Home / Teknologi / PTBA Kembangkan Pupuk Kalium Humat BA Grow dari Batu Bara, Solusi untuk Tanah Pertanian

PTBA Kembangkan Pupuk Kalium Humat BA Grow dari Batu Bara, Solusi untuk Tanah Pertanian

Penyuluhan Kelompok Tani Tampang Jaya di Desa Talawi Mudik, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar). (FOTO: Humas PTBA)

KINGDOMSRIWIJAYA – Bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), PT Bukit Asam (PTBA) tengah melakukan program uji coba penggunaan pupuk kalium humat produk hasil olahan batu bara berkalori rendah pada lahan pertanian milik Kelompok Tani Tampang Jaya di Desa Talawi Mudik, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar).

Pertanyaan yang muncul, dapatkah BUMN tambang batu bara ini bertransformasi menjadi produsen atau BUMN yang memproduksi pupuk? Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya, bisa memproduksi pupuk dan bisa tidak. Pertanyaan di atas, tidak membutuhkan perdebatan yang mengarah pada debat kusir guna memperoleh jawabannya.

Tanpa harus memikirkan jawabannya, mari bayangkan sejenak. Sebuah bongkahan batu hitam yang kita temui di area tambang. Bagi sebagian orang, itu adalah bahan bakar untuk pembangkit listrik. Bagi petani, batu hitam itu mungkin tidak pernah terlintas sebagai sesuatu yang berguna untuk tanamannya.

Namun, para peneliti sudah lama tahu bahwa batu bara, terutama jenis yang berkualitas rendah, menyimpan kandungan organik yang kaya. Kandungan inilah yang, jika diolah dengan cara yang tepat, bisa berubah menjadi bahan pembenah tanah dan pupuk.

Gagasan ini bukan sekadar teori. Di berbagai negara, industri pupuk memang sudah memanfaatkan batu bara, meski dengan teknologi dan skala yang berbeda-beda. Di Indonesia, gagasan ini mulai mendapat tempat dalam program hilirisasi, yaitu upaya mengolah komoditas mentah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Salah satu contoh nyata datang dari PTBA Bersama UGM, telah memperkenalkan inovasi terbaru produk hilirisasi batu bara bernama BA Grow dan sudah diperkenalkan ke masyarakat, salah satunya pada pameran Inagritech 2026 yang berlangsung di Jakarta International Expo yang berlangsung, 28-30 Juli 2026.

Kini satu langkah lebih maju, BUMN yang merupakan bagian dari Holding BUMN Pertambangan MIND ID, tengah menggelar program uji coba BA Grow yang berupa pupuk kalium humat produk hasil olahan batu bara berkalori rendah pada lahan pertanian milik Kelompok Tani Tampang Jaya di Desa Talawi Mudik, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Uji coba ini bertujuan untuk menguji efektivitas pupuk kalium humat dalam meningkatkan produktivitas hasil panen gabah, sekaligus memperkenalkan alternatif pupuk ramah lingkungan yang mampu memperbaiki kualitas tanah, sekaligus mengenalkan alternatif pembenah tanah ramah lingkungan bagi para petani lokal.


Bentuk kemasan produk hilirisasi PTBA bernama BA Grow. (FOTO: Humas PTBA)

Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno mengatakan, “Uji coba ini merupakan manifestasi komitmen perusahaan dalam mendukung program keberlanjutan serta memberikan nilai tambah atau added value dari komoditas batu bara di luar sektor energi”.

“Hilirisasi batu bara tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan energi semata, tetapi juga dialokasikan untuk sektor-sektor produktif yang menyentuh masyarakat luas, salah satunya pertanian. Melalui riset dan uji coba kalium humat bersama UGM ini, PTBA ingin membuktikan bahwa inovasi berbasis sains dapat menjadi solusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan ekonomi berkelanjutan di sekitar wilayah operasional kami”, katanya.

Sementara itu, Asset Development Section Head PTBA Unit Penambangan Ombilin, Sugiatno, menyampaikan optimismenya terhadap hasil uji coba pada lahan pertanian masyarakat di Sawahlunto.

“Harapan kami dengan uji atau aplikasi pupuk kalium humat ini, hasil panen gabah para petani di Kelompok Tani Tampang Jaya dapat meningkat. Ini langkah konkret PTBA untuk mengoptimalkan manfaat produk hilirisasi pertambangan agar tidak hanya untuk operasional internal, tetapi juga berdampak langsung bagi peningkatan taraf hidup petani”, ujar Sugiatno.

BACA JUGA: https://kingdomsriwijaya.id/posts/702766/ptba-tbk-siap-pasarkan-produk-hilirisasi-batu-bara-merek-ba-grow/

Uji coba di Sawahlunto bukan yang pertama. Sebelumnya pupuk kalium humat telah dilakukan pengujian di Sumatera Selatan dan beberapa daerah di pulua Jawa dan berlangsung sukses dengan hasil yang memuaskan dan sesuai target riset.

Dalam uji coba, juga dilakukan sosialisasi dan edukasi teknis oleh tim peneliti UGM yang dipimpin oleh Anton Sujarwo dan Nidha Nikmah Chairunnisa. Sosialisasi berisi panduan praktis pemanfaatan kalium humat kepada para petani. Program ini juga mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Sawahlunto melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) yang menerjunkan penyuluh pertanian untuk mengawal proses pendampingan di lapangan.

Melalui program ini, PTBA berharap keberhasilan uji coba di Sawahlunto dapat memicu optimalisasi sektor pertanian lokal serta menjadi bukti nyata kontribusi hilirisasi batu bara dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Sementara uji coba dan sosialisasi pupuk kalium humat tengah berlangsung, mari mengenal hilirisasi batu bara menjadi produk untuk pertanian sudah ada sebagai salah satu arah baru pemanfaatan batu bara kalori rendah di Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa umumnya batu bara tidak diubah menjadi pupuk NPK konvensional, melainkan menjadi asam humat (humic acid) atau kalium humat (potassium humate) yang berfungsi sebagai pembenah tanah dan bahan tambahan pupuk.


Uji coba pupuk Kalium Humat di Sawahlunto. (FOTO: Humas PTBA)

Batu Bara Bukan Sekadar Energi

Hilirisasi adalah istilah ekonomi yang merujuk pada upaya meningkatkan nilai tambah suatu komoditas mentah di dalam negeri. Dalam konteks pertambangan, logikanya sederhana, daripada menjual batu bara mentah dengan harga murah, mengapa tidak mengolahnya dulu di Indonesia menjadi produk bernilai jauh lebih tinggi?

Namun hilirisasi batu bara tidak hanya bicara soal energi dan bahan bakar. Para peneliti kemudian menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan, batu bara Indonesia – terutama batu bara berkalori rendah yang selama ini kurang laku di pasar – menyimpan senyawa organik bernama asam humat yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah. Dan di sinilah pertemuan antara dunia tambang dan dunia pertanian dimulai.

Selama puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai eksportir batu bara mentah. Namun momentum berubah sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang memuat program peningkatan nilai tambah batu yang mendorong perusahaan tambang untuk mengolah batu bara menjadi produk turunan seperti dimetil eter (DME), metanol, dan berbagai senyawa kimia.

Perubahan arah ini makin mendesak seiring dengan agenda transisi energi dunia. Di tengah industri batu bara yang akhir-akhir ini melandai akibat agenda transisi energi ke sumber energi yang ramah lingkungan, sehingga hilirisasi menjadi jalan menyelamatkan sekaligus mentransformasi industri ini.

Adalah Prof Ferian Anggara Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) beserta tim peneliti melakukan pengembangan kalium humat yang berawal dari perhatian pada pengembangan senyawa humat. Melalui tim riset lintas fakultas, lahirlah “Gamahumat”, produk humat yang terbukti mampu meningkatkan efisiensi pemupukan, memperbaiki kualitas tanah, dan mendorong hasil pertanian lebih berkelanjutan.


Pupuk BAGrow dan Pupuk Urea dari Pupuk Indonesia. (FOTO: Humas PTBA)

Keberhasilan tersebut kini diperluas melalui hilirisasi batu bara menjadi Kalium Humat, sehingga memberikan nilai tambah pada sumber daya lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Kini hilirisasi batu bara menjadi produk untuk pertanian sudah ada, bahkan menjadi salah satu arah baru pemanfaatan batu bara kalori rendah di Indonesia

Apa itu asam humat dan kalium humat? Asam humat merupakan senyawa organik yang membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas tanah menahan air, membantu penyerapan unsur hara oleh akar, memperbaiki ph dan kesuburan tanah, mengurangi dampak degradasi akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.

Menurut peneliti UGM, asam humat bukan pupuk utama yang menyuplai nitrogen, fosfor, dan kalium dalam jumlah besar, tetapi lebih berfungsi sebagai soil conditioner (pembenah tanah) yang membuat pupuk menjadi lebih efektif.

Proses batu bara menjadi pupuk secara umum digunakan batu bara kalori rendah (lignit atau sub-bituminous) yang kaya kandungan humat. Tahapan sederhananya melalui proses batu bara dihancurkan (grinding), kemudian dilakukan proses oksidasi dan ekstraksi kimia. Lalu senyawa humat dipisahkan dari batu bara. Hasil ekstraksi diolah menjadi asam humat (humic acid), kalium humat (potassium humate) dan fulvic acid.

Produk kemudian diformulasikan menjadi pupuk cair, granul, atau pembenah tanah. Penelitian UGM menunjukkan bahwa 1 ton batu bara Peranap (Riau) dapat menghasilkan sekitar 500 kg asam humat melalui proses ekstraksi. PTBA kini telah melakukan pengembangannya. BUMN yang berkantor pusat di Tanjung Enim ini merupakan pelaku utama yang saat ini mengembangkan hilirisasi batu bara menjadi produk pertanian.

Laporan tahun 2025 menyebut PTBA memasarkan produk kalium humat dengan merek BA Grow, dengan kapasitas pilot sekitar 150 ton per tahun. Pada 2026 PTBA juga menyatakan sedang menyiapkan fasilitas pengolahan kalium humat berkapasitas sekitar 10.000 ton per tahun.

Guru besar Ferian Anggara menegaskan bahwa asam humat bukan pupuk. Ia adalah pembenah tanah “humusnya” tanah. Ia memberikan unsur karbon yang meningkatkan kemampuan tanah menyerap nutrisi, menyimpan air, dan menjaga kegemburan. Dari sinilah kemudian lahir produk turunan yang lebih lengkap kalium humat. Kalium humat adalah asam humat yang diperkaya dengan unsur hara kalium (K) — salah satu dari tiga unsur makro penting bagi tanaman, selain nitrogen (N) dan fosfor (P).

Kalium berperan vital dalam proses fotosintesis, pengaturan pembukaan-tutupnya stomata daun, pengangkutan gula, dan yang tak kalah penting, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap stres lingkungan seperti kekeringan, hama, dan penyakit. Dengan kata lain, kalium humat menggabungkan dua kekuatan, keampuhan asam humat sebagai pembenah tanah dan manfaat kalium sebagai unsur hara. Inilah produk hilirisasi batu bara yang kini mulai diuji coba di lahan sawah Indonesia.


BA Grow dan sudah diperkenalkan ke masyarakat, salah satunya pada pameran Inagritech 2026

Tanah yang Lelah

Kehadiran kalium humat atau BA Grow adalah jawaban terhadap masalah kondisi tanah atau lahan pertanian yang “tengah lelah”. Selama puluhan tahun, khususnya sejak masa Orde Baru banyak lahan pertanian di Indonesia dikelola dengan pupuk kimia secara terus-menerus. Pupuk kimia memang cepat memberi hasil, terutama untuk unsur nitrogen, fosfor, dan kalium. Tetapi penggunaan jangka panjang tanpa diimbangi bahan organik bisa menimbulkan berbagai masalah.

Dari berbagai penelitian dan kajian dalam ilmu tanah ada lima masalah “tanah yang lelah”. Pertama, kandungan bahan organik tanah menurun, sehingga tanah menjadi kurang gembur.  Kedua, daya simpan air melemah, sehingga tanah cepat kering saat kemarau dan mudah jenuh saat hujan lebat. Ketiga, kehidupan mikroba tanah berkurang, padahal mikroba berperan membantu tanaman menyerap nutrisi. Keempat, unsur hara sulit diserap tanaman, meski pupuk sudah diberikan dalam jumlah cukup. Kelima, tanah menjadi lebih asam atau basa secara tidak seimbang, tergantung jenis pupuk yang dominan dipakai.

Masalah ini dalam jangka panjang, terkait dengan ketahanan pangan. Tanah yang sehat adalah fondasi produksi pangan. Jika tanah terus menurun kualitasnya, petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan hasil yang sama, atau bahkan hasil panen justru menurun. Inilah alasan mengapa para ilmuwan dan pemerintah semakin mendorong penggunaan bahan pembenah tanah, yaitu bahan yang memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Asam humat dan kalium humat termasuk dalam kategori ini.

Di dunia, produksi pupuk berbasis batu bara terutama dikuasai oleh negara-negara dengan cadangan batu bara besar dan industri kimia yang kuat. China merupakan salah satu produsen urea terbesar di dunia, dan sebagian besar kapasitasnya berbasis batu bara.

Untuk pupuk humat, banyak produsen di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia memproduksi humat dari sumber alami seperti leonardit (jenis batu bara teroksidasi yang sangat kaya humat). Produk-produk ini dipasarkan sebagai pembenah tanah atau biostimulan.


Anggota Kelompok Tani Tampang Jaya di Desa Talawi Mudik, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar).

Di Indonesia, produsen pupuk besar dikenal melalui kelompok BUMN pupuk yang tergabung dalam PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan beberapa anak usaha pabrik, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri), PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang Cikampek, dan PT Pupuk Iskandar Muda. Sebagian besar pabrik tersebut menggunakan gas alam sebagai bahan baku utama amonia dan urea. Artinya, produksi pupuk nitrogen di Indonesia belum banyak bergantung pada batu bara secara langsung.

Di luar pabrik besar, ada pula sejumlah perusahaan swasta dan usaha kecil-menengah yang memproduksi pupuk organik dan pembenah tanah, termasuk yang memanfaatkan humat dari sumber alami.

Selanjutnya, dapatkah PT Bukit Asam Tbk, yang selama ini dikenal sebagai produsen batu bara dan energi, juga menjadi produsen pupuk? Atau mengapa

PTBA melirik hilirisasi?  Pasti ada beberapa alasannya. Alasan tersebut bisa dihimpun dari berbagai penjelasan yang sudah tersiar luas di media massa. Seperti, batu bara tidak selamanya menjadi primadona. Permintaan batu bara untuk energi di dunia menghadapi tekanan dari isu lingkungan dan transisi energi. Perusahaan yang bergantung pada satu produk akan lebih rentan terhadap perubahan pasar.

Kemudian, ada nilai tambah lebih besar jika diolah. Batu bara yang diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi, seperti pupuk, kimia, atau bahan bakar alternatif, biasanya memberikan margin lebih baik dibanding dijual sebagai bahan mentah. Selain itu memanfaatkan batu bara kalori rendah yang kerap sulit dijual dengan harga tinggi untuk pembangkit listrik. Mengolahnya menjadi humat adalah cara memberi nilai pada sumber daya yang sebelumnya dianggap kurang bernilai.

Jadi secara prinsip, PTBA dapat menjadi produsen pupuk, terutama di segmen pembenah tanah dan pupuk humat. Berikut alasannya: Pertama, PTBA memiliki akses langsung ke cadangan batu bara kalori rendah. Kedua, PTBA memiliki kemampuan operasional, logistik, dan jaringan di daerah tambang. Ketiga,   PTBA dapat berkolaborasi dengan perguruan tinggi seperti UGM memberi dasar riset dan validasi ilmiah. Keempat, PTBA memiliki pengalaman dalam pengolahan dan pengelolaan limbah tambang dapat menjadi modal tambahan.

Penjelasan dari Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, bisa menjadi sinyal ke arah itu. Menurutnya, langkah ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendukung program keberlanjutan. Ia juga menyatakan bahwa hilirisasi batu bara tidak hanya difokuskan pada kebutuhan energi, tetapi juga dialokasikan untuk sektor produktif yang menyentuh masyarakat luas, termasuk pertanian.

Dari bongkahan batu hitam di tambang hingga butiran pupuk di sawah, perjalanan batu bara ternyata bisa jauh lebih panjang dari yang kita bayangkan. Kalium humat hasil olahan batu bara kalori rendah menunjukkan bahwa sumber daya yang selama ini dianggap kurang bernilai dapat memberi manfaat nyata bagi pertanian. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *