Home / Lingkungan / Ketika Asap Menyelimuti Bayung Lencir, PHE Jambi Merang Gerak Cepat  Bagikan Masker ke Warga

Ketika Asap Menyelimuti Bayung Lencir, PHE Jambi Merang Gerak Cepat  Bagikan Masker ke Warga

Tim PHE Jambi Merang membagikan masker ke pengendara sepeda motor. (FOTO: Humas PHE Jambi Merang)

KINGDOMSRIWIJAYA, Bayung Lencir – Jumat pagi, 28 Agustus 2026, Di Kecamatan Bayung Lencir matahari seakan enggan menampakkan wujudnya di atas cakrawala. Langit yang seharusnya cerah berwarna biru, hariberubah kelabu pekat, diselimuti kabut asap yang menyebar ke seluruh penjuru. Juga di pusat keramaian, pasar kecamatan yang berjarak sekitar 370 km dari Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Pagi itu udara terasa berat, menghirup napas pun terasa menyakitkan. Di sepanjang jalan raya, para pengendara melaju dengan perlahan, sebagian menutup hidung dan mulut dengan kain atau ujung baju, sementara para pedagang di pasar tradisional tetap berusaha melayani pembeli meski mata terasa perih dan tenggorokan kering tak tertahankan. Inilah wajah nyata dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda wilayah Sumatera Selatan, membawa penderitaan bagi ribuan warga yang tinggal di dalamnya.

Di tengah suasana yang mencekam itu, sekelompok orang tampak bergerak dari satu titik ke titik lain. Mereka membawa tumpukan kotak berisi masker, membagikannya secara cuma-cuma kepada siapa saja yang mereka temui di jalan, di pinggir pasar, maupun di area aktivitas warga. Mereka adalah tim dari Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang yang berkolaborasi bersama petugas Puskesmas Bayung Lencir. Kegiatan sederhana namun penuh makna itu menjadi bukti bahwa di tengah ancaman bencana yang terus mengintai, kepedulian dan kebersamaan tetap menjadi pelita yang menghangatkan hati masyarakat.

Kecamatan Bayung Lencir yang terletak di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), memang kerap menjadi wilayah yang paling terdampak setiap kali musim kemarau tiba. Muba sebagai kabupaten terluas di Sumsel, letaknya yang memiliki hamparan lahan gambut luas menjadikan wilayah ini sangat rentan terbakar saat curah hujan menurun drastis dan suhu udara meningkat.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan mencatat, sepanjang tahun 2026 hingga akhir Agustus, tercatat lebih dari 1.850 titik panas yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. Khusus di Kabupaten Musi Banyuasin saja, tercatat lebih dari 320 titik panas terdeteksi, menjadikannya salah satu kabupaten dengan jumlah titik api tertinggi di provinsi tersebut. Luas lahan yang terbakar diperkirakan telah menembus angka ribuan hektare, meliputi kawasan hutan produksi, hutan lindung, hingga lahan pertanian dan perkebunan masyarakat.

Kondisi itu berdampak langsung pada kualitas udara. Berdasarkan pemantauan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indeks Kualitas Udara (IKU) di wilayah Musi Banyuasin dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir terus berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Konsentrasi partikel halus PM2,5 — yang paling berbahaya bagi sistem pernapasan — melonjak jauh melampaui batas aman yang ditetapkan WHO. Angka itu mencapai rata-rata di atas 150 mikrogram per meter kubik, bahkan pada puncaknya sempat menyentuh angka 300 mikrogram per meter kubik. Partikel-partikel halus itu berukuran sepersepuluh dari ukuran rambut manusia, mampu menembus jauh ke dalam paru-paru, masuk ke aliran darah, dan memicu berbagai gangguan kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang.



Tim PHE Jambi Merang membagikan masker ke pengemudi becak motor. (FOTO: Humas PHE Jambi Merang)

Kesehatan masyarakat menjadi taruhan utama. Di Puskesmas Bayung Lencir, setiap hari pasien yang mengeluhkan gangguan pernapasan terus bertambah. Batuk, pilek, iritasi mata, sesak napas, hingga keluhan sakit kepala dan demam menjadi keluhan yang paling banyak dilaporkan. Kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit jantung menjadi pihak yang paling terancam. Sayangnya, banyak warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan demi menafkahi keluarga — pengendara ojek, pedagang pasar, petani, buruh harian — mereka tidak bisa sekadar berdiam diri di rumah. Di sinilah perlindungan diri menjadi sangat penting, dan masker menjadi tameng pertama yang paling sederhana namun sangat dibutuhkan.

Kepedulian Tepat Waktu

Melihat kondisi yang semakin memburuk, PHE Jambi Merang yang beroperasi di wilayah itu tak tinggal diam. Langkah cepat diambil, berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Bayung Lencir, menyiapkan ribuan lembar masker, dan turun langsung ke tengah masyarakat. Jumat pagi itu, tim bergerak menyasar ruas-ruas jalan utama, area pasar, dan titik-titik keramaian warga. Tidak sekadar membagikan masker, mereka juga menyampaikan pesan-pesan kesehatan sederhana agar warga lebih waspada.


Tim PHE Jambi Merang membagikan masker ke warga di Pasar Bayung Lencir. (FOTO: Humas PHE Jambi Merang)

R. Satrio Mursabdo, Field Manager PHE Jambi Merang, yang turun langsung memimpin kegiatan, mengatakan, “Kehadiran pihak perusahaan adalah bentuk kepedulian nyata kepada masyarakat di sekitar wilayah operasi. Pembagian masker ini merupakan bentuk kepedulian PHE Jambi Merang kepada masyarakat Bayung Lencir dalam menghadapi dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Kami berharap bantuan masker ini dapat memberikan manfaat dan membantu masyarakat melindungi diri ketika beraktivitas di luar rumah”.

Satrio menjelaskan, karhutla adalah masalah yang tidak bisa diselesaikan sendirian. Diperlukan kepedulian dan keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat luas. Karena itu, selain membagikan masker, pihaknya juga mengajak warga untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan menjaga lingkungan agar tidak terjadi kebakaran baru. “Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan”, ujarnya.

Kolaborasi ini disambut baik oleh pihak kesehatan. Kepala Puskesmas Bayung Lencir, Yusrizal, mengapresiasi langkah cepat yang diambil PHE Jambi Merang. Menurutnya, paparan asap karhutla sangat berbahaya dan perlu menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok rentan. “Kami mengapresiasi langkah PHE Jambi Merang yang telah berkolaborasi dengan Puskesmas Bayung Lencir dalam memberikan masker kepada masyarakat. Kondisi asap akibat karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan”, katanya.

Yusrizal juga mengingatkan warga agar tidak menganggap remeh asap yang melayang-layang di udara. Ia mengimbau, selain menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, warga juga disarankan memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami keluhan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau iritasi mata yang parah. “Jangan menyepelekan gejala yang muncul. Segera periksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit jika merasa tidak sehat”, pesannya.

Edukasi Kesehatan

Kegiatan pembagian masker dari PHE Jambi Merang ternyata membawa makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memberikan perlindungan sesaat dari asap. Kegiatan itu juga menjadi sarana edukasi kesehatan bagi masyarakat. Setiap kali menyerahkan masker, tim PHE Jambi Merang dan petugas puskesmas menyampaikan pesan penting, gunakan masker dengan benar, kurangi keluar rumah jika tidak mendesak, perbanyak istirahat dan konsumsi makanan bergizi agar daya tahan tubuh tetap terjaga.

Bagi warga Bayung Lencir, kehadiran tim tersebut menjadi penawar rasa di tengah keprihatinan. Seorang pedagang sayur di pinggir jalan yang menerima masker tampak tersenyum lega. “Terima kasih, Pak. Selama ini kami hanya menutup wajah dengan kain apa saja yang ada. Sekarang ada masker yang lebih baik, semoga kami lebih terlindungi,” katanya dengan suara parau. Pengendara ojek yang melintas pun berhenti sejenak, menerima masker dengan rasa syukur, dan segera memakainya sebelum melanjutkan perjalanan.

Penting dipahami bahwa penanganan dampak karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api saat muncul. Perlindungan terhadap masyarakat yang terdampak asap adalah bagian yang sama pentingnya. Karena itu, sinergi antara perusahaan, fasilitas kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama. PHE Jambi Merang — bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1 — berharap kegiatan ini tidak hanya memberi manfaat sesaat, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan dan kepedulian bersama di tengah tantangan yang berat.

Kehadiran perusahaan di saat-saat sulit seperti ini adalah wujud nyata komitmen untuk terus berkontribusi positif di sekitar wilayah operasi. Bukan hanya saat keadaan baik-baik saja, melainkan justru ketika masyarakat sedang membutuhkan uluran tangan. Melalui kolaborasi seperti ini, diharapkan upaya menghadapi karhutla tidak berhenti pada penanganan saat asap telah muncul, tetapi juga tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran sejak dini.

Ancaman karhutla di Sumatera Selatan, khususnya di Musi Banyuasin, memang belum sepenuhnya berlalu. Selama musim kemarau masih berlanjut dan suhu udara tetap tinggi, potensi kebakaran masih mengintai. Namun, di balik kelabu yang menyelimuti langit Bayung Lencir, ada secercah harapan. Harapan itu lahir dari kesadaran bahwa kita tidak sendirian menghadapi bencana. Ketika perusahaan, tenaga kesehatan, dan masyarakat bergandengan tangan, beban yang berat terasa lebih ringan.

Pembagian ribuan masker yang dilakukan PHE Jambi Merang bersama Puskesmas Bayung Lencir mungkin tampak kecil dibandingkan luasnya dampak karhutla yang melanda. Namun, setiap masker yang terpasang di wajah warga adalah satu langkah perlindungan bagi satu nyawa. Setiap pesan yang disampaikan adalah benih kesadaran yang kelak tumbuh menjadi sikap menjaga hutan dan lahan agar tidak terbakar. Dan setiap kebersamaan yang terjalin adalah fondasi kuat bagi wilayah ini untuk bangkit kembali, menyingkirkan asap, dan mengembalikan langit biru Bayung Lencir seperti sedia kala.

Karena pada akhirnya, menjaga hutan dan lahan adalah menjaga diri sendiri. Dan melindungi sesama dari bahaya adalah kewajiban kita semua — tanpa terkecuali. Semoga kelak, di musim kemarau yang akan datang, langit Musi Banyuasin tetap jernih, udara tetap segar, dan kebakaran hutan serta lahan tidak lagi menjadi mimpi buruk yang berulang setiap tahun. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *