Ilustrasi eksplorasi migas. (FOTO: AI)
KINGDOMSRIWIJAYA, Ogan Ilir – Kabar baik kembali datang dari industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. PT Pertamina EP (PEP) bersama mitra Kerja Sama Operasi (KSO)-nya, Bass Oil Sukananti Limited (KSO BOSL), mengumumkan penemuan lapisan minyak baru di Sumur BNN-6, yang terletak di Struktur Bunian, Desa Tanjung Miring, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Penemuan ini menambah daftar panjang keberhasilan eksplorasi migas di salah satu cekungan penghasil minyak tertua di Indonesia tersebut. Pertamina EP dalam keterangan pers menjelaskan, Sumur BNN-6 yang ditajak pada 5 Juni 2026 dibor secara berarah hingga kedalaman akhir 1.807 meter dengan target Formasi Talang Akar. Lapisan M ditemukan pada kedalaman 1.769 meter dan menjadi lapisan baru yang sebelumnya belum diproduksikan.
Dari hasil uji alir yang dilakukan pada 8–10 September 2026 menunjukkan laju alir awal sebesar 1.257 BOPD, berdasarkan pengukuran langsung di tangki lokasi. Pengujian dilakukan dengan bukaan choke 10,5 mm (26/64”) dan rata-rata tekanan kepala sumur (THP) 440 psi. Hasil ini menjadi indikasi positif terhadap potensi produksi Sumur BNN-6.
General Manager KSO BOSL, Andri Luthfi Lukman Hakim mengatakan, “Temuan ini menunjukkan masih adanya peluang pengembangan ekonomis di Lapangan Tangai Sukananti. Temuan ini membuktikan bahwa lapangan KSO masih memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pengelolaan reservoir yang tepat dan operasional yang andal. Kami berkomitmen melanjutkan pengembangan secara berkelanjutan dan berkontribusi terhadap peningkatan produksi migas nasional”.
Sementara itu, Senior Manager Partnership Regional 1, Asrin Sarsono, mengapresiasi keberhasilan pemboran Sumur BNN-6. Menurutnya, hasil uji alir tersebut menunjukkan potensi positif dari kolaborasi PEP dan mitra KSO dalam mengoptimalkan sumber daya migas.
Di tempat terpisah, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Bambang Dwi Djanuarto, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. “SKK Migas terus mendorong KKKS dan mitra kerja untuk mempercepat eksplorasi, pengembangan lapangan, dan optimalisasi potensi produksi. Kami berharap hasil positif Sumur BNN-6 dapat segera ditindaklanjuti dan memberikan kontribusi terhadap produksi migas nasional serta ketahanan energi”, katanya.

Bagi SKK Migas, keberhasilan Sumur BNN-6 menjadi capaian positif dalam optimalisasi sumber daya migas di Sumatera Selatan sekaligus membuka peluang pengembangan lebih lanjut di Struktur Bunian.
Setelah temuan minyak pada Lapisan M tersebut langkah selanjutnya dari Pertamina EP dan KSO BOSL, masih ada dua lapisan potensial lainnya yang akan diuji pada tahap berikutnya menggunakan fasilitas Well Testing Unit dan EMR. Data hasil pengujian akan menjadi dasar untuk menentukan laju produksi optimum sebelum sumur diproduksikan secara komersial dan berkelanjutan.
Istilah Teknis Migas
Namun, bagi masyarakat awam, keterangan pers dari pelaku industri migas tersebut sarat dengan istilah teknis perminyakan yang mungkin terdengar asing, ada istilah “lapisan minyak”, “struktur bunian”, “Formasi Talang Akar”, hingga angka-angka seperti “bukaan choke” dan “tekanan kepala sumur”.
Berikut penjelasan dari istilah teknis perminyakan tersebut. Istilah “lapisan minyak” merujuk pada lapisan batuan di bawah permukaan bumi yang mampu menyimpan dan mengalirkan minyak bumi. Batuan ini disebut batuan reservoir, biasanya berupa batu pasir (sandstone) atau batu gamping (limestone) yang memiliki pori-pori (rongga kecil) yang saling terhubung. Minyak bumi terbentuk dari sisa-sisa organisme purba yang terkubur jutaan tahun lalu, kemudian mengalami tekanan dan panas bumi hingga berubah menjadi hidrokarbon cair. Hidrokarbon ini kemudian bermigrasi dan terperangkap di dalam pori-pori batuan reservoir tersebut, membentuk apa yang disebut sebagai akumulasi atau lapisan minyak.
Tidak semua lapisan batuan bawah permukaan mengandung minyak. Agar minyak dapat terakumulasi, dibutuhkan tiga unsur utama, batuan sumber (source rock) tempat minyak terbentuk, batuan reservoir sebagai wadah penyimpan, dan batuan penutup (seal rock) yang kedap agar minyak tidak lolos ke permukaan. Kombinasi ketiganya inilah yang menciptakan sebuah “jebakan” (trap) minyak bumi.
Istilah lain adalah “struktur” dalam konteks eksplorasi migas adalah bentuk geometris lapisan batuan di bawah permukaan bumi yang berpotensi menjadi jebakan hidrokarbon. Struktur ini biasanya terbentuk akibat proses tektonik, seperti lipatan (fold) atau patahan (fault), yang menyebabkan lapisan batuan melengkung membentuk kubah atau antiklin. Minyak dan gas, yang lebih ringan dari air, akan bergerak naik dan terperangkap di puncak lengkungan tersebut apabila tertutup oleh lapisan batuan kedap di atasnya.

“Struktur Bunian” adalah nama yang diberikan untuk salah satu struktur geologi semacam ini, yang terletak di wilayah kerja PEP Zona 4 Regional 1, tepatnya di Desa Tanjung Miring, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Struktur ini menjadi target eksplorasi karena indikasi geologi dan geofisika menunjukkan adanya potensi jebakan hidrokarbon di dalamnya. Sumur BNN-6 sendiri merupakan salah satu sumur yang dibor untuk menguji dan membuktikan potensi tersebut, dan sebelumnya sempat dikenal dengan nama BNN-F sebelum resmi ditajak sebagai BNN-6.
Sumur BNN-6 & Talang Akar
Dalam dunia perminyakan, “penajakan” atau spud-in adalah istilah untuk momen dimulainya kegiatan pengeboran sebuah sumur—yaitu saat mata bor pertama kali menembus permukaan tanah. Sumur BNN-6 resmi ditajak pada 5 Juni 2026 sebagai bagian dari program Komitmen Pasti KSO BOSL.
Sumur ini dibor secara “berarah” atau directional drilling, sebuah teknik pengeboran yang tidak lurus vertikal ke bawah, melainkan dibelokkan mengikuti lintasan tertentu untuk menjangkau target reservoir yang posisinya tidak tepat di bawah lokasi rig pengeboran. Teknik ini umum digunakan untuk menjangkau target di bawah wilayah yang sulit diakses langsung dari permukaan, atau untuk mengoptimalkan penempatan sumur terhadap struktur bawah permukaan. Pengeboran Sumur BNN-6 berlangsung hingga mencapai kedalaman akhir 1.807 meter, dengan target utama Formasi Talang Akar.
Apa itu Formasi Talang Akar dan Lapisan M? Dalam ilmu geologi, “formasi” adalah satuan batuan yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dipetakan dan dikenali secara luas, biasanya terbentuk pada rentang waktu geologi tertentu. Formasi Talang Akar adalah salah satu formasi batuan yang paling produktif di Cekungan Sumatera Selatan, dan menjadi salah satu penghasil minyak dan gas utama di wilayah tersebut selama puluhan tahun. Formasi ini umumnya tersusun dari batu pasir yang diselingi lapisan batu lempung, terbentuk pada era geologi yang relatif tua, dan telah menjadi tulang punggung produksi migas di Sumatera Selatan.
Karena satu formasi bisa terdiri dari banyak lapisan batuan yang berbeda-beda kualitas dan potensinya, para ahli geologi biasanya memberi nama atau kode pada setiap lapisan yang teridentifikasi, agar mudah dibedakan dan dipantau produksinya. Dalam kasus Sumur BNN-6, lapisan yang ditemukan diberi nama “Lapisan M”. Lapisan ini terdeteksi pada kedalaman 1.769 meter, dan yang membuatnya istimewa adalah statusnya sebagai lapisan yang sama sekali baru—belum pernah diproduksikan sebelumnya oleh sumur-sumur lain di sekitar Struktur Bunian. Artinya, ini merupakan tambahan cadangan dan potensi produksi yang sepenuhnya baru bagi lapangan tersebut.

Setelah sebuah lapisan minyak ditemukan, langkah berikutnya bukanlah langsung memproduksikannya secara komersial, melainkan melakukan serangkaian pengujian untuk mengetahui seberapa besar potensi sesungguhnya dari lapisan tersebut. Proses inilah yang disebut “uji alir” atau well test. Pada Sumur BNN-6, uji alir dilakukan pada 8–10 September 2026.
“Laju alir awal” adalah jumlah minyak (atau gas) yang berhasil dialirkan dari sumur ke permukaan dalam satu satuan waktu tertentu, biasanya diukur dalam barel per hari, saat pengujian awal dilakukan. Angka ini menjadi indikator awal seberapa produktif sebuah lapisan reservoir. Pada kasus ini, hasil pengukuran langsung menggunakan tangki di lokasi sumur menunjukkan laju alir awal sebesar 1.257 BOPD (Barrels of Oil Per Day, atau barel minyak per hari). Angka ini tergolong cukup menjanjikan untuk sebuah sumur eksplorasi/pengembangan, dan menjadi dasar optimisme akan potensi produksi Sumur BNN-6 ke depan. Namun, laju alir ini tidak berdiri sendiri – ia sangat dipengaruhi oleh dua parameter teknis lain yang yaitu bukaan choke dan tekanan kepala sumur.
Choke & THP
Choke adalah alat pengatur atau pembatas aliran fluida (minyak, gas, atau air) yang dipasang di kepala sumur (wellhead). Fungsinya mirip seperti keran air: semakin besar bukaannya, semakin besar pula aliran fluida yang bisa melewatinya, namun juga memengaruhi tekanan di dalam sumur. Bukaan choke biasanya dinyatakan dalam satuan per enam puluh empat inci (per 64th inch), karena secara historis ukuran choke di industri migas menggunakan pecahan inci sebagai standar. Pada uji alir Sumur BNN-6, bukaan choke yang digunakan adalah 10,5 mm, atau setara dengan 26/64 inci. Artinya, bukaan yang digunakan relatif kecil hingga sedang, sebuah pilihan yang umum dilakukan pada tahap pengujian awal untuk menjaga sumur tetap stabil dan menghindari kerusakan formasi akibat aliran yang terlalu deras.
Sedangkan tekanan kepala sumur, atau lebih dikenal dengan singkatan THP (Tubing Head Pressure atau Wellhead Pressure), adalah tekanan fluida yang terukur tepat di kepala sumur, yaitu titik pertemuan antara pipa produksi di dalam sumur dengan peralatan permukaan. Tekanan ini penting untuk dipantau karena mencerminkan energi alami reservoir yang mendorong minyak naik ke permukaan, sekaligus menjadi parameter keselamatan kerja yang krusial. Pada pengujian Sumur BNN-6, rata-rata THP yang tercatat adalah 440 psi (pounds per square inch, satuan tekanan yang umum digunakan di industri migas).

Kombinasi antara bukaan choke dan THP inilah yang menghasilkan laju alir 1.257 BOPD tersebut. Ketiga angka ini saling berkaitan erat, jika bukaan choke diperbesar, umumnya laju alir akan meningkat namun THP akan menurun, dan sebaliknya. Para insinyur reservoir menggunakan kombinasi data ini untuk memahami karakteristik alami sumur sebelum menentukan cara produksi yang paling optimal dan berkelanjutan.
Produksi Komersial
Pasca uji alir, langkah dari dari kolaborasi PEP dan mitra KSO dari kandungan minyak di Lapisan M dan masih ada dua lapisan potensial lain pada Sumur BNN-6 yang akan diuji lebih lanjut menggunakan fasilitas Well Testing Unit dan EMR. Pengujian bertahap ini penting dilakukan karena setiap lapisan pada sebuah sumur bisa memiliki karakteristik reservoir yang berbeda-beda, sehingga perlu dievaluasi satu per satu sebelum diputuskan lapisan mana yang akan diproduksikan, dan dengan metode apa.
Data-data hasil pengujian ini nantinya akan menjadi dasar bagi PEP dan KSO BOSL untuk menentukan laju produksi optimum – yaitu tingkat produksi yang paling menguntungkan secara ekonomi namun tetap menjaga kelestarian dan umur produktif reservoir dalam jangka panjang – sebelum Sumur BNN-6 resmi diproduksikan secara komersial dan berkelanjutan.
Keberhasilan dari kolaborasi ini menemukan Lapisan M di Sumur BNN-6 menegaskan bahwa Cekungan Sumatera Selatan, meski telah dieksplorasi selama puluhan tahun, masih menyimpan potensi migas yang belum sepenuhnya tergali. Kolaborasi antara Pertamina EP sebagai operator wilayah kerja dan mitra KSO seperti Bass Oil Sukananti Limited menjadi salah satu strategi untuk terus mengoptimalkan sumber daya migas nasional, sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah upaya menjaga tingkat produksi minyak dalam negeri.
Bagi masyarakat umum yang ingin mengerti industri hulu migas, terlihat jelas di balik deretan angka dan istilah teknis dalam rilis semacam ini, terdapat proses ilmiah dan rekayasa yang panjang – mulai dari studi geologi bawah permukaan, pengeboran yang presisi, hingga pengujian bertahap – yang semuanya bertujuan memastikan setiap tetes minyak yang diproduksikan benar-benar berasal dari sumber daya yang telah teruji dan dikelola secara bertanggung jawab. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI






