Home / News / Instalasi Air Bersih Siap Minum dari PTBA untuk Korban Gempa NTT

Instalasi Air Bersih Siap Minum dari PTBA untuk Korban Gempa NTT

Instalasi air bersih siap minum yang difasilitasi PTBA di Manggarai Timur. (FOTO: Humas PTBA).

KINGDOMSRIWIJAYA, Manggarai Timur – Dari Sumatera Selatan (Sumsel) PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memberikan dukungan nyata bagi korban bencana gempa bumi di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan menyalurkan bantuan instalasi air bersih siap minum bagi masyarakat terdampak dan pasien di Posko Kesehatan Dampek serta RS Lapangan Dampek di Kecamatan Lamba Leda Utara.

Pasca gempa yang melanda NTT, berdasarkan hasil observasi tenaga kesehatan PTBA yang bertugas dalam tim relawan kesehatan, serta telah diverifikasi oleh Kepala Puskesmas Dampek, Dokter Bima terjadi peningkatan tajam terhadap kebutuhan air bersih.

Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, Dokter Agus Haryanto bersama ITB Peduli menginisiasi penyediaan fasilitas air bersih yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan pasien di RS Lapangan Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara. PTBA hadir memberikan dukungan melalui donasi untuk mempercepat pengadaan dan pembangunan instalasi air bersih siap minum tersebut.

“Di tengah situasi bencana, kebutuhan air bersih menjadi sangat penting, terutama karena di RS Lapangan Dampek terdapat pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan, termasuk pasien rawat inap. Air bersih dibutuhkan untuk minum, sanitasi, kebersihan, dan mendukung pelayanan kesehatan. Karena itu, kami berupaya menghadirkan fasilitas air bersih yang dapat dimanfaatkan oleh pasien, tenaga kesehatan, relawan, maupun masyarakat sekitar”, kata Agus Haryanto.

Air bersih di daerah terdampak gempa merupakan salah satu kebutuhan paling mendesak di lokasi pengungsian dan posko kesehatan. Banyak sumber air lokal terganggu atau menjadi keruh akibat gempa. Jaringan pipa transmisi air di sejumlah titik di Manggarai Timur mengalami kerusakan, sehingga ribuan pelanggan terdampak. Di posko dan RS lapangan, air dibutuhkan tidak hanya untuk minum, tetapi juga untuk sanitasi, kebersihan luka pasien, dan pencegahan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang mulai muncul di kalangan pengungsi.


Tim bantuan bencana PTBA di NTT mempersiapkan instalasi air bersih siap minum. (FOTO: Humas PTBA)

Kehadiran instalasi air bersih siap minum yang didukung PTBA menjadi solusi praktis di tengah keterbatasan. Fasilitas ini diharapkan meringankan beban tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat di sekitar Posko Kesehatan Dampek serta RS Lapangan Dampek.

Agus mengapresiasi dukungan PTBA yang mempercepat penyediaan instalasi air bersih siap minum. Kolaborasi semacam ini sangat berarti dalam kondisi tanggap darurat karena kebutuhan di lapangan harus direspons cepat dan tepat.

Menurut Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan, bantuan tersebut merupakan bagian dari kepedulian perusahaan terhadap masyarakat terdampak bencana. “Melalui bantuan ini, kami berharap fasilitas air bersih dapat mendukung kebutuhan masyarakat dan pasien di lokasi terdampak, sekaligus membantu menjaga kebersihan dan kesehatan selama proses pemulihan”, katanya.

Selain itu PTBA berkomitmen terus berkontribusi dalam penanganan kondisi darurat dan mendukung masyarakat agar segera bangkit dari dampak bencana melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Gempa Bumi Magnitudo 7,7

Gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 04.58 WIB berkekuatan magnitudo 7,7. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter berada di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, dengan koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, pada kedalaman 15 kilometer. Gempa dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).

Guncangan terasa kuat di sejumlah wilayah, termasuk Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan sekitarnya. BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami yang kemudian dicabut setelah tidak ada kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan. Namun, gempa susulan terus terjadi. Hingga akhir Agustus 2026, BMKG mencatat ribuan gempa susulan, dengan total tembus lebih dari 10.000 kali, magnitudo terbesar mencapai 6,2.

Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, khususnya Kecamatan Lamba Leda Utara, Lamba Leda, Lamba Leda Selatan, dan Sambi Rampas. Di kawasan ini, banyak bangunan rumah, sekolah, puskesmas, rumah ibadah, serta infrastruktur jalan dan jembatan mengalami kerusakan.


Instalasi air bersih siap minum yang difasilitasi PTBA di Manggarai Timur. (FOTO: Humas PTBA).

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah, dampak gempa sangat signifikan. Hingga awal September 2026, total korban meninggal dunia di NTT tercatat mencapai lebih dari 100 jiwa Khusus di Kabupaten Manggarai Timur, data Posko Tanggap Darurat dan laporan pemerintah daerah menyebutkan sekitar 30–40 orang meninggal dunia. Kecamatan Lamba Leda Utara dengan korban jiwa terbanyak di kabupaten tersebut. Selain itu, ratusan warga mengalami luka-luka. Di Manggarai Timur saja, tercatat sekitar 239 orang luka berat dan 404 orang luka ringan, dengan total luka-luka di kabupaten ini mencapai ratusan orang.

Jumlah pengungsi juga sangat tinggi. Di tingkat provinsi, puncak jumlah pengungsi pernah mencapai lebih dari 180.000–188.000 jiwa pada akhir Agustus 2026. Di Kabupaten Manggarai Timur, jumlah pengungsi mencapai sekitar 30.000–31.000 jiwa, dengan konsentrasi besar di Kecamatan Sambi Rampas dan Lamba Leda Utara. Banyak warga mengungsi di posko terpusat maupun secara mandiri karena rumah mereka rusak atau karena rasa takut terhadap gempa susulan.

Kerusakan infrastruktur dan perumahan sangat meluas. Data BNPB mencatat puluhan ribu unit rumah mengalami kerusakan di seluruh wilayah terdampak NTT, dengan kategori rusak berat, sedang, dan ringan. Di Manggarai Timur, kerusakan bangunan dan fasilitas publik mencapai puluhan ribu unit, mencakup rumah tinggal, sekolah, puskesmas, jembatan, jaringan irigasi, serta sistem air bersih dan sanitasi. Akses jalan di beberapa ruas, termasuk menuju Dampek, sempat terputus atau terganggu, menghambat distribusi bantuan.

Perkiraan kerugian ekonomi juga besar. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memperkirakan total kerugian akibat gempa di delapan kabupaten di NTT mencapai sekitar Rp 2,2 triliun. Kerugian terbesar berasal dari sektor perumahan (sekitar Rp 1,42 triliun), diikuti fasilitas umum dan infrastruktur, serta gangguan aktivitas ekonomi. Kabupaten Manggarai Timur menyumbang porsi signifikan, sekitar 54 persen dari total kerugian mustahik yang dikaji Baznas, mengingat tingginya kerusakan rumah dan tingkat kerentanan ekonomi masyarakat setempat. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *