KINGDOMSRIWIJAYA – Pada tahun 1990 pernah terbit pertama kali sebuah novel berjudul “Ladang Perminus” karya sastrawan Indonesia, Ramadhan K.H. “Ladang Perminus” adalah salah satu karya sastra penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia, buku novel ini penerbitannya didukung dan disponsori oleh Yayasan Obor Indonesia, sebuah lembaga yang aktif mendukung pengembangan dan penyebaran karya sastra serta ilmu pengetahuan di tanah air.
Novel ini memiliki ketebalan 328 halaman, dibagi dalam 32 bab, dan telah diakui sebagai karya bermutu hingga menerima penghargaan bergengsi SEA Write Award pada tahun 1994, menjadikan Ramadhan K.H salah satu sastrawan besar Indonesia yang namanya diakui hingga tingkat internasional. Ramadhan K.H, lahir di Bandung, 16 Maret 1927 dan meninggal dunia di Cape Town, Afrika Selatan, 16 Maret 2006. Ramadhan K.H adalah ayah dari Gilang Ramadhan musisi dan penabuh drum grup band Krakatau.
Inti cerita dari Ladang Perminus yang diterbitkan PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, berpusat pada kehidupan Hidayat, seorang pejuang Angkatan 45 yang kemudian bekerja di Perminus, singkatan dari “Perusahaan Minyak Nusantara”, perusahaan milik negara yang bergerak di bidang pengelolaan kekayaan alam minyak bumi. Sebagai seorang yang pernah berjuang mempertahankan kemerdekaan, Hidayat tumbuh dengan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Di matanya, Perminus adalah aset terbesar milik rakyat, dan pekerjaan di sana adalah amanah besar yang harus dijaga sebaik-baiknya. Namun, kenyataan yang ia temukan jauh berbeda dari harapan. Di dalam perusahaan yang seharusnya menjadi kebanggaan negara itu, justru tumbuh subur praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dilakukan oleh para pimpinan dan pejabat tinggi. Uang negara yang jumlahnya sangat besar mengalir keluar, masuk ke kantong-kantong pribadi, dan dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu, sementara rakyat luas tidak merasakan manfaatnya.
Novel Ramadhan K.H ini adalah satu dari sedikit novel atau karya fiksi yang bercerita tentang dunia minyak dan gas (migas). Mungkin saja ada novel lain atau cerpen lain yang memotret cerita yang ada dan terjadi di dunia migas yang kini terus berkembang.

Artikel ini bukan hendak membahas tentang novel Ladang Perminus dari sastrawan yang menulis otobiografi Presiden Soeharto berjudul “Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”. Melainkan hendak “menggugat” bagaimana kontribusi industri migas Indonesia terhadap gerakan literasi di Indonesia khususnya terkait dengan bantuan yang diberikan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan perusahaan migas atau KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) terhadap penulis khususnya penulis buku sebagai salah satu penerima manfaat dan menerbitkan buku karya penulis-penulis lokal (daerah) yang ada di wilayah kerja KKKS.
Jika ada yang bertanya apa kaitannya antara SKK Migas dan KKKS dengan dunia kepenulisan dan penerbitan buku? Apa haknya untuk menggugat? Jawabannya, industri hulu minyak dan gas bumi (migas) sering kali hanya dinilai dari kontribusinya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Padahal, melalui pengawasan SKK Migas, aktivitas eksplorasi dan eksploitasi oleh para KKKS menghasilkan dampak ekonomi melingkar (multiplier effect) yang menyentuh ranah non-fisik. Salah satu manifestasi paling transformatif dari efek berganda ini adalah investasi sosial pada penguatan kapasitas manusia melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) di bidang pendidikan dan gerakan literasi.
Sementara itu di luar ekosistem migas, selama ini, ekosistem perbukuan dan kepenulisan nasional didominasi oleh poros Jakarta. Penulis, editor atau kurator, dan penerbit besar terpusat di ibu kota, membuat suara-suara otentik dari pelosok nusantara sering kali luput dari radar industri mainstream. Di sinilah peran krusial hulu migas hadir. Dengan memanfaatkan dana PPM secara strategis, SKK Migas dan KKKS harus bertindak sebagai jembatan alternatif yang mendanai, melatih, serta menerbitkan karya-karya penulis daerah.
Ini adalah bukti bahwa hubungan industri ekstraktif mampu memicu perputaran ekonomi kreatif lokal yang mandiri dan berdaulat. Mari membedah anatomi efek berganda, dari sumur bor ke mesin cetak
Secara teoretis, efek berganda industri hulu migas terbagi menjadi dampak langsung (direct), tidak langsung (indirect), dan induksi (induced). Dalam program literasi daerah, rantai dampak ini bekerja secara nyata. Dimana investasi PPM KKKS dengan programnya melakukan pelatihan dan inkubasi penulis lokal (daerah) lalu membantu mendanai penerbitan buku penulis daerah melalui penerbitan independen (bukan penerbitan besar). Dari situ terjadi perputaran ekonomi kreatif kreator lokal.

Efek Berganda Hulu Migas
Dalam Industri hulu (migas) sering kali hanya dinilai dari kontribusinya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Padahal, melalui pengawasan SKK Migas), aktivitas eksplorasi dan eksploitasi oleh para KKKS menghasilkan dampak ekonomi melingkar (multiplier effect) yang menyentuh ranah non-fisik.
Sementara itu efek berganda hulu migas adalah dampak ekonomi luas yang diciptakan oleh industri hulu minyak dan gas bumi. Dampak ini mencakup penciptaan lapangan kerja, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pengembangan usaha lokal (UMKM), hingga penyediaan infrastruktur di sekitar wilayah operasi.
Efek berganda hulu migas ini terjadi berkat hubungan dan peran entitas terkait dalam menciptakan efek tersebut. Pertama, SKK Migas dengan peran utamanya sebagai lembaga negara yang bertugas mengawasi dan mengendalikan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi agar memberikan manfaat maksimal bagi negara. Dampak langsung yang dirasakan adalah, SKK Migas memastikan bahwa eksplorasi dan eksploitasi berjalan lancar untuk menjaga ketahanan energi nasional serta mendorong agar penggunaan vendor, tenaga kerja, dan material lokal diprioritaskan.
Kedua, KKKS dengan peran utama sebagai perusahaan atau badan usaha yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi berdasarkan kontrak dengan negara (yang diwakili oleh SKK Migas). Dampak langsungnya, KKKS adalah pihak yang langsung mengoperasikan lapangan migas dan mengucurkan dana investasi. Mereka memicu efek berganda dengan melakukan pembelian barang/jasa dari penyedia lokal, menyerap tenaga kerja, serta menjalankan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) seperti pelatihan keterampilan dan bantuan modal usaha.
Sementara rantai penciptaan efek bergandanya mencakup pajak & Dana Bagi Hasil (DBH) yang merupakan pendapatan langsung bagi negara dan daerah penghasil migas. Efek berganda ekonomi (multiplier effect) yang dihasilkan adalah meningkatnya pendapatan daerah melalui sektor turunan, seperti akomodasi, katering, logistik, transportasi, dan penyedia suku cadang. Yang lainnya adalah Pemberdayaan Masyarakat (PPM) melalui bantuan modal usaha, infrastruktur komunal, dan fasilitas umum yang secara tidak langsung membangun kemandirian warga di sekitar area operasi.

Di sinilah peran krusial hulu migas hadir. Dengan memanfaatkan dana PPM secara strategis, SKK Migas dan KKKS bertindak sebagai jembatan alternatif yang mendanai, melatih, serta menerbitkan karya-karya penulis daerah atau lokal di wilayah operasi KKKS sebagai bentuk dari efek berganda yang merupakan investasi sosial untuk penguatan kapasitas manusia di bidang pendidikan dan gerakan literasi.
Selama ini, ekosistem perbukuan dan kepenulisan nasional didominasi oleh poros Jakarta. Penulis, kurator, dan penerbit besar terpusat di ibu kota, membuat suara-suara otentik dari pelosok nusantara sering kali luput dari radar industri mainstream.
Ketika KKKS mengalokasikan anggaran PPM untuk program literasi, dampak langsungnya adalah tersedianya modal bagi pelaksanaan lokakarya penulisan dan pembiayaan cetak buku. Dampak tidak langsungnya, industri percetakan lokal berkembang, desainer grafis daerah mendapatkan proyek tata letak (layout), dan ekosistem distribusi lokal bergerak.
Secara jangka panjang, buku-buku yang lahir dari daerah ini memicu dampak induksi berupa meningkatnya kesadaran kritis masyarakat, dokumentasi sejarah tutur yang menyelamatkan kebudayaan lokal, hingga peningkatan literasi yang berkorelasi langsung pada kualitas tenaga kerja masa depan.
Namun itu belum terjadi di Sumsel sebagai salah satu daerah penghasil migas di Indonesia. Berdasarkan pengalaman dua orang sastrawan senior Sumsel, Anto Narasoma dan Anwar Putra Bayu, efek berganda hulu migas di daerah ini belum menyentuh ekosistem kepenulisan di daerah yang banyak beroperasi KKKS dari BUMN sampai perusahaan migas swasta nasional dan asing.
“Selama kami berkarya di Sumsel belum ada sentuhan atau program dari perusahaan migas dengan penulis fiksi dan non fiksi serta penerbitan buku sastra atau non sastra”, kata Anwar Putra Bayu yang juga Koordinator Sumatera organisasi penulis Satupena yang dipimpin Denny JA.
Pengalaman yang sama juga disampaikan Anto Narasoma sastrawan dan juga wartawan yang pernah bergabung dengan Harian Sumatera Ekspres. “Belum ada interaksi atau kontribusi langsung dari perusahaan migas terhadap penulis di Sumsel atau menjadi sponsor penerbitan buku. Selama ini perusahaan migas atau SKK Migas lebih mengakomodir teman-teman wartawan atau jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas”, kata Anto, Selasa (2/6).

Menurut Anto dan Bayu, jika perusahaan migas mau berkontribusi untuk penulis dan penerbitan buku maka eksosistem kepenulisan di Sumsel akan semakin semarak. Akan banyak lahir penulis-penulis muda dan banyak terbit buku-buku karya penulis lokal dari Sumsel dengan sponsor penerbitan buku dari perusahaan migas atau KKKS.
Kedua penulis atau sastrawan yang sudah berkiprah sejak tahun 1980-an menyambut baik jika KKKS dan SKK Migas mau memfasilitasi penulis dan penerbitan sebagai bagian dari gerakan literasi di Sumatera Selatan.
Sebagai contoh di Malaysia, perusahaan migas internasional Exxon Mobil menjadi sponsor utama penghargaan sastra paling terkemuka di negeri jiran tersebut yang diberi nama “Hadiah Sastera Utusan-Exxon Mobil”, yang sebelumnya bernama “Hadiah Sastera Esso-GAPENA” yang sudah ada sejak 1976. Penghargaan ini menjadi bukti nyata keterlibatan dunia usaha atau industri migas dalam mendukung perkembangan budaya dan kesusastraan Melayu, sekaligus menjadi wadah pengakuan tertinggi bagi para sastrawan yang berkarya dengan dedikasi dan kualitas tinggi. Penghargaan ini tidak hanya memberikan apresiasi berupa hadiah uang tunai, tetapi juga menjamin nama baik dan posisi penerimanya dalam sejarah kesusastraan Malaysia.
Untuk menjabarkan keterlibatan KKKS dan SKK Migas dalam ekosistem kepenulisan dapat dilakukan sebagai bagian dari program PPM Literasi penerbitan karya penulis daerah melalui skema industri migas melibatkan sinergi tiga pilar utama. Pertama, SKK Migas sebagai Fasilitator Tata Kelola. Sebagai pengawas operasional hulu migas, SKK Migas memastikan bahwa program PPM yang diajukan oleh KKKS selaras dengan kebutuhan rill masyarakat di wilayah operasi (standard operating procedure mengacu pada Pedoman Tata Kerja/PTK). SKK Migas mendorong agar KKKS tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan atau jembatan, melainkan seimbang dengan pembangunan kapasitas manusia (capacity building).
Kedua, KKKS sebagai Investor Sosial. KKKS bertindak sebagai penyedia dana sekaligus eksekutor program. Dalam konteks gerakan literasi, KKKS bermitra dengan pegiat literasi daerah, komunitas menulis untuk menyelenggarakan inkubasi kepenulisan hingga membiayai proses produksi serta distribusi buku cetak. Ketiga, Komunitas dan Penulis Daerah sebagai Penggerak Tapak. Penulis daerah menyediakan konten otentik berbasis kearifan lokal. Mereka mendokumentasikan keanekaragaman hayati, sejarah adat, antropologi sosial, hingga sastra lokal yang tidak dipahami oleh penerbit-penerbit besar di Jakarta.

Melalui penulis lokal bisa menghasilkan naskah tulisan menjadi buku yang mengangkat mengangkat suara dari Blok Rokan dan Sumatera Selatan sebagai contoh konkret dari bekerjanya efek berganda yang dapat diidentifikasi pada pola pembinaan literasi di wilayah kerja migas besar, seperti di klaster Sumatra (Blok Rokan di Riau dan sekitarnya dan Blok-Blok Migas di Sumatera Selatan).
Sebagai contoh, misalnya melalui program bertajuk “Sastra Tapak Operasi”, KKKS memberikan bantuan finansial berupa biaya penulisan dan penyuntingan (editing) profesional. Pembuatan desain sampul oleh ilustrator lokal. Pembiayaan cetak perdana hingga 1.000 eksemplar per judul buku melalui penerbit independen.
Hasilnya, lahirlah buku-buku seperti sejarah lisan dan kumpulan cerita rakyat, atau esai tentang kehidupan masyarakat lokal penerima manfaat dari efek berganda hulu migas. Buku yang diterbitkan kemudian didistribusikan ke perpustakaan sekolah di sekitar wilayah operasi. Ini memotong jalur birokrasi penerbitan Jakarta dan langsung menghidupkan ekosistem perbukuan di daerah.
Di tempat lain, program pendampingan melahirkan jurnalis warga warga desa. Para guru, mahasiswa, pemuda di lingkar tambang dilatih menulis narasi, dikurasi tulisannya, dan dibukukan dalam sebuah antologi esai sosiologis daerah. Efek ekonominya langsung terasa, penerbit independen mendapatkan omzet, toko buku independen daerah mendapatkan pasokan komoditas baru, dan para penulis lokal mendapatkan honor penulisan dan royalti penuh dari penjualan mandiri tanpa potongan rantai distribusi nasional yang mencekik.
Dari situ, efek berganda dari industri hulu migas selain terbukti melampaui angka-angka statistik pencapaian lifting minyak atau setoran pajak negara. Lewat tata kelola SKK Migas dan komitmen sosial KKKS, program PPM di bidang literasi bertindak sebagai inkubator kebudayaan yang menyelamatkan potensi kreatif para penulis daerah dari keterpencilan geografis.
Ketika sebuah buku dari penulis lokal berhasil dicetak dan dibaca oleh generasi muda di wilayah pelosok, industri hulu migas tidak hanya sedang menyalurkan energi hidrokarbon untuk menerangi lampu-lampu rumah warga, tetapi juga sedang menyalakan api pengetahuan yang menjaga kedaulatan berpikir bangsa langsung dari akar rumputnya. Efek berganda hulu migas telah menyalakan pelita di sisi menara suar, dan deru hulu migas menghidupkan aksara dari pinggiran Nusantara. (maspril aries)





