Poster Pameran Karya Anshori Djausal di Gedung Contemporary Art Gallery komplek TMII. (FOTO: FB Anshori Djausal)
Oleh: Tauhid Nur Ashar
KINGDOMSRIWIJAYA – Di ujung selatan Pulau Sumatera, berdiri gagah Menara Siger, mahkota adat Lampung yang menjulang setinggi 110 meter di atas permukaan laut, menjadi penanda titik nol kilometer sekaligus gerbang kebudayaan Provinsi Lampung. Di balik keagungan monumen itu, tersimpan kisah panjang seorang putra daerah yang lahir di Kotabumi, Lampung Utara, pada 13 Maret 1952 — sosok multitalenta yang menjembatani ilmu teknik, pelestarian alam, dan kearifan budaya leluhur dengan cara yang begitu membumi dan menginspirasi. Namanya Ir. H. Anshori Djausal, M.T., atau dengan sebutan penuh yang penuh penghormatan, “Gurunda Anshori Djausal”.
Anshori Djausal yang kerap disapa “Bang Ans”, bukan sekadar perancang ikonik Menara Siger. Ia adalah akademisi, pakar teknologi ferosemen, budayawan, pemerhati lingkungan, penggiat pariwisata, ahli fotografi udara, peneliti tanaman dan kupu-kupu, serta inisiator berbagai gagasan yang menyatukan kemajuan dengan kemanusiaan. Hidupnya menyiratkan makna mendalam tentang pohon Kayu Ara – pohon kerabat beringin yang dalam kosmologi masyarakat Lampung dipandang sebagai pohon kehidupan, tempat berlindung, sumber kesejukan, penahan air, dan penyangga ekosistem yang melindungi segala makhluk di bawah rindangnya.
Sebutan itu kemudian menjadi judul pameran spektakuler yang merangkum empat dekade pengabdiannya bertajuk, “Kayu Ara: Arsitektur, Teknologi, dan Budaya Lampung”, sebuah penghormatan yang layak bagi seseorang yang telah memberi manfaat luas bagi komunitas, daerah, dan negaranya bagaikan sebatang pohon yang rimbun dan memberi kesejukan tanpa membeda-bedakan siapa yang berteduh di bawahnya.
Jejak Awal
Lulusan Pascasarjana Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila) mulai tahun 1983 hingga purna tugas pada 2017. Ia bahkan pernah memegang jabatan Dekan Fakultas Teknik dan Wakil Rektor, diakui sebagai Dosen Teladan I Unila dan Dosen Teladan V Nasional pada tahun 1994, serta sempat menjadi Dosen Tamu di Asian Institute of Technology (AIT) Bangkok. Namun, kemampuan dan keilmuannya tak pernah dikurung di dalam ruang kelas atau menara gading kampus.
Ada satu kalimat yang begitu tulus dan jujur pernah beliau ucapkan: “Saya ini sekolah insinyur, di sekolah terbaik di Indonesia. Ilmu saya tentang beton. Kalau saya ke kampung, siapa yang bisa saya ajak ngomong tentang beton? Saya mesti ngomong tentang ikan, sungai, hutan, atau apa saja supaya saya punya alasan ngobrol”. Kalimat ini menjadi kunci untuk memahami seluruh perjalanan hidup dan pemikiran Anshori Djausal. Baginya, ilmu pengetahuan bukanlah benda mati yang harus dipuja secara eksklusif, melainkan alat untuk merangkul masyarakat, menjawab persoalan nyata di sekitarnya, dan berjalan beriringan dengan kearifan lokal serta lingkungan hidup.
Pandangan inilah yang kemudian menyatu dengan gagasan Teknologi Tepat Guna yang digagas ekonom EF. Schumacher dalam bukunya Small Is Beautiful. Inti gagasannya sederhana namun mendalam, pembangunan seharusnya berpusat pada manusia, menggunakan sumber daya yang ada di sekitar secara bijak, dan menerapkan teknologi yang berskala manusia – mudah dipelajari, mudah dipelihara, terjangkau biayanya, serta tidak merusak lingkungan. Ketiga pilar utama: Manusia, Sumber Daya Lokal, dan Skala Manusia harus berjalan seimbang, saling mengatur dan menahan agar tidak ada satu pihak yang mendominasi dan mengeksploitasi pihak lain. Bagi Anshori Djausal, gagasan itu bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan jalan hidup yang diwujudkan dalam karya nyata, dari perahu nelayan hingga menara ikonik, dari lahan gundul yang dihijaukan kembali hingga saluran resapan air di lingkungan warga.

Salah satu sumbangsih paling besar dan mendasar dari Gurunda Anshori Djausal adalah pengembangan dan penerapan teknologi ferosemen – material komposit yang terbuat dari jaring kawat baja tipis yang dilapisi campuran semen dan pasir – yang ditelitinya secara mendalam sejak menjadi staf peneliti di ITB pada 1977 hingga 1983. Hasil penelitiannya dipublikasikan secara internasional dalam tulisan berjudul “Nine Years of Ferrocement” yang dimuat di Journal of Ferrocement pada April 1988, sekaligus menjadikannya dikenal di berbagai simposium internasional.
Kelebihan ferosemen sangat luar biasa, kuat menahan tarik, lentur dapat dibentuk sesuai keinginan, tahan terhadap pelapukan dan korosi, serta yang paling penting dan biayanya jauh lebih hemat dibandingkan beton bertulang konvensional. Namun yang lebih berharga dari sekadar keunggulan teknisnya adalah cara teknologi ini diterapkan. Alih-alih membutuhkan mesin-mesin besar dan pabrik yang mahal, ferosemen justru dikerjakan dengan tangan manusia, warga masyarakat dilibatkan secara langsung dalam menganyam kawat dan melapisi adukan semen. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak hanya dipakai oleh segelintir orang asing yang datang lalu pergi, melainkan dipindahkan dan dimiliki oleh masyarakat sendiri.
Pada tahun 1990-an, teknologi ini diterapkan untuk membuat perahu nelayan yang tahan lama dan murah, serta membangun tangki air, sumur, dan kamar mandi di daerah-daerah terpencil. Inilah wujud nyata dari prinsip “memberdayakan masyarakat, bukan menggantikan mereka”. Teknologi menjadi jembatan yang memperkuat kemandirian warga, bukan membuat mereka semakin bergantung pada bantuan dari luar.
Menara Siger & Taman Kupu-Kupu
Jika kita berlayar di Selat Sunda dari pelabuhan Merak di pulau Jawa menuju pelabuhan Bakauheni di pulau Sumatera, menjelang kapal merapat dari kejauhan kita sudah bisa melihat atap bangunan berwarna kuning, saat mendekati pelabuhan baru terlihat utuh, itulah Menara Siger yang berdiri megah di titik nol kilometer Sumatera.
Kisah Menara Siger bermula ketika Gubernur Lampung Sjachroedin ZP menginisiasi pembangunan ikon provinsi pada tahun 2004–2005, Anshori Djausal dipercaya sebagai perancang sekaligus insinyur utamanya. Menara Siger tidak sekadar bangunan megah – bentuknya diambil langsung dari mahkota adat pengantin perempuan Lampung yang memiliki tujuh hingga sembilan pucuk yang melambangkan kehormatan dan kemajemukan marga. Di balik keindahan bentuknya, tersimpan kejeniusan teknik yang luar biasa, untuk membentuk lengkungan-lengkungan mahkota yang luasnya mencapai 3.000 meter persegi, beliau kembali menggunakan keahlian ferosemen yang telah dikuasainya selama puluhan tahun.
BACA JUGA: https://kingdomsriwijaya.id/posts/733307/hutan-rakyat-hutan-desa-dan-kearifan-lokal/
Keputusan ini ternyata sangat tepat. Selain mampu membentuk lengkungan organik dengan sempurna, ferosemen juga terbukti jauh lebih tahan terhadap tiupan angin kencang di ketinggian sekaligus memangkas biaya konstruksi hingga 25 persen dibandingkan beton konvensional. Yang menyentuh hati adalah proses pembuatannya, seluruh pelapisan dan pembentukan dilakukan dengan tangan manusia, melibatkan puluhan pekerja yang menganyam kawat dan melapisi semen setebal hanya sekitar tiga sentimeter. Di sinilah terlihat bahwa karya berskala besar pun tidak harus mengorbankan tenaga kerja manual atau menggantikan keterampilan tangan dengan mesin. Di bawah mahkota megah itu, tersembunyi kebanggaan rakyat yang ikut mengukir monumen kebudayaannya sendiri.

Tak hanya ferosemen dan Menara Siger, Bang Ans juga sangat akrab dan menekuni prinsip kelestarian lingkungan yang tak pernah lepas dari setiap langkah pengabdiannya. Bersama istrinya, Dr. Herawati Soekardi – seorang ahli biologi yang juga doktor dari ITB – pasangan ini merintis Taman Kupu-Kupu Gita Persada sejak tahun 1997–1998 di kawasan seluas 4,8 hektar di Bandarlampung. Di atas lahan kritis gundul, tanah terjal yang kehilangan hutan dan berubah menjadi lahan pertanian yang miskin nutrisi, alih-alih menebang, meratakan, dan membangun secara artifisial seperti taman kota pada umumnya, pasangan ini justru membiarkan alam bekerja sendiri dengan cara menanam kembali tanaman-tanaman pakan khas ulat kupu-kupu dan membiarkan dedaunan membusuk secara alami menjadi pupuk dan menjaga kelembapan tanah.
Metode yang tampak “tidak diurus” itu ternyata adalah bentuk perawatan yang paling cerdas. Tanpa biaya besar dan mesin-mesin berat, lahan tandus itu perlahan berubah menjadi hutan kecil yang rimbun. Dari yang semula hanya tujuh jenis kupu-kupu yang tersisa, kini telah tumbuh dan berkembang lebih dari 200 spesies kupu-kupu, termasuk jenis-jenis langka yang dulunya pernah hilang dari kawasan itu. Anshori Djausal membuktikan, jika habitatnya dipulihkan, maka kehidupan akan pulih dengan sendirinya. Taman itu kini bukan sekadar tempat wisata, melainkan laboratorium hidup yang mengajarkan bahwa alam memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri, asalkan manusia tidak merusaknya lebih jauh dan bersedia merawatnya dengan kesabaran dan kerendahan hati.
Kepeduliannya terhadap lingkungan juga tercermin dalam gagasan sederhana namun sangat berharga untuk mengatasi banjir perkotaan. Alih-alih membangun gorong-gorong beton raksasa yang mahal dan mudah rusak, Anshori Djausal mengusulkan pembuatan saluran resapan alami atau bioswale yang dapat dibuat di setiap lingkungan warga dengan biaya yang sangat murah. Cukup menggali tanah selebar satu meter dan panjang sepuluh meter, lalu melapisinya dengan kerikil, pasir, tanah, dan kompos, serta menanam tanaman lokal seperti rumput vetiver, lili paris, bunga kana, talas, dan pandan wangi – tanaman yang selain berfungsi menahan air dan tanah, juga bermanfaat bagi warga. Jika dikerjakan bersama-sama secara gotong royong, biayanya nyaris nol rupiah. Inilah Teknologi Tepat Guna dalam wujud yang paling nyata, teknologi yang memberi kendali kembali kepada masyarakat agar mampu menjaga lingkungannya sendiri.
Teknologi dan Budaya
Bagi Anshori Djausal, teknologi dan bangunan fisik saja belum cukup untuk membangun peradaban yang sejahtera. Yang tak kalah penting adalah menjaga “perangkat lunak” kehidupan masyarakat – yaitu budaya dan nilai-nilai luhur yang mengikat mereka bersama. Beliau berjuang keras untuk menghidupkan kembali dan menanamkan nilai-nilai filosofi masyarakat Lampung yang lima, Nemui Nyimah (saling menghormati), Pi’il Pesenggiri (memegang teguh kehormatan dan harga diri), Bejuluk Beadek (memiliki nama dan kepribadian yang baik), Nengah Nyappur (saling bersilaturahmi dan berkunjung), serta Sakai Sambayan (semangat gotong royong dan kerja sama).
Anshori menegaskan bahwa kemajuan teknologi seharusnya tunduk dan melayani kebudayaan serta kehidupan masyarakat, bukan sebaliknya –membiarkan budaya tergerus dan hilang digantikan oleh gaya hidup yang serba cepat, individualis, dan lupa pada akar. Gagasan ini kemudian dituangkan pula ke dalam karya sinematografi. Pada tahun 2026, Bang Ans bahkan berperan langsung dalam film berjudul Ageman, yang menyampaikan lima pilar nilai hidup Lampung sebagai benteng bagi generasi muda agar tetap menjaga persatuan, toleransi, dan perdamaian di tengah keberagaman bangsa.

Selain itu, perhatiannya merambah ke berbagai bidang lain yang saling berkaitan, dari tata ruang kota yang menyatukan pembangunan dengan pelestarian alam, penguasaan fotografi udara untuk pemetaan wilayah yang akurat, kajian hukum perbankan syariah demi menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil dan manusiawi, serta dukungannya terhadap petani kopi agar komoditas daerah tidak hanya dihargai sebagai barang dagangan, melainkan juga sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat yang menghasilkannya. Hampir tak ada bidang yang terasing dari pandangannya, ilmu teknik, biologi, ekonomi, budaya, seni, dan lingkungan saling berkaitan bagaikan cabang, ranting, dan daun dari satu pohon yang sama.
Kayu Ara
Di Jakarta sejak 12 September – 12 Oktober 2026, bertempat di Gedung Contemporary Art Gallery komplek TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Anshori Djausal menggelar pameran bertajuk “Kayu Ara” yang menampilkan arsitektur, teknologi dan budaya Lampung dalam karya daN pemikiran Anshori Djausal. Pameran ini digelar bukan sekadar mengenang karya seorang tokoh yang telah berjasa. Lebih dari itu, pameran yang menampilkan arsip foto, gambar teknik, tulisan, dan berbagai dokumen perjalanan hidup Anshori Djausal menjadi cermin bagi kita semua, bahwa seseorang dapat menjadi ahli di bidang ilmu pasti sekaligus menjadi pelestari budaya, bahwa pembangunan tidak harus merusak alam, bahwa teknologi canggih pun dapat dibuat sederhana dan dimiliki oleh rakyat, dan bahwa kemajuan sejati adalah ketika manusia semakin bijaksana menjaga keseimbangan antara kemampuan akal budinya dan alam tempat ia berpijak.
Menurut Angga Wijaya yang menjadi kurator, pameran ini menelusuri pemikiran dan karya Anshori Djausal melalui pendekatan instalasi seni kontemporetr. Beragam arsip, dokumentasi, cetak biru, dan publikasi menghadirkan perjalanan gagasan, pengalaman dan penelitiannya tentang arsitektur, teknologi, lingkungan serta kebudayaan Lampung.
Bagi penulis yang merupakan kerabat sekaligus orang yang sangat berutang budi pada Gurunda Anshori Djausal, dia adalah ayah kedua dan sumber inspirasi terbesar.
Akhirul kalam, dari apa yang saya cermati, catat, dan resapi dalam pameran Kayu Ara, Gurunda Anshori dalam segenap kerangka pengabdian multidimensionalnya, karya-karyanya selalu senantiasa menunaikan parameter imperatif, ciri-ciri teknologi humanis – tersusun secara terdesentralisasi, memiliki orientasi penyerapan padat karya yang membuka ruang bagi aktualisasi kriya kelas pekerja, melindungi resiliensi pelestarian lingkungan jangka panjang, dan tetap lentur beradaptasi dengan kondisi klimatologis maupun geografi kultural setempat.
Secara konsisten dan jenius, Gurunda Anshori Djausal mampu terus-menerus merajut benang merah yang sangat liat antara material “bahan baku setempat” (Local Resources); mulai dari melimpahnya pasir kasar sungai, jaring kawat ferosemen, akar rimpang rumput vetiver, hingga teologi Kayu Ara, dengan parameter imperatif “Skala Manusia” (Human Scale); kemudahan transfer teknologi dan minimisasi beban kapital yang secara simultan direkatkan menggunakan katalisator partisipasi “daya cipta manusia” (People Matter); yang mewujud dalam budaya gotong royong dan kesadaran kolektif untuk membela kehormatan dan keadilan kawasan.
Semoga semangat Kayu Ara itu terus hidup, tumbuh, dan berbuah manis di hati generasi-generasi mendatang. Sehat, bahagia, dan terus memberi manfaat kepada sesama, ya Gurunda. ●
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI





