Home / Literasi / Menaklukkan Lomba Karya Tulis, Panduan Jurnalis untuk Menang

Menaklukkan Lomba Karya Tulis, Panduan Jurnalis untuk Menang

Ilustrasi Ruang redaksi era surat kabar tahun 1970-an. (FOTO: AI)

KINGDOMSRIWIJAYA – Pada suatu kesempatan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Jhuan Silitonga meminta untuk memberikan pelatihan bagi wartawan di daerah yang berjarak sekitar 300 kilometer dari Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Materinya penulisan feature dan storytelling serta kiat-kiat untuk bisa menang dalam lomba karya tulis bagi wartawan.

Permintaan ini adalah bagian upaya organisasi wartawan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas anggotanya menguasai kemampuan jurnalistik yang semakin andal. Sekaligus ini adalah kesempatan untuk berbagi ilmu dan pengalaman bagi wartawan atau jurnalis di daerah, sekaligus silaturahmi.

Untuk memberikan materi penulisan feature news dan storytelling tentu oke-oke saja, tetapi ketika diminta untuk berbagai bagaimana strategi alias kiat bisa menang dalam sebuah lomba, yaitu lomba karya tulis jurnalistik bagi wartawan yang setiap tahun selalu ada dan banyak ragam atau jenis.

Apa strategi atau kitanya bisa menang dalam sebuah kompetisi lomba karya tulis jurnalistik? Sesaat sempat bingung untuk menguraikannya dalam sebuah artikel. Ini tentu berbeda dengan kompetisi meraih gelar juara pada olahraga, karena dalam dunia olahraga strategi dan kiat-kiatnya sudah ada, ada pelatih, ada programnya yang terukur maka sang atlet siap menjalani saja.

Solusinya mungkin bertanya pada mesin pencari atau pada kecerdasan buatan alias AI (Artificial Intellegence). Tapi saya teringat pada seorang wartawan senior yang bermukim di Padang, namanya Yurnaldi yang memegang sertifikat wartawan utama dari Dewan Pers. Dia pernah menjadi wartawan pada sebuah surat kabar terbesar di Indonesia. Selebihnya dia juga banyak memenangkan berbagai kompetisi lomba karya tulis bagi wartawan/ jurnalis. Dari berbagai kemenangannya tersebut, kemudian ia tuangkan dalam buka. Ada dua buku yang ditulisnya berkaitan dengan lomba karya tulis. Buku pertama berjudul Wartawan & Penulis Diperhitungkan Menang dalam Kompetisi dan buku kedua berjudul “Jawara Menulis Artikel Pengalaman 30 Tahun Jadi Penulis dan Wartawan.

Berbekal buku tersebut dan referensi lainnya, maka artikel ini ditulis sebagai upaya menjawab permintaan Ketua PWI Mura karena dalam dunia jurnalisme, karya tulis bukan sekadar media penyampai informasi; ia adalah instrumen pengaruh. Bagi seorang wartawan, mengikuti lomba karya tulis (seperti journalism award) bukan hanya soal mengejar hadiah, melainkan tentang menguji kedalaman analisis, ketajaman riset, dan kemampuan naratif di hadapan dewan juri yang profesional.

Dalam dunia jurnalistik yang semakin kompetitif dan dinamis, mengikuti lomba karya tulis bukan sekadar ajang mencari hadiah atau pengakuan semata. Bagi wartawan profesional, lomba menjadi arena untuk mengasah kemampuan, menguji ketajaman analisis, dan memperluas jangkauan dampak karya mereka.

Namun, menulis untuk lomba berbeda dengan menulis berita harian. Ia memerlukan ketelitian ekstra, struktur yang lebih matang, dan nilai tambah yang membedakannya dari tumpukan naskah lainnya.

Lomba karya tulis jurnalistik telah lama menjadi salah satu ajang paling bergengsi bagi para wartawan untuk menguji kemampuan, mengasah kepekaan sosial, sekaligus membuktikan kualitas kerja jurnalistik mereka di tengah persaingan industri media yang semakin ketat. Berbagai lembaga—mulai dari kementerian, badan usaha milik negara, perusahaan swasta, organisasi non-pemerintah, hingga asosiasi profesi jurnalistik—rutin menggelar kompetisi karya tulis dengan beragam tema, mulai dari isu lingkungan, ekonomi kerakyatan, energi, kesehatan masyarakat, digitalisasi, hingga isu-isu sosial yang tengah hangat diperbincangkan publik.


Buku karya wartawan senior Yurnaldi tentang kita menang lomba. (FOTO AI)

Bagi wartawan, mengikuti lomba karya tulis bukan sekadar mengejar hadiah materiil atau piagam penghargaan. Lebih dari itu, ajang semacam ini menjadi ruang pembuktian kompetensi profesional, sarana membangun reputasi personal maupun institusi media tempat mereka bernaung, serta kesempatan untuk memperluas jaringan dengan sesama jurnalis, narasumber, dan pemangku kepentingan di berbagai sektor. Tidak jarang, karya yang lolos dan memenangkan lomba turut mengangkat isu-isu penting ke permukaan kesadaran publik, mendorong perubahan kebijakan, bahkan membuka jalan bagi jurnalis muda untuk naik level dalam kariernya.

Baca juga: Belum Pernah Ikut Lomba, “Eh … Kok Jadi Juri Lomba Karya Tulis”

Namun demikian, memenangkan lomba karya tulis bukanlah perkara mudah. Persaingan datang dari ratusan bahkan ribuan peserta dengan latar belakang media berbeda-beda, mulai dari media arus utama berskala nasional hingga media lokal dan digital yang tumbuh pesat. Setiap peserta membawa gaya penulisan, sudut pandang, dan kedalaman riset yang berbeda. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi matang, pemahaman mendalam tentang kriteria penilaian, serta kemampuan teknis menulis yang di atas rata-rata agar karya yang dihasilkan benar-benar menonjol di antara tumpukan naskah yang masuk ke meja dewan juri.

Peluang Tantangan dan Lanskap.

Kompetisi jurnalistik di Indonesia terus berkembang seiring zaman. Di level nasional ada  Anugerah Jurnalistik Adinegoro yang diberikan setiap tahun kepada waratwan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh 9 Februari. Kompetisi karya tulis ini ini misalnya, mensyaratkan karya berupa jurnalistik mendalam (indepth news) yang memenuhi kriteria investigasi, kolaborasi, dan inovasi. Dalam perkembangannya,  menunjukkan bahwa lomba karya tulis jurnalistik semakin terbuka dan adaptif terhadap perubahan lanskap media.

Lomba karya tulis jurnalisme biasanya memiliki tema spesifik—mulai dari isu ekonomi, lingkungan, energi, hingga isu sosial dan lainnya. Memahami “jiwa” dari penyelenggara atau panitia lomba (siapa penyelenggara) adalah langkah pertama. Maka di situ ada peluang berupa ruang eksplorasi. Lomba karya tulis berbeda dengan deadline berita harian yang ketat, lomba memberikan waktu bagi wartawan untuk melakukan pendalaman (in-depth reporting). Peluang lainnya, berupa pengakuan profesional. Menjadi pemenang dalam lomba karya tuulis bergengsi meningkatkan kredibilitas dan personal branding Anda sebagai jurnalis spesialis. Kemudian menjalin networking. Lomba karya tulis ada ajang penghargaan sering menjadi titik temu bagi para jurnalis/ wartawan papan atas, editor, dan pengambil kebijakan.

Untuk meraih dan menangkap peluang tersebut, wartawan atau jurnalis harus melalui beberapa tantangan. Pertama, Standar Juri yang Tinggi. Dewan juri biasanya terdiri dari praktisi senior, akademisi, dan ahli di bidang terkait. Mereka mencari orisinalitas, bukan sekadar rangkuman informasi. Kedua, Persaingan Ide. Karya tulis Anda akan bersaing dengan wartawan yang memiliki akses data serupa. Perbedaannya terletak pada angle (sudut pandang) dan cara penyajian. Ketiga, Bias Subjektivitas. Menjaga objektivitas jurnalistik sambil memenuhi kriteria penilaian lomba yang mungkin memiliki agenda tertentu memerlukan keseimbangan yang presisi.

Sebelum membahas strategi mengarungi lomba, bagi wartawan yang akan ikut lomba karya tulis harus lebih dulu  memahami peta atau lanskap lomba karya tulis yang ada. Secara umum, lomba karya tulis jurnalistik dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori/ jenis berikut.

Pertama, berdasarkan tema. Ada lomba yang mengangkat tema spesifik seperti lingkungan hidup dan perubahan iklim, energi dan migas, ekonomi digital dan UMKM, kesehatan masyarakat, pendidikan, ketenagakerjaan, pertanian dan ketahanan pangan, hingga isu-isu kebencanaan. Lomba bertema spesifik biasanya diselenggarakan oleh kementerian atau lembaga yang memiliki kepentingan langsung terhadap isu tersebut, misalnya lomba karya tulis lingkungan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, atau lomba jurnalistik ekonomi oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan.

Kedua, berdasarkan format karya. Ada yang menerima karya tulis cetak atau daring (artikel berita, feature, atau tulisan investigatif), ada pula yang menerima format multimedia seperti karya foto jurnalistik, video jurnalistik, podcast, hingga karya jurnalisme data. Wartawan perlu memastikan format yang mereka kuasai sesuai dengan kategori lomba yang diikuti.

Ketiga, berdasarkan skala penyelenggara. Ada lomba berskala nasional yang diikuti oleh wartawan dari seluruh Indonesia dengan hadiah dan prestise yang besar, ada pula lomba berskala regional atau lokal yang lebih fokus pada isu-isu kedaerahan namun tetap kompetitif di lingkupnya.


Keempat, berdasarkan penyelenggara. Penyelenggara dapat berupa instansi pemerintah, badan usaha milik negara maupun swasta, organisasi profesi seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) atau Aliansi Jurnalis Independen (AJI), lembaga internasional, maupun asosiasi industri tertentu.

Kelima, lomba berbasis karya yang telah dipublikasikan. Banyak kompetisi mensyaratkan karya yang telah dimuat di media massa. Seperti Anugerah Jurnalistik Pertamina, menerima karya yang telah dipublikasikan dalam periode tertentu setiap tahun. Pupuk Indonesia Media Award (PIMA) yang mensyaratkan karya telah dipublikasikan di media massa dalam periode tertentu pada tahun perlombaan. Jenis lomba ini menuntut wartawan untuk terus menghasilkan karya berkualitas sepanjang tahun, bukan hanya ketika ada kompetisi.

Keenam, lomba berbasis karya baru. Beberapa kompetisi/ lomba karya tulis membuka kesempatan bagi peserta untuk mengirimkan karya baru yang belum pernah dipublikasikan. Jenis lomba ini memberi ruang bagi wartawan untuk mengeksplorasi ide-ide segar tanpa terikat pada karya yang sudah terbit.

Memahami peta ini penting agar wartawan dapat memilih lomba yang paling sesuai dengan kompetensi, minat, dan jaringan liputan yang mereka miliki, sehingga peluang untuk menghasilkan karya berkualitas tinggi menjadi lebih besar.

Strategi Pra-Penulisan.

Anda percaya dengan kalimat ini, “Kemenangan pada lomba karya tulis sering kali ditentukan sebelum kata pertama ditulis”. Setelah beberapa kali memenangkan lomba karya tulis, saya percaya dengan kalimat tersebut”.

Berikut langkah-langkah krusial atau strategi pra penulisan untuk membangun fondasi yang kokoh bagi sebuah karya jurnalistik atau yang akan diikutsertakan pada lomba atau kompetisi karya tulis bagi wartawan/ jurnalis. Pertama, Membedah Syarat dan Kriteria Penilaian. Jangan pernah mengirimkan naskah tanpa membaca Terms of Reference (TOR) lomba secara mendalam. Kemudian perhatikan bobot penilaian. Apakah lebih menekankan pada kedalaman data? Apakah pada kekuatan narasi (human interest)? Atau pada dampak/solusi yang ditawarkan?

Kedua, Mencari Angle yang “Uncommon”. Jika semua wartawan meliput keberhasilan sebuah program pemerintah, cobalah untuk melihat sisi lain. Seperti bagaimana dampaknya bagi masyarakat marginal? Apa potensi risiko jangka panjangnya? Tulisan yang menang adalah tulisan yang memberikan perspektif baru atas isu lama. “Uncommon” dalam konteks karya tulis merujuk pada elemen, gaya, pemilihan kata, sudut pandang, atau ide yang jarang digunakan, tidak lazim, dan berbeda dari pola umum yang sering ditemui pada tulisan biasa.

Ketiga, Riset Mendalam (Data-Driven Journalism). Juri sangat menyukai jurnalisme berbasis data. Gunakan data statistik, laporan tahunan, atau riset akademis untuk memperkuat argumen. Hindari kutipan yang bersifat normatif atau sekadar “pernyataan resmi” dari narasumber.

Baca juga: Menulis “Feature News” dengan “Storytelling” Jurnalistik untuk Wartawan

Memasuki tahap penulisan karya jurnalistik, seorang wartawan atau mereka yang berprofesi jurnalistik dituntut memiliki kemampuan menulis cepat, jelas, dan terstruktur dan itu dilakukan setiap hari. Keterampilan ini, jika diarahkan dengan tepat untuk kebutuhan lomba karya tulis yang biasanya menuntut kedalaman lebih dari sekadar berita harian, menjadi modal besar. Wartawan yang terbiasa menulis dengan piramida terbalik dapat belajar mengadaptasi gaya penulisan naratif atau feature yang lebih sesuai untuk format lomba, sebuah transisi yang jauh lebih mudah dibandingkan penulis pemula yang harus membangun kemampuan dasar dari nol.


Seorang wartawan atau jurnalis yang sudah memiliki jam terbang cukup lama, akan mampu  membangun struktur tulisan yang kompetitif. Sebuah tulisan yang kompetitif harus memiliki alur yang membuat juri enggan berpaling dari naskah/ teks tulisannya.

1. Lead yang Memikat (The Hook). Lead atau paragraf pembuka adalah penentu. Gunakan anecdotal lead (cerita mikro) untuk membawa pembaca masuk ke dalam isu makro. Contoh: Alih-alih memulai dengan “Gubernur meresmikan proyek…”, ubah dan mulailah dengan “kisah seorang warga yang hidupnya berubah karena proyek tersebut”.

2. Kekuatan Narasi (Storytelling). Jurnalisme masa kini menuntut kemampuan storytelling. Gunakan teknik show, don’t tell. Deskripsikan suasana, tunjukkan emosi narasumber, dan bangun adegan yang hidup. Tulisan yang “berasa” akan lebih melekat di ingatan juri dibandingkan tulisan yang kaku.

3. Argumentasi yang Logis dan Tajam. Pastikan setiap paragraf memiliki fungsi. Jika sebuah kalimat tidak mendukung tesis utama Anda, buanglah. Hubungkan data dengan kenyataan di lapangan secara konsisten.

 Faktor Penentu Kemenangan.

Karya tulis yang terbaik dan menjadi pemenang kompetisi adalah karya jurnalistik yang menurut juri sebuah karya tulis terbaik dari puluhan dan ratusan karya tulis yang mengikuti lomba. Namun seorang jurnalis lomba boleh saja bersikap kritis terhadap karya pemenang. Harus diingat biasanya naskah yang unggul tidak terlepas dari faktor-faktor berikut ini.

Faktor Orisinalitas. Anda melakukan investigasi sendiri, bukan sekadar mengolah ulang press release. Faktor Kedalaman Narasumber.  Anda menghadirkan suara dari pihak yang paling terdampak, bukan sekadar pejabat atau pengamat yang itu-itu saja.

Faktor Etika Jurnalistik. Tulisan yang menang tidak akan mengabaikan prinsip akurasi, keberimbangan, dan independensi serta tidak plagiat. Juri yang profesional akan sangat teliti memeriksa apakah naskah Anda memenuhi kaidah jurnalistik yang baik.

Faktor Bahasa yang Mengalir. Dalam menulis artikel hindari jargon yang tidak perlu. Tulisan yang kuat adalah tulisan yang mampu menjelaskan isu yang rumit menjadi mudah dipahami tanpa kehilangan kedalamannya.

Catatan lain yang harus menjadi perhatian jurnalis peserta lomba adalah memahami apa yang dinilai dewan juri. Berdasarkan berbagai lomba karya tulis apakah untuk wartawan/ jurnalis dan umum,  kriteria penilaian lomba karya tulis jurnalistik umumnya mencakup:

Pertama,Teknik penulisan – Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan (EYD), tanda baca, dan kata kunci. Kedua, Kesesuaian tema – Seberapa relevan karya dengan tema yang ditentukan. Ketiga, Kreativitas dan orisinalitas – Kebaruan gagasan dan pendekatan yang ditawarkan. Keempat, Kedalaman dan ketajaman analisis – Kemampuan menggali isu secara mendalam. Kelima, Akurasi data dan kelengkapan informasi – Ketepatan fakta dan sumber. Keenam, Dampak informasi bagi masyarakat – Seberapa besar manfaat karya bagi publik. Ketujuh, Elaborasi dan storytelling – Kemampuan menyajikan cerita yang menarik.

Untuk kategori seperti Lomba Penulisan Opini, ada kriteria tambahan meliputi kekuatan argumen, penggunaan data dan referensi, kedalaman analisis, serta kebaruan gagasan yang ditawarkan.

Checklist Final Sebelum Mengirim

Ini beberap tips yang harus menjadi perhatian jurnalis/ wartawan peserta lomba karya tulis. Sebelum menekan tombol submit, lakukan evaluasi atau periksa  mandiri terhadap naskah karya tulis yang sudah selesai ditulis.

1. Apakah sudah menjawab tema? Pastikan tidak melebar dari konteks lomba.

2. Apakah narasumber representatif? Apakah ada keseimbangan antara data, opini ahli, dan suara publik?

3. Apakah ada kesalahan teknis? Typo atau kesalahan kutip adalah hal yang fatal dan mencerminkan ketidakhati-hatian.

4. Bagaimana dengan kutipan? Pastikan kutipan narasumber memberikan nilai tambah, bukan sekadar pengulang fakta.


ke depan peluang dan tantangan lomba karya tulis jurnalistik bagi wartawan semakin membuka peluang untuk berpartisipasi dan menang karena jumlah kompetisi karya tulis semakin banyak setiap tahunnya. Perkembangan lomba jurnalistik di Indonesia menunjukkan tren positif. Berbagai institusi—dari BUMN seperti Pertamina, Pupuk Indonesia, Hutama Karya dan BPJS Kesehatan dan lainnya hingga pemerintah daerah, perusahaan swasta seperti JNE dan di daerah seperti Bank Sumsel Babel, SKK Migas Perwakilan Sumatera bagian Selatan dan Medco EP, dan lainnya selalu menyelenggarakan lomba bagi wartawan/ jurnalis. Semuanya memberikan penghargaaan dari uang tunai sampai natura atau barang.

Bahkan kini lomba jurnalistik modern tidak terbatas pada karya tulis konvensional. Karya media sosial juga diperlombakan. Seperti Anugerah Jurnalistik PWI membuka peluang bagi wartawan yang aktif di platform digital untuk berkompetisi.

Melalui lomba karya tulis jurnalistik juga memberi kesempatan pengembangan kapasitas. Beberapa kompetisi tidak sekadar memberi hadiah, tetapi juga membuka jalan bagi program pengembangan. Seperti Bank BRI menyelenggarakan BRI News Fest 2025 yang menjadi pintu awal seleksi BRI Fellowship Journalism, sebuah program pembinaan jurnalis muda yang prestisius.

Sementara lomba level daerah atau regional, selain sebagai apresiasi juga memberi peluang dari jurnalis di daerah atau wartawan media massa yang ada di tingkat kabupaten untuk bisa berprestasi berkomptesi sesama mereka. Lomba seperti ini menjadi momentum bagi jurnalis daerah untuk menunjukkan kualitas, integritas, dan daya analisis. Tidak hanya jurnalis nasional yang berpeluang; wartawan dari media lokal juga memiliki kesempatan yang sama.

Menjadi pemenang dalam lomba karya tulis jurnalisme bukanlah tentang keberuntungan semata. Ini adalah hasil dari ketekunan melakukan riset, ketajaman dalam memilih sudut pandang, dan keterampilan dalam merangkai kata menjadi cerita yang menggugah. Bagi seorang wartawan senior, lomba adalah cara terbaik untuk terus mengasah “pisau” analisis kita agar tetap tajam di tengah derasnya arus informasi.

Jadikan setiap naskah lomba sebagai karya terbaik yang pernah Anda buat. Jika pun tidak menang, Anda telah menghasilkan karya jurnalisme berkualitas yang bermanfaat bagi masyarakat. Dan itulah, pada akhirnya, esensi tertinggi dari profesi  seorang jurnalis/ wartawan.

Mengikuti lomba karya tulis adalah investasi jangka panjang. Dengan memahami peluang, mengatasi tantangan, menerapkan strategi persiapan, dan mengasah kiat penulisan, Anda tidak hanya bisa menang tapi juga berkontribusi pada jurnalisme berkualitas di Indonesia. Mulailah dari lomba kecil, bangun portofolio, dan terus belajar. Kemenangan datang bagi yang tekun, etis, dan inovatif.

Semangat! Bacalah panduan ini berulang, terapkan langsung pada lomba berikutnya. Karya Anda berpotensi mengubah masyarakat—dan membawa piala juara. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *