Home / Wisata / Istanbul Surganya Kucing (Hari Kucing Sedunia 8 Agustus 2024)

Istanbul Surganya Kucing (Hari Kucing Sedunia 8 Agustus 2024)

Seokor kucing tiba-tiba datang menghampiri di Masjid atau Yesil Camii di Bursa. (FOTO: Safira Yasmin)

KINGDOMSRIWIJAYA – Berkunjung ke Istanbul kota terbesar di Turkiye, kita bisa dengan mudah bertemu satwa, kucing. Kucing menjadi hewan liar bisa berkeliaran bebas di kota ini dan kota lain di Turkiye. Ternyata tidak hanya kucing, anjing pun berkeliaran dengan bebas tanpa harus khawatir dihalau atau dilempar dengan benda keras.

Empat tahun yang lalu, pada tahun 2020 ada seekor kucing yang sangat terkenal di Turkiye mati. Seorang warga Istanbul membuat akun Instagram untuk mengabadikan aktivitas kucing tersebut selama hidupnya. Kucing tersebut diberi nama “Gli” akun Instgramnya @hagiasophiacat.

Gli adalah seekor kucing berjenis kelamin betina yang bisa dijumpai di dalam Hagia Sophia. Ada yang menyebut dan menulis Gli adalah adalah penjaga Museum Hagia Sophia yang kini telah beralih fungsi dan bernama Masjid Ayasofia.

Dari cerita yang tersiar di Istanbul, ada sekitar 16 tahun Gli tidak pernah meninggalkan bangunan yang pertama kali dibangun tahun 532 tersebut. Namanya “Gli” yang artinya persatuan cinta adalah seekor kucing jenis Europian shorthair dengan mata yang bulat dan bercahaya.

Keberadaan Gli di Hagia Sophia dalam bahasa Turki disebut Ayasofya tak pernah mengganggu mereka yang datang dari mana pun. Gli tak ada pemiliknya, Gli adalah hewan kesayangan semua mereka yang berkunjung ke Hagia Sophia yang sejak 24 Juli 2020 menjadi masjid untuk melaksanakan salat Jumat pertama setelah selama sekitar 85 tahun menjadi museum tanpa ada salat Jumat di sana.

Kucing Gli ternyata tidak hanya terkenal di Turki, namanya dan wajahnya sudah di kenal di mancanegara. Foto-foto Gli banyak bertebaran di media sosial (medsos), bahkan media cetak, online dan televisi membuatkan berita khusus tentang Gli.

Gli mulai dikenal luas dan populer saat Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 2009 berkunjung ke Hagia Sophia. Presiden Obama dan Perdana Menteri Reccep Tayyip Erdogan sempat menyapa dan membelai Gli.


Seekor kucing tertidur di kursi taman Masjid Ayasofia. (FOTO: Maspril Aries)
Seekor kucing tertidur di kursi taman Masjid Ayasofia. (FOTO: Maspril Aries)

Setelah Hagia Sophia berfungsi menjadi masjid, Gli masih tinggal di sana tempat yang sudah menjadi rumahnya. Mengutip media pemerintah Turki, TRT World memberikan jawabannya, perubahan status Ayasofya atau Hagia Sophia dari museum menjadi masjid tidak membuat Gli harus dipindahkan. Gli tetap bisa bebas berjalan-jalan di dalam dan di sekitar Hagia Sophia.

Jika ingin tahu bagaimana Gli menyapa para tamunya di Hagia Sophia, bisa dilihat pada akun Instagram @hagiasophiacat. Seorang pemandu wisata Hagia Shopia, Umut Bahceci telah membuat akun medsos untuk Gli. Sampai Gli mati, akun Instagram @hagiasophiacat sudah ada 860 unggahan foto dan video tentang Gli dan kucing lainnya di Turkiye.

Pada hari kematian Gli, Umut Bahceci pemilik akun @hagiasophiacat menulis, “Saya lahir di Hagia Sophia, jantung dunia. Saya baru saja mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan ini di mana saya bertemu jutaan orang yang datang ke jantung dunia dengan cinta dan menjadi cermin dari cahaya cinta. Terima kasih untuk semua orang yang memiliki jejak kaki saya di hati mereka”.

Umut Bahceci juga menulis, “Saya sekarang berada di rumah saya selamanya, Sophia. Di tempat khusus di taman Sophia saudara perempuan saya dan saya akan terus menyebarkan cinta yang tak berujung yang telah kami terima dari mu seluruh dunia”.

Kabar kematian Gli disampaikan Gubernur Istanbul Ali Yerlikaya di akun Twitternya. Gli mati setelah sebelumnya menjalani perawatan sejak 24 September 2020. “Kucing Hagia Sophia Gli, yang telah dirawat di klinik hewan swasta di Levent sejak 24 September, sayangnya mati karena usianya yang sudah tua.” “Kami tidak akan pernah melupakan Anda Gli” tulis Ali dalam akun twitter-nya 9 November 2020. Gli mati pada 7 November 2020 dan dimakamkan di kompleks Hagia Sophia.


Seekor kucing menikmati makanannya di pelabuhan Selat Bhoporus. (FOTO{ Maspril Aries)
Seekor kucing menikmati makanannya di pelabuhan Selat Bhoporus. (FOTO{ Maspril Aries)

Kucing Penguasa Istanbul

Pada sebuah kesempatan bulan November 2019 saat berkunjung ke Turkiye saya ingin melihat atau bertemu Gli. Selesai sarapan pagi saya langsung pergi meninggalkan Hotel Radisson Blu Residence di kawasan Batesehir menuju ke Hagia Sophia sebuah kawasan di Istanbul yang ditetapkan Unesco sebagai situs warisan dunia. Hari masih pagi, udara masih terasa dingin saat saya tiba di Hagia Sophia. Kursi-kursi taman masih basah oleh sisa embun yang menanti jilatan sinar matahari menghapusnya.

Hari boleh masih pagi jam belum menunjukkan pukul 09.00 waktu Turki, namun antrian pengunjung untuk masuk ke Hagia Sophia sudah ramai, antrian memang belum terlalu panjang, tak sampai 10 meter dari pintu masuk ke barisan belakang antrian.

Selain Hagia Sophia di Kawasan situs warisan dunia Istanbul juga ada museum Istana Topkapı, Masjid Sultan Ahmet atau Masjid Biru, Hagia Irene, Masjid Zeyrek, Masjid Sulaimaniah, Sarayburnu dan Tembok Konstantinopel. Hari itu saya datang ke Hagia Sophia untuk bertemu Gli, untuk menyapanya, membelainya dan foto selfie bersama.

Diantara banyak pengunjung yang masuk ke dalam Hagia Sophia saya mencari, tapi saya tak berjumpa Gli. Sampai meninggalkan museum yang sejak 10 Juli 2020 diputuskan pengadilan setempat untuk membatalkan status musem yang ditetapkan melalui Dekrit Kabinet pada masa kepemimpinan presiden pertama Turki Mustafa Kamal Pasha atau Mustafa Kamal Atarturk.

Tak jumpa Gli, saya pun melangkah keluar Hagia Sophia berjalan menuju museum istana Topkapi. Di bangku tak taman tak jauh dari Hagia Sophia saya berjumpa sahabat (mungkin) Gli yang sedang duduk bermanja di bangku taman. Duduk tenang memperhatikan orang yang lalu lalang di depannya, dia tak merasa terganggu oleh mereka yang datang dan pergi.

Jika berkunjung ke Istanbul jangan kaget saat berjumpa dengan banyak “saudara” Gli. Ada ratusan kucing bisa dijumpai di tempat-tempat keramaian, kucing-kucing bisa berjalan dengan bebas tanpa ada yang mengganggu dan mengusirnya. Ada yang bebas masuk ke dalam restoran tanpa diusir oleh pelayan atau pemilik restoran. Kucing-kucing tersebut adalah liar dilepas bebas, namun yang menarik kucing-kucing tersebut terlihat bersih dan gemuk.

Di beberapa tempat, di sudut atau di tepi jalan akan dijumpai kotak-kotak dengan pintu-pintu kecil, itu adalah rumah tempat tinggal kucing-kucing liar tersebut yang sengaja dibuat oleh warga Istanbul.


Seekor kucing berteduh di bawah mobil yang tengah parkir. (FOTO: Maspril Aries)
Seekor kucing berteduh di bawah mobil yang tengah parkir. (FOTO: Maspril Aries)

Di Istanbul sepertinya kucing bukan hewan piaraan di dalam rumah melainkan dibiarkan bebas berkeliaran di luar rumah. Walau berada di luar rumah, warga Istanbul selalu berbagi makanan dengan kucing-kucing tersebut. Makanya tak ada kucing di Istanbul yang kurus kelaparan dan kotor.

Dalam memoar Baron Wencelas Wratislow, bangsawan muda Bohemia, yang terbit tahun 1599 menuliskan tentang warga Istanbul memiliki tradisi menyediakan makanan untuk kucing jalanan. Mereka memanggil kucing-kucing liar tersebut dengan kedi et atau “daging untuk kucing.” Kucing-kucing pun akan berkumpul menyantap makanan yang disajikan tersebut.

Tak salah jika Istanbul disebut sebagai kota surga bagi kucing dan pecinta kucing. Jika anda penyayang hewan kucing maka datanglah ke Istanbul. Di Istanbul warganya, juga para pemilik toko bisa hafal nama-nama kucing yang berkeliaran di lingkungan mereka. Mereka juga mempersiapkan tempat tinggal para kucing dengan membeli kandang-kandang atau atap-atap untuk diletakkan di pinggir jalan untuk kucing-kucing liar tersebut berteduh.

Saat virus corona atau Covid-19 melanda dunia, di Turkiye banyak yang khawatir akan nasib ribuan kucing tersebut karena pemerintah melakukan pembatasan terhadap gerak warganya. Warga Istanbul diminta tetap berada di dalam rumah, restoran dan perkantoran pun tutup. Kekhawatiran tersebut langsung dijawab pemerintah setempat.

Kementerian Dalam Negeri Turki memerintahkan pemerintah daerah dan dewan kota setempat untuk menyediakan makanan dan air untuk kucing-kucing liar tersebut di tempat penampungan hewan dan taman-taman. Anjing liar pun mendapat perhatian untuk diberi makan. Menurut dinas pemeliharaan hewan setempat, diperkirakan ada sekitar 12.500 ekor kucing hidup liar dan bebas di Istanbul.


Kucing bermain bebas di pelabuhan Selat Bhoporus. (FOTO: Maspril Aries)
Kucing bermain bebas di pelabuhan Selat Bhoporus. (FOTO: Maspril Aries)

Kucing Datang ke Istanbul

Bagaimana ceritanya, kucing demikian banyak di Istanbul dan bisa hidup bebas dan nyaman tanpa diganggu dan diusir? Satu cerita menjelaskan, ada bukti sejarah yang memperlihatkan bahwa sebelum Konstantinopel jatuh ke tangan Dinasti Usmaniah yang dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih tahun 1453, kota itu sempat diserang wabah pes, untuk membasminya penguasa melakukan dengan mengerahkan kucing membasmi tikus.

Cerita lain berkisah, dikutip dari The Culture Trip, kawanan kucing pertama kali datang ke Turki saat zaman Kekaisaran Ottoman. Saat itu setiap kapal-kapal yang berlabuh di Istanbul selalu datang dengan membawa kucing dalam jumlah banyak untuk mengusir tikus yang sering merusak barang bawaan, terutama yang berisi makanan. Lalu kucing-kucing itu saling membaur dan kemudian berkembangbiak di Turki.

Cerita lainnya, seorang kartunis terkenal Turki, Bulent Ustun menjelaskan bagaimana kawasan Cihangir, Istanbul, menjadi rumah bagi berbagai ras kucing ketika kapal-kapal pada masa Ottoman berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Istanbul, kapal-kapal itu datang dari seluruh dunia dengan membawa berbagai jenis kucing. Kisah tersebut bisa ditonton dalam film dokumenter kucing Istanbul “Kedi.”

Sejarawan Ottoman, Ekrem Buğra Ekinci mencatat, Sultan Abdul Hamid II dikenal sebagai pecinta kucing. Sultan memiliki kucing peliharaan jenis Angora berwarna putih berbulu panjang yang bernama “Agha Effendi. Kemudian Sultan juga menerima hadiah sejumlah besar kucing, diantaranya tahun 1885, Gubernur Van mengirimkan 35 kucing Van (kucing putih berbulu panjang dengan mata berbeda warna yang berasal dari Danau Van).

Kawasan Anatolia pada masa itu merupakan rumah bagi kucing keturunan Angora dan Van, dua kucing ras khusus yang berasal dari Turki. Kucing memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Turki khususnya warga Istanbul. Bahkan warga mengatakan, “Jika tidak ada kucing, Istanbul kehilangan jiwanya.”

Warga Istanbul sangat mencintai kucing, seperti kisah kucing Tombili yang menjadi maskot bagi penduduk di distrik Ziverbey, Istanbul. Ketika Tombili meninggal, warga mengumpulkan sumbangan lalu membayar seorang seniman untuk mengabadikan kucing betina yang kharismatik itu. Kini sebuah patung perunggu ada di pinggir jalan, meniru pose khas Tombili.

Hari tanggal 8 Agustus 2024, setiap tanggal 8 Agustus diperingati sebagai Hari Kucing Sedunia. Artikel ini dipersembahkan Gli, Tombili dan kucing lainnya di seluruh dunia. (maspril aries)

Tagged: