Home / Teknologi / Kolaborasi Teknik Kimia Polsri dan Pertamina Geothermal Energy Lumut Balai Menelisik Masa Depan “Brine Water”

Kolaborasi Teknik Kimia Polsri dan Pertamina Geothermal Energy Lumut Balai Menelisik Masa Depan “Brine Water”

Tim Polsri mengumpulkan sampel brine water PGE Lumut Balai. (FOTO: Dok. Polsri)


KINGDOMSRIWIJAYA, Muara Enim
– Di balik kabut tipis yang menyelimuti dataran tinggi kawasan Lumut Balai di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) terdengar deru mesin pembangkit listrik tenaga panas bumi atau PLTP milik PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Lumut Balai berbisik tentang masa depan energi bersih Indonesia. Namun, fokus utama kali ini bukan sekadar pada uap air yang memutar turbin, melainkan pada cairan sisa yang selama ini sering terlupakan, disebut “brine water”.

Saat ini sebuah kolaborasi strategis tengah dirajut oleh tim dosen dari Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) bersinergi dengan PGE Lumut Balai dalam sebuah feasibility study (Studi Kelayakan) yang ambisius. Tujuannya, mengubah “limbah cair” menjadi harta karun mineral bernilai tinggi.

Proyek ini dipimpin oleh Dr Martha Aznury akademisi senior yang didampingi tenaga ahli yang juga dosen Polsri, Ahmad Zikri dan Isnandar Yunanto. Mereka datang langsung ke area operasional PGE Lumut Balai. Kedatangan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya membedah potensi ekonomi dari setiap liter cairan sisa produksi.

Di lokasi, tim yang juga melibatkan mahasiswa, kajian komprehensif. Mulai dari karakterisasi kimiawi brine di Lumut Balai, penentuan metode ekstraksi yang paling efisien, hingga hitung-hitungan nilai ekonominya. Selain itu, tim juga mempertimbangkan potensi dampak lingkungan dari proses yang diusulkan, sehingga hasil penelitian tidak hanya layak secara teknis dan finansial, tetapi juga tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan.

Menurut Martha, keterlibatan mahasiswa dalam proyek ini juga memberikan napas baru bagi dunia pendidikan vokasi. “Mereka terjun langsung ke lapangan, menghadapi tantangan nyata di industri energi. Hal ini menciptakan jembatan yang kokoh antara teori di ruang kelas dengan implementasi teknologi di sektor energi nasional, sekaligus dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa serta kesiapan mereka dalam menghadapi dunia kerja, khususnya di sektor energi dan proses industri”, katanya.


Tim Polsri bersama karyawan PGE Lumut Balai. (FOTO: Dok. Polsri)

Sementara itu Pertamina Geothermal Energy Area Lumut Balai menyambut baik kerja sama ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya yang dihasilkan dari operasionalnya. Melalui kolaborasi ini, perusahaan tidak hanya berfokus pada produksi energi bersih, tetapi juga pada inovasi pengelolaan limbah agar memberikan manfaat yang lebih luas.

Hasil dari feasibility study ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam pengambilan keputusan untuk pengembangan teknologi pemanfaatan brine water di masa mendatang. Lebih dari itu, kerja sama ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri mampu menghasilkan solusi yang aplikatif dan relevan bagi kebutuhan sektor energi nasional.

Apa Itu Brine Water?

Secara teknis, brine water adalah air dengan konsentrasi garam dan mineral yang sangat tinggi. Dalam konteks industri panas bumi (geothermal), brine merupakan cairan sisa hasil pemisahan uap air di dalam separator. Saat fluida panas bumi ditarik dari perut bumi, ia membawa campuran uap dan air panas. Uapnya digunakan untuk membangkitkan listrik, sementara air panas sisa itulah yang disebut brine.

Proses pembentukan brine bermula jauh di bawah permukaan tanah. Air hujan yang meresap ke dalam batuan panas di kerak bumi mengalami mineralisasi selama ribuan tahun. Ketika air ini dipompa kembali ke permukaan, ia membawa serta berbagai kandungan kimiawi yang kompleks.

Selama ini, standar operasional industri geothermal adalah melakukan reinjeksi—memasukkan kembali brine ke dalam reservoir bawah tanah untuk menjaga tekanan dan keseimbangan lingkungan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa brine bukanlah sekadar limbah cair biasa. Di dalamnya terkandung mineral-mineral strategis seperti litium, silika, boron, hingga potasium.


Tim Polsri berdiskusi dengan karyawan PGE Lumut Balai. (FOTO: Dok. Polsri)

Ekstraksi brine water adalah proses pemisahan mineral-mineral berharga tersebut sebelum cairan dikembalikan ke perut bumi. Bayangkan, dari sisa produksi energi, kita bisa mendapatkan bahan baku baterai kendaraan listrik (litium) atau bahan industri kaca dan keramik (silika). Inilah yang akan menjadi inti dari riset.

PGE Area Lumut Balai: Raksasa Hijau

PGE Area Lumut Balai sendiri merupakan salah satu aset vital dalam bauran energi nasional. Terletak di perbatasan Kabupaten Muara Enim dan Ogan Komering Ulu (OKU), pembangkit ini merupakan bukti nyata komitmen Indonesia terhadap Net Zero Emission.

Saat ini, PGE Lumut Balai beroperasi dengan kapasitas Unit I sebesar 55 Megawatt (MW). Listrik yang dihasilkan telah terinterkoneksi dengan jaringan transmisi listrik Sumatera sebagai energi yang stabil dan ramah lingkungan. Kondisi operasionalnya dikenal sangat efisien, dengan pemanfaatan teknologi terkini dalam manajemen reservoir.

Tidak berhenti di situ, PGE sedang dalam tahap pengembangan Unit II yang diproyeksikan akan menambah kapasitas sebesar 55 MW lagi. Dengan total potensi mencapai 110 MW di masa depan, volume brine water yang dihasilkan tentu akan semakin besar. Inilah alasan mengapa feasibility study ekstraksi mineral menjadi sangat krusial dilakukan sekarang.

Manfaat Ekstraksi

Mengapa ekstraksi mineral dari brine water begitu penting? Manfaatnya mencakup tiga pilar utama. Pertama, Kemandirian Mineral Nasional. Dengan mengekstraksi litium, misalnya, Indonesia dapat memperkuat rantai pasok industri baterai kendaraan listrik tanpa hanya bergantung pada pertambangan konvensional.


Tim Polsri bersama karyawan PGE Lumut Balai. (FOTO: Dok. Polsri)

Kedua, Efisiensi Operasional. Menghilangkan mineral tertentu dari brinesebelum reinjeksi dapat mengurangi risiko scaling (pengerak) pada pipa-pipa pembangkit, sehingga biaya perawatan menjadi lebih murah. Ketiga, Ekonomi Sirkular. Prinsip ini mengubah pandangan bahwa limbah adalah beban. Dengan inovasi, limbah justru menjadi sumber pendapatan baru (revenue stream) bagi perusahaan.

Riset yang dilakukan tim dari Polsri dan PGE Area Lumut Balai menjadi tantangan sekaligus harapan masa depan. Tentu saja, mengekstrak mineral dari air panas bersuhu tinggi bukan perkara mudah. Tim Polsri harus mempertimbangkan aspek lingkungan dengan sangat ketat. Proses ekstraksi tidak boleh mengubah komposisi fluida secara ekstrem yang dapat merusak keseimbangan reservoir bawah tanah saat diinjeksikan kembali.

Bagi manajemen PGE Area Lumut Balai menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah bagian dari inovasi berkelanjutan. Perusahaan tidak ingin sekedar menjadi produsen listrik, tetapi juga menjadi pelopor dalam pengelolaan sumber daya yang terintegrasi dan minim limbah.

Hasil dari studi kelayakan ini nantinya akan menjadi landasan bagi manajemen Pertamina untuk memutuskan apakah teknologi ekstraksi mineral ini akan diimplementasikan secara komersial dalam skala besar. Jika berhasil, Lumut Balai akan menjadi benchmark bagi area panas bumi lainnya di seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, deru uap di Lumut Balai bukan lagi sekadar suara pembangkitan listrik. Ia adalah suara perubahan—di mana ilmu pengetahuan merangkul industri untuk memastikan bahwa setiap tetes air yang diambil dari bumi, memberikan manfaat maksimal bagi bangsa sebelum dikembalikan kembali ke pangkuan alam. Melalui tangan-tangan terampil dosen Polsri dan dukungan PGE, limbah cair kini menatap masa depannya sebagai “emas cair” baru bagi energi Indonesia. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *