Home / Gaya Hidup / Palembang Kota yang Ingin Menjinakan Mobil dan Motor (Bagian 1)

Palembang Kota yang Ingin Menjinakan Mobil dan Motor (Bagian 1)

Ilustrasi Car Free Day (CFD) Chicago. (FOTO: AI)

KINGDOMSRIWIJAYA – “Ketika bising mesin minggu pagi berganti dengan deru sepeda dan tawa anak-anak yang bermain di tengah jalan, kita menyaksikan transformasi sesaat yang menggambarkan kemungkinan masa depan kota-kota kita—bebas dari dominasi kendaraan bermotor, penuh dengan kehidupan, dan bernapas lega”.

Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada Ahad, 12 April 2026 mencoba melakukan transformasi itu dengan melaksanakan uji coba Car Free Day (CFD) pada ruas jalan sepanjang 2,8 km dengan menutup sebagian dua jalur ruas Jalan Jendral Sudirman dan Jembatan Ampera tersebut menimbulkan pro dan kontra di masyarakat yang terbaca di liputan media massa dan media sosial (medsos). Itu terjadi karena ruas jalan dan jembatan alternatif (Jembatan Musi IV dan Musi VI) terjadi kemacetan.

Artikel ini tidak akan membahas pro dan kontra tersebut melainkan mengajak untuk lebih mengenal Car Free Day dari sejarahnya, penerapannya sampai menafaatnya bagi bumi dan umat manusia penghuninya.

Car Free Day (CFD) atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor — sebuah gerakan yang kini telah menjadi ritual akhir pekan di puluhan kota di Indonesia DAN DUNIA. Namun, apakah Car Free Day hanya sekadar pasar kaget di pagi hari atau arena olahraga massal? Di balik fenomena yang menghadirkan keceriaan itu, CFD menyimpan sejarah panjang, filosofi mendalam, serta segudang manfaat dan tantangan yang mencerminkan pergulatan kota-kota modern di seluruh dunia dalam merebut kembali ruang publiknya dari dominasi kendaraan bermotor.

Sejenak mari kita melihat ke Jakarta, setiap hari Ahad atau Minggu pagi di di ibu kota negara Republik Indonesia, seperti sulap yang ditonton jutaan pasang mata, terjadi sebuah metamorfosis. Jalan Sudirman-Thamrin yang pada hari kerja menjadi sungai baja dan knalpot, mendadak berubah menjadi hamparan aspal yang dipenuhi ribuan manusia. Ada yang berlari dengan napas teratur, ada keluarga yang dengan santai mengayuh sepeda, ada anak-anak yang berlarian tanpa rasa takut, dan ada pula komunitas yang melakukan senam zumba dengan iringan musik yang semangat.

Akar Sejarah CFD

Mari kita menelusuri memori CFD hingga ke Eropa pada pertengahan abad ke-20. Gagasan untuk membebaskan jalan dari mobil sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1956, ketika Belanda dan Belgia mulai menerapkan “Sunday Car Free” sebagai respons terhadap berbagai masalah perkotaan yang dipicu oleh penggunaan mobil yang masif. Namun, gerakan ini mendapatkan momentum sesungguhnya pada saat krisis minyak dunia tahun 1973. Saat itu, Belanda kembali menerapkan hari Minggu bebas kendaraan bermotor sebagai langkah darurat untuk mengurangi konsumsi minyak bumi. Jalan-jalan raya yang biasanya padat mendadak lengang, dan masyarakat untuk pertama kalinya bisa menikmati lingkungan perkotaan yang lebih tenang dan tidak terlalu tercemar.


Ilustrasi Car Free Day (CFD) Palembang. (FOTO: AI)

Memasuki era 1990-an, kesadaran akan isu lingkungan dan pemanasan global mulai menguat. Prancis menjadi salah satu pionir dengan mengadakan “In Town, Without My Car!” yang kemudian diikuti oleh berbagai kota Eropa lainnya. Puncaknya, pada tahun 2000, Komisi Eropa secara resmi mencanangkan European Mobility Week, dan tanggal 22 September ditetapkan sebagai Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia atau World Car Free Day. Sejak saat itu, gerakan ini meledak secara global, menginspirasi lebih dari 1.500 kota di dunia untuk turut serta.

Di Indonesia, sejarah CFD cukup menarik menarik. Berbeda dengan Eropa yang lahir dari krisis energi, Car Free Day di Indonesia hadir dari akar perjuangan lingkungan yang lebih spesifik. Gerakan ini pertama kali diinisiasi aktivis lingkungan dari koalisi LSM, termasuk Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) di Jakarta mengkampanyekan bahaya polusi udara dan penggunaan bensin bertimbel (HBKB). Bertepatan

dengan peringatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia, pada 22 September 2001, melakukan penutupan perdana sepanjang Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Penutupan ini bisa dilaksanakan setelah melalui audiensi yang alot dengan pihak kepolisian.

Kesuksesan uji coba ini kemudian membuka jalan bagi pelaksanaan CFD secara lebih terstruktur. Pada 23 Mei 2002, CFD di Jakarta kembali digelar dan mulai diadopsi secara lebih luas. Awalnya hanya berlangsung seminggu sekali di akhir bulan, kemudian pada 2012 durasinya diperpanjang menjadi empat kali sebulan dari pukul 06.00 hingga 11.00 WIB. Ibu kota menjadi pionir, dan dalam waktu singkat, konsep terus menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia. Menurut Ahmad Safrudin, salah satu inisiator HBKB di Jakarta, hingga tahun 2019 sudah ada sekitar 90 kota besar di Indonesia yang menyelenggarakan CFD, dan jika ditambah dengan kota-kota kecil, jumlahnya bahkan bisa mencapai 200 kota.

Kota-Kota Menjinakkan Mobil

Car Free Day telah menjadi fenomena global, dengan ratusan kota di seluruh dunia menjalankan inisiatif serupa. Beberapa kota memiliki area CFD yang sangat ikonik dan menjadi inspirasi bagi kota-kota lainnya.

Di kancah global, banyak kota telah berhasil mengimplementasikan Car Free Day dengan sangat ikonik, bahkan ada yang berhasil menjadi car-free city sepanjang waktu. Kolombia menjadi salah satu pionir paling sukses. Bogota, ibu kotanya, menyelenggarakan car-free weekday terbesar di dunia yang mencakup seluruh kota. Program ini pertama kali digelar pada Februari 2000 dan kemudian dilembagakan melalui referendum publik.

Di Eropa, Pontevedra, sebuah kota di Spanyol, telah bertransformasi menjadi salah satu kota bebas mobil paling sukses di dunia. Pemerintah kota secara bertahap menutup pusat kota untuk kendaraan bermotor, dan hasilnya luar biasa: emisi karbon turun drastis, aktivitas ekonomi justru meningkat, dan kualitas hidup warga melonjak. Kemudian ada Venesia, Italia, yang sejak abad ke-9 memang secara alami bebas mobil karena kanal-kanal dan sungai yang membelah kota.


Ilustrasi Car Free Day (CFD) di Time Square New York. (FOTO: AI)

Di Swiss, Zermatt, kota yang terletak di kaki Gunung Matterhorn, telah menjadi car-free selama bertahun-tahun. Kendaraan pribadi dilarang total di kawasan ini, dan warga serta wisatawan harus menggunakan kereta listrik atau berjalan kaki untuk beraktivitas. London pun pernah menyelenggarakan Car Free Day terbesar dalam sejarahnya, dengan menutup puluhan kilometer jalan di pusat kota dan mengajak warganya untuk “menata ulang” kota mereka tanpa mobil.

Bogota, adalah pelopor CFD dengan program Ciclovia yang dimulai pada tahun 1999. Setiap hari Minggu, sekitar 120 kilometer jalan di Bogota ditutup untuk kendaraan bermotor. Program ini telah menjadi bagian integral dari identitas kota dan menarik ribuan peserta setiap minggunya. Ciclovia Bogota dianggap sebagai salah satu program CFD paling sukses di dunia dan telah menjadi model bagi banyak kota lainnya.

Di Paris, Prancis, memiliki program “Paris Respire” yang dimulai pada tahun 2002. Setiap hari Minggu, berbagai ruas jalan di Paris ditutup untuk kendaraan bermotor. Program ini sangat populer dan menarik ribuan peserta. Paris juga mengadakan “Paris-Plages,” sebuah program yang mengubah tepi Sungai Seine menjadi pantai buatan dengan pasir dan kursi pantai selama musim panas. Kombinasi dari Paris Respire dan Paris-Plages membuat Paris menjadi salah satu kota paling ikonik dalam hal CFD dan ruang publik yang ramah lingkungan.

New York City, Amerika Serikat, memiliki program “Summer Streets” yang dimulai pada tahun 2008. Setiap hari Jumat hingga Minggu, selama tiga bulan musim panas, jalan-jalan tertentu di Manhattan ditutup untuk kendaraan bermotor. Program ini menarik jutaan peserta dan telah menjadi bagian dari identitas kota. Summer Streets juga menampilkan berbagai aktivitas seperti yoga, tari, dan pertunjukan musik. San Francisco, Amerika Serikat, memiliki program “Sunday Streets” yang serupa dengan Summer Streets di New York.

Berlin, Jerman, memiliki program “Fahrrad-Sonntag” (Bicycle Sunday) yang dimulai pada tahun 2007. Setiap hari Minggu, berbagai ruas jalan di Berlin ditutup untuk kendaraan bermotor. Program ini sangat populer di kalangan pesepeda dan telah menjadi bagian dari identitas kota. Barcelona, Spanyol, memiliki program “Superblocks” yang merupakan pengembangan dari konsep CFD tradisional. Superblocks adalah area di mana kecepatan kendaraan dibatasi hingga 10 km/jam dan prioritas diberikan kepada pejalan kaki dan pesepeda.


Ilustrasi Car Free Day (CFD) Palembang. (FOTO: AI)

Bogota, Paris, New York, Berlin, dan Barcelona adalah beberapa contoh kota yang memiliki area CFD yang sangat ikonik. Namun, ada ratusan kota lainnya di seluruh dunia yang juga menjalankan program serupa. Dari Sao Paulo, Brasil, hingga Bangkok, Thailand, dari Mexico City, Meksiko, hingga Nairobi, Kenya, CFD telah menjadi gerakan global yang mencerminkan komitmen kota-kota terhadap keberlanjutan dan kualitas hidup yang lebih baik.

Manfaat Bagi Kota

Kota-kota yang ikonik dalam penyelenggaran CFD ini membuktikan bahwa visi kota tanpa dominasi mobil bukanlah utopia, melainkan sesuatu yang bisa dicapai dengan komitmen politik yang kuat, perencanaan yang matang, dan partisipasi aktif masyarakat.

Mengapa CFD menjadi fenomena yang begitu masif dan dicintai? Jawabannya terletak pada segudang manfaat yang dibawanya, baik bagi lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun kehidupan sosial perkotaan.

Dari sisi lingkungan, dampak CFD sangatlah nyata. Dengan meniadakan kendaraan bermotor di ruas-ruas jalan tertentu, kualitas udara di kawasan tersebut meningkat drastis. Pohon-pohon dan ruang terbuka hijau yang setiap hari terpapar karbon dioksida dan partikel polusi mendapat kesempatan untuk “bernapas” dan menghasilkan lebih banyak oksigen. Sebuah studi yang dilakukan di Taman Kota Gianyar, Bali, menunjukkan bahwa kegiatan car free day mampu meminimalisir emisi karbondioksida hingga 87,43 gram per detik. Meskipun angka itu mungkin terlihat kecil, namun jika diakumulasikan setiap minggu, kontribusinya terhadap pengurangan polusi udara sangat signifikan.

Manfaat kesehatan publik juga tidak kalah penting. CFD menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi masyarakat untuk berolahraga, berjalan kaki, atau bersepeda tanpa harus khawatir dengan polusi udara dan bahaya lalu lintas. Di era ketika penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung semakin mengancam, kehadiran ruang publik yang mendorong aktivitas fisik menjadi sangat krusial. CFD itu memberikan masyarakat kesempatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan mereka.

Selain itu, CFD juga berfungsi sebagai ruang publik yang sangat vital bagi kehidupan sosial masyarakat kota. Di tengah kesibukan dan individualisme perkotaan, CFD menjadi titik temu di mana berbagai lapisan masyarakat bisa berinteraksi, berekreasi, dan membangun kohesi sosial. Warga dapat menikmati kota tanpa polusi dan kebisingan, sekadar berjalan santai, bertemu tetangga, atau sekadar duduk-duduk menikmati suasana pagi yang teduh. (maspril aries)

#Bersambung ke Bagian 2.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *