Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman melihat langsung uji coba penggunaan dry ice di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Rabu (14/10/2026). (FOTO: Humas Pemprov Sumsel)
KINGDOMSRIWIJAYA – Anda tahu lagu dengan lirik seperti ini:
Dear lady, can you hear the wind blow? And did you know
Your stairway lies on the whispering wind?
And as we wind on down the road
Our shadows taller than our soul
There walks a lady we all know
Who shines white light and wants to show
How everything still turns to gold
And if you listen very hard
The tune will come to you at last
When all are one, and one is all
To be a rock and not to roll
And she’s buying a stairway to Heaven
Ya, itu lirik dari satu lagu hits dari grup band Led Zeppelin yang rilis tahun 1970-an. Pada saat manggung band ini tampil dengan personil Robert Plant vokalis utama, Jimmy Page gitaris utama, John Paul Jones bass dan keyboard, serta John Bonham drummer.
Selain lagu-lagunya yang terkenal, dalam setiap panggung show-nya ada satu hal yang selalu ditampilkan di panggung, namanya dry ice. Pada setiap konser grup musik asal London, Inggris selalu ada kabut dry ice yang bergulung-gulung di panggung. Saksikan saja dokumentasi penampilan grup band yang dibentuk Jimmy Page, pada penampilan mereka di Supershow 1969 di Staines, Inggris. Pada konser-konser besar 1970-an, termasuk di Madison Square Garden 1973, ada kabut dry ice di panggung, seperti saat lagu “No Quarter” sehingga memperkuat efek visual bersama proyeksi dan pencahayaan. Foto-foto ikonik band yang diselimuti kabut putih tebal menjadi bagian dari citra legenda mereka.
Satu lagi, grup band Pink Floyd disebut sebagai salah satu pionir dalam menggunakan dry ice pada setiap show mereka. Dalam tur The Dark Side of the Moon tahun 1973, dry ice mengalir dari panggung ke arah penonton, menciptakan suasana misterius yang menyatu dengan layar melingkar, lampu bergerak, dan sistem suara surround. Roger Waters salah seorang personilnya menyebut pendekatan keseluruhan itu sebagai “electric theatre” –
pengalaman yang melibatkan semua indera. Efek dry ice membantu menciptakan ilusi ruang yang lebih dalam dan atmosfer yang hampir hipnotis.
Grup rock legendaris Queen juga memanfaatkan dry ice secara dramatis selama penampilan lagu-lagu epik mereka seperti “Bohemian Rhapsody” dan “Is This the Real Life” dalam tur A Night at the Opera (1975–1976). Sang vokalis Freddie Mercury terlihat berdiri menembus gulungan kabut putih tebal setinggi lutut di atas panggung. Penggunaan dry ice juga digunakan di panggung grup band Yes, Genesis dan Kiss.
Penggunaan dry ice ini juga merambah ke panggung teater seperti di teater Broadway, sampai ke Indonesia juga digunakan pada konser grup musik dangdut. Ada juga yang digunakan di pesta pernikahan/ perkawinan. Di Broadway tahun 2003 pada pementasan Musikal Wicked, dilaporkan menggunakan sekitar 250 pon (hampir 115 kilogram) dry ice di setiap pertunjukan untuk menciptakan kabut dramatisnya.
Kisah kabut buatan atau dry ice di panggung konser atau teater dapat ditelusuri kembali ke era 1930-an. Salah satu rekam jejak awal yang paling sering dikutip adalah Cotton Club Parade tahun 1934 di New York, pementasan musikal legendaris era Harlem Renaissance yang menjadi cikal bakal banyak tren panggung modern. Panggung-panggung Broadway kemudian mengembangkan teknik “Pea-Souper” – nama yang diambil dari sebutan kabut tebal London zaman Victoria – yaitu mesin yang mencelupkan dry ice ke dalam air panas untuk menghasilkan kabut pekat yang bergulir rendah menutupi lantai panggung.
Penggunaan dry ice terus pada show atau konser berlanjut hingga kini, meski sering digantikan atau dilengkapi dengan mesin kabut berbasis cairan. Keunggulan dry ice adalah kabutnya yang lebih dingin dan cenderung tetap rendah di lantai, menciptakan efek “berjalan di atas awan” yang dramatis tanpa residu berminyak. Kekurangannya adalah durasi yang lebih singkat, biaya yang lebih tinggi, dan kebutuhan penanganan khusus.
Di Indonesia pada 2026, ternyata dry ice juga digunakan untuk mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dry ice digunakan pada 15–16 Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BMKG dan pihak terkait menyebarkan dry ice dari pesawat di atas Sumatera Selatan (Sumsel) terutama di sekitar Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang dan wilayah sekitarnya. Total yang digunakan dilaporkan mencapai sekitar 1,5 hingga 2,4 ton dalam beberapa sorti penerbangan. Butiran dry ice berukuran sekitar 3 mm dengan suhu sekitar -75°C dilepaskan pada ketinggian sekitar 4.500 kaki.

Awal Mulanya
Selanjutnya, ini bukan tentang konser musik dan pementasan teater yang menggunakan dry ice, melainkan tentang apa itu dry ice, bagaimana asal mulanya dan digunakan untuk apa saja?
Sejarah dry ice pun cukup panjang. Pengamatan pertama atas dry ice tercatat dilakukan oleh penemu Prancis Adrien-Jean-Pierre Thilorier pada tahun 1835. Jadi, ketika ada yang membicarakan sebagai “teknologi baru” beberapa waktu terakhir, dry ice untuk mengatasi kabut asap, ingatlah bahwa dry ice yang dibahas dalam artikel ini sudah dikenal sejak dua abad lalu.
Ada satu fakta menarik yang jarang diketahui, bahwa pabrik dry ice umumnya tidak “membuat” karbon dioksida dari nol. Produksi industrinya menangkap CO₂ yang sudah dihasilkan oleh proses industri lain, misalnya fermentasi gula pada pembuatan alkohol di pabrik bir. Gas itu ditangkap, dimurnikan, dicairkan dengan tekanan, lalu didinginkan dan dipadatkan menjadi balok atau butiran. Dalam arti tertentu, dry ice adalah CO₂ yang “mampir” sebentar dalam bentuk padat sebelum akhirnya kembali ke atmosfer.
Pada waktu hampir bersamaan, kritik pun ditujukan pada pembuatan dry ice, mereka menunjuk sisi lainnya, karena menguap kembali menjadi gas rumah kaca, penggunaan dry ice dalam jumlah besar dan rutin tidaklah netral bagi lingkungan, meskipun jumlahnya, dalam konteks emisi global, sangat kecil.
Sebelum Indonesia menggunakan dry ice untuk mengatasi kabut asap akibat karhutla, di Amerika Serikat tanggal 13 November 1946, di laboratorium General Electric di Schenectady, New York, seorang peneliti bernama Vincent Schaefer melakukan sesuatu yang terdengar gila, ia melemparkan tiga pon dry ice ke dalam awan dari jendela sebuah pesawat kecil. Di bawah sana, hujan es turun. Ini adalah percobaan penaburan awan (cloud seeding) modern pertama dalam sejarah, dan dry ice adalah bintang utamanya.
Teknik ini berkembang pesat sejak era 1940-an, dry ice ditaburkan ke awan supersaturasi untuk mendorong pembentukan kristal es, yang kemudian tumbuh menjadi butiran hujan atau salju. Schaefer dan rekannya, Irving Langmuir – yang kelak meraih Nobel bidang kimia – membuka babak baru dalam sejarah manusia, manusia mulai belajar “berbicara” dengan cuaca.
Prinsipnya sederhana namun elegan. Ketika butiran dry ice yang bersuhu minus 78,5 derajat Celsius masuk ke dalam awan, udara di sekitarnya mendingin secara drastis. Uap air di awan yang tadinya “ragu-ragu” untuk mengembun tiba-tiba punya inti pembekuan, dan jadilah hujan.
Puluhan tahun kemudian, teknik yang sama diwariskan ke berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang rutin melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan dry ice untuk “mengusir” asap. Indonesia bukanlah penemu tekniknya melainkan penerus yang mencoba memakainya untuk masalah yang belum pernah ada di laboratorium Schaefer, kabut asap dari lahan terbakar yang luas.
Penggunaan dry ice mendapat respon kritis dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel. Dalam siaran pers-nya menyatakan, Walhi menekankan bahwa membaiknya jarak pandang visual pasca-penyemaian dry ice tidak boleh serta-merta diklaim sebagai pemulihan kualitas udara.
Temuan Walhi Sumsel menggarisbawahi paradoks utama penggunaan dry ice, teknologi ini menciptakan ilusi kesembuhan visual. Ketika masyarakat dapat melihat bangunan sejauh beberapa kilometer, mereka berasumsi udara telah aman dihirup. Padahal, konsentrasi atau partikel mikroskopis PM2.5 yang dihirup masuk ke dalam paru-paru dan pembuluh darah masih berbahaya tetap mengancam jiwa. US AQI (Air Quality Index) masih menyentuh angka ekstrem. Penggunaan dry ice tanpa penanganan akar masalah karhutla ibarat menyemprotkan pengharum ruangan di dalam rumah yang sedang terbakar.
Dry Ice = Es Kering
Dry ice (es kering) adalah wujud padat dari senyawa kimia Karbon Dioksida (CO2). Secara fisik, es kering memiliki sifat-sifat unik yang membedakannya secara mendasar dari es batu konvensional yang terbuat dari air (H2O). Pada tekanan atmosfer normal CO2 tidak memiliki wujud cair. Dry ice adalah karbon dioksida (CO2) padat. Dry ice terbentuk dan stabil pada suhu sekitar −78,5 °C pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu ini, dry ice tidak mencair menjadi cairan, tetapi langsung berubah dari padat menjadi gas melalui proses yang disebut sublimasi. Karena tidak pernah mencair menjadi cairan, materi ini tidak membasahi permukaan tempat ia diletakkan, sehingga dinamakan “es kering”.

Di luar aplikasi penguraian kabut asap, dry ice merupakan komoditas penting dalam rantai pasok global dan industri modern. Seperti digunakan untuk mengangkut bahan pangan beku (daging, es krim, hasil laut) lintas negara tanpa memerlukan unit pendingin aktif berbahan bakar. Juga sangat vital dalam distribusi vaksin dan sampel biologis yang membutuhkan suhu penyimpanan ultra-rendah.
Dry ice juga digunakan untuk pembersihan ramah lingkungan di mana pelet kecil dry ice ditembakkan dengan udara bertekanan tinggi ke permukaan mesin, cetakan pabrik, atau komponen listrik. Saat menabrak permukaan, pelet membeku rapuh kotoran dan langsung menyublim menjadi gas, meninggalkan permukaan bersih tanpa limbah sekunder (tanpa air atau residu pasir).
Pada industri makanan dan minuman (kuliner molekuler) digunakan oleh chef dan bartender untuk memberikan efek uap menawan pada minuman koktail atau sajian penutup (dessert). Membantu proses pembekuan cepat (flash freezing) untuk menjaga tekstur sel makanan segar. Juga digunakan sebagai perangkap serangga pada penelitian biologi. CO2 yang melepaskan uap sublimasi digunakan dalam perangkap nyamuk laboratorium karena nyamuk mengidentifikasi mangsa bernapas melalui jejak karbon dioksida.
Anda tahu berapa harga dry ice? Harganya bervariasi tergantung pada volume pembelian, bentuk (pelet atau blok), serta lokasi geografis penyedia. Di Indonesia (wilayah Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Sumatra), kisaran harganya di tingkat konsumen Rp14.000 – Rp25.000/ kg. Untuk harga grosir/industri berkisar Rp8.000 – Rp12.000/ kg. Dry ice berbentuk pelet biasanya sedikit lebih mahal dibanding blok utuh karena membutuhkan proses ekstrusi tambahan.
Dry ice bisa dibeli pada penyedia gas industri utama, seperti perusahaan pemasok gas skala besar, ada PT Samator Indo Gas, PT Aneka Gas Industri, Air Liquide Indonesia, atau PT Linde Indonesia menyediakan pasokan dry ice kapasitas tonase untuk kebutuhan medis dan industri. Bahkan dry ice lokal bisa dibeli secara online atau di platform e-commerce .
Dry ice adalah manifestasi luar biasa dari sains dasar zat yang memberikan manfaat multidimensional bagi peradaban manusia. Dari laboratorium pendingin vaksin, pengawetan makanan internasional, hingga penciptaan estetika seni visual dalam panggung rock klasik abad ke-20, sifat sublimasi CO2 padat terbukti sangat berguna.
Dry ice dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk modifikasi cuaca, merupakan metode tertua dan teruji secara ilmiah sejak 1946, kini diakui dan diterapkan secara resmi oleh BMKG dan lembaga sejenis di seluruh dunia. Dry ice dapat menghasilkan hujan melalui pendinginan ekstrem yang memicu pembentukan miliaran kristal es di awan bersuhu di bawah nol, yang tumbuh, mencair, dan turun sebagai hujan. Mekanisme ini sesuai dengan prinsip fisika awan Bergeron–Findeisen.
Penggunaannya sebagai pengurai asap di Indonesia 2026 memiliki keunikan tambahan, dry ice tidak hanya memicu hujan, tetapi secara utama memecah lapisan inversi atmosfer yang menahan asap di dekat permukaan, sehingga sirkulasi udara pulih, asap menyebar, dan kualitas udara serta jarak pandang membaik, termasuk di area bandara.
Namun, penerapan dry ice sebagai jawaban atas krisis kabut asap kebakaran hutan dan lahan membuka babak baru debat ekologis. Seperti analisis dan pernyataan Walhi Sumsel, dry ice dapat berfungsi sebagai alat bantu teknis darurat untuk memecah inversi suhu dan membersihkan jalur penerbangan visual secara singkat. Namun, ia bukan penyembuh krisis. Dry ice bukan solusi tunggal mengatasi karhutla. Dry ice bekerja paling efektif jika digabungkan dengan bahan lain (seperti NaCl), sekaligus didukung upaya penanggulangan sumber api. Tanpa pengendalian kebakaran hutan dan lahan, kabut asap akan terus berulang.
Jadi menghilangkan asap dari pandangan mata tidaklah sama dengan membersihkan udara dari racun PM2.5. Menyemprotkan ribuan ton es kering dari langit tanpa memadamkan bara api di dalam gambut dan tanpa menindak tegas pembakar hutan hanyalah sebuah pertunjukan panggung visual sementara. Perlindungan sejati bagi masyarakat dan planet ini tetap berada pada komitmen pemulihan ekosistem, penegakan hukum tanpa kompromi, dan penghentian karhutla hingga ke akar-akarnya. Solusi sesungguhnya tetap satu, memadamkan api di lahan, membasahi gambut, dan menghentikan pembukaan lahan dengan api. Menjaga agar karhutla tidak terulang pada musik kemarau berikutnya. Dry ice hanyanya pereda nyeri, bukan obat penyembuh. (maspril aries)





