Monitoring dan evaluasi penanaman mangrove di Sungsang IV, Banyuasin (FOTO: Humas SKK Migas)
Medco E&P Grissik Ltd merehabilitasi hutan mangrove di Sungsang IV, Banyuasin, Sumatera Selatan melalui penanaman 22.000 bibit mangrove untuk menjaga ekosistem pesisir.
KINGDOMSRIWIJAYA, Sungsang – Ini tentang sebuah pertanyaan lama yang terulang kembali terdengar. “Mengapa perusahaan tambang ekstraktif ramai-ramai tanam mangrove di pantai?” Pertanyaan tersebut pernah keluar dari bibir peserta obrolan sambil ngopi saat menanti seorang pejabat keluar dari sebuah ruang acara di hotel berbintang untuk doorstop interview.
Pertanyaan yang bisa menyediakan ribuan jawaban tersebut tidak perlu dijawab di laman teks ini. Cukup bayangkan seperti ini. “Bayangkan sebuah hamparan lumpur asin di tepi pantai, tempat air laut dan air tawar sungai bertarung setiap harinya. Di tempat yang keras ini, akar-akar kecil yang rapuh menancapkan diri, berjuang melawan ombak, menciptakan kehidupan, dan menjadi benteng tak kasat mata bagi daratan”.
Di tengah bayangan itu melintas, angin laut di pesisir Sumatera membawa kabar yang menyejukkan. Bukan tentang eksploitasi sumber daya alam yang selama ini lekat dengan industri ekstraktif, melainkan tentang sebuah transformasi. Raksasa tambang dan migas kini tidak lagi hanya dilihat sebagai pengeksploitasi bumi, melainkan bertransformasi menjadi garda terdepan dalam merawat nadi kehidupan pesisir Nusantara.
Semangat ini terasa begitu nyata di wilayah Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Di kawasan yang berada persis di tepi pantai Timur Sumatera, pada Kamis (29/10), suasana di kawasan Hutan Lindung Air Telang, Desa Sungsang IV, tampak berbeda. Tidak ada suara berat alat berat mesin pengebor, melainkan suara tawa dan langkah kaki para petugas, perangkat desa, dan masyarakat yang menyusuri lumpur. Mereka sedang melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap 22.000 bibit mangrove yang ditanam di atas lahan seluas 2,2 hektar.
Ini bukan sekadar seremoni tanam lalu tinggalkan. Ini adalah kisah tentang komitmen, tentang bagaimana industri migas dan tambang mulai menyadari bahwa warisan terbesar mereka bukanlah barelminyak atau tonase batu bara yang diekstraksi, melainkan ekosistem yang tetap hidup dan masyarakat yang sejahtera.
Di lokasi yang berjarak lebih dari 70 km dari Palembang, Medco E&P Grissik Ltd., melalui program Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), telah memulai perjalanan hijau ini sejak tahun 2024. Bekerja sama dengan Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Sungsang IV, perusahaan tidak hanya datang membawa bibit, tetapi juga membawa kepercayaan kepada masyarakat lokal untuk mengelola hutannya sendiri.
Romi Adi Candra, Kepala Desa Sungsang IV, menatap hamparan hijau muda yang kini mulai menutupi area lumpur yang sebelumnya gundul. Matanya berbinar saat berbicara tentang kolaborasi ini.
“Kami dari Pemerintah Desa Sungsang IV mendukung penuh kegiatan rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan oleh Medco E&P Grissik Ltd. di kawasan Hutan Lindung Air Telang,” ujar Romi di sela-sela kegiatan monev. “Kegiatan ini sangat penting untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem mangrove yang memiliki peran besar dalam melindungi kawasan pesisir kami dari abrasi dan ancaman cuaca ekstrem.”

Bagi masyarakat Sungsang IV, mangrove adalah tentang bertahan hidup. Akar-akar bakau dan api-api menahan tanah agar tidak hanyut dibawa arus, sekaligus menjadi tempat memijah bagi ikan, udang, dan kepiting. Bagi Romi, sinergi ini adalah kunci.
“Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat mangrove yang telah ditanam agar dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat jangka panjang. Semoga sinergi antara Medco E&P Grissik Ltd., LPHD, pemerintah desa, dan masyarakat dapat terus terjalin dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Sungsang IV,” tambahnya.
Senada dengan harapan sang Kepala Desa, Arief Winanto Prakosa, Manager Field Relation & Community Enhancement Medco E&P Grissik Ltd., menyatakan bahwa program ini melampaui sekadar kewajiban regulasi.
“Capaian ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjalankan program keberlanjutan melalui upaya rehabilitasi ekosistem pesisir, peningkatan fungsi perlindungan pantai, penguatan keanekaragaman hayati, serta kontribusi terhadap penyerapan karbon dan ketahanan lingkungan jangka panjang serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar”, kata Arief.
Ia menekankan sebuah poin krusial:, bahwa penanaman 22.000 pohon mangrove ini dilakukan di luar kewajiban Program Penghijauan Hulu Migas (PPKH). Artinya, ini adalah inisiatif murni dari hati nurani korporasi untuk memberi kembali kepada alam dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan wilayah operasi mereka.
Mengapa Mangrove?
Selain pertanyaan di awal, mungkin ada juga yang bertanya, mengapa harus mangrove? Mengapa tidak menanam pohon biasa di daratan?
Jawabannya tersembunyi di dalam lumpur. Mangrove memiliki kemampuan ajaib yang disebut sebagai Blue Carbon. Ekosistem mangrove mampu menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan. Karbon tersebut tidak hanya disimpan di batang dan daun, tetapi terkunci rapat di dalam sedimen lumpur selama ribuan tahun.
Di tengah krisis perubahan iklim yang kian nyata, di mana cuaca ekstrem dan kenaikan muka air laut mengancam ribuan pulau di Indonesia, mangrove adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka meredam energi gelombang tsunami, menahan badai, dan mencegah intrusi air laut yang merusak air tanah warga.

Inilah alasan mengapa program Medco di Sungsang IV dan perusahaan tambang lainnya memilih menanam mangrove, selaras secara sempurna dengan Sustainable Development Goals (SDGs) PBB. Ketika mereka menjaga ekosistem pesisir, mereka sedang bekerja untuk SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Ketika mereka memulihkan tempat pemijahan ikan, mereka mendukung SDG 14 (Ekosistem Lautan). Ketika mereka melestarikan keanekaragaman hayati burung dan biota air, mereka menghidupkan SDG 15 (Ekosistem Daratan). Dan yang paling indah, ketika perusahaan, LDPHD, pemerintah desa, dan nelayan duduk bersama merawat hutan, mereka adalah wujud nyata dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Keberhasilan program konservasi tidak pernah diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam pada hari pertama. Keberhasilan diukur dari berapa banyak pohon yang bertahan hidup di tahun kelima, dan apakah masyarakat setempat tersenyum melihat hutan itu tumbuh.
Model yang diterapkan oleh Medco E&P melalui LDPHD Sungsang IV, adalah cetak biru (blueprint) yang tepat. Keterlibatan masyarakat bukan sekadar tempelan. Ketika masyarakat dilibatkan sebagai pengelola, dibekali dengan pengetahuan tentang pembibitan, pemantauan hama, hingga potensi ekonomi seperti pengolahan sirup buah mangrove atau keripik dari jenis Rhizophora, maka rasa memiliki (sense of belonging) akan tumbuh.
Mangrove bukan lagi sekadar “hutan larangan” yang dijaga oleh satpam perusahaan, melainkan “hutan kehidupan” yang dijaga oleh anak cucu desa. Jika ada pohon yang mati, masyarakat Sungsang IV atau nelayan di pesisir pantai lah yang pertama kali akan tahu dan segera melakukan penyulaman.
Mangrove PTBA
Selain di pantai Timur Sumatera Selatan, coba melirik ke arah Selatan tepatnya di pantai Timur Provinsi Lampung. Di sini ada perusahan ekstratif, yakni perusahaan tambang batu bara yakni PT Bukit Asam (PTBA) Tbk juga menanam mangrove di sini, di Kabupaten Lampung Timur.
Jadi gelombang kesadaran ekologis ini tidak hanya berhembus di Sumatera Selatan. Jika kita menelusuri peta pesisir timur Sumatera, tepatnya di kawasan pesisir timur Lampung, kita akan menemukan narasi serupa yang tak kalah menginspirasi, kali ini datang dari industri pertambangan batu bara.
Siapa sangka, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), perusahaan tambang batu bara milik negara, memiliki kepedulian yang luar biasa terhadap kawasan pesisir. Pesisir timur Lampung, yang mencakup wilayah seperti Kabupaten Lampung Timur dan sekitarnya, selama bertahun-tahun menghadapi ancaman nyata, abrasi pantai yang menggerus daratan dan mengancam pemukiman serta lahan pertanian warga.
Baca juga: Abrasi yang Mengguncang Pasir Sakti, Kini Senyap oleh Rimbun Mangrove
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta kemitraan dengan kelompok masyarakat pesisir, PTBA turun tangan merestorasi garis pantai. PTBA tidak hanya melempar dana, tetapi menerapkan pendekatan community-based mangrove management. Mereka menggandeng kelompok nelayan lokal, kelompok perempuan pesisir, dan pemuda karang taruna untuk tidak hanya menanam, tetapi mengadopsi sistem wanamina (silvofishery) atau tambak ramah lingkungan.

Di pesisir Lampung, PTBA membantu masyarakat membangun ekosistem di mana mangrove dan tambak udang/ikan bisa hidup berdampingan. Mangrove memberikan naungan dan nutrisi alami bagi biota air, sementara masyarakat mendapatkan penghasilan tanpa harus menebang pohon. PTBA juga membangun pusat edukasi mangrove dan jalur ecotourism yang kini mulai dilirik oleh wisatawan lokal.
Langkah PTBA di Lampung dan Medco di Banyuasin, Sumatera Selatan ini membuktikan satu hal, label “perusak lingkungan” yang sering disematkan pada industri ekstraktif kini sedang ditulis ulang. Mereka sedang membuktikan bahwa perusahaan migas dan tambang bisa menjadi arsitek pemulihan ekosistem.
Wajah Baru Industri Ekstraktif Era ESG
Fenomena di Banyuasin dan Lampung Timur ini juga mencerminkan pergeseran paradigma global dalam dunia bisnis, khususnya terkait ESG (Environmental, Social, and Governance). Investor global dan masyarakat kini tidak lagi hanya melihat laporan keuangan sebuah perusahaan. Mereka melihat jejak karbon, mereka melihat bagaimana perusahaan memperlakukan komunitas di sekitarnya, dan bagaimana mereka memitigasi risiko iklim.
Bagi Medco E&P Grissik Ltd. maupun PTBA, konservasi mangrove adalah investasi jangka panjang. Laut yang sehat berarti masyarakat pesisir yang sejahtera. Masyarakat yang sejahtera berarti lingkungan operasi yang kondusif, aman, dan harmonis. Ini adalah simbiosis mutualisme yang sempurna antara industri dan alam.
Kembali ke Sungsang IV, Banyuasin. Matahari mulai condong ke barat pada sore hari di akhir Oktober 2026 itu. Ombak perlahan naik, membasahi akar-akar napas mangrove yang kini mulai kokoh berdiri. Ribuan pohon itu, yang dulunya hanya berupa bibit setinggi lutut, kini mulai membentuk barisan hijau yang rapat.
Di pesisir timur Lampung, angin laut juga berdesir melewati kanopi mangrove yang ditanam dan dirawat bersama PTBA, melindungi gubuk-gubuk nelayan dari terjangan ombak Selat Sunda.
Keterlibatan perusahaan migas dan tambang dalam konservasi mangrove bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah keharusan moral dan ekologis. Mereka menyadari bahwa alam tidak bisa terus-menerus dituntut. Ada saatnya industri harus berlutut di tepi pantai, mencelupkan tangan ke dalam lumpur, dan menanamkan harapan.
Karena pada akhirnya, ketika sumur minyak telah kering dan tambang batu bara telah ditutup, yang akan diingat oleh anak cucu kita bukanlah berapa juta ton komoditas yang diekspor. Yang akan mereka ingat, rasakan, dan syukuri adalah benteng hijau yang berdiri tegak di tepi pantai, melindungi rumah mereka, menghidupi ikan-ikan di tambak, dan memberikan mereka napas yang bersih.
Dan hari ini, di Sungsang IV maupun pesisir Lampung, napas itu sedang tumbuh, daun demi daun, akar demi akar, menyatu dengan detak jantung pesisir Nusantara. (maspril aries)





