Oleh: Udo Z Karzi (Jurnalis-Penulis, tinggal di Bandar Lampung)
BELAKANGAN ini, media kita seperti kebanjiran opini. Hampir setiap hari ada saja orang menulis pendapat tentang politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, sampai urusan genting yang sebenarnya tidak terlalu genting. Kolom opini penuh. Tulisan berjubel. Para penulis seperti berlomba-lomba menyumbangkan pikiran kepada bangsa dan negara. Wah, hebat sekali!
Masalahnya, setelah dibaca, kok kepala kita tetap begitu-begitu saja? Tidak ada yang tercerahkan. Tidak ada pikiran yang terguncang. Tidak ada sudut pandang baru yang membuat kita berhenti sejenak, menyeruput kopi, lalu bergumam, “Oalah, ternyata perkara ini bisa dilihat dari sisi lain.”
Yang ada cuma informasi yang dipindah-pindahkan, pendapat yang diulang-ulang, dan kesimpulan yang sudah kita ketahui sejak sebelum tulisan itu dibuat. Banjir opini ternyata bisa sama menyebalkannya dengan banjir informasi: airnya banyak, tetapi kita tetap kehausan.
Opini Itu Apa, Sih?
Opini bukan sekadar tulisan yang memuat kata menurut saya. Bukan pula berita yang diberi judul agak provokatif, kemudian ditutup dengan kalimat normatif tentang pentingnya kesadaran bersama.
Opini adalah tulisan yang menyampaikan pandangan, penilaian, interpretasi, atau argumentasi penulis terhadap suatu persoalan. Di dalamnya ada pikiran yang bekerja, posisi yang jelas, alasan yang bisa diuji, dan kesimpulan yang tidak sekadar mencomot kebijaksanaan dari buku petuah.
Opini boleh subjektif, tetapi bukan berarti boleh semaunya. Ia boleh berpihak, tetapi harus punya alasan mengapa keberpihakan itu layak dipertanggungjawabkan. Ia boleh mengkritik, tetapi kritiknya bukan sekadar mengomel sambil menunjuk-nunjuk orang lain.
Bentuknya pun beragam: artikel opini, esai, kolom, tajuk rencana, editorial, komentar, hingga analisis atau telaah atas persoalan tertentu. Masing-masing punya karakter dan ruangnya sendiri. Namun, semuanya membutuhkan sesuatu yang mendasar: pikiran.
Tanpa pikiran, tulisan opini hanya menjadi kumpulan kalimat yang kebetulan mendapat tempat di halaman opini.
Banyak Informasi, Sedikit Pemikiran
Tulisan opini yang laik setidaknya memiliki persoalan yang jelas, tesis atau pendapat utama, argumen yang masuk akal, data yang relevan, serta analisis yang menunjukkan kemampuan penulis menghubungkan berbagai fakta. Bahasa harus terang, alur logis, dan kesimpulannya memberi sesuatu kepada pembaca.
Data penting, tentu saja. Fakta adalah bahan bakar argumentasi. Namun, data bukanlah argumentasi itu sendiri. Menumpuk statistik, mengutip pernyataan pejabat, menyebut sederet peraturan, lalu mengakhiri tulisan dengan seruan agar semua pihak bekerja sama bukanlah prestasi intelektual yang luar biasa.

Itu mah pekerjaan menyusun kliping, ditambah sedikit kosmetik bahasa.
Penulis opini mestinya mengolah informasi menjadi pemahaman. Ia tidak berhenti pada pertanyaan apa yang terjadi, tetapi bergerak ke pertanyaan mengapa itu terjadi, bagaimana persoalan tersebut seharusnya dipahami, apa yang luput dari perhatian orang lain, dan apa implikasinya?
Di situlah letak nilai tambah sebuah opini.
Kalau semua yang ditulis sudah pernah dikatakan orang lain, dengan argumentasi yang sama dan kesimpulan yang sama, lalu apa sumbangan penulisnya? Apakah sekadar ingin memberi tahu dunia bahwa dirinya juga bisa menulis 800 kata?
Mohon maaf, dunia sudah cukup ramai.
Jangan Campur Aduk Jenis Tulisan
Ada perkara lain yang tak kalah menggelikan. Ketika diminta menulis berita, yang muncul malah opini. Ketika ditugasi membuat feature, yang disajikan justru ceramah. Wartawan melaporkan peristiwa, tetapi di tengah jalan mendadak berubah menjadi hakim yang membagikan vonis. Penulis feature semestinya menghidupkan manusia dan peristiwa melalui detail, suasana, narasi, serta kedalaman cerita, tetapi malah sibuk mengajari pembaca bagaimana seharusnya berpikir.
Padahal, berita terutama menyampaikan fakta tentang apa yang terjadi. Feature mengembangkan fakta menjadi cerita yang lebih mendalam dan menarik, dengan pendekatan naratif yang khas. Opini menyampaikan pandangan dan argumentasi penulis mengenai suatu persoalan.
Ketiganya boleh bersinggungan dalam penggunaan fakta, tetapi tidak lantas bisa dipertukarkan sesuka hati.
Dalam berita, penilaian wartawan tidak boleh menyusup menjadi fakta. Dalam feature, pesan boleh hadir, tetapi jangan sampai menenggelamkan cerita. Dalam opini, fakta bukan tujuan akhir, melainkan pijakan untuk membangun argumentasi.
Masing-masing punya disiplin. Kalau semua jenis tulisan diperlakukan sebagai mimbar untuk berpidato, buat apa repot-repot belajar jurnalistik?
Pembaca Bukan Murid yang Sedang Dimarahi
Saya juga heran membaca opini yang isinya lebih banyak menjelaskan hal-hal elementer daripada membangun pendapat. Penulisnya seolah-olah menganggap pembaca tidak tahu apa-apa. Semua diterangkan, semua didefinisikan, semua diberi petunjuk, sampai-sampai pembaca seperti murid sekolah dasar yang sedang menghadapi guru paling cerewet sedunia.
Padahal, pembaca opini tidak selalu membutuhkan kuliah pengantar. Mereka membutuhkan sesuatu yang tidak mereka peroleh dari berita biasa: penafsiran, kedalaman, perspektif, dan argumen yang membuat persoalan lebih terang.
Menulis opini bukan kesempatan memamerkan berapa banyak informasi yang berhasil dikumpulkan. Bukan pula panggung untuk menunjukkan bahwa penulis paling tahu dan pembaca paling bodoh.
Tulisan yang baik justru mengajak pembaca berpikir, bukan menyuruh mereka mengangguk.

Kepala Kosong, Kolom Penuh
Saya belum mau mencurigai kecerdasan buatan atau AI dalam perkara ini. Jangan-jangan yang bermasalah bukan mesinnya, melainkan kebiasaan kita sendiri yang sudah lama gemar memproduksi kalimat tanpa terlebih dahulu mengolah pikiran.
Orang yang jarang berpikir kritis, tidak terbiasa menguji pendapat, dan tidak pernah merasa perlu mempertanyakan sesuatu tiba-tiba diminta menulis opini. Lalu dari mana pandangannya berasal? Bagaimana ia membangun argumen? Apa yang membuat pendapatnya berbeda dari pendapat orang lain?
Kalau semua itu tidak pernah dikerjakan, jangan heran jika yang lahir adalah keawaman yang dibungkus bahasa meyakinkan. Atau lebih parah lagi, opini yang menyalin pandangan umum, kemudian mengemasnya kembali seolah-olah baru ditemukan di dalam tempurung kepala sendiri.
Tentu, setiap orang berhak berpendapat. Menulis opini tidak harus menjadi hak eksklusif profesor, doktor, atau orang yang namanya panjang dengan sederet gelar. Tetapi kebebasan berpendapat tidak otomatis menjadikan setiap pendapat bernilai. Siapa pun boleh menulis; setiap tulisan tetap harus membuktikan mutunya.
Sebab, menjadi penulis opini bukan sekadar perkara punya nama, punya akses ke media, atau punya kenalan redaktur.
Opini Harus Punya Isi
Barangkali kita perlu kembali ke pertanyaan paling sederhana: setelah membaca tulisan ini, apa yang diperoleh pembaca?
Jika jawabannya hanya tambahan informasi yang bisa ditemukan di mana-mana, tulisan itu belum tentu gagal sebagai rangkuman. Namun, ia belum berhasil menjadi opini yang kuat. Opini seharusnya menyumbangkan pemikiran, bukan cuma memindahkan pengetahuan dari satu tempat ke tempat lain.
Saya tidak menuntut setiap opini menemukan teori baru atau mengubah arah sejarah peradaban. Kadang-kadang, satu sudut pandang yang segar sudah cukup. Satu pertanyaan yang tepat bisa lebih berharga daripada sepuluh paragraf berisi petuah. Satu argumen yang tajam bisa lebih mencerahkan daripada setumpuk data yang dibiarkan bicara sendiri.
Jadi, kalau hendak menulis opini, berpikirlah dahulu. Bacalah, amati, ragukan, bandingkan, dan uji pendapat sendiri sebelum sibuk mengoreksi pendapat orang lain.
Jangan sampai kolom opini kita penuh sesak, tetapi pikiran di dalamnya malah menggelandang.
Sebab, banjir opini tidak selalu menandakan masyarakat sedang giat berpikir. Bisa jadi, kita hanya sedang ramai-ramai menulis tanpa sempat berpikir.
Dan itu, terus terang saja, gak asyik banget, deh. ◼





