Home / Eduaksi / Dari Mimpi yang Nyaris Terkubur, Kisah Tiga Anak Negeri yang Terbuka Jalannya oleh BIDIKSIBA PTBA

Dari Mimpi yang Nyaris Terkubur, Kisah Tiga Anak Negeri yang Terbuka Jalannya oleh BIDIKSIBA PTBA

Tiga penerima penerima BIDIKSIBA PTBA yang sukses telah menyelesaikan pendidikannya di Politeknik. (FOTO: Humas PTBA)

KINGDOMSRIWIJAYA, Tanjung Enim – Ada hari-hari ketika sebuah impian terasa terlalu mahal untuk dipertahankan. Bagi Fahrezi Al Ghifahri, hari itu datang ketika dokter menyampaikan kabar yang tak pernah ia bayangkan, ayahnya didiagnosis kanker usus stadium akhir.

Pemuda asal Tanjung Enim itu paham betul apa artinya. Biaya pengobatan akan menyedot hampir seluruh tenaga dan tabungan keluarga. Di tengah situasi itu, kuliah terasa seperti kemewahan yang harus dikubur dalam-dalam. Fahrezi memilih diam dan menyimpan keinginannya sendiri.

Namun pintu itu tidak tertutup selamanya. Lewat Program Bantuan Biaya Pendidikan Mahasiswa Sekitar Bukit Asam (BIDIKSIBA) dari PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, kesempatan itu kembali terbuka.

“Dari hari itulah semua mimpi saya berasa nyata untuk digapai,” kenang Fahrezi.

Ia melangkah ke Politeknik Negeri Malang (Polinema), mengambil jurusan Teknik Mesin, dan lulus tepat waktu. Kini ia menatap karier sebagai maintenance and reliability engineer di sektor manufaktur. Perjalanan itu bermula dari keluarga yang nyaris menyerah pada keadaan.

Ratusan kilometer dari ruang kelas di Malang, Jawa Timur, di Lahat, tumbuh anak lain dengan cerita yang berbeda. Novendri adalah anak seorang pedagang sembako. Hari-harinya akrab dengan karung beras, minyak goreng, dan hitungan untung tipis di warung keluarga. Kuliah bukan bagian dari percakapan di meja makan, apalagi di keluarganya belum ada yang pernah menempuh pendidikan tinggi.

Novendri akhirnya menjadi yang pertama mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Dukungan BIDIKSIBA, termasuk fasilitas laptop, menjadi bahan bakar yang membuat minatnya pada teknologi dan robotika berkembang. Di Program Studi Manajemen Informatika, Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri), Palembang. Ia membuktikan diri, lulus dengan IPK 3,90 dan predikat cumlaude.


Mahasiswa penerima BIDIKSIBA sedang kuliah di laboratorium. (FOTO: Humas PTBA)

Mimpinya sederhana tapi berdampak. Ia ingin menjadi programmer profesional, lalu membuka lapangan kerja bagi orang lain. Anak pedagang sembako dari Lahat itu kini berencana menciptakan peluang yang dulu tak pernah ia punya.

Ada satu lagi kisah sukse yang datang dari Shangriella Andika Chandra Kirana, yang akrab disapa Riella. Ia tumbuh dalam keluarga dengan orang tua tunggal, sehingga setiap rupiah dan setiap keputusan keluarga harus diperhitungkan dengan cermat.

Lewat BIDIKSIBA, Riella menyelesaikan studi Budidaya Tanaman Pangan di Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Ia tidak sekadar lulus, tetapi juga meraih predikat mahasiswa berprestasi. Setelah ini, ia bercita-cita melanjutkan pendidikan dan mengembangkan sektor pertanian di Sumatera lewat pengelolaan lahan produktif serta pemberdayaan komunitas petani.

Riella juga meninggalkan pesan untuk adik-adik penerima BIDIKSIBA, “Saat ini kamu sedang proses mengangkat derajat keluarga di mata dunia.”

Investasi Masa Depan

Bagi PTBA, kisah-kisah seperti ini adalah buah dari keyakinan yang dipegang perusahaan. Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menyatakan bahwa pendidikan adalah salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.

“Perusahaan meyakini bahwa investasi pada pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Melalui BIDIKSIBA, kami ingin memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi generasi muda untuk meraih pendidikan tinggi, mengembangkan potensi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Bambang.

Bagi Fahrezi Al Ghifahri, Novendri dan Shangriella Andika Chandra Kirana, hari wisuda yang telah mereka lalui bukan garis akhir. Toga dan selempang itu menandai awal dari babak yang lebih luas, yaitu menunaikan cita-cita dan memberi manfaat bagi sekitarnya. Fahrezi, Novendri, dan Riella adalah tiga orang mahasiswa  yang bergabung dengan barisan panjang alumni BIDIKSIBA yang lebih dulu menapaki jalan serupa.


Para penerima Beasiswa Bidiksiba di depan kantor PTBA di Tanjung Enim. (FOTO: Humas PTBA)

BIDIKSIBA Sejak 2013

Berapa banyak anak negeri yang sudah merasakan manfaat program BIDIKSIBA yang disalurkan dari BUMN tambang yang berkantor pusat di Tanjung Enim. Data yang ada menyebutkan, sejak 2013 hingga 2024, sudah lebih dari 360 putra-putri daerah sekitar wilayah operasi perusahaan telah menerima beasiswa BIDIKSIBA. Sebanyak 121 orang berstatus mahasiswa dan 246 orang telah menjadi alumni. Para alumni itu kini bekerja di berbagai bidang usaha.

Jumlah tersebut terus bertambah. Pada 2026, 33 siswa lolos SNBT dan ditetapkan sebagai penerima manfaat BIDIKSIBA. Pada pertengahan 2026 mereka diserahterimakan ke perguruan tinggi mitra, yakni Polsri pada 20 Juli, Polinema pada 30 Juli, dan Polinela pada 3 Agustus. Jika 33 penerima tahun ini ditambahkan ke angka 367 tersebut, jumlahnya sudah menembus 400 orang, belum termasuk angkatan 2025.

PTBA juga membekali calon peserta dengan pengayaan materi dan try out UTBK agar lebih siap bersaing. Program ini diperuntukkan bagi lulusan SMA/SMK/MA dari keluarga dengan penghasilan tidak melebihi UMR setempat, yang berdomisili di sekitar Unit Tanjung Enim, Pelabuhan Tarahan, Pelabuhan Kertapati, Ombilin, dan Peranap. Para penerima menempuh pendidikan vokasi jenjang Diploma Tiga.

Program ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, dan sejalan dengan noble purpose PTBA sebagai anggota Grup MIND ID, yaitu membangun peradaban, meningkatkan kesejahteraan, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fahrezi, Novendri, dan Riella kini berdiri di titik yang dulu terasa jauh. Seorang anak yang sempat mengubur mimpinya, seorang anak pedagang sembako yang jadi sarjana pertama di keluarga, dan seorang putri dari orang tua tunggal yang ingin menghijaukan lahan-lahan Sumatera. Ketiganya adalah bukti bahwa keterbatasan ekonomi bisa dilampaui bila ada kesempatan yang tepat dan tekad yang tak padam.

“Bagi PTBA, pendidikan yang membuka kesempatan bagi satu generasi turut menumbuhkan harapan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa” kata Eko Prayitno Corporate Secretary Division Head PTBA Tbk, Selasa (20/10).  (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI 

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *