Home / News / Dua Penghargaan Internasional untuk Pertamina Hulu Rokan Zona 1 pada “Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026”

Dua Penghargaan Internasional untuk Pertamina Hulu Rokan Zona 1 pada “Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026”

Wakil manajemen PHR Zona 1 menerima penghargaan 18th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026 yang digelar di Bangkok, Thailand. (FOTO: Humas Pertamina Hulu Rokan)

KINGDOMSRIWIJAYA, Bangkok – Di tengah gemuruh percakapan global tentang masa depan energi dan keberlanjutan, dan di tengah kecamuk perang di kawasan semenanjung Arab, sebuah kabar dari sektor hulu migas Indonesia mencuri perhatian dunia. Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 menorehkan prestasi membanggakan di panggung internasional dengan meraih dua penghargaan tertinggi dalam 18th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026 yang digelar di Bangkok, Thailand belum lama ini.

Pengakuan ini bukan sekadar simbol prestasi, melainkan refleksi dari transformasi cara industri energi memandang perannya—tidak hanya sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan lingkungan. Di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan, PHR Zona 1 menunjukkan bahwa pendekatan berbasis masyarakat dapat berdampak luas, bahkan hingga tingkat global.

Dalam ajang tersebut, dua program unggulan berhasil menarik perhatian dewan juri internasional. “Penghargaan tersebut untuk PT Pertamina EP Field Jambi meraih penghargaan Platinum untuk kategori Best Women Empowerment melalui program ‘Srikandi Perubahan’. Sementara itu, PT Pertamina Hulu Energi Jambi Merang mendapatkan penghargaan Silver untuk kategori Best Community Program lewat inisiatif ‘Beeyond Honey’”, kata Renita Yulia Kuswindriati Officer Media Relation, Jumat (24/4).

Ajang Annual Global CSR & ESG Summit & Awards sendiri merupakan salah satu forum internasional paling bergengsi dalam bidang keberlanjutan. Setiap tahun, forum ini mempertemukan perusahaan, organisasi, dan pemimpin dari berbagai negara untuk berbagi praktik terbaik dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Tidak hanya menjadi ajang penghargaan, forum ini juga menjadi ruang diskusi strategis mengenai arah masa depan pembangunan global yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pada tahun 2026, tema yang diangkat adalah “AI, Energy & Transition: Resetting ESG in a New Economy”. Tema ini mencerminkan perubahan besar yang sedang terjadi dalam lanskap global, di mana teknologi kecerdasan buatan (AI), transisi energi, dan ekonomi baru saling berkelindan. Dalam konteks ini, ESG tidak lagi dipandang sebagai kewajiban tambahan, melainkan sebagai kerangka utama dalam menjalankan bisnis di era modern.

Konsep “resetting ESG” dalam tema tersebut mengandung makna bahwa pendekatan lama terhadap keberlanjutan perlu diperbarui. Dunia kini bergerak menuju sistem yang lebih terintegrasi, di mana teknologi seperti AI digunakan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan dampak sosial. Namun, diskusi dalam forum tersebut menegaskan satu hal penting: transformasi ini harus tetap berpusat pada manusia. Teknologi hanyalah alat, sementara tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

BACA JUGA: https://kingdomsriwijaya.id/posts/732590/di-balik-rambut-memutih-kisah-para-lansia-desa-kota-karang-yang-menolak-tenggelam-dalam-sunyi/

Dalam diskusi panel, para praktisi menekankan bahwa keberhasilan implementasi ESG tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, tetapi juga pada pemahaman mendalam terhadap kompleksitas sosial. Faktor ekonomi, budaya, dan lingkungan harus dipertimbangkan secara menyeluruh agar program yang dijalankan benar-benar relevan dan berdampak.

Srikandi Perubahan

Pendekatan inilah yang tampaknya menjadi kunci keberhasilan PHR Zona 1. Program “Srikandi Perubahan” misalnya, tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi sosial yang lebih luas. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan reintegrasi sosial bagi Warga Binaan Perempuan (WBP) di Lapas Perempuan Kelas II Jambi.


Program “Beeyond Honey” binaan PT Pertamina Hulu Energi Jambi Merang yang berdampak pada ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. (FOTO: Humas Pertamina Hulu Rokan)

Sejak diluncurkan pada 2021, program ini mengedepankan pelatihan membatik sebagai pintu masuk pemberdayaan. Namun, seiring waktu, inisiatif ini berkembang menjadi ekosistem usaha produktif. Hingga kini, sedikitnya 10 unit usaha telah terbentuk di berbagai sektor, mulai dari kriya, kuliner, hingga pertanian.

Lebih dari itu, program ini juga memperkuat soft skills para peserta, seperti manajemen emosi dan pengelolaan keuangan. Bagi para WBP, Srikandi Perubahan bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang untuk membangun kembali kepercayaan diri dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Di sisi lain, program “Beeyond Honey” menawarkan pendekatan yang berbeda namun sama kuatnya. Program ini lahir dari keprihatinan terhadap menurunnya populasi lebah dan degradasi ekosistem yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.

Melalui pendekatan terintegrasi, program ini menggabungkan budidaya lebah, revegetasi lingkungan, edukasi masyarakat, hingga pembentukan koperasi madu. Lebah sendiri dipilih bukan tanpa alasan—serangga ini dikenal sebagai bioindikator lingkungan yang sensitif terhadap perubahan ekosistem.

Hasilnya cukup signifikan. Saat ini, program Beeyond Honey mampu menghasilkan antara 150 hingga 250 kilogram madu per bulan. Lebih dari sekadar angka produksi, inisiatif ini membuka sumber penghidupan baru bagi masyarakat desa sekaligus berkontribusi pada pemulihan lingkungan.

BACA JUGA: https://kingdomsriwijaya.id/posts/732578/dari-rp2-000-ke-rp-34-000-kisah-perempuan-desa-simpang-bayat-yang-mengubah-singkong-biasa-menjadi-emas-putih/

Force of Good

Dalam penutupan acara, Matthias Gelber, International Ambassador Dorod Sdn Bhd, menyampaikan pesan yang menggugah. Ia menegaskan bahwa setiap individu dan organisasi memiliki peran sebagai *force of good*—kekuatan untuk kebaikan—dalam menjaga keberlanjutan bumi. Namun, peran tersebut hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor.

Pesan ini sejalan dengan apa yang dilakukan PHR Zona 1. Manager CID Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menyebut bahwa penghargaan ini bukan sekadar pengakuan, melainkan validasi atas pendekatan yang berakar pada kebutuhan nyata masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan ESG tidak diukur dari jumlah program yang dijalankan, tetapi dari perubahan hidup yang dihasilkan. Pernyataan ini menegaskan bahwa inti dari keberlanjutan adalah dampak nyata, bukan sekadar laporan atau indikator.

Sebagai bagian dari PT Pertamina (Persero), PHR terus mengelola wilayah kerja hulu migas di Sumatera dengan prinsip tanggung jawab. Komitmen terhadap operasi yang selamat, andal, dan berkelanjutan menjadi fondasi utama dalam setiap kegiatan perusahaan.

Keberhasilan di panggung internasional ini sekaligus menunjukkan bahwa strategi pemberdayaan masyarakat yang dijalankan tidak hanya adaptif terhadap dinamika global, tetapi juga konsisten menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

Di tengah perubahan besar menuju ekonomi baru yang dipengaruhi oleh teknologi dan transisi energi, kisah PHR Zona 1 menjadi pengingat bahwa keberlanjutan tidak selalu dimulai dari inovasi besar. Terkadang, ia lahir dari upaya sederhana untuk memahami kebutuhan manusia, merawat lingkungan, dan membangun harapan.

Dan dari sana, dampaknya bisa meluas—bahkan hingga ke panggung dunia.

Selamat PHR Zona 1. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *