Pembukaan sosialisasi Penguatan Pusat Studi Islam Melayu dan Pesantren oleh Rektor UIN Raden Fatah Muhammad Adil. (FOTO: Maspril Aries)
KINGDOMSRIWIJAYA – Di balik lembaran manuskrip tua, aksara Arab-Melayu, dan kitab-kitab keagamaan yang tersimpan di berbagai tempat, terdapat jejak panjang kejayaan intelektual Islam di Palembang. Jejak itu merekam perjalanan ulama, pertukaran pengetahuan lintas wilayah, serta tumbuhnya tradisi pendidikan yang ikut membentuk peradaban Melayu-Islam di Nusantara.
Namun, sebagian warisan tersebut kini menghadapi tantangan. Ada manuskrip yang tersimpan di luar negeri, ada yang berada di tangan kolektor pribadi, dan ada pula yang belum terinventarisasi secara memadai. Jika tidak dirawat dan diteliti, kekayaan intelektual itu berisiko semakin sulit diakses oleh generasi mendatang.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang mendirikan Pusat Studi Islam Melayu dan Pesantren yang berada di bawah naungan LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat). Pusat studi yang usianya belum genap dua bulan tersebut, Senin (19/10) menggelar sosialisasi penguatan institusi tersebut dengan menghadirkan nara sumber Dr Hudaidah MPd dari Universitas Sriwijaya (Unsri). Dua nara sumber lainnya dari UIN Raden Fatah, Prof Dr Munir MAg dan Drs Masyhur MAg PhD.
Sosialisasi yang dibuka Rektor UIN Raden Fatah M Adil tersebut, dilaksanakan sebagai upaya menggali kembali warisan intelektual Islam, melestarikan manuskrip kuno, sekaligus mengembangkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi.
Ketiga nara sumber menyoroti pentingnya menjadikan Islam Melayu dan pesantren bukan sekadar warisan sejarah, melainkan sumber pengetahuan yang terus berkembang melalui penelitian, pendidikan, dokumentasi, dan kolaborasi.
Hudaidah yang menjabat Kepala Departemen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial sekaligus Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri memaparkan tentang latar belakang historis perlunya pusat kajian Islam Melayu dan pesantren yang kehadirannya untuk mengembalikan Palembang sebagai episentrum intelektual Islam nusantara
Simpul Peradaban Islam Melayu
Menurut Hudaidah, Palembang memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan peradaban Melayu dan Islam. Kota yang tumbuh di tepian Sungai Musi ini bukan hanya dikenal sebagai kawasan perdagangan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan berbagai masyarakat, tradisi, dan gagasan.
Dalam pemaparannya, Hudaidah menjelaskan bahwa perkembangan peradaban Palembang berlangsung melalui proses sejarah yang panjang, mulai dari era Sriwijaya hingga masa Kesultanan Palembang Darussalam. “Perubahan tersebut tidak berlangsung dalam ruang kosong. Jaringan perdagangan, hubungan dengan berbagai kawasan, serta interaksi antara tradisi lokal dan perkembangan Islam ikut membentuk identitas masyarakat Palembang”, ujarnya.
Pada masa perkembangan Islam, menurut Hudaidah, Palembang menjadi bagian dari jaringan intelektual yang menghubungkan Nusantara dengan pusat-pusat keilmuan Islam, termasuk Makkah dan Madinah. Hubungan tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan, perjalanan ilmiah ulama, serta penyebaran karya-karya keagamaan.
Dari proses itu, pengetahuan Islam tidak hanya dipelajari dan diterima, tetapi juga dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Bahasa Melayu semakin berperan sebagai bahasa ilmu yang digunakan untuk membahas persoalan keagamaan, tasawuf, hukum, filsafat, hingga ketatanegaraan.

“Salah satu tokoh yang memperlihatkan kuatnya hubungan Palembang dengan jaringan keilmuan global adalah Syekh Abdussamad al-Palimbani. Namanya dikenal dalam dunia intelektual Islam sebagai ulama yang memiliki hubungan erat dengan lingkungan keilmuan Haramain sekaligus mempertahankan keterhubungan dengan tanah kelahirannya”, katanya.
Karya dan jaringan keilmuan ulama seperti al-Palimbani menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Palembang tidak dapat dipisahkan dari dinamika intelektual dunia Islam yang lebih luas. “Karyanya sampai sekarang masih terus dipelajari di Malaysia”, ujarnya.
Tradisi tersebut juga memperlihatkan pertemuan antara ilmu lahiriah dan ilmu batiniah. Kajian syariah, fikih, dan hukum berjalan beriringan dengan tasawuf dan spiritualitas. Perpaduan itu menjadi salah satu karakter penting tradisi keilmuan Islam yang berkembang di lingkungan Melayu.
Menurut Hudaidah, warisan sejarah tersebut perlu dikaji secara lebih terstruktur. Sejarah ulama, manuskrip Melayu, karya intelektual Islam, jaringan pendidikan, hingga hubungan antara pesantren dan masyarakat dapat menjadi bidang penelitian yang memperkaya pemahaman tentang perkembangan Islam di Sumatera Selatan.
Dengan demikian, sejarah lokal tidak berhenti sebagai cerita tentang masa lalu. Ia dapat menjadi sumber pengetahuan untuk mengembangkan pendidikan, memperkuat identitas budaya, dan memahami hubungan masyarakat Palembang dengan dunia Islam.
Manuskrip yang Tercecer
Salah satu persoalan penting yang mengemuka dalam sosialisasi tersebut adalah keberadaan manuskrip dan sumber sejarah yang tersebar di berbagai tempat.
Dalam materi yang dipaparkan Hudaidah, kemunduran Kesultanan Palembang Darussalam setelah jatuh ke tangan Belanda pada awal abad ke-19 menjadi salah satu titik penting dalam perubahan tradisi intelektual Palembang.
Keraton yang sebelumnya berperan sebagai pusat pemerintahan, penyimpanan literatur, dan patronase kegiatan intelektual mengalami kemunduran. Jaringan keilmuan ikut terganggu, sementara sejumlah naskah tercerai-berai dan berpindah ke berbagai tempat.
“Materi tersebut juga mengidentifikasi keberadaan manuskrip Palembang dalam koleksi Eropa serta koleksi pribadi masyarakat. Naskah-naskah itu mencakup beragam bidang, mulai dari tauhid, ilmu kalam, tasawuf, fikih, Al-Qur’an dan hadis, hingga sastra Melayu, sejarah kesultanan, hukum adat, pendidikan, serta pengobatan tradisional. Di antara karya yang disebut dalam materi sejarah tersebut adalah Syair Perang Menteng, yang berkaitan dengan peristiwa sejarah Palembang pada 1819”, katanya.
Sementara itu, sejumlah koleksi pribadi di Palembang masih menyimpan manuskrip dan kitab keagamaan yang bernilai penting. Beberapa koleksi yang dicontohkan dalam presentasi meliputi koleksi Kemas H. Andi Syarifuddin, Rizal Pahlevi, dan R.H.M. Syafei, serta koleksi milik sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Keberadaan koleksi tersebut memperlihatkan bahwa warisan intelektual Islam Melayu belum sepenuhnya hilang. Akan tetapi, tantangannya terletak pada bagaimana sumber-sumber itu diidentifikasi, didokumentasikan, dirawat, dan dibuka aksesnya untuk kepentingan penelitian.
Manuskrip bukan sekadar benda tua. Di dalamnya dapat ditemukan pemikiran ulama, cara masyarakat memahami agama, perkembangan bahasa, serta gambaran kehidupan sosial dan politik pada masanya.
Karena itu, penyelamatan manuskrip membutuhkan lebih dari sekadar tempat penyimpanan. Diperlukan penelitian filologi, katalogisasi, transliterasi atau pengalihan aksara, kajian isi, serta dokumentasi yang memungkinkan naskah dipelajari tanpa harus selalu menyentuh dokumen aslinya.
Digitalisasi menjadi salah satu jalan yang dapat ditempuh. Melalui penyimpanan digital yang disertai informasi katalog memadai, manuskrip berpeluang menjangkau peneliti, mahasiswa, pesantren, dan masyarakat yang sebelumnya sulit mengakses koleksi tersebut.
Islam Melayu Kekhasan Akademik
Nara sumber Masyhur menegaskan bahwa Islam Melayu merupakan salah satu distingsi atau kekhasan akademik UIN Raden Fatah Palembang dengan merujuk pada Surat Keputusan Rektor Nomor B.629/Un.09/1.2/PP.09/6/2017 tertanggal 22 Juni 2017.
Bagi Masyhur, Islam Melayu perlu dipahami secara luas. Cakupannya tidak terbatas pada ajaran keagamaan, tetapi juga meliputi manuskrip, kitab, tradisi lisan, jaringan ulama, bahasa, sastra, pendidikan, dan praktik kehidupan masyarakat.
Menurutnya, Islam Melayu sendiri bukan agama yang berbeda dari Islam. Istilah tersebut merujuk pada perjalanan sejarah ketika ajaran Islam berinteraksi dengan bahasa, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Melayu.
“Interaksi itu melahirkan tradisi intelektual dengan ciri khas tersendiri, tanpa melepaskan keterhubungannya dengan sumber ajaran Islam dan jaringan keilmuan dunia Islam”, katanya.
Masyhur mengusulkan, salah satu bidang yang dinilai penting untuk dikembangkan ialah kajian aksara Jawi atau Arab-Melayu. Aksara ini menjadi bagian penting dari sejarah literasi masyarakat Melayu dan digunakan dalam berbagai karya keagamaan, sastra, serta pemikiran sosial.
“Penelitian terhadap aksara dan manuskrip Arab-Melayu dapat membantu generasi sekarang memahami bagaimana pengetahuan diwariskan, bagaimana bahasa Melayu berkembang sebagai bahasa keilmuan, dan bagaimana gagasan keagamaan diterjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat”, katanya.
Kajian juga dapat diarahkan pada syair, hikayat, karya tasawuf, serta hubungan ilmu balaghah dengan perkembangan gaya bahasa Melayu. Namun, upaya tersebut membutuhkan peneliti yang memiliki kemampuan membaca naskah, memahami konteks sejarah, dan menguasai metode penelitian yang sesuai. Regenerasi peneliti menjadi penting agar pengetahuan tentang manuskrip tidak berhenti pada segelintir ahli.
Di sinilah Pusat Studi Islam Melayu dan Pesantren UIN Raden Fatah diharapkan mengambil peran sebagai penghubung antara sumber sejarah, keahlian akademik, lembaga pendidikan, dan masyarakat pemilik koleksi.

Pesantren
Selain manuskrip dan sejarah ulama, pengembangan pusat studi juga menempatkan pesantren sebagai bagian penting dari kesinambungan tradisi keilmuan Islam. Dalam pemaparan Hudaidah menjelaskan tentang, rumah guru, langgar, dan pesantren merupakan rangkaian historis yang saling berkaitan dalam pembentukan pendidikan Islam di Palembang. “Ketiganya memperlihatkan perkembangan pembelajaran agama, mulai dari lingkungan informal hingga lembaga pendidikan yang lebih terorganisasi”, kata dosen Program Studi Sejarah FKIP Unsri.
Menurutnya, tradisi tersebut penting diteliti karena pendidikan Islam bukan hanya menyangkut penyampaian materi keagamaan. Di dalamnya terdapat proses pewarisan adab, pembentukan karakter, pengembangan kemampuan intelektual, dan penanaman tanggung jawab sosial.
Pusat studi diharapkan dapat menghubungkan penelitian sejarah pesantren dengan kajian kitab kuning, jaringan ulama, metode pembelajaran, serta transmisi pengetahuan Islam antargenerasi.
Dalam pengembangan pusat studi, Hudaidah juga mengusulkan sejumlah agenda riset unggulan, meliputi manuskrip dan filologi, jaringan ulama, pesantren dan pendidikan Islam, pemikiran ulama, pemanfaatan teknologi digital, serta dinamika Islam Melayu kontemporer.
Pendekatan multidisipliner menjadi penting karena satu manuskrip, misalnya, dapat dikaji dari berbagai sudut pandang: sejarah untuk memahami konteks zamannya, filologi untuk menelaah teks, linguistik untuk mengkaji bahasa, dan teknologi digital untuk memperluas akses terhadap dokumen.
Sementara itu menurut Kepala LP2M, Yenrizal, Pusat Studi Islam Melayu dan Pesantren juga dirancang menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pesantren, ulama, perpustakaan, lembaga arsip, komunitas budaya, dan masyarakat yang menyimpan koleksi manuskrip.
Dan menurut kandidat profesor Masyhur, ke depan juga dibutuhkan kolaborasi yang memungkinkan pengetahuan yang sebelumnya tersebar dapat dihimpun dan dikembangkan secara lebih sistematis. Perguruan tinggi menyediakan keahlian penelitian, pesantren menjadi mitra dalam kajian tradisi pendidikan dan kitab, sedangkan masyarakat berperan penting dalam menjaga serta memberikan informasi mengenai warisan yang mereka miliki.
Dalam rencana pengembangannya, mengusulkan, tahun pertama atau 2026 diarahkan pada pemetaan manuskrip, ulama, pesantren, lembaga pendidikan, peneliti, dan calon mitra. Tahap ini juga mencakup penyusunan tata kelola, fokus penelitian, serta rencana kerja.
Pada 2027, pengembangan diarahkan pada konsolidasi melalui pembentukan kelompok riset multidisipliner, pelaksanaan penelitian kolaboratif, katalogisasi, dan digitalisasi manuskrip.
Selanjutnya, pada 2028–2029, pusat studi ditargetkan memasuki tahap produksi pengetahuan yang lebih luas melalui publikasi ilmiah, penguatan kerja sama nasional dan internasional, serta pengembangan program berkelanjutan.
Keberhasilan program tersebut dapat diukur melalui jumlah sumber yang berhasil diidentifikasi, penelitian yang berjalan, publikasi yang dihasilkan, koleksi digital yang tersedia, serta kemitraan aktif dengan lembaga terkait.
Dengan kehadiran Pusat Studi Islam Melayu dan Pesantren dari UIN Raden Fatah maka dari tepian Sungai Musi, warisan Islam Melayu memiliki peluang untuk kembali hadir sebagai sumber pembelajaran bagi generasi masa kini. Bukan semata-mata melalui kisah kejayaan yang diceritakan berulang, melainkan melalui manuskrip yang berhasil diselamatkan, penelitian yang terus berkembang, dan tradisi pendidikan yang tetap hidup.
Dengan fondasi itu, Pusat Studi Islam Melayu dan Pesantren diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan masa lalu dan masa depan—merawat ingatan kolektif, memperkuat penelitian, dan meneruskan perjalanan panjang intelektual Islam Melayu kepada generasi berikutnya. (maspril aries/ d oskandar)





