Pertamina Hulu Rokan Zona 4 . (FOTO: Pertamina)
KINGDOMSRIWIJAYA, Prabumulih – Menyambut peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 menorehkan prestasi, pengembangan tiga sumur infill baru di wilayah kerja Pertamina EP Limau dan Adera Field, Sumatera Selatan (Sumsel). Melalui unit usaha di bawah Pertamina Subholding Upstream ini berpotensi menyumbang tambahan produksi lebih dari 1.400 barel minyak per hari (BOPD) dan gas lebih dari 4 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).
Dalam keterangan pers PHR Zona 4, Rabu (5/8) menjelaskan, keberhasilan ini bukan sekadar penambahan jumlah sumur, melainkan bukti nyata penerapan strategi cerdas dan teknologi mutakhir dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang ada, khususnya di lapangan migas yang sudah beroperasi cukup lama atau mature field atau dikenal sebagai lapangan matang.
Menurut Penjabat Sementara General Manager PHR Zona 4, Muhammad Luthfi Ferdiansyah, dengan keberhasilan ketiga sumur ini, PHR Zona 4 telah menyelesaikan 40 sumur pengembangan hingga akhir Juli 2026.
“Pertamina EP Zona 4 akan terus melakukan upaya peningkatan produksi dalam rangka mendukung Asta Cita Presiden untuk ketahanan energi. Kami senantiasa pantang menyerah mencari dan mengembangkan potensi melalui pengeboran sumur infill di seluruh wilayah kerja kami”, kata Luthfi.
Hingga akhir tahun 2026, PHR Zona 4 menargetkan menyelesaikan total 83 sumur. Langkah ini diambil untuk mencapai target produksi tahun ini yakni 30.305 BOPD minyak dan 485,07 MMSCFD gas. “Kami memohon doa dan dukungan seluruh lapisan masyarakat agar pekerjaan ini dapat berjalan dengan selamat, aman, dan mencapai hasil yang maksimal demi kedaulatan energi bangsa”, ujar Luthfi.
Sumur Infill dan Jenis Sumur Lain
Dalam industri minyak dan gas bumi, pengeboran sumur tidak hanya sekadar melubangi tanah untuk mengambil kandungan migas. Tak semua masyarakat tahu istilah yang ada dalam industri migas. Ada berbagai jenis sumur yang dikategorikan berdasarkan tujuan pengeboran, lokasi, dan tahapan eksplorasinya. Seperti sumur infill atau sumur sisipan adalah sumur yang dibor di antara sumur-sumur yang sudah ada di dalam satu blok atau lapangan migas yang telah diketahui memiliki cadangan ekonomi.
Berbeda dengan sumur eksplorasi yang mencari cadangan baru di wilayah yang belum terjamah, pengeboran infill dilakukan untuk memaksimalkan pengambilan cadangan yang belum terjangkau oleh sumur-sumur sebelumnya.
Karena lokasinya berada di area yang sudah terbukti mengandung migas, tingkat ketidakpastian pengeboran sumur infill jauh lebih rendah dibandingkan metode pengeboran lainnya. Hal ini menjadikannya strategi utama dalam mempertahankan bahkan meningkatkan produksi dari lapangan yang sudah beroperasi lama.
Berikut adalah jenis-jenis sumur yang umum dikenal dalam industri migas:
Pertama,Sumur Eksplorasi, yaitu sumur yang dibor di wilayah yang belum diketahui secara pasti kandungan migasnya. Tujuannya adalah untuk menemukan cadangan baru. Risiko kegagalannya cukup tinggi karena sifatnya yang masih mencari tahu potensi geologis.
Baca juga: Menghidupkan Ladang Minyak yang ‘Lelah’, Kisah dari Balik Lapangan Meruap
Kedua, Sumur Pengembangan, yaitu sumur yang dibor setelah adanya penemuan cadangan migas yang ekonomis. Tujuannya adalah mengambil dan memproduksi migas dari cadangan yang sudah terbukti. Sumur infill masuk dalam kategori ini. Ketiga, Sumur Evaluasi, sumur yang dibor setelah penemuan awal untuk mengetahui seberapa besar cadangan, luas sebaran, dan karakteristik reservoir yang ditemukan.

Keempat, Sumur Produksi adalah sumur yang digunakan untuk mengalirkan migas dari reservoir ke permukaan untuk diolah lebih lanjut. Kelima, Sumur Injeksi, yaitu sumur yang digunakan untuk memasukkan air, gas, atau uap panas ke dalam lapisan batuan pembawa migas guna menjaga tekanan reservoir dan mendorong migas agar lebih mudah naik ke permukaan melalui sumur produksi. Keenam, Sumur Pembuangan, merupakan sumur yang berfungsi membuang air hasil produksi yang tidak mengandung minyak kembali ke lapisan batuan yang sesuai.
Potensi Migas di Mature Field
Istilah lapangan matang (mature field) merujuk pada wilayah kerja migas yang sudah beroperasi selama bertahun-tahun, di mana laju produksi alaminya perlahan mengalami penurunan seiring berjalannya waktu. Banyak pihak mengira bahwa lapangan seperti ini sudah tidak memiliki potensi lagi. Padahal, dengan penerapan teknologi yang tepat dan strategi pengelolaan yang cermat, lapangan matang masih menyimpan cadangan migas yang cukup besar yang belum sempat diambil.
Senior Manager Subsurface Development & Planning Zona 4, Reza Nur Ardianto menjelaskan tentang keberhasilan pengembangan tiga sumur infill ini oleh PHR Zona 4, adalah buah dari inovasi pendekatan dan penerapan teknologi andal dalam upaya terus mengoptimalkan potensi migas di lapangan matang.
“Kami tidak hanya berhenti pada apa yang sudah didapatkan. Melalui data geologi yang mendalam dan teknologi pengeboran yang presisi, kami yakin masih banyak potensi yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan energi nasional”, ujar Reza.
Tiga sumur yang berhasil dikembangkan adalah KRG-042, DWA-071, dan BNG-081. Masing-masing memiliki karakteristik dan pencapaian yang patut dicatat. Sumur KRG-042 terletak di Struktur Karangan Timur, Kota Prabumulih, wilayah kerja PT Pertamina EP Limau Field. Pengeboran sumur ini berlangsung selama 25 hari dan dilakukan uji alir awal pada 16 Juli 2026. Hasilnya menunjukkan potensi produksi mencapai 777 BOPD.
Pengembangan sumur ini didukung teknologi Electric Submersible Pump (ESP). ESP adalah teknologi pengangkatan buatan berupa pompa sentrifugal bertingkat yang dipasang jauh di dalam sumur dan digerakkan tenaga motor listrik. Teknologi ini digunakan ketika tenaga dorong alami reservoir sudah tidak cukup kuat untuk mendorong migas naik ke permukaan. Selain aman dan efisien, ESP juga mampu bekerja optimal di lingkungan yang korosif.
Kemudian Sumur DWA-071 yang derada di Struktur Dewa, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), bagian dari wilayah kerja Pertamina EP Adera Field. Sumur ini menjadi sumur pengembangan pertama setelah lebih dari enam tahun sejak pengeboran sumur DWA-070 pada tahun 2019. Keberhasilan pengeboran DWA-071 didukung data komprehensif dari survei 3D Seismik IDAMAN yang dilaksanakan pada Maret 2024 hingga Mei 2025 di Blok Ibul Tenggara, Candi, dan Manis. Pengeboran berlangsung selama 47 hari dan pada uji alir awal 15 Juli 2026 menghasilkan potensi 375,84 BOPD dan gas 0,196 MMSCFD.
Dan Sumur BNG-081 terletak di Struktur Benuang, Kabupaten PALI, juga di bawah pengelolaan Pertamina EP Adera Field. Pengeboran sumur ini berlangsung selama 30 hari dan pada uji alir awal 20 Juli 2026 menunjukkan potensi 264,4 BOPD dan gas 3,064 MMSCFD.
Menurut Nur Ardianto, keberhasilan ini tak lepas dari terobosan data survei 3D Seismik Karbela yang dilakukan pada Agustus 2014 hingga September 2015. Data ini menjadi panduan akurat untuk mengembangkan potensi di area Benuang, Belimbing, Betung, dan Niru. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.





