Wakil Bupati Muara Enim Sumarni (depan, kedua dari kanan) bersama peserta Kelas Kreasi Vol.7 dari BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim) Muara Enim. (FOTO: Humas PTBA)
KINGDOMSRIWIJAYA, Tanjung Enim — Di sebuah ruangan di Rumah BUMN Bukit Asam, tiga puluh wajah penuh harap berkumpul. Mereka bukan sekadar peserta biasa. Di balik setiap tatapan tajam dan catatan yang rajin ditulis, tersembunyi impian untuk mengubah nasib—bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga dan lingkungan sekitar. Inilah suasana Kelas Kreasi Vol. 7, sebuah program yang sekali lagi membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak harus dimulai dari gedung megah atau modal miliaran rupiah. Terkadang, semuanya bermula dari sebuah ruang belajar sederhana, dukungan perusahaan yang peka, dan semangat organisasi masyarakat yang tak pernah padam.
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), perusahaan tambang batu bara yang telah lama menjadi tulang punggung ekonomi Sumatera Selatan, kembali menegaskan posisinya bukan hanya sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai mitra pembangunan masyarakat. Melalui penyelenggaraan Kelas Kreasi Vol. 7, PTBA mengirimkan sinyal kuat bahwa komitmennya terhadap pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bukan sekadar jargon dalam laporan tahunan, melainkan program konkret yang terus berulang dan berkembang.
Kali ini, sinergi yang dibangun tidak biasa. PTBA tidak bergerak sendiri. Gagasan besar itu diwujudkan bersama Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Muara Enim, sebuah organisasi yang biasa identik dengan kegiatan keagamaan, namun kini bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi umat. Kolaborasi antara perusahaan BUMN dan organisasi keagamaan ini menunjukkan paradigma baru dalam pembangunan daerah: bahwa pembangunan ekonomi dan spiritual bisa berjalan beriringan, bahkan saling menguatkan.
Kehadiran Wakil Bupati Muara Enim yang juga menjabat sebagai Ketua BKMT Kabupaten Muara Enim, Hj Sumarni, menjadi penegasan bahwa program ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah. Dalam sambutannya, Sumarni tidak menyembunyikan apresiasinya. Ia melihat Kelas Kreasi sebagai bukti nyata bahwa pemberdayaan bisa dilakukan dengan cara yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
“Kelas Kreasi merupakan program positif yang memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi masyarakat”, katanya, mengawali serangkaian pesan yang menyentuh hati para peserta.
Namun yang lebih menarik dari pernyataan itu adalah pemikiran Sumarni tentang peran majelis taklim di era modern. Bagi banyak orang, majelis taklim mungkin hanya dikenal sebagai tempat pengajian rutin, forum diskusi keagamaan, atau kegiatan sosial kecil-kecilan di tingkat lingkungan. Sumarni membuka wawasan baru: majelis taklim bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

“Majelis taklim tidak hanya menjadi tempat untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga dapat berkembang menjadi wadah pemberdayaan ekonomi umat”, ujarnya, meruntuhkan batasan stereotip yang selama ini melekat pada organisasi serupa.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Di Muara Enim, seperti di banyak daerah lain di Indonesia, perempuan yang aktif dalam kegiatan majelis taklim seringkali adalah sosok yang memiliki jaringan sosial kuat, kredibilitas di lingkungan masyarakat, dan semangat gotong royong yang tinggi. Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga, pengurus RT, pengajar ngaji, atau tokoh masyarakat yang kehadirannya sudah tidak asing bagi warga sekitar. Ketika potensi ini diarahkan pada kegiatan ekonomi produktif, dampaknya bisa berlipat ganda.
“Dengan adanya kegiatan seperti ini, kita berharap para peserta dapat lebih mandiri, produktif, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah”, tambah Sumarni, menyiratkan bahwa kemandirian ekonomi bukan tujuan akhir, melainkan batu loncatan untuk partisipasi yang lebih luas dalam pembangunan.
Pesan Wakil Bupati Sumarni kemudian menyasar isu yang seringkali terlupakan dalam diskusi pembangunan: peran perempuan. Ia menekankan pentingnya perempuan tidak hanya dalam konteks domestik sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Perempuan, menurutnya, memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan ekonomi jika diberi kesempatan dan keterampilan yang tepat.
“Sinergi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan dunia usaha harus terus dijaga”, katanya seraya mengingatkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. “Pemerintah daerah sangat mendukung kegiatan yang mendorong kreativitas dan kemandirian masyarakat”. Pernyataan yang sekaligus membuka pintu bagi kolaborasi serupa di masa depan.
Sementara itu, dari sisi perusahaan, Micro & Small Enterprise Funding Section Head PTBA, Weny Yuliastuti, hadir bukan hanya sebagai perwakilan formal, tetapi sebagai sosok yang memahami bahwa program seperti Kelas Kreasi memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar pelatihan keterampilan.
Weny menjelaskan bahwa Kelas Kreasi merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan PTBA dalam mendukung pengembangan UMKM dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Pilihan kata “berkelanjutan” bukan tanpa alasan. Dalam dunia korporasi, program CSR seringkali berjalan sporadis—dilakukan sekali, difoto, diliput media, lalu terlupakan. PTBA tampaknya ingin menunjukkan bahwa Kelas Kreasi adalah program yang dirancang untuk bertahan, berkembang, dan memberikan dampak kumulatif dari waktu ke waktu.

“Melalui program ini, kami berharap para peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan baru, tetapi juga mampu mengembangkan usaha yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga”, ujar Weny, dengan menggarisbawahi bahwa tujuan akhir dari pelatihan ini bukan sekadar peserta yang bisa membuat produk, melainkan pengusaha kecil yang mampu menjual produknya, mengelola keuangan, dan membesarkan usahanya secara mandiri.
Harapan Weny ini mencerminkan filosofi pemberdayaan yang lebih dalam: bukan memberi ikan, melainkan mengajari cara memancing; bukan memberi modal, melainkan mengajari cara menghasilkan modal sendiri. Dalam konteks Muara Enim, di mana sebagian besar masyarakat masih bergantung pada sektor pertanian dan sekitar wilayah tambang, keterampilan kewirausahaan menjadi bekal berharga untuk diversifikasi ekonomi.
Tiga puluh peserta yang hadir dalam Kelas Kreasi Vol. 7 bukan angka yang besar jika dibandingkan dengan total populasi Muara Enim. Namun, dalam dunia pemberdayaan, kualitas seringkali lebih penting dari kuantitas. Tiga puluh orang yang benar-benar termotivasi, dilatih dengan baik, dan mendapatkan dukungan berkelanjutan bisa menjadi benih yang menyebar. Mereka bisa mengajari tetangga, membentuk kelompok usaha bersama, atau bahkan menjadi pemasok bagi usaha yang lebih besar.
Ke depan, program Kelas Kreasi diharapkan dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Harapan ini bukan sekadar angan-angan. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah yang diwakili Wakil Bupati, sinergi dengan BKMT yang memiliki jaringan luas di tingkat akar rumput, dan komitmen berkelanjutan dari PTBA sebagai perusahaan dengan sumber daya yang memadai, fondasi untuk perluasan program ini sudah terbangun dengan kokoh.
Dampak ekonomi yang lebih luas, khususnya di Kabupaten Muara Enim, menjadi target yang realistis. Bayangkan jika setiap angkatan Kelas Kreasi menghasilkan sepuluh pengusaha baru yang mampu mempekerjakan dua hingga tiga orang. Dalam beberapa angkatan, ribuan lapangan kerja bisa tercipta tanpa harus menunggu investasi besar dari luar. Bayangkan pula jika produk-produk yang dihasilkan peserta—mungkin makanan olahan, kerajinan tangan, atau produk kreatif lainnya—mampu memenuhi kebutuhan lokal bahkan menembus pasar regional. Multiplier effect dari program seperti ini bisa jauh melampaui biaya penyelenggaraannya.
Kelas Kreasi Vol. 7 lebih dari sekadar pelatihan. Ia adalah simbol bahwa pembangunan bisa dilakukan dengan cara yang manusiawi, berbasis komunitas, dan berkelanjutan. Ia membuktikan bahwa perusahaan besar dan organisasi keagamaan bisa duduk bersama di meja yang sama untuk tujuan mulia. Ia menunjukkan bahwa pemerintah daerah, ketika benar-benar mendukung, bisa menjadi katalisator yang mempercepat perubahan.
Dan yang terpenting, ia memberi harapan bagi tiga puluh peserta di Ruang Rumah BUMN Bukit Asam itu bahwa hari ini —22 April 2026—bukan hanya hari biasa. Hari ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Hari ini adalah hari mereka mulai menulis ulang kisah hidupnya, dari sekadar penonton pembangunan menjadi pemain utama perekonomian mandiri. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.





