Kucing lokal Indonesia (FOTO: Maspril Aries)
KINGDOMSRIWIJAYA – Kemarin, tanggal 8 Agustus 2026 dunia baru saja memperingati “Hari Kucing Sedunia” yang mulai diperingati setiap tahunnya sejak tahun 2002. “Apakah Anda merayakannya bersama kucing kesayangan di rumah?” Banyak orang di belahan dunia ikut merayakannya. Ini bukan sekadar perayaan yang penuh tawa dan foto-foto lucu di media sosial, hari ini adalah momen penghargaan sekaligus pengingat bahwa kucing telah hidup berdampingan dengan manusia selama lebih dari lima milenium, menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita peradaban, keyakinan, hingga keseharian kita.
Tentang “Hari Kucing Sedunia” pertama kali digagas pada tahun 2002 oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW), organisasi perlindungan hewan global yang berdiri sejak 1969 atas inisiatif Brian Davies. Sejak tahun 2020, pengelolaan peringatan ini berpindah tangan kepada International Cat Care (iCatCare) — lembaga amal berbasis di Inggris yang telah berdiri sejak 1958 — yang kini terus menghidupkan semangat peringatan lewat kampanye tahunan yang menjangkau masyarakat di seluruh penjuru bumi.
Apakah di Indonesia ada yang merayakannya? Mungkin ada, dan tulisan ini hadir ke hadapan pembaca sebagai bagian dari peringatan tersebut. Peringatan Hari Kucing Sedunia bagi pencinta kucing ini adalah kesempatan, untuk tidak sekadar berbagi kasih, tetapi juga menyadari hal-hal penting yang sering terabaikan, kesehatan, kesejahteraan, dan tanggung jawab kita sebagai pemilik. Di balik keimutan tingkah mereka, ada hal-hal mendasar yang perlu kita pahami demi memberi kehidupan yang lebih baik bagi mereka (kucing-kucing). Tanggal 8 Agustus, adalah hari milik si bulu halus.
Sebelum membicarakan populasi kucing di Indonesia, mari sejenak membaca tentang sejarah Hari Kucing Sedunia. Hari Kucing Sedunia pertama kali digagas pada 2002 oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW), organisasi perlindungan hewan global yang awalnya lahir dari kampanye menghentikan perburuan komersial anak anjing laut di Kanada. Dari misi yang jauh dari urusan kucing itu, IFAW kemudian memperluas jangkauannya hingga mencakup kesejahteraan kucing di berbagai belahan dunia, dan pada 2002 mereka memutuskan dunia butuh satu hari khusus untuk kucing (Felis catus) – hari yang dipilih jatuh pada 8 Agustus, tanggal yang sejak itu tak pernah berubah.

Pada 2020, tongkat estafet penyelenggaraan berpindah tangan. International Cat Care (iCatCare), badan amal berbasis di Inggris yang telah beroperasi sejak 1958, resmi menjadi kustodian baru Hari Kucing Sedunia. Berbeda dari IFAW yang cakupannya luas ke berbagai spesies, iCatCare adalah organisasi yang sepenuhnya berdedikasi pada kesejahteraan kucing – mulai dari edukasi pemilik, sertifikasi klinik ramah kucing (Cat Friendly Clinic), hingga pelatihan bagi dokter hewan di seluruh dunia agar memahami bahasa tubuh dan kebutuhan emosional kucing dengan lebih baik.
Setiap tahun, iCatCare mengusung tema kampanye yang berbeda. Untuk peringatan tahun ini, mereka mengangkat semboyan #ThinkCAT – sebuah akronim sederhana namun mengena: C untuk Cat Friendly, cara-cara merawat dan berinteraksi dengan kucing secara ramah; A untuk Annual check-up, ajakan memeriksakan kucing ke dokter hewan setidaknya sekali setahun; dan T untuk Tips, berbagai saran praktis yang mendampingi kucing di setiap fase hidupnya, dari anak kucing hingga usia senja.
Kampanye ini disebarkan lewat akun-akun resmi iCatCare dan komunitas dokter hewan di seluruh dunia, mengajak siapa pun yang memiliki atau merawat kucing untuk benar-benar “berpikir seperti kucing” – memahami dunia dari sudut pandang makhluk yang, sayangnya, tidak bisa mengeluh dengan kata-kata ketika ada yang tidak beres pada tubuhnya.
Ajakan itu bukan tanpa alasan. Sejak dipopulerkan, Hari Kucing Sedunia telah tumbuh jauh melampaui sekadar hari untuk mengunggah foto kucing lucu di media sosial — meski itu tetap menjadi salah satu cara paling populer untuk merayakannya. Di beberapa negara, Hari Kucing Sedunia dipakai sebagai momentum kampanye adopsi kucing dari tempat penampungan, penggalangan donasi untuk klinik hewan nirlaba, hingga edukasi publik soal sterilisasi dan penanganan populasi kucing liar yang manusiawi. Di Inggris, misalnya, organisasi Cats Protection kerap menggelar program biaya adopsi khusus pada 8 Agustus, lengkap dengan layanan chip mikro, pemeriksaan kesehatan awal, dan sterilisasi dalam satu paket.
Jika tanggal 8 Agustus diperingati sebagai Hari Kucing Sedunia, di beberapa negara juga memiliki “Hari Kucing Nasional”. Seperti Amerika Serikat merayakan Hari Kucing Nasionalnya sendiri pada 29 Oktober, Jepang memilih 22 Februari – karena angka 2 dalam bahasa Jepang, ni, terdengar mirip suara “nyaa” kucing jika diucapkan tiga kali berturut-turut. Rusia punya perayaan Hari Kucing Nasional setiap tanggal 1 Maret. Apakah Indonesia memiliki peringatan Hari Kucing Nasional? Jawabannya, “Tidak ada”.

Walau tidak memiliki tanggal Hari Kucing Nasional, Indonesia justru menjadi negara dengan populasi kucing terbanyak di kawasan Asia Pasifik. Jumlah kucing di Indonesia lebih banyak dari di Jepang yang punya peringatan Hari Kucing Nasional. Data yang ada menyebutkan Indonesia memiliki populasi kucing terbesar di Asia Pasifik yang jumlahnya mencapai sekitar 12 juta ekor. Kemudian disusul oleh Jepang dengan jumlah sekitar 9 juta ekor kucing, Filipina sekitar 12 juta kucing, Thailand sebanyak 8 juta kucing dan Australia sekitar 5 juta kucing.
Sementara data lain dari Euromonitor International dan Asia Pacific Pet Association menyebutkan, di kawasan Asia Pasifik, Indonesia terkonfirmasi sebagai yang terbesar populiasi kucingnya dengan estimasi 25-30 juta kucing peliharaan (sumber: Laporan industri pet food 2022/2023). Jumlah ini belum termasuk kucing liar/komunitas.
Di dunia, negara dengan populasi kucing terbanyak berdasarkan data dari sumber seperti Statista dan World Atlas adalah Amerika Serikat dengan jumlah sekitar 76 juta kucing peliharaan, China sekitar 53 juta kucing peliharaan, Rusia sebanyak sekitar 23 juta kucing peliharaan, Brasil sekitar 22 juta kucing peliharaan, dan Prancis sekitar 15 juta kucing peliharaan.
Di dunia menurut estimasi International Fund for Animal Welfare, saat ini terdapat sekitar 600 juta kucing di seluruh dunia, dengan komposisi sekitar 220 juta di antaranya hidup sebagai kucing peliharaan (kucing rumahan) yang mendapat perawatan layak, sementara sisanya, sekitar 480 juta, adalah kucing liar atau terlantar yang terus-menerus terpapar risiko cedera, penyakit, dan kelaparan. Ketimpangan inilah yang sesungguhnya menjadi alasan mendasar mengapa Hari Kucing Sedunia terus diperingati, bukan sekadar merayakan yang sudah beruntung, tapi mengingatkan dunia pada yang belum.
Kucing telah lama menjadi salah satu hewan peliharaan yang paling populer di seluruh dunia. Di Indonesia, kucing tidak hanya dipandang sebagai teman, tetapi juga memiliki tempat khusus dalam budaya masyarakat. Dengan populasi kucing yang kucing yang signifikan sebanyak 12 juta kucing atau lebih, data ini mencerminkan kecenderungan masyarakat Indonesia untuk memelihara kucing sebagai hewan peliharaan.
Baca juga: Istanbul Surganya Kucing (Hari Kucing Sedunia 8 Agustus 2024)

Mengutip data Rakuten Insight pada tahun 2021, sebanyak 47 persen rumah tangga di Indonesia memiliki kucing. Data lain dari berbagai survei yang dilakukan oleh organisasi perlindungan hewan, sekitar 20 persen rumah tangga di Indonesia memiliki kucing. Data lain menyebutkan, dari survei yang dilakukan oleh lembaga riset independen Populix (2023) terhadap responden di kota-kota besar Indonesia menemukan bahwa sekitar 31-35 persen rumah tangga memiliki setidaknya satu ekor kucing.
Mengapa Indonesia menduduki puncak dalam jumlah populasi kucing di kawasan Asia Pasifik? Faktor utama adalah jumlah penduduk yang besar (faktor demografis) yang menjadi basis pasar potensial yang masif. Faktor lainnya, budaya dan tradisi. Kucing sering dianggap sebagai simbol keberuntungan dalam budaya Indonesia. Di beberapa daerah, kucing dipercaya membawa keberuntungan dan melindungi rumah dari roh jahat.
Atau kucing memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, dengan populasi yang signifikan dan hubungan emosional yang kuat antara manusia dan kucing, menunjukkan bahwa kucing bukan hanya hewan peliharaan, tetapi juga bagian dari budaya dan masyarakat. Fenomena kepemilikan kucing di Indonesia bukanlah sebuah kebetulan statistik. Ia adalah hasil dari pertemuan berbagai faktor struktural, kultural, dan teknologis yang menciptakan lingkungan yang sangat subur bagi kucing untuk menjadi hewan pendamping utama.
Sebuah survei dari JakPat mencatat lebih dari separuh masyarakat Indonesia kini memelihara hewan peliharaan, dengan mayoritas responden mengaku alasan utama mereka memelihara adalah untuk membantu meredakan stres dan memperbaiki suasana hati — sebuah cerminan langsung dari fenomena global yang oleh para peneliti perilaku hewan disebut pet humanization, kecenderungan memperlakukan hewan peliharaan sepenuhnya sebagai anggota keluarga, bukan sekadar hewan piaraan.
Pulau Kucing
Pada peringatan Hari Kucing Sedunia, selain kucing rumahan ada banyak kucing mungkin ribuan kucing yang nasibnya tidak punya rumah dan induk semang sama sekali. Masalah tersebut kini menjadi dilema bagi kota Jakarta. Menjurut data, populasi kucing liar di Jakarta diperkirakan berkisar antara delapan ratus enam puluh ribu hingga lebih dari satu setengah juta ekor – sebuah rentang angka yang begitu besar sehingga sulit dibayangkan, apalagi ditangani dengan cara-cara konvensional.

Laporan-laporan warga lewat aplikasi layanan publik JAKI terus mengalir, mengeluhkan populasi kucing liar yang dianggap makin tak terkendali di lingkungan permukiman padat, memicu masalah kebersihan, potensi penularan penyakit, hingga konflik sosial antarwarga soal siapa yang seharusnya bertanggung jawab memberi makan atau mengendalikan populasi mereka.
Merespons keluhan itu, Gubernur Jakarta Pramono Anung sejak awal 2025 melontarkan gagasan yang terdengar seperti solusi dari negeri dongeng, memindahkan sebagian kucing liar Jakarta ke sebuah pulau khusus di Kepulauan Seribu. Gagasan ini terinspirasi langsung dari fenomena “Pulau Kucing” di Jepang yaitu Pulau Aoshima dan Pulau Tashirojima, tempat populasi kucing yang jauh melampaui jumlah penduduk manusia justru menjadi daya tarik wisata tersendiri, mendatangkan wisatawan dari berbagai penjuru dunia yang datang khusus untuk berbaur dengan ratusan kucing yang berkeliaran bebas di jalanan pulau.
Survei dilakukan terhadap empat pulau di Kepulauan Seribu Selatan, yaitu Pulau Onrust, Pulau Cipir, Pulau Rambut, dan Pulau Tidung Kecil, pilihan jatuh pada Pulau Tidung Kecil, sebuah pulau seluas sekitar tujuh belas hektare yang selama ini dikelola sebagai kawasan agrowisata. Proses penentuan lokasi ini turut melibatkan organisasi Animal Defenders Indonesia, dengan kajian akademik dan kelayakan pulau. Pulau ini direncanakan akan menjadi destinasi wisata.
Walau gagasan Gubernur Pramono Anung sempat memicu perdebatan yang belum sepenuhnya usai ini, satu hal yang tak terbantahkan, krisis populasi kucing liar di kota-kota besar bukan persoalan unik Jakarta. Ia adalah cermin dari tantangan yang dihadapi hampir semua kota metropolitan di dunia — bagaimana menyeimbangkan kasih sayang manusia terhadap kucing dengan kapasitas nyata sebuah kota untuk merawat mereka secara layak, tanpa mengorbankan kesejahteraan satwa lain maupun manusia yang tinggal berdampingan dengan mereka.
Itu cara Jakarta mengatasi jumlah populasi kucing liar yang jumlahnya semakin banyak. Belajar dari Jakarta, kota-kota lain di Indonesia yang berpotensi mengahadapi ledakan populasi kucing liar, sejak dini harus sudah melakukan kajian untuk mencari solusi sebalum meledak jadi permasalahan sosial, seperhatinya volume timbulan sampah di banyak kota besar yang jumlahnya terus bertambah.
Mari kita catat dalam ingatan, bahwa popularitas kucing di Indonesia adalah gejala multifaset yang dipicu oleh urbanisasi, ekonomi, dan budaya pop. Posisinya sebagai nomor satu di Asia Pasifik adalah cermin dari besarnya populasi dan perubahan gaya hidup. Dengan populasi yang signifikan dan hubungan emosional yang kuat antara manusia dan kucing, kucing bukan hanya hewan peliharaan, tetapi juga bagian dari budaya dan masyarakat. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa kucing akan tetap menjadi teman setia bagi banyak orang di masa depan. (maspril aries)






