Home / Wisata / Instagram Mengonstruksi Realitas Pariwisata Lampung (Disertasi Toni Wijaya – Fisip Unila)

Instagram Mengonstruksi Realitas Pariwisata Lampung (Disertasi Toni Wijaya – Fisip Unila)

Doktor Toni Wijaya setelah dinyatakan lulus mendapat ucapan selamat dari para penguji. (FOTO:unila.ac.id)

KINGDOMSRIWIJAYA – Toni Wijaya seorang dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (Fisip Unila), Rabu (3/6) berhasil menuntaskan studi strata tiga (S3) pada Program Doktor Studi Pembangunan, Unila.

Pada sidang promosi doktor dibuka Wakil Rektor Unila Habibullah Jimad mewakili rektor selaku Ketua Tim Penguji juga dihadiri Dekan Fisip Anna Gustina Zainal sebagai Sekretaris Tim Penguji serta promotor dan co-promotor dari guru besar Fisip Hartoyo Andy Corry Wardhani, serta Tim Penguji internal, Intan Fitri Meutia (Ketua Program Studi Doktor Studi Pembangunan Unila), Handi Mulyaningsih, Robi Cahyadi Kurniawan, dan Abdul Firman Ashaf, promovendus mempertahankan disertasinya berjudul “Dinamika Kontestasi Realitas: Analisis Konten Digital dalam Narasi Pariwisata Lampung di Instagram”.

Satu kata untuk disertasi ini, “Keren”. Disertasi ini fokus menganalisis pada 60 unggahan dari akun Instagram @lampuung dan akun @potraitlampung. Dari hasil penelitiannya, mengunggah foto pantai Lampung di dari laman Instagram dengan caption “1 juta views”, angka tersebut bukan sekadar statistik. Angka itu adalah bukti objektif bahwa pantai tersebut “benar-benar” indah. Itulah realitas baru di era digital—di mana metrik digital telah menggantikan pengalaman langsung sebagai validator kebenaran.

Wijaya melakukan penelitian mendalam terhadap dua akun Instagram terbesar di Lampung—@lampuung dengan 685.000 pengikut dan @potraitlampung dengan 268.000 pengikut—mengungkap sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar promosi wisata. Menurutnya, media sosial telah menjadi arena pertarungan narasi di mana realitas pariwisata tidak lagi ditentukan oleh apa yang benar-benar ada di lapangan, melainkan oleh apa yang dapat divalidasi oleh algoritma platform.

“Media sosial bukan sekadar saluran promosi”, tulis Toni Wijaya dalam ringkasan penelitiannya. “Ini adalah arena dialektis produksi realitas yang dipengaruhi oleh logika platform. Apa yang viral adalah apa yang dianggap nyata oleh masyarakat digital”.

Penemuan ini membuka pertanyaan fundamental tentang bagaimana kita memahami realitas di era digital. Jika jutaan orang percaya bahwa Lampung adalah destinasi “healing” karena Instagram menunjukkan itu, apakah itu menjadi realitas? Atau jika destinasi budaya Lampung jarang ditampilkan karena algoritma tidak menyukainya, apakah itu berarti destinasi tersebut tidak penting?


Toni Wijaya saat menyampaikan isi disertasinya pada ujian terbuka di Fisip Unila. (FOTO:unila.ac.id)

Untuk memahami temuan penelitian ini, Toni Wijaya yang semasa mahasiswa pernah aktif sebagai aktivis pers mahasiswa di Teknokra menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Situated Data Analysis, yang merupakan pendekatan inovatif dalam penelitian komunikasi pembangunan di era digital.

Toni Wijaya mengusung dua konsep dalam penelitiannya, yaitu Algorithmic Objectivation dan Digital Plausibility Structures. Sebelum lebih jauh menelisik penelitiannya, mari memahami terlebih dahulu, “mahkluk” apa dua konsep tersebut. Konsep pertama, Algorithmic Objectivation, adalah pergeseran fundamental dari teori konstruksi sosial realitas klasik yang dikembangkan oleh sosiolog Peter Berger dan Thomas Luckmann pada tahun 1966. Dalam teori klasik mereka, realitas dikonstruksi melalui tiga proses: eksternalisasi (manusia menciptakan sesuatu), objektivasi (hasil ciptaan itu dianggap independen), dan internalisasi (masyarakat menerima itu sebagai kenyataan).

Namun, di era Instagram, proses ini mengalami transformasi radikal. “Objektivasi tidak lagi hanya terjadi melalui institusi tradisional seperti negara, agama, atau media mainstream. Sekarang, algoritma platform media sosial menjadi otoritas epistemik baru yang menentukan apa yang objektif dan apa yang tidak”, kata pria yang di lingkungan teman masa kuliahnya kerap disapa “Toni” atau “Kak Toni”.

Contohnya jelas terlihat dalam penelitian. Ketika sebuah unggahan tentang Pulau Wayang mencapai 1 juta views, angka tersebut berfungsi sebagai bukti objektif bahwa Pulau Wayang adalah destinasi yang benar-benar indah dan layak dikunjungi. Wisatawan tidak perlu mengalami sendiri; mereka sudah “tahu” bahwa itu bagus karena algoritma mengatakan demikian melalui metrik engagement.

“Ini adalah komodifikasi dari kebenaran itu sendiri”, ujarnya. “Destinasi yang tidak memiliki validasi algoritma—yang tidak viral, tidak mendapat banyak likes dan shares—secara sosial dianggap ‘tidak eksis’ bagi generasi digital. Mereka mungkin sama indahnya, tetapi karena algoritma tidak memvalidasinya, mereka terpinggirkan”.

Konsep kedua, Digital Plausibility Structures, adalah perpanjangan dari konsep plausibility structures yang juga berasal dari teori Berger dan Luckmann. Dalam teori klasik, plausibility structures adalah basis sosial yang membuat suatu konstruksi tertentu tampak masuk akal—misalnya, agama tampak masuk akal karena ada komunitas keagamaan yang memperkuatnya.


Toni Wijaya saat menyampaikan isi disertasinya pada ujian terbuka di Fisip Unila. (FOTO:unila.ac.id)

Di era digital, menurut Toni, struktur plausibilitas telah berubah. “Sekarang, apa yang tampak masuk akal tidak lagi hanya ditentukan oleh komunitas tradisional, tetapi oleh kombinasi algoritma, metrik engagement, dan jaringan komunitas online”.

Ambil contoh narasi “healing” yang mendominasi konten pariwisata Lampung. Narasi ini tampak masuk akal bukan karena ada bukti medis yang kuat bahwa mengunjungi pantai Lampung benar-benar menyembuhkan depresi atau stres. Narasi ini tampak masuk akal beberapa faktor. Perama, Algoritma menyukainya: Konten visual yang tenang dan menenangkan mendapat prioritas tinggi dari algoritma Instagram.

Kedua, Komunitas memvalidasinya: Ribuan komentar dari pengguna yang mengatakan “ini tempat yang tepat untuk healing” memperkuat narasi. Ketiga, Influencer mempromosikannya: Travel influencer dengan jutaan pengikut terus mengulangi narasi ini.

Keempat, Metrik digital membuktikannya: Tingginya engagement pada konten “healing” dianggap sebagai bukti bahwa ini adalah kebutuhan nyata masyarakat. Hasilnya, narasi “healing” menjadi struktur plausibilitas baru yang membuat orang percaya bahwa mengunjungi pantai Lampung akan menyembuhkan masalah psikologis mereka—meskipun ini adalah konstruksi sosial yang dibangun oleh logika algoritma, bukan fakta objektif.

Pertarungan Dua Narasi

Dalam penelitian Kak Toni mengungkap sesuatu yang menarik, ada dua akun Instagram terbesar di Lampung yang memiliki strategi konstruksi realitas yang sangat berbeda, bahkan bertentangan.

Akun @lampuung, dengan 685.000 pengikut, bertindak sebagai promotor institusional. Akun ini menampilkan hampir semua jenis destinasi wisata Lampung—dari wisata alam, budaya, kuliner, hingga wisata buatan. Pendekatan mereka adalah inklusif dan merata. “Akun @lampuung bekerja dengan logika direktori. Mereka ingin merepresentasikan Lampung secara utuh, tidak hanya yang indah dan baik saja. Ini adalah pendekatan yang lebih jujur, dari perspektif algoritma”.


Destinasi wisata bahari di Lampung. (FOTO: Maspril Aries)

Sebaliknya, akun @potraitlampung, dengan 268.000 pengikut, bertindak sebagai kurator estetis. Akun ini sangat selektif dalam memilih konten yang akan ditampilkan. Mereka mengutamakan kategori wisata yang mudah populer secara algoritma—terutama wisata alam dan bahari. Konten budaya, ekowisata, dan wisata kesehatan hampir tidak pernah ditampilkan.

Toni menjelaskan, @potraitlampung bekerja dengan logika kurasi. Mereka memilih dan memilah konten agar secara visual menarik dan secara narasi memikat.

Kompetisi antara dua akun ini mencerminkan pertarungan yang lebih besar antara dua model komunikasi pembangunan: model institusional yang berusaha merepresentasikan realitas secara holistik, versus model pasar yang berusaha memaksimalkan engagement dan viralitas. “Ini bukan hanya tentang Instagram. Ini tentang siapa yang memiliki kekuatan untuk mendefinisikan realitas pariwisata Lampung. Ketika @potraitlampung lebih viral daripada @lampuung, itu berarti narasi kurator estetis lebih kuat daripada narasi promotor institusional. Akibatnya, wisata budaya Lampung menjadi kurang menonjol”, katanya.

Narasi “Healing” dan “Hidden Gem”

Dalam disertasinya, Toni juga membahas tentang narasi “healing” dan “hidden gem” dalam representasi pariwisata Lampung di Instagram.

Dari analisis 60 unggahan, narasi “healing” muncul dalam setidaknya 20 unggahan (33%), sementara narasi “hidden gem” muncul dalam 15 unggahan (25%). Kedua narasi ini didukung penuh oleh validasi algoritma—konten dengan narasi ini mendapat engagement yang jauh lebih tinggi dibandingkan konten lainnya.

Menurutnya, konstruksi realitas pariwisata Lampung didominasi oleh narasi alam dan bahari yang dibingkai sebagai ruang terapi psikologis (“healing”, “escape”, “green”). Framing ini sejalan dengan tren eco wellness tourism, namun penelitian mengungkap bahwa konten konservasi (ekowisata) hanya menyumbang 2–3 dari 60 unggahan,

Namun, apa yang menarik adalah bahwa narasi ini sebenarnya adalah konstruksi sosial yang dibangun oleh logika pasar dan algoritma, bukan oleh realitas objektif. Demikian pula dengan narasi “hidden gem”. Narasi ini mengkonstruksi destinasi wisata sebagai permata yang tersembunyi, eksklusif, dan belum terjamah. Tetapi ketika narasi ini menjadi viral dan jutaan orang datang ke destinasi tersebut. “Destinasi ‘hidden gem’ dipromosikan tanpa menyertakan informasi kapasitas atau regulasi akses”, katanya.


Destinasi wisata bahari di Lampung. (FOTO: Maspril Aries)

Bagi Toni, secara teoretis, hal ini mereproduksi paradoks daya dukung digital, yaitu algoritma platform memprioritaskan konten visual estetis dan narasi eksklusivitas, yang secara empiris kadang berkorelasi dengan lonjakan kunjungan tak terkendali dan degradasi ekosistem (UNWTO, 2023b).

Konstruksi “laut sebagai pemandangan” atau “pantai sebagai latar foto Instagrammable” menggeser nilai ekologis menjadi nilai konsumsi simbolik, sejalan dengan kritik tentang staged authenticity dalam pariwisata modern. Ia mencontohkan, destinasi seperti Bali menghadapi krisis serupa ketika narasi digital “tropical paradise” mendorong eksploitasi lahan dan tekanan pada sistem irigasi subak (Picard, 1995).

Sebaliknya, model Raja Ampat yang mengintegrasikan community-based ecotourism dengan batasan kuota pengunjung dan edukasi konservasi dalam konten digital menunjukkan bahwa konstruksi realitas berkelanjutan memerlukan algorithmic zoning dan narasi ekologis eksplisit (Scheyvens & Hughes, 2019).

Bisa dipahami bahwa ini adalah paradoks dari era digital. Semakin viral narasi “hidden gem”, semakin cepat destinasi itu kehilangan karakteristik “hidden gem”-nya. Tetapi algoritma tidak peduli dengan paradoks ini. Algoritma hanya peduli dengan engagement.

Infrastruktur di Balik Estetika

Dari hasil penelitian untuk disertasinya Toni menemukan adanya kesenjangan antara realitas fisik dan realitas digital terutama terkait dengan infrastruktur untuk menuju destinasi tersebut. Banyak destinasi yang ditampilkan secara estetis di Instagram, tetapi kolom komentar dipenuhi keluhan tentang infrastruktur buruk seperti, jalan rusak, parkir mahal, toilet kotor, pungutan liar.

“Keindahan destinasi menjadi sia-sia jika infrastruktur tidak mendukung,” tulis Toni pada bagian saran disertasinya. “Pemerintah daerah perlu memperhatikan infrastruktur menuju dan di sekitar destinasi. Dalam jangka panjang, infrastruktur buruk akan menurunkan jumlah kunjungan”.

Ketimpangan antara realitas fisik dan realitas digital ini bukan kecelakaan. Ia adalah produk sistematis dari logika platform, ekonomi perhatian, dan struktur plausibilitas digital yang membuat narasi tertentu tampak masuk akal sementara narasi lain dianggap tidak relevan.


Salah satu atraksi pada destinasi wisata bahari di Lampung. (FOTO: Maspril Aries)

Toni Wijaya, dalam disertasinya, tidak menawarkan solusi ajaib. Ia menawarkan pemahaman — bahwa media sosial adalah arena dialektis, bukan saluran pasif. Bahwa realitas adalah hasil negosiasi terus-menerus antara otoritas institusional, logika algoritma, dan keinginan audiens. Bahwa untuk memahami pariwisata Lampung di era digital, kita tidak boleh hanya melihat “apa” yang ditampilkan, melainkan juga “bagaimana” dan “mengapa” realitas tertentu dikonstruksi sebagai kebenaran sementara realitas lain dibiarkan dalam bayang-bayang.

Dan mungkin, pemahaman itu adalah langkah pertama untuk keluar dari siklus simulakrum. Untuk melihat pantai bukan sebagai latar foto, melainkan sebagai ekosistem. Untuk melihat budaya bukan sebagai even monumental, melainkan sebagai cara hidup. Untuk melihat wisatawan bukan sebagai konsumen konten, melainkan sebagai subjek yang memiliki kapasitas untuk memproduksi realitasnya sendiri — realitas yang mungkin lebih kompleks, lebih tidak sempurna, tapi lebih nyata daripada “hidden gem” mana pun yang pernah dijanjikan oleh algoritma.

Disertasi Toni merekomendasikan agar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Lampung. 1. Menggeser paradigma dari branding ke promosi berbasis komunitas. Bukan berarti mempromosikan citra negatif, tetapi menghindari penghilangan data sistematis terhadap realitas sosial-ekonomi lokal. 2. Menggunakan insights dari konstruksi realitas digital untuk merumuskan kebijakan pariwisata berkelanjutan dan mencegah overtourism di destinasi yang diviralkan. 3. Mendukung pelestarian budaya tidak hanya melalui even seremonial, tetapi juga melalui integrasi makna budaya dalam konten digital yang relevan bagi generasi muda. 4. Memfasilitasi akses digital bagi UMKM dan destinasi kecil agar dapat berpartisipasi dalam konstruksi realitas pariwisata daerah.

Jika dicermati hasil penelitian dalam disertasi Toni yang dilakukan selama Januari-Mei 2025 ini dapat dibaca ada pesan kepada pemerintah daerah atau Disparekraf Lampung bahwa temuan riset ini harus menjadi bahan evaluasi kebijakan makro yang sangat mendasar. Pemerintah tidak boleh lagi terjebak dalam euforia semu kesuksesan promosi pariwisata yang hanya diukur berdasarkan angka-angka metrik digital di atas kertas, sementara kondisi riil di lapangan mengalami degradasi ekologis dan marjinalisasi sosial. Pemerintah Daerah dituntut untuk segera menyelaraskan arah kebijakan pembangunan fisik infrastruktur dan pengelolaan destinasi dengan dinamika narasi digital yang berkembang liar di masyarakat siber.  (maspril aries)

#Penulisan Konten ini diolah dengan bantuan AI

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *