International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) – festival literasi terbesar yang digagas Satupena Sumbar. (Dok. Satupena Sumbar)
KINGDOMSRIWIJAYA, Padang – Di sebuah gedung sekretariat yang beralamat di Jalan Cindua Mato Nomor 13, Padang, Sastri Bakry menarik napas panjang. Bukan kekhawatiran biasa yang menderanya beberapa bulan terakhir. Sastri Bakry sastrawan perempuan dari Ranah Minang yang menjabat Ketua Dewan Pengurus Daerah Perkumpulan Penulis Satupena Sumatera Barat (Sumbar) itu sempat cemas akan satu hal yang sederhana namun krusial bagi organisasi mana pun, siapa pengganti dirinya?
Kekhawatiran itu buyar pada Rabu (28/10). Sembilan nama resmi masuk bursa Calon Ketua DPD Satupena Sumbar periode 2026–2031, hasil penjaringan dari lebih dari 200 anggota terdaftar. Sembilan nama itu – Armaidi Tanjung, Dilla, Hasanuddin, Leni Marlina, Pinto Janir, Ranti Arastri, Rita Novita, Yozarwadi Usama Putra, dan Yurnaldi – dipilih secara bertahap melalui pemungutan suara daring sejak sebulan lalu, memadukan WhatsApp Group, Google Form, dan musyawarah langsung.
Sembilan nama yang terpilih tersebut memiliki latar belakang dan keahlian yang memperkaya pilihan. Ada yang dikenal sebagai penulis sastra, ada pula yang menguasai jurnalistik, penulisan akademik, maupun penggerak literasi di komunitas. Keberagaman ini justru menjadi kekuatan utama Satupena
Dari penjaringan tersebut, ada 10 nama yang muncul termasuk Sastri Bakry, namun setelah musyawarah disepakati sembilan nama di luar pimpinan petahana. Ini sebuah langkah sadar untuk memberi ruang sepenuhnya bagi wajah baru.
“Saya sempat cemas jika tidak ada pengganti, karena saya sangat menginginkan adanya regenerasi di Satupena Sumbar. Kesembilan nama ini adalah penulis dan tokoh literasi yang kuat di bidangnya masing-masing”, ujar Sastri, yang kini menjabat Koordinator Satupena se-Sumatera, didampingi Sekretaris Satupena Sumbar Armaidi Tanjung. Sastri menjadi Koordinator Sumatera menggantikan Anwar Putra Bayu dari Satupena Sumatera Selatan (Sumsel).

Untuk mekanisme pemilihan pada Musda pertama Satupena Sumbar tersebut, dari sembilan nama kandidat terjaring, selanjutnya, tiga nama peraih suara terbanyak akan ditetapkan dalam Musyawarah Daerah (Musda) pada Minggu, 1 November 2026. Tiga nama teratas kemudian menjadi Tim Formatur bersama ketua demisioner untuk memilih ketua definitif dan menyusun kepengurusan lima tahun ke depan.
Musda Sumbar ini sebenarnya tergolong yang paling awal bergerak di antara kepengurusan Satupena se-Indonesia. Untuk Pengurus Pusat Satupena melalui Kongres yang berlangsung secara daring pada Kamis, 13 Agustus 2026, menetapkan kembali Denny JA sebagai Ketua Umum periode 2026–2031 secara aklamasi. Untuk Musda memilih pengurus daerah sampai Oktober 2026 belum ada pengurus daerah yang melaksanakan Musda. Satupena Sumbar menjadi daerah pertama yang memilih ketuanya secara demokratis. Sumbar menjadi perintis yang membuka gelombang regenerasi kepengurusan daerah .
Agenda Satupena Sumbar
Lima tahun kepengurusan Sastri Bakry, Satupena Sumbar meninggalkan jejak kegiatan yang menempatkan Satupena dari Ranah Minang ini sebagai salah satu DPD paling produktif.
Capaian paling monumental adalah International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) – festival literasi terbesar di dunia yang digagas Satupena Sumbar. Pada IMLF-4, festival itu membesar hingga ke kancah diplomatik. Gubernur Sumbar Mahyeldi bersama IMLF menyalurkan hibah 7.080 buku sastra klasik Tamil dari Pemerintah Tamil Nadu, India, senilai Rp230 juta kepada 26 perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan lembaga literasi di Sumbar .

Di panggung nasional, Satupena Sumbar membawa sastra Minang ke Jakarta. Bedah buku antologi puisi Kembara Penyair Ikhtisas (KPI) Indonesia–Malaysia membludak pengunjung di Taman Ismail Marzuki pada Juni 2023, lalu diulang di aula Kantor Gubernur Sumbar dengan membentangkan sosok Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri. Pemerintah kota ikut bergerak bersama, Wali Kota Padang Fadly Amran sampai melepas sendiri delegasi Safari Puisi yang diberangkatkan ke luar daerah .
Kiprah anggota juga terasa di rak buku. Armaidi Tanjung meluncurkan sejumlah karya, mulai dari Tragedi Kanso, Trauma Etnisitas Cina di Pariaman 1945 hingga Nia Kurnia Sari, Remaja Penjual Goreng yang Menggemparkan dunia. Irwan menelurkan Kinantan Melintas Zaman tentang sejarah kebun binatang tertua kedua di Indonesia. Ada pula antologi Minangkabau Dalam Batin Penyair, serta buku anggota yang diluncurkan hingga ke Universiti Sains Islam Malaysia di Negeri Sembilan .
Tak kalah hangat, bedah buku Goresan Puisi di Hari Tua karya Saunir Saun di Dinas Kebudayaan Sumbar pada 2024 sempat membuat Bunda Literasi Sumbar Harneli Mahyeldi bertahan menyimak selama empat jam. Untuk generasi penerus, DPD menggelar Lomba Menulis Surat untuk Ibu bagi peserta didik dan guru, dan pada September lalu memeriahkan Festival Literasi Sumbar 2026 – yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi pada 8–10 September – dengan Lomba Penulisan Puisi bertema “Menjaga Alam dan Melestarikan Budaya” . Tiga puisi terbaik pengunjung stand dipilih juri Yurnaldi, Rita Novita, dan Yenny Ibrahim – dua di antaranya kini justru terjaring sebagai calon ketua.
Musda 1 November nanti bukan sekadar seremoni pergantian. Forum tertinggi itu akan membaca laporan pertanggungjawaban, merumuskan arah dan program kerja 2026–2031, sekaligus mempererat kebersamaan para penulis di Ranah Minang.
Tantangan yang menanti ketua baru tak ringan, melanjutkan api IMLF dan jejaring internasional, memperkuat kesejahteraan penulis, dan mengawal ekosistem literasi yang menyentuh pelosok sekolah menjadi kerja yang sudah dijaga Sastri lima tahun terakhir, sejak berjanji untuk bergerak cepat membangun kapasitas anggota. (maspril aries)





