Oleh Udo Z Karzi (Tukang tulis, tinggal di Bandar Lampung)
“Mengutip itu pertanda kita baca buku referensi…
Sedih juga saat berkunjung ke rumah yang tak ada bacaan, apalagi buku…”
Dialog ringan di pagi hari itu terdengar biasa saja. Seperti obrolan dua orang yang sama-sama pernah mencicipi bangku FISIP, sama-sama tahu bahwa teori sosial jarang lahir dari kekosongan. Tapi justru di situlah letak keganjilannya: hal yang seharusnya biasa, kini terasa luar biasa. Mengutip—yang dulu dianggap kewajiban intelektual—kini seperti prestasi moral.
Kita hidup di zaman ketika orang ingin terlihat tahu tanpa benar-benar membaca. Buku tetap dicetak, rak buku tetap dijual, perpustakaan tetap berdiri, tetapi relasi antara manusia dan buku perlahan berubah: bukan lagi relasi pembaca dengan pengetahuan, melainkan relasi dekoratif—buku sebagai latar zoom, properti foto estetik, atau sekadar penegas identitas “intelek”.
Padahal, buku itu sederhana saja fungsinya: dibikin untuk dibaca, bukan didongengkan.
Kalimat ini mungkin terdengar agak sinis, tetapi ia lahir dari kegelisahan yang nyata. Maspril Aries, wartawan senior yang menulis sejumlah buku, dalam percakapan itu menyinggung satu hal krusial: gerakan literasi kita sering kali melenceng dari fungsi dasar buku. Kita merayakan dongeng, lomba pidato, membaca nyaring, storytelling penuh gaya—semuanya tampak meriah. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang diam-diam ditinggalkan: kemampuan memahami teks secara mendalam.
Literasi akhirnya berubah menjadi pertunjukan.
Anak-anak dilatih tampil, bukan menyelam. Mereka diajarkan percaya diri di panggung, tetapi tidak diajak bertahan dalam kesunyian membaca. Padahal membaca adalah kerja sunyi yang tidak bisa dipamerkan. Tidak ada tepuk tangan ketika seseorang berhasil menuntaskan satu bab buku filsafat yang bikin dahi berkerut. Tidak ada piala ketika seseorang selesai membaca sejarah setebal batu bata.
Yang ada hanya perubahan pelan dalam cara berpikir.
Ironisnya, di tengah gegap gempita literasi performatif itu, kita justru semakin jauh dari buku sebagai sumber rujukan. Banyak tulisan lahir tanpa akar bacaan. Banyak opini beredar tanpa jejak referensi. Bahkan di dunia jurnalisme—yang seharusnya paling disiplin dalam verifikasi—mulai tampak gejala “asal bunyi”. Padahal, seperti diingatkan dalam percakapan tadi, bahkan penggunaan AI untuk wartawan atau jurnalis pun sudah punya panduan dari Dewan Pers.
Masalahnya bukan pada teknologi. Masalahnya tetap klasik: kita malas membaca, tetapi ingin tetap terlihat tahu.

Tanpa membaca, AI hanya akan menjadi mesin pengganda kebingungan. Ia menyusun kalimat rapi dari kekosongan isi. Ia terdengar pintar, tapi hampa rujukan.
Ada satu kalimat yang terasa paling menampar: “Sedih juga saat berkunjung ke rumah yang tak ada bacaan, apalagi buku.” Ini bukan sekadar romantisme masa lalu. Ini soal ekosistem berpikir. Rumah tanpa buku adalah ruang tanpa percakapan panjang dengan ide.
Di rumah seperti itu, pengetahuan sering berhenti pada apa yang terdengar, bukan yang dipahami.
Kita memang bangsa dengan tradisi lisan yang kuat. Bertutur, bercerita, berdiskusi—itu warisan yang berharga. Tapi ketika budaya lisan berdiri tanpa ditopang budaya baca, ia mudah tergelincir menjadi budaya dangkal: cepat viral, cepat hilang, dan sering keliru.
Dongeng, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar cerita anak. Ia menjadi metafora: cara kita memperlakukan pengetahuan sebagai sesuatu yang cukup didengar, bukan ditelaah. Buku diperas menjadi cerita singkat, dipentaskan, diringkas, lalu dianggap selesai.
Padahal buku tidak pernah meminta untuk disederhanakan secara brutal.
Buku justru mengajarkan kerumitan. Ia mengajak kita berlama-lama dengan satu gagasan, mempertanyakan, bahkan meragukan. Ia menolak instan. Dan di situlah banyak orang mulai mundur.
Maka, tidak heran jika muncul pertanyaan pragmatis: “Apa manfaat langsung dari membaca buku?” Pertanyaan ini tampak rasional, tapi sebenarnya berbahaya. Ia menggeser fungsi buku dari pembentuk cara berpikir menjadi sekadar alat guna cepat.
Padahal, yang paling berharga dari buku justru yang tidak langsung terasa.
Ia membangun cara kita melihat dunia. Ia memperkaya bahasa batin. Ia mengajarkan bahwa satu persoalan bisa memiliki banyak lapisan. Hal-hal seperti ini tidak bisa diringkas menjadi tips lima langkah atau konten satu menit.
Dalam ilmu sosial dan budaya, hampir tidak ada ide yang benar-benar baru. Yang ada adalah percakapan panjang lintas generasi. Membaca buku berarti masuk ke dalam percakapan itu. Tidak membaca berarti berbicara sendirian sambil mengira menemukan sesuatu yang hebat.
Itulah sebabnya mengutip bukan sekadar etika, tetapi kesadaran intelektual: bahwa kita tidak berpikir di ruang hampa.
Hari ini, bertepatan dengan Hari Buku Sedunia, kita mungkin akan melihat banyak perayaan: diskon buku, lomba membaca nyaring, festival dongeng, dan berbagai kampanye literasi. Semua itu tidak salah. Tapi jangan sampai kita lupa inti dari semuanya.
Buku tidak diciptakan untuk sekadar diceritakan ulang.
Ia diciptakan untuk dibaca, direnungkan, dan—kalau perlu—diperdebatkan.
Jadi, mungkin yang perlu kita rayakan hari ini tidak sekadar “kegembiraan membaca”, tetapi keberanian untuk kembali sunyi. Duduk dengan buku. Membaca pelan. Memahami secara utuh.
Sebab, pada dasarnya, buku tidak butuh panggung.
Ia hanya butuh pembaca. ●






