penuh penegasan. “Jika satu saja melanggar aturan, yang lain akan mengikuti! Jalur sutra, jalur rempah, jalur pengetahuan yang kita lindungi akan kacau! Maka, kita harus menunjukkan kekuatan kita! Kita harus mengingatkan mereka siapa pengendali sebenarnya dari jalur air di nusantara ini!”
Dia melihat Datu Harimbau dan para datu lainnya. “Para Datu! Siapkan pasukan kalian! Para pelaut, prajurit, pendekar dari setiap vanua dan bhūmi! Persiapkan kapal perang! Kita akan berlayar ke Jawa! Kita akan menghadirkan keadilan! Kita akan mengukuhkan supremasi Srivijaya di atas air! Dan kita akan membuat prasasti untuk mengingatkan generasi mendatang, bagaimana kita menjaga negeri ini dari ancaman!”
Raguna merasakan adrenalin mengalir deras. Dia bukan prajurit, hanya pemburu dari desa. Tapi kata-kata Dapunta Hyang menyentuh semangatnya. Ini bukan hanya tentang pajak. Ini tentang melindungi sungai yang memberi mereka kehidupan, tentang harga diri bangsa yang mengandalkan air. Dia melihat Datu Harimbau mengangguk tegas pada Maharaja, wajahnya siap perang.
“Untuk Srivijaya! Untuk kemakmuran! Untuk kejayaan!” teriak Dapunta Hyang, mengangkat tangan ke langit.
“Srivijaya!” serentak, ribuan suara dari pasar yang memadati Bale Paseban dan sekitarnya membahana, menggema di atas Sungai Musi, seolah sungai itu sendiri ikut bergemuruh mendukung seruan Maharaja. Burung-burung manyar di pepohonan mangrove terbang kaget. Kabut pagi yang tersisa seolah tersapu oleh kemarahan dan tekad
Kemudian terdengar suara gong menggelagar. Fajar membuka matanya, sinar matahari sore menyusup dari celah kaca jendela Museum Bahari singgah di matanya. Di depannya, bayangan kapal-kapal layar miniatur berkilau di kaca etalase, sementara di dinding tergantung peta jalur maritim kuno. Arkeolog muda itu berdiri terpaku menghela napas di depan prasasti Telaga Batu yang direplika. Huruf-huruf kuno itu seperti berdenyut, berbisik.
“Apakah benar, batu ini menyimpan sumpah ribuan tahun lalu? Apakah benar, Sriwijaya pernah menguasai lautan?”
Di bukit Kota Kapur, di pulau Bangka, sebuah batu besar diukir dengan aksara Pallawa dan bahasa Melayu kuno. Isinya bukan ancaman perang, tapi sumpah suci, “Barangsiapa yang memberontak terhadap kedatuan Sriwijaya, semoga ia dilaknat oleh dewa-dewa, ditimpa bencana, dan jiwanya tidak menemukan ketenangan di akhirat.”
Prasasti itu bukan hanya politik. Ia adalah senjata spiritual. Di mata rakyat, memberontak bukan hanya dosa terhadap raja, tapi dosa terhadap alam semesta.
TAMAT.
(Inspirasi dari berita antaranews.com, 30 Agustus 2025 berjudul “Menyusuri jejak kejayaan Sriwijaya di Museum Bahari”)
#Penyunting: Maspril Aries.





