Home / Budaya / Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah Itu

Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah Itu

(FOTO: Ilustrasi IG @natanbookshop – AI)

Cerpen Oleh: AI (Grok)

Malam itu, lampu-lampu kuning hangat di Natan Book Store seolah membungkus seluruh rak kayu tua dengan selimut cahaya yang lembut. Bau kertas lama bercampur aroma kopi dari sudut kafe kecil di sebelah toko itu selalu membuat Elara merasa seperti pulang ke rumah yang tak pernah ia miliki.

Elara Putri Wardhana, dua puluh tujuh tahun, perempuan yang masih percaya bahwa kata-kata bisa menyembuhkan luka meski hatinya sendiri sudah retak-retak. Rambutnya yang hitam sebahu sering terikat asal, kacamata bulat tipisnya selalu melorot di hidung ketika ia terlalu larut membaca. Ia bekerja sebagai editor lepas untuk sebuah penerbit indie, tapi malam-malam seperti ini adalah miliknya sendiri—mencari buku yang bisa membuatnya lupa bahwa ia pernah berjanji tak akan lagi jatuh cinta.

Sementara itu, di lorong sastra kontemporer, Rian Aditya Mahendra berdiri dengan tangan di saku jaket denim hitamnya. Dua puluh sembilan tahun, desainer grafis yang baru saja pindah kembali ke kota ini setelah tiga tahun di luar negeri. Matanya yang tajam tapi lelah menyusuri judul-judul buku. Ia datang bukan untuk mencari cinta. Ia datang karena toko buku ini adalah satu-satunya tempat yang masih terasa nyata baginya di tengah dunia yang terlalu digital.

Mereka berdua tak tahu, malam itu plot yang selama ini mereka anggap hanya milik novel romansa sedang menulis dirinya sendiri di antara rak-rak kayu.

Elara meraih buku yang sama persis dengan yang dipegang Rian. Jari mereka hampir bersentuhan di punggung buku The Midnight Library karya Matt Haig. Buku tentang pilihan hidup, penyesalan, dan kemungkinan-kemungkinan yang tak diambil.

“Maaf”, kata Elara pelan, menarik tangannya.

Rian tersenyum tipis. “Kamu duluan”.

Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/733663/jatuh-cinta-di-toko-buku-seharfiah-itu/


Suara itu—rendah, tenang, seperti bisikan di antara rak buku—membuat Elara mendongak. Mata mereka bertemu. Untuk sesaat, lorong sempit itu terasa lebih sempit lagi.

“Kamu suka buku ini?” tanya Elara, mencoba terdengar santai.

“Belum baca. Tapi judulnya sudah bikin penasaran. Kamu?”

“Sudah dua kali. Tiap kali baca, aku selalu menangis di bagian yang sama”.

Rian mengangguk pelan. “Kadang buku seperti itu. Membuat kita berani melihat ke dalam diri sendiri”.

Itu kalimat sederhana. Tapi di mulut Rian, terasa seperti undangan untuk berdialog lebih dalam. Mereka akhirnya berdiri di sana, di lorong yang sama, membahas bab ketiga buku itu dengan suara yang semakin pelan karena takut mengganggu pengunjung lain. Percakapan literal berpindah menjadi bisikan di sela rak.

Akhirnya, Rian memberanikan diri. “Buku yang kamu pegang bagus. Bab ketiganya nanti ada yang bikin kaget. Mau ngobrol lebih lanjut di kafe? Aku traktir kopi”.

Elara ragu sebentar. Tapi ada sesuatu di mata Rian—kehangatan yang tak dibuat-buat—yang membuatnya mengangguk.

Mereka pindah ke sudut kafe kecil Natan. Dua cangkir kopi panas menguap di depan mereka. Obrolan yang tadinya tentang satu bab buku perlahan bercabang. Tentang bagaimana mereka memandang dunia. Rian bercerita tentang kelelahan melihat orang-orang di kota besar yang hidup hanya untuk scroll. Elara menceritakan bagaimana ia pernah kehilangan seseorang karena ia terlalu takut untuk benar-benar hadir.

“Kadang aku merasa hidupku seperti draft yang tak pernah selesai”, kata Elara sambil menatap cangkirnya.

Rian tertawa pelan. “Aku juga. Tapi malam ini, rasanya seperti menemukan bab yang bagus di tengah draft yang berantakan”.

Malam semakin larut. Toko buku yang semula hanya tempat bertransaksi kertas dan tinta, kini menjadi saksi bisu. Dua orang asing yang tadinya berjalan sendirian, memutuskan untuk melangkah di halaman yang sama.

*    *    *


Namun, jatuh cinta di toko buku bukan berarti semuanya mudah.

Dua minggu kemudian, mereka sudah sering bertemu. Kadang di Natan, kadang di kafe lain, kadang hanya jalan-jalan di antara rak buku sambil saling merekomendasikan judul. Rian memberi Elara buku puisi Sapardi Djoko Damono. Elara memberi Rian novel klasik yang ia yakin akan membuat Rian terharu. Mereka bertukar bukan hanya nama dan nomor telepon, tapi isi kepala. Mereka saling menunjukkan luka, mimpi, dan ketakutan.

Konflik datang dari dalam diri mereka sendiri.

Rian punya trauma. Mantan pacarnya dulu meninggalkannya karena ia “terlalu sibuk dengan dunia imajiner” dan tak cukup ambisius mengejar karir korporat. Ia takut jika ia jatuh terlalu dalam, Elara juga akan pergi ketika melihat bahwa ia bukan tipe yang ingin cepat menikah atau punya rumah besar. Ia masih ingin berkelana, masih ingin desain grafisnya menjadi sesuatu yang bermakna, bukan hanya uang.

Elara juga punya ketakutan. Ia pernah bertunangan dua tahun lalu. Tunangannya selingkuh dengan rekan kerjanya sendiri. Sejak itu, Elara membangun tembok tinggi. Ia takut jatuh cinta lagi berarti kehilangan kendali atas hatinya yang sudah rapuh. Ia takut Rian, dengan senyumnya yang tenang dan cara ia mendengarkan setiap kata Elara, akan menjadi orang yang membuatnya ingin percaya lagi—lalu menyakitinya.

Suatu malam, di Natan yang hampir tutup, konflik itu meledak.

“Kamu takut kan?” tanya Rian pelan saat mereka duduk di bangku kayu di antara rak fiksi. “Aku lihat dari caramu menjaga jarak”.

Elara menunduk. “Aku takut kamu akan pergi. Seperti yang lain”.


“Aku juga takut”, balas Rian jujur. “Takut kamu akan bosan dengan aku yang lebih suka menghabiskan malam dengan buku daripada di club atau meeting bisnis.”

Mereka diam lama. Hanya suara jam dinding dan hembusan AC yang terdengar.

“Aku bukan mencari kesempurnaan, El”, kata Rian akhirnya. “Aku hanya ingin… mencoba menulis cerita baru. Bersama kamu. Kalau kamu mau”.

Air mata Elara jatuh. “Aku juga mau. Tapi aku butuh waktu untuk belajar percaya lagi”.

Rian mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Elara dengan lembut. “Kita punya banyak waktu. Toko buku ini masih buka setiap hari”.

*    *    *

Bulan-bulan berikutnya adalah proses penyembuhan yang indah.

Mereka membaca buku bersama. Kadang Rian membacakan puisi dengan suara rendahnya sementara Elara bersandar di bahunya. Kadang Elara membacakan bagian novel favoritnya dan Rian mendengarkan dengan mata tertutup, seolah sedang menyerap setiap kata.

Konflik kecil masih muncul. Rian pernah harus lembur selama dua minggu untuk proyek besar, membuat Elara merasa ditinggalkan. Elara pernah panik dan menjauh ketika Rian bicara tentang masa depan. Tapi setiap kali, mereka kembali ke Natan. Toko buku itu menjadi tempat netral mereka. Di sana, di antara ribuan cerita orang lain, mereka belajar menulis cerita mereka sendiri.

Suatu sore musim hujan, Rian datang dengan membawa buku catatan kecil. Di dalamnya, ia menulis surat panjang. Bukan puisi berbunga-bunga, tapi kata-kata jujur tentang apa yang ia rasakan.

“Aku tak janji akan sempurna”, tulisnya. “Tapi aku janji akan selalu memilih pulang ke kamu. Ke kita”.


Elara menangis sambil membacanya. Lalu ia menarik Rian ke lorong yang sama tempat mereka pertama bertemu. Di sana, di bawah cahaya kuning yang sama, ia mencium Rian untuk pertama kali. Ciuman yang lambat, penuh keraguan yang akhirnya larut menjadi kepastian.

*    *    *

Satu tahun kemudian.

Natan Book Store masih sama. Rak-rak kayu masih penuh cerita. Bau kertas lama masih menenangkan.

Tapi kini, di sudut kafe, ada dua orang yang sudah tak lagi asing. Elara dan Rian duduk bersebelahan, membaca buku yang berbeda tapi sesekali saling menunjukkan paragraf yang membuat mereka tersenyum.

“Masih ingat hari pertama kita di sini?” tanya Elara sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rian.

“Seharfiah itu”, jawab Rian sambil tersenyum. “Jatuh cinta di toko buku”.

Mereka tertawa pelan. Di luar, hujan turun lagi, tapi di dalam hati mereka, cerita sudah menemukan ending yang bahagia—bukan karena sempurna, tapi karena mereka berani memilih halaman yang sama.

Toko buku pada akhirnya bukan hanya tempat bertransaksi kertas dan tinta. Ia menjadi saksi bisu akan dua kehidupan yang tadinya berjalan sendirian, lalu memutuskan untuk melangkah di halaman yang sama.

Dan di Natan Book Store, cerita itu terus berlanjut. Halaman demi halaman. Hari demi hari.

TAMAT.

(Dikembangkan dari unggahan Instagram @natanbookshop)

Penyunting: Maspril Aries

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *