Home / Literasi / Membaca Buku adalah Cara Menghargai Kesederhanaan

Membaca Buku adalah Cara Menghargai Kesederhanaan

Unggahan di Instagram @natanbookshop.

KINGDOMSRIWIJAYA – Pada akun Instagram (IG) @natanbookshop ada satu unggahan atau flyer yang isinya memasang teks “Terbiasa membaca buku bikin kita lebih mudah menghargai kesederhanaan yang jarang orang lain rayakan”. Lantas terlintas di benak, apa maksud dari kalimat tersebut dan bagaimana cara menangkap maknanya? Pernyataan ini bukan sekadar slogan motivasi. Bisa jadi ini sebuah tesis yang didukung oleh psikologi, neurosains, dan pengalaman manusiawi yang mendalam.

Untuk mencari jawabannya, mencoba bertanya ke Akal Imitasi (AI) ada beragam jawabannya. Ternyata dari ragam jawaban tersebut, sekaligus memperkaya wahana berpikir orang (mereka) yang biasa membaca buku. Membaca buku itu satu aktivitas kuno dibandingkan aktivitas mata Anda (siapa saja) yang matanya sibuk menatap layar gadget seraya jemarinya scroll dan memencet huruf yang ada di layar perangkat pintar atau ponsel (telepon seluler).

Tapi ada yang berbisik dan datang bersama hembusan angin, “Membaca buku (aktivitas kuno) itu mampu mengembalikan kita kepada kebenaran”. Kutipan pada akun IG @natanbookshop itu  bukan sekadar romantisasi terhadap buku. Ini adalah fenomena nyata yang semakin banyak dirasakan oleh pembaca di seluruh dunia. Ketika seseorang terbiasa membaca buku, sesuatu yang fundamental berubah dalam cara mereka memandang hidup. Mereka menjadi lebih mudah menghargai kesederhanaan yang jarang orang lain rayakan. Mereka menemukan kepuasan dalam hal-hal kecil. Mereka berhenti berlari mengejar dopamin instan.

Rehat sejenak pada pragraf ini untuk menjelaskan apa itu “dopamin” dan “dopamin instan”? Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi arti “dopamin” adalah senyawa kimia dalam otak yang terbentuk sebelum epinefrina yang berfungsi sebagai penghubung sesama sel saraf dan sel otot. Bukan dari KBBI, tapi dalam pengetahuan  umum “dopamin instan” adalah istilah populer (bukan istilah medis resmi) yang merujuk pada aktivitas yang memberikan rasa senang atau kepuasan dengan sangat cepat, sehingga memicu pelepasan dopamin di sistem penghargaan otak.

Dopamin sendiri bukan “zat kebahagiaan”, melainkan neurotransmiter yang berperan dalam motivasi, antisipasi hadiah, pembelajaran, dan dorongan untuk mengulangi perilaku yang dianggap menguntungkan. Berikut contoh aktivitas yang sering disebut memberikan “dopamin instan”: “scroll media sosial tanpa henti, mendapat notifikasi, like, atau komentar, menonton video pendek (TikTok, Reels, Shorts), bermain game dengan hadiah yang sering muncul sampai urusan makan makanan tinggi gula, garam, atau lemak dan belanja impulsif serta berjudi atau taruhan.

Dan disebut “instan” karena hadiahnya datang cepat dan dengan usaha yang relatif kecil. Otak belajar bahwa aktivitas tersebut memberikan kepuasan segera.

Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan usaha dan kesabaran lebih besar (belajar, olahraga, membaca buku, mengerjakan proyek) bisa terasa kurang menarik.

Bukan berarti dopamin instan selalu buruk. Masalah biasanya muncul jika Anda menghabiskan terlalu banyak waktu untuk aktivitas tersebut. Sulit mengontrol penggunaannya, sampai mengganggu pekerjaan, belajar, hubungan, atau kesehatan. Atau membuat Anda terus mencari stimulasi cepat dan menghindari tugas penting.

Jika ada dopamin instan maka sebagai kebalikannya, ada aktivitas yang sering disebut memberikan “dopamin tertunda” atau kepuasan yang lebih lambat seperti aktivitas olahragal, belajar keterampilan baru, membaca buku, membangun bisnis atau karier, menyelesaikan proyek jangka panjang, bermeditasi atau melatih fokus, dan lainnya. Aktivitas-aktivitas ini biasanya membutuhkan usaha lebih besar di awal, tetapi sering menghasilkan kepuasan yang lebih bertahan lama dan manfaat yang lebih luas.


Singkatnya, dopamin instan adalah kepuasan cepat yang diperoleh dari aktivitas berhadiah langsung, sedangkan tantangannya adalah menjaga keseimbangan agar tidak mengorbankan aktivitas penting yang hasilnya baru terasa di kemudian hari.

Hedonic Treadmill

Selanjutnya, saatnya memahami bahwa di tengah hiruk pikuk dunia yang terus mengejar status, kekayaan, dan validasi digital, ada sebuah kebenaran sederhana yang semakin dilupakan, yaitu kesederhanaan sebagai kemewahan sejati.

Berdasarkan dari riset/ penelitian, ini adalah fenomena nyata yang semakin banyak dirasakan oleh pembaca di seluruh dunia. Ketika seseorang terbiasa membaca buku, sesuatu yang fundamental berubah dalam cara mereka memandang hidup. Mereka menjadi lebih mudah menghargai kesederhanaan yang jarang orang lain rayakan. Mereka menemukan kepuasan dalam hal-hal kecil. Mereka berhenti berlari mengejar dopamin instan.

Ada yang beranggapan bahwa kita hidup di era yang paradoks. Teknologi telah memberikan akses tak terbatas kepada kita, informasi, hiburan, koneksi sosial, dan peluang. Namun dengan akses tak terbatas itu datang juga kegelisahan yang tak terbatas. Kita dikondisikan untuk selalu menginginkan lebih—lebih banyak followers, lebih banyak uang, lebih banyak pengalaman, lebih banyak barang, lebih banyak validasi. Ternyata semua itu telah dirancang dengan cermat.

Algoritma media sosial mempelajari apa yang membuat Anda tetap terjebak di layar. Iklan menargetkan insekuritas (kondisi ketidakpastian atau rasa tidak aman) Anda. Influencer menampilkan gaya hidup yang tampak sempurna. Teman-teman kita membagikan momen terbaik mereka. Hasilnya adalah perasaan konstan bahwa kita kurang—kurang kaya, kurang cantik, kurang sukses, kurang bahagia.

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai hedonic treadmill atau hedonic adaptation—kecenderungan manusia untuk kembali ke tingkat kepuasan baseline mereka, tidak peduli apa yang terjadi. Anda membeli barang yang Anda inginkan, dan untuk beberapa waktu Anda bahagia. Tetapi kemudian kebahagiaan itu memudar, dan Anda mulai menginginkan sesuatu yang lain. Hedonic treadmill adalah istilah yang diciptakan Psikolog Philip Brickman dan Donald Campbell dari Northwestern University pada 1971. Konsep ini menggambarkan kecenderungan manusia untuk tetap berada pada tingkat kebahagiaan yang relatif stabil, meskipun mengalami perubahan positif atau negatif dalam kehidupan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Anda berlari. Kencang. Tapi Anda berlari di atas treadmill yang tidak pernah berhenti. Dan Anda tidak pernah sampai ke mana-mana.

Konsumerisme modern menciptakan siklus hedonic treadmill, Anda membeli barang baru, merasa senang sebentar, lalu kembali tidak puas dan menginginkan yang lebih. Psikolog menyebut ini chronic dissatisfaction—ketidakpuasan kronis yang muncul dari perbandingan sosial terus-menerus dan dorongan dopamin buatan dari notifikasi dan belanja online. Hasilnya? Tingkat depresi dan kecemasan yang meningkat, meski standar hidup material naik. Di sinilah buku masuk. Seperti kutipan pada awal tulisan ini.

Dalam konteks modern, fenomena ini diperkuat oleh apa yang disebut dopamine-driven economy—ekonomi yang dirancang untuk membuat Anda atau kita terus mencari dopamin instan. Setiap notifikasi, setiap like, setiap produk baru adalah janji dopamin. Dan ketika dopamin itu hilang, Anda dan kita merasa kosong lagi. Inilah yang dimaksud dengan ketidakpuasan kronis, suatu keadaan di mana seseorang tidak pernah benar-benar puas, tidak peduli apa yang mereka miliki atau capai. Ini adalah penyakit zaman modern.


Sementara kesederhanaan, di sisi lain, adalah antitesis dari semua ini. Kesederhanaan berarti menemukan kepuasan dalam hal-hal yang tidak memerlukan konsumsi konstan. Kesederhanaan berarti menghargai secangkir kopi hangat di pagi hari, hujan yang turun di siang hari, percakapan santai dengan teman di teras rumah. Kesederhanaan berarti memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari apa yang Anda miliki, tetapi dari bagaimana Anda mengalami apa yang sudah ada. Dan di sinilah buku memainkan peran yang sangat penting.

Dopamin dan Buku

Dalam era digital, sistem dopamin kita telah dirancang ulang. Setiap notifikasi, setiap like, setiap produk baru adalah janji dopamin. Algoritma dirancang untuk membuat kita terus mencari dopamin berikutnya. Akibatnya, sistem dopamin kita menjadi “rusak”. Kita memerlukan lebih banyak stimulasi untuk merasa puas. Kita tidak pernah benar-benar puas karena kita selalu mencari dopamin berikutnya.

Agar tak “rusak” dopamin Anda maka membaca buku adalah cara untuk mengkalibrasi ulang sistem dopamin Anda/kita. Ketika Anda membaca buku, dopamin datang lebih lambat. Anda harus fokus, harus membayar perhatian, harus terlibat secara aktif dengan teks. Dopamin tidak datang dari notifikasi atau likes; dopamin datang dari pemahaman, dari koneksi emosional, dari penemuan makna. Harus diingat bahwa dopamin dari membaca buku adalah dopamin yang berkelanjutan. Ini bukan dopamin yang cepat dan hilang; ini adalah dopamin yang dalam dan bertahan lama.

Ketika Anda secara teratur mengalami dopamin jenis ini, otak Anda mulai mengkalibrasi ulang. Otak Anda mulai menganggap dopamin yang lebih halus dan bermakna. Otak Anda menjadi kurang tergantung pada stimulasi konstan. Akibatnya, Anda menjadi lebih mampu merasakan kepuasan dari hal-hal yang instan. Anda menjadi kurang tergantung pada validasi eksternal. Anda menjadi lebih mampu menemukan makna dalam kehidupan Anda.

Membaca buku masuk sebagai sebuah fenomena yang menarik, bukan sekedar hobi, bukan hanya hiburan. Membaca buku adalah reset kognitif yang mengajarkan Anda/kita menghargai kesederhanaan, mengkalibrasi otak Anda/kita untuk merasa cukup untuk tidak menjadi berada di paling atas.

Hiromitsu Miyata dari Waseda University, Jepang, melakukan penelitian yang mengguncang komunitas psikologi. Dengan melibatkan 881 partisipan Jepang yang naif terhadap latihan mindfulness atau meditasi, Miyata menemukan korelasi yang signifikan antara waktu membaca harian dengan skor mindfulness yang lebih tinggi, kesejahteraan subjektif yang lebih baik, afek positif yang lebih kuat, empati yang lebih dalam, dan—yang paling penting—skor depresi yang lebih rendah.

Analisis mediasi yang dilakukan Miyata menunjukkan sesuatu yang lebih dalam, dispositional mindfulness (keberadaan pikiran yang sadar) sepenuhnya memediasi hubungan antara waktu membaca dan skor depresi yang lebih rendah. Artinya, membaca tidak secara langsung “menyembuhkan” depresi. Membaca mengubah cara kita berada di dunia, dan perubahan itulah yang kemudian mengurangi gejala depresi.

Namun yang lebih menarik adalah temuan dari studi lain yang dilakukan oleh sebuah tim riset internasional. Mereka menemukan bahwa individu yang membaca setiap hari mengalami peningkatan memori sebesar 85%, peningkatan berpikir kritis 80%, dan kemampuan pemecahan masalah 78%—dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah membaca. Lebih jauh lagi, pembaca harian merasakan pengurangan stres sebesar 70%, peningkatan kecerdasan emosional 72%, dan peningkatan empati 75%.


Jadi ketika Anda membaca buku, bukan hanya sekedar melihat dan memegang kumpulan kertas dengan tinta plus aromanya. Ketika Anda membaca buku, Anda tidak menerima hiburan yang sudah jadi. Anda menerima teks—kata-kata di atas kertas putih. Itu saja. Tidak ada efek visual yang menakjubkan, tidak ada musik latar yang dramatis, tidak ada algoritma yang memprediksi apa yang ingin Anda lihat selanjutnya.

Sebaliknya, Anda harus menggunakan imajinasi Anda sendiri. Ketika penulis menggambarkan pemandangan, otak Anda yang menciptakan gambar itu. Ketika penulis mendeskripsikan emosi karakter, Anda yang merasakan emosi itu. Ini adalah proses yang sangat aktif dan personal. Dalam proses ini, terjadi sesuatu yang menarik, Anda belajar untuk puas dengan hal-hal yang sederhana. Anda belajar bahwa Anda tidak memerlukan jutaan rupiah untuk efek khusus untuk merasakan sesuatu yang mendalam. Anda tidak memerlukan visual yang menakjubkan untuk terhubung dengan cerita. Anda hanya memerlukan kata-kata dan imajinasi Anda. Ini adalah pelajaran pertama yang diajarkan buku tentang kesederhanaan, bahwa kedalaman dan makna tidak memerlukan kemewahan. Tanpa disadari, buku mengajarkan Anda/kita untuk menghargai apa yang ada di hadapan mata kita.

Ketika Anda membaca atau mengonsumsi konten digital akan memiliki efek yang sangat berbeda pada otak kita. Penelitian neuroscience menunjukkan ketika Anda menonton video di media sosial atau bermain game, otak Anda menerima dopamin yang cepat dan konstan. Setiap detik ada sesuatu yang baru, sesuatu yang menarik, sesuatu yang membuat Anda ingin terus menonton. Ini adalah dopamin yang cepat, tetapi juga sangat adiktif. Otak Anda menjadi terbiasa dengan tingkat stimulasi yang tinggi, dan ketika Anda berhenti, Anda merasa kosong.

Namun ketika Anda membaca buku adalah pengalaman yang sangat berbeda. Dopamin datang lebih lambat, tetapi lebih dalam. Anda harus fokus, harus membayar perhatian, harus terlibat secara aktif dengan teks. Ini membangun kapasitas otak Anda untuk konsentrasi dan kepuasan yang tertunda. Penelitian Gloria Mark dari University of California menunjukkan bahwa orang yang membaca buku secara teratur memiliki kapasitas perhatian yang lebih baik dan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi konten digital secara konstan.

Lebih penting lagi, orang yang membaca buku secara teratur mengalami perubahan dalam cara mereka memproses dopamin. Mereka menjadi kurang tergantung pada dopamin instan, dan lebih mampu merasakan kepuasan dari hal-hal yang lebih halus dan bermakna. Inilah berarti “buku menyembuhkan ketidakpuasan kronis” dalam diri Anda, buku yang Anda baca mengkalibrasi ulang sistem dopamin Anda sehingga Anda dapat merasakan kepuasan dari hal-hal yang sederhana.

Meskipun bukti menunjukkan bahwa membaca buku dapat membantu orang menghargai kesederhanaan dan mengatasi ketidakpuasan kronis, tidak semua orang dapat mengalami manfaat ini. Ada hambatan dan tantangan. Ada hambatan akses, hambatan budaya dan sosial, hambatan kognitif, hambatan motivasi. Hambatan terbesar adalah hambatan motivasi. Dalam era digital, orang terbiasa dengan stimulasi yang cepat dan konstan. Membaca buku memerlukan kesabaran dan fokus yang mungkin tidak dimiliki banyak orang. Untuk mengatasi hambatan ini, penting untuk memulai dengan buku yang benar-benar menarik bagi Anda.

Sebagaimana pesan dari IG @natanbookshop, ayo mulai kembali menyerap apa yang ada di hadapan mata Anda. Buku mungkin diam, namun ia berbicara paling nyaring dalam menyembuhkan jiwa yang lelah karena ketidakpuasan. Mulailah hari ini, ambil sebuah buku, dan biarkan kesederhanaan itu menyembuhkan Anda.

Kebiasaan membaca membuka mata Anda terhadap keindahan yang tersembunyi dalam kesederhanaan. Di tengah dunia yang berisik, buku menawarkan keheningan yang penuh makna. Ia bukan pelarian, melainkan alat untuk kembali ke esensi kehidupan. “Dalam kesederhanaan yang dibaca dan direnungkan, Anda/kita menemukan kekayaan sejati”. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *