Produk dari olahan buah jeruk menjadi kue pie jeruk dan sirop jeruk. (foto: Maspril Aries)
KINGDOMSRIWIJAYA – Seorang pria dewasa berkaos oblong hitam datang menghampiri meja bagian belakang dan menyalami tamu yang duduk melingkar pada sebuah meja bertempat di balai desa pada acara “Field Trip FJM Sumsel 2024 SKK Migas Sumbagsel – KKKS”. Pria itu memakai udeng, yaitu topi khas dari kain bermotif batik yang umum dikenakan oleh pria Bali dari berbagai lapisan masyarakat.
Pria itu memperkenalkan dirinya bernama Ketut Yarsa Dana. “Dari nama saya, anda-nada pasti tahu saya anak nomor berapa?” katanya sambil tersenyum.
Di Bali, “Ketut” adalah nama yang melekat pada anak keempat. Ketut berasal dari kata kuno “Kitut” yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Dari website setda.bulelengkab.go.id menjelaskan, Ketut adalah anak “bonus” yang tersayang. Karena program KB yang dianjurkan pemerintah, semakin sedikit orang Bali yang bernama Ketut.
Jika Jika Anda berkunjung ke Bali atau ke desa-desa tempat bermukim masyarakat Bali di luar pulau Bali, akan sering mendengar mendengar nama-nama khas Bali mulai Wayan, Made, Nyoman, Ketut, Ida Bagus, dan sebagainya.
Ketut Yarsa (64) yang berasal dari Bali, dia sudah lama tinggal dan menetap di sebuah desa dalam wilayah Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) tepatnya di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru.
“Kami di sini yang berasal dari Bali adalah transmigran yang ikut Progam Transmigrasi PIR. Generasi muda sekarang tidak tahu apa itu PIR?”, katanya. Transmigrasi PIR adalah program pemerintah untuk Perkebunan Inti Rakyat atau PIR.
Ketut bercerita, warga asal Bali di Air Talas datang ke desa tersebut pada tahun 1987. Ia masih ingat saat keberangkatannya dari pulau Bali menuju ke tanah harapan yang ada di pulau seberang, pulau Sumatera, tanggal 22 Oktober 1987 memimpin 100 orang warga Bali untuk bertransmigrasi ke Sumatera Selatan (Sumsel).
“Setelah menempuh pelayaran di laut dengan kapal rombongan kami tiba di Pelabuhan Boom Baru Palembang, dengan perjalanan darat kami menuju Rambang Dangku. Dulu sebelum pemekaran, wilayah ini masuk dalam Kecamatan Rambang Dangku, sekarang masuk Kecamatan Rambang Niru”, ujarnya mengenang masih lalu yang masih terpatri dalam ingatannya.

Menurut Ketut Yarsa, dari Bali dirinya berasal dari Desa Les Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng , Singaraja, Bali. 100 kepala keluarga (KK) dari Bali yang dipimpinnya datang ke Unit Pemukiman Transmigasi (UPT) Air Talas sebagai transmigrasi PIR Kelapa Sawit dari Kementrian Pertanian pada masa Orde Baru.
“Tiba di sini, kami setiap kepala keluarga mendapat lahan seluas tiga hektar, dua hektar merupakan halan usaha pokok berupa kebun kelapa sawit. Sisanya satu hektar merupakan lahan pekarangan dan rumah 250 meter dan 750 meter untuk lahan tanaman pangan. Kami mendapat jaminan hidup atau jadup dari pemerintah selama dua tahun, sampai tanaman pangan kami menghasilkan,” kata Ketut.
Setelah tiba di lokasi, menurut Ketut ternyata lahan 750 untuk tanaman pangan tersebut tidak ada karena sudah masuk dalam bagian lahan yang diperuntukan untuk hutan tanaman industri atau HTI yang izinnya dikeluarkan pemerintah. “Sebagai gantinya, setiap kepala keluarga mendapat dua ekor hewan ternak, sepasang sapi jantan dan betina”, ujarnya.
Untuk hasil panen kelapa sawit, setelah menunggui empat tahun buah kelapa sawit sudah bisa dipanen. “Selama tiga tahun panen, saya bisa melunasi kredit PIR”, kenang Ketut.
Bibit Jeruk dari Bali
Sebelum pindah ke Sumatera Selatan, saat di Bali 100 KK yang ikut program Transmigrasi PIR tersebut adalah petani jeruk. Mereka berangkat dari Bali setelah mata pencaharian mereka kebun jeruk diserang Virus CPD. Setelah beberapa tahun menetap di tempat yang baru, beberapa transmigran mencoba bertanam jeruk dengan mendatangkan bibit jeruk dari Bali. Ternyata tanaman jeruk yang mereka tanam bisa tumbuh subur dan berkembang dengan baik. Buah jeruknya manis tidak berbeda dengan tempat asalnya.
“Akhirnya kami mulai bertanam jeruk dengan memanfaatkan lahan yang ada, termasuk di lahan pekarangan rumah diganti tanaman jeruk, ternyata hasilnya cukup baik,” kata Ketut.
Cerita yang sama juga disampaikan Khairil Anam (40). Pria ini bertanam jeruk di atas lahan seluas sekitar 500 meter persegi yang ada di belakang rumahnya. “Kami menanam jeruk siam yang sudah hasil persilangan, buahnya manis dan lebat”, katanya.

Kini para transmigran yang tinggal di Desa Air Talas setelah sebelumnya desa ini berkembang dari UPT Air Talas, selain berkebun sawit juga berkebun jeruk. Desa Air Talas terus berkembang, kini dihuni oleh 350 KK dan memiliki luas kebun jeruk sekitar 150 hektare.
“Jika sedang panen jeruk serentak, panen buah jeruk bisa mencapai belasan ton. Jeruk ini pasarkan ke Palembang dan daerah lain di Sumsel. Ada yang sampai di jual ke Jawa ke Jakarta. Saat pandemi Covid-19 lalu produksi jeruk dari Desa Air Talas sempat turun”, kata Ketut Yarsa.
Menurut Khairil Anam, tanaman jeruknya yang tengah berbuah akan panen pada bulan Juni atau Juli 2024 bisa menghasilkan buah buah jeruk sampai lima ton atau enam ton dari lahan seluas 500 meter.
Dengan produksi jeruk yang melimpah, nama Desa Air Talas mulai dikenal ke daerah lainnya sebagai daerah sentra penghasil buah jeruk di Sumsel, karena memang di daerah ini tidak ada sentra kebun atau penghasil jeruk. Yang banyak di Sumsel sentra daerah penghasil kopi karena memang Sumsel daerah produsen penghasil kopi terbesar di Indonesia.
Banyaknya orang yang datang ke Desa Air Talas untuk melihat kebun jeruk dari berbagai daerah, sekaligus membeli buah jeruk membuat pemerintah desa setempat menggagas desa mereka sebagai destinasi wisata atau agrowisata.
Menurut Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana, desa yang dipimpinannya kini dikenal sebagai desa agrowisata perkebunan jeruk sehingga banyak wisatawan lokal datang pada saat musim panen jeruk.
Salah satu destinasi wisata kebun jeruk yang didatangani wisatawan lokal adalah kebun jeruk miliki Khairil Anam. Mereka yang datang bisa masuk di dalam kebun dengan gratis dan menikmati buah jeruk yang dipetik. “Silahkan datang berwisata, syaratnya setiap mereka yang datang sebelum meninggalkan kebuh harus membeli buah jeruk minimal satu kilogram setiap orang”, ujarnya. Buah jeruk tersebut dijual dengan harga Rp15.000/ kg.
Dalam perkembangan, Desa Air Talas selain dikenal sebagai desa agrowisata, buah jeruk yang dihasilkan kini mulai dikembangkan dengan sentuhan teknologi, jeruk tidak hanya dijual dalam bentuk buah semata, juga dikembalikan dengan produksi turunan yang memberi nilai tambah ekonomi bagi warga Desa Air Talas.
Pada tahun 2022, Desa Air Talas menjadi perhatian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR (Corporate Social Responsibility) dari KKKS Pertamina Hulu Rokan Zona 4. Melalui PEP Field Limau melakukan pendampingan dan pembinaan melalui program yang diberinama “Anggrek Dewata”.

Anggrek Dewata ini bukan jenis bunga anggrek yang dikembangkan, melainkan akronim dari “Agribisnis Penggerak (kembali) Desa Wisata”. Menurut Bonus S Yogasana Senior Manager Pertamina Hulu Rokan Zona 4, Air Talas adalah salah satu desa binaan dalam rangka pelaksanaan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Pertamina.
“Desa Air Talas menjadi salah satu lokasi program CSR dari PEP Limau Field yang bergerak di bidang pertanian, pada budi daya jeruk siam dan pengolahan jeruk menjadi berbagai produk makanan dan minuman. Di sini juga dikembangkan inovasi pengendalian hama CPD yang menyerang tanaman jeruk para petani dengan menggunakan fungisida trichoderma”, katanya.
Program Anggrek Dewata salah satu kegiatannya adalah “Bude Arta Maju” (Ibu-ibu Desa Air Talas Mengelola Jeruk). Dengan Bude Arta Maju” para ibu-ibu-ibu Desa Air Talas dilatih membuat olahan produk turunan jeruk. Dari buah jeruk dari desa ini telah diproduksi kue pie jeruk, selai jeruk, sirop jeruk, stick jeruk. Pertamina EP Field Limau juga memberikan pelatihan pemasaran dari produk olahan jeruk tersebut.
Melalui program Anggrek Dewata dari Pertamina mengawal pengembangan usaha pertanian jeruk di Air Talas dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan.
Dari penelitian oleh Dedo Kevin Prayoga dan kawan-kawan berjudul “Inklusifitas Perempuan Transmigrasi” (2023) menyimpulkan, program Anggrek Dewata telah memberikan kontribusinya dalam inklusifitas perempuan transmigran di Desa Air Talas. Berbagai kegiatan yang dilakukan seperti pembentukan KWT (Kelompok Wanita Tani), pelatihan diversifikasi jeruk, pembangunan rumah produksi, sertifikasi P-IRT dan Halal, Pelatihan Social Market sebagai bentuk partisipasi perempuan di Desa Air Talas dalam meningkatkan perekonomian.
Kegiatan Anggrek Dewata juga melibatkan banyak stakeholder seperti Pemerintah Desa, Pertamina, INagri, Universitas, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Ketahanan Pangan, dan lain-lain. Seluruh stakeholder memiliki perannya dalam mendukung kegiatan perempuan transmigran yang ada di Desa Air Talas sehingga mampu bertahan dalam kondisi apapun. Usaha dan kemauan dari perempuan di Desa Air Talas menjadikan Desa Air Talas dengan keunikan penghasil sentra jeruk yang dikenal se-Kabupaten Muara Enim.
Melihat kiprah ibu-ibu dan warga Desa Air Talas, Camat Rambang Niru Fredy Febriansyah menyampaikan dukungannya. “Kehadiran Pertamina sangat mendukung pemerintah dalam upaya meningkatkan UMKM masyarakat. Salah satunya di Desa Air Talas dengan program Anggrek Dewata”, katanya. (maspril aries)






