Ilustrasi penulis tengah meresensi buku. (FOTO-FOTO: AI)
KINGDOMSRIWIJAYA – Pada era digital, di tengah banjir informasi saat ini, buku tetap menjadi jendela dunia yang tak tergantikan. Jika buku masih dicari, dibeli dan dibaca, apakah saat ini masih ada aktivitas yang namanya resensi buku atau meresensi buku? Pertanyaan lazim disampakan pada masa senja kala media cetak (surat kabar atau koran dan majalah), karena pada platform media tersebut kerap ditemukan artikel resensi buku.
Pada era banjirnya media online apakah resensi buku masih menjadi rubrik atau kanal yang disediakan platform media online? Maka jawabannya, kadang-kadang masih ada satu dua media online atau digital yang menyajikan resensi buku, baik buku fiksi atau sastra dan buku non fiksi yang jumlahnya tidak banyak. Berbeda dengan masa media cetak masih berjaya, maka setiap hari Ahad atau Minggu surat kabar atau majalah pasti menyajikan resensi buku.
Selain akibat disrupsi, resensi buku juga menghilang seiring waktu, saat tidak semua orang memiliki waktu untuk membaca setiap judul baru yang terbit. Itu bukan berarti resensi tidak dibutuhkan. Di sinilah peran resensi buku hadir sebagai panduan sekaligus jembatan antara penulis, penerbit, dan pembaca. Resensi bukan sekadar ringkasan, melainkan ulasan kritis yang mampu memengaruhi keputusan seseorang untuk membeli atau membaca sebuah buku.
Sebagai seorang penggemar literasi tepatnya pembaca buku, pada sebuah komunitas buku banyak anggotanya mengakui dan menyadari betapa pentingnya kemampuan menulis resensi buku. Bagi yang tidak tahu apa itu resensi buku, bacalah artikel ini sampai selesai karena akan mengupas apa itu resensi buku, unsur-unsurnya, fungsi dan manfaatnya, serta langkah-langkah praktis menulisnya, sekaligus mengajak pembaca merasakan pengalaman langsung para pengulas buku profesional.
Asal Usul Resensi Buku
Istilah “resensi” berasal dari bahasa Belanda recensie, yang berarti “melihat kembali”, “menimbang”, atau “menilai kembali”. Resensi juga dapat diartikan “mengulas kembali”. Dalam konteks modern, resensi buku adalah kegiatan mengulas karya secara kritis untuk memberikan gambaran, penilaian, dan pemahaman terhadap isinya. Dalam konteks sastra Indonesia, resensi buku adalah tulisan yang memberikan tanggapan kritis terhadap sebuah karya, baik fiksi maupun nonfiksi, berdasarkan pemahaman mendalam pembacanya.
Di era yang serba instan, buku cetak atau buku digital (e-book) tetap menjadi sumber pengetahuan dan hiburan yang tak tergantikan. Namun, bagaimana memastikan sebuah buku layak dibaca di tengah lautan pilihan? Jawabannya terletak pada resensi buku—sebuah alat krusial bagi pembaca yang ingin memilih karya berkualitas, dan bagi penulis yang ingin mendapatkan umpan balik konstruktif.
Dalam dunia literasi, resensi buku bukan sekadar ringkasan biasa. Menurut Kurniawan Djunaedi dalam buku “Menilai Karya Melalui Resensi”, resensi adalah “bentuk pendapat subjektif yang berisi kupasan atau penilaian terhadap hasil karya, berdasarkan penelitian atau pemahaman mendalam.” Sementara itu, Teaching That Makes Sense mendefinisikannya sebagai “tulisan yang memberikan tanggapan nyata terhadap literatur yang benar-benar penting”.
Mengutip Haryanto dalam buku Membuat Resensi (2008), meresensi bukanlah sekadar mencemooh atau memuji secara berlebihan. Resensi adalah argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai kelebihan dan kekurangan buku, disertai alasan yang logis dan objektif. Resensi berbeda dengan sinopsis. Sinopsis hanya ringkasan plot tanpa penilaian, sementara resensi mencakup analisis, kritik, dan rekomendasi. Ia juga berbeda dengan berita buku yang lebih bersifat informatif semata.

Menurut Gorys Keraf dalam buku “Komposisi” (1993), resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masayrakat atau tidak.
Di Indonesia, praktik resensi buku telah lama hadir di media massa, baik surat kabar nasional atau daerah. Ada dua penelitian dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta—Resensi Buku dalam Surat Kabar Kedaulatan Rakyat (Andreas Dwi Sandi Aditya, 2014) dan Model-Model Resensi dalam Surat Kabar Kompas (Tofan Gustyawan, 2014)—menunjukkan bagaimana resensi menjadi bagian penting dari ekosistem literasi nasional.
Resensi buku telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem literasi. Saat ini di era digital ada beberapa media online yang mengunggah resensi buku. Di luar itu pada berbagai jurnal ilmiah juga ada yang menyertakan rubrik “Resensi Buku”. Bagaimana di dunia pendidikan? Pada beberapa perguruan tinggi atau sekolah masih ada dosen dan guru yang menugaskan mahasiswa dan siswa untuk menulis resensi sebagai tugas akademik.
Di tengah derasnya arus informasi yang melimpah ruah saat ini, buku tetap menjadi salah satu media komunikasi tertua dan paling berharga yang pernah diciptakan manusia. Sejak penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg sekitar tahun 1450, buku telah berkembang dari sekadar tumpukan kertas terjilid berisi tulisan, menjadi wadah gagasan, ilmu pengetahuan, cerita, dan pemikiran yang mampu melintasi batas waktu, ruang, dan budaya. Secara definisi, buku adalah kumpulan lembaran kertas berisi informasi tercetak yang disusun sistematis, dijilid, diberi kulit pelindung, dan umumnya memiliki minimal 48 halaman. Lebih dari sekadar benda fisik, ada yang menyebut “buku adalah jendela dunia”, menjadi alat pembelajaran, sarana hiburan, serta dokumentasi pemikiran manusia yang tak ternilai harganya.
Namun, keberadaan buku saja tidak cukup. Nilai dan manfaat yang terkandung di dalamnya baru akan terasa jika pesan, gagasan, atau informasi yang disampaikan penulis dapat diterima, dipahami, dan ditanggapi oleh pembacanya. Di sinilah letak pentingnya kegiatan meresensi buku.
Fungsi dan Manfaat Resensi Buku
Selain itu resensi buku memiliki peran multifungsi, Resensi buku menjadi bahan pertimbangan pembaca yang membantu calon pembaca memutuskan apakah buku layak dibaca. Resensi buku juga menjadi sarana promosi bagi buku baru, resensi positif dapat meningkatkan penjualan. Bagi si penulis resensi, resensi buku dapat mengembangkan kreativitas penulis sekaligus melatih berpikir kritis, analisis, dan menulis terstruktur.
Resensi buku juga memiliki nilai ekonomi yang menarik. Menjadi penulis buku yang juga kerap disebut book reviewer bisa mendatangkan cuan. Ini pengalaman nyata, honor menulis resensi buku di surat kabar atau majalah pada masalah bisa mendapatkan honorarium di atas harga buku yang diresensi. Di luar negeri pada masa jayanya surat kabar, menulis resensi buku di The New York Times bisa dibayar hingga US$800 per 1000 kata. Juga ada lomba karya tulis resensi buku yang hadiahnya menggiurkan.
Besarnya honorarium menulis resensi di surat kabar dan majalah kerap menjadi hobi membaca bisa menjadi side job. Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra, menulis resensi bisa menjadi portofolio berharga. Banyak lulusan yang kemudian menjadi kontributor media atau editor penerbitan.

Berdasarkan multifingsi tersebut, resensi juga memiliki peran penting bagi berbagai pihak. Pertama, Bagi Pembaca akan mendapatkan gambaran jelas tentang isi buku sebelum memutuskan untuk membaca atau membelinya. Juga mndapatkan pertimbangan apakah buku tersebut sesuai dengan kebutuhan, minat, atau tingkat pemahamannya. Sekaligus memperoleh wawasan tambahan karena resensi sering kali membahas hal-hal yang mungkin tidak terlihat jelas saat membaca langsung.
Kedua, Bagi Penulis Buku akan mendapatkan tanggapan, kritik, dan saran yang membangun untuk perbaikan karya selanjutnya. Mengetahui sejauh mana gagasan atau pesan yang disampaikan berhasil dipahami dan diterima oleh pembaca. Ketiga, Bagi Penerbit, resensi menjadi bahan evaluasi kualitas buku yang diterbitkan juga sarana promosi dan pengenalan buku kepada masyarakat luas.
Keempat, Bagi Penulis Resensi melatih kemampuan membaca kritis, menganalisis isi, dan memahami makna tersirat maupun tersurat. Melatih keterampilan menyusun tulisan yang sistematis, logis, dan komunikatif. Dan melatih kemampuan mengemukakan pendapat secara objektif, beralasan, dan beretika. Kelima, Bagi Dunia Pendidikan dan Budaya resensi buku bisa mendorong budaya membaca, menulis, dan berdiskusi, sekaligus menjadi sarana penyaringan informasi dan karya tulis yang berkualitas.
Di masa sekarang, ketika informasi bertebaran di mana-mana, orang cenderung membaca ringkasan, cuplikan, atau ulasan singkat sebelum memutuskan membaca buku utuh. Di sinilah peran resensi semakin besar. Resensi berfungsi sebagai penyaring informasi. Dari ribuan buku yang terbit setiap tahun, pembaca membutuhkan panduan untuk memilih mana yang berkualitas, mana yang sesuai kebutuhan, dan mana yang hanya membuang waktu.
Bagi dunia penerbitan, resensi adalah cermin kualitas. Ulasan dari pengulas yang kompeten membantu penerbit mengetahui kelebihan dan kekurangan produk mereka untuk perbaikan di masa depan. Bagi penulis, resensi adalah dialog. Melalui ulasan, penulis bisa berdiskusi dengan pembaca, mengetahui bagaimana karyanya dipahami, dan mendapatkan masukan berharga.
Resensi juga mendorong budaya berpikir kritis. Saat menulis resensi, Anda tidak hanya membaca, tapi juga menganalisis, membandingkan, menilai, dan menyimpulkan. Kemampuan ini sangat dibutuhkan di zaman sekarang, di mana kita dibanjiri informasi dan harus mampu memilah mana yang benar, bermanfaat, dan berkualitas.
Unsur-Unsur Resensi Buku
Dalam menulis resensi buku, seorang penulis resensi perlu menguasai substansi, kemampuan mengemas informasi, dan penggunaan bahasa yang komunikatif. Sebuah resensi yang baik biasanya memuat unsur-unsur berikut, judul, identitas buku, biografi singkat pengarang, isi/ inti buku, kelebihan dan kekurangan sekaligus kesimpulan dan rekomendasi.
Untuk judul sebuah resensi harus menarik dan mencerminkan inti pembahasan. Bukan sekadar “Resensi Buku X”, melainkan sesuatu yang provokatif posotof yang mampu menggugah calon pembaca membeli dan membaca bukunya. Sajikan juga identitas buku meliputi judul lengkap, pengarang, penerbit, tahun terbit, jumlah halaman, edisi, dan harga. Informasi ini membantu pembaca mencari buku dengan mudah.
Pada bagian biografi singkat pengarang tuliskan latar belakang pendidikan, karya sebelumnya, dan perspektif pengarang memberikan konteks. Misalnya, memahami latar belakang penulisnya. Jangan lupa sajikan juga isi/inti berupa ringkasan singkat tanpa spoiler berlebihan. Misalnya, untuk novel, gambarkan tema, alur, dan tokoh utama secara bebas. Kemudian sajikan juga kelebihan analisis kekuatan buku, seperti tema yang kuat, alur yang rapi, penokohan mendalam, gaya bahasa, atau nilai edukatif. Juga tuliskan juga kekurangannya yang disampaikan secara objektif dan sopan. Misalnya, “Meski alurnya menarik, beberapa dialog terasa kurang natural”. Yang terakhir kesimpulan dan rekomendasi sekaligus penutup yang merangkum penilaian akhir serta siapa yang direkomendasikan membaca buku tersebut.

Resensi juga dibagi menjadi beberapa jenis. Tjahjono Widarmanto dalam buku “Pengantar Jurnalistik Panduan Awal Penulis dan Jurnalis” (2016) membagi resensi menjadi tiga jenis, 1. Resensi Informatif, yaitu sekedar menyampaikan isi secara singkat dan umum dari keseluruhan isi buku atau kisah dari pertunjukan teater dan film. 2. Resensi Deskriftif, yakni membahas secara detail pada setiap bagian buku atau adegan pertunjukan teater dan film. 3. Resensi Kritis, yaitu berupa ulasan detail berdasarkan metodelogi ilmu pengetahun tertentu. Isi resensi kritis dan obyektif dalam penilaian isi buku atau kisah pertunjukan teater dan film.
Tips Menulis Resensi
Berikut langkah demi langkah cara menulis resensi buku. Harus diingat bahwa menulis resensi bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa diasah. Langkah Pertama: Pilih Buku yang Tepat. Pilih buku yang sesuai minat atau isu terkini. Untuk pemula, mulai dengan genre favorit. Pastikan buku belum banyak diresensi jika ditujukan untuk media massa.
Langkah Kedua: Baca Secara Komprehensif. Baca sambil mencatat: identitas buku, tema utama, kekuatan, kelemahan, kutipan penting. Buat daftar pertanyaan: Apa tujuan penulis? Apakah tercapai? Bagaimana gaya bahasanya? Langkah ketiga: Tentukan Sudut Pandang (Angle). Resensi yang baik memiliki fokus. Apakah menyoroti aspek sosial, psikologis, atau teknis penulisan?
Langkah Keempat: Buat Kerangka. Susun outline berdasarkan unsur resensi standar. Langkah Kelima: Tulis Draf. Mulai dengan pengenalan menarik, lalu identitas, ringkasan, analisis, dan kesimpulan. Gunakan bahasa yang hidup, hindari spoiler berat. Langkah Keenam: Revisi dan Koreksi Periksa fakta, tata bahasa, dan keseimbangan penilaian. Baca ulang seolah Anda pembaca pertama.
Menulis resensi buku adalah perjalanan mengasah pikiran kritis sekaligus berbagi cinta literasi. Ia bukan hanya tugas akademik atau pekerjaan sampingan, melainkan kontribusi nyata terhadap ekosistem buku Indonesia. Menulis resensi bukan sekadar tugas sekolah atau kewajiban penulis lepas. Ia adalah keterampilan berharga yang melatih kecerdasan berpikir, ketelitian membaca, dan ketajaman analisis. Melalui resensi, kita tidak hanya memahami isi buku, tetapi juga berlatih menempatkan diri sebagai penilai yang adil, bijak, dan bermanfaat bagi orang lain.
Menulis resensi buku adalah perjalanan intelektual yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat. Ia melatih berpikir kritis, berbagi cinta literasi, dan bahkan membuka peluang penghasilan. Dengan literasi Indonesia yang terus naik dan industri buku yang dinamis, setiap pembaca berpotensi menjadi pengulas berpengaruh.
Setiap buku yang selesai kita baca, menyimpan sejuta gagasan dan pemikiran. Menulis resensi adalah cara kita berterima kasih kepada penulis, cara kita berbagi wawasan dengan sesama, dan cara kita ikut serta menjaga dan mengembangkan khazanah ilmu pengetahuan dan budaya.
Mulailah dari buku-buku yang Anda sukai, ikuti langkah-langkah dan teknik yang telah diuraikan, dan biarkan tulisan Anda menjadi jembatan yang menghubungkan karya hebat dengan pembaca yang tepat.
Karena pada akhirnya, sebuah resensi yang baik bukan hanya menceritakan apa yang ada di dalam buku, tetapi mampu mengajak pembaca masuk, memahami, dan merasakan nilai dari setiap halaman yang tertulis. Siapa tahu, resensi Anda kelak akan membantu ribuan orang menemukan “jendela dunia” baru. Dengan semangat literasi yang terus tumbuh, mari kita jaga tradisi meresensi sebagai bentuk penghargaan terhadap karya-karya bermutu. (maspril aries)





