Home / Literasi / Belum Pernah Ikut Lomba, “Eh … Kok Jadi Juri Lomba Karya Tulis”

Belum Pernah Ikut Lomba, “Eh … Kok Jadi Juri Lomba Karya Tulis”

Ilustrasi rapat dewan juri lomba karya tulis. (FOTO: AI)

KINGDOMSRIWIJAYA – Pada awal Mei 2026 sedang ramai-ramainya pembicaraan tentang juri pada Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI yang berlangsung di Kalimantan Barat (Kalbar), dari laman media massa dan media sosial semuanya fokus membahas tentang juri pada LCC tersebut.

Membahas tentang juri pada berbagai lomba atau wasit pada lomba olahraga kerap menjadi topik pasca lomba. Ada yang berkomentar jurinya ini dan itu atau jurinya A, B, C dan D, dan lain sebagainya.

Dulu pada masa Orde baru, mengikuti LCC adalah impian bagi anak-anak di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Apakah lomba itu diselenggarakan oleh stasiun televisi – masa itu hanya ada TVRI – atau oleh radio, biasanya di Radio Republik Indonesia (RRI) masing-masing daerah.

Ceritanya seperti ini, “Bayangkan sebuah acara televisi yang ditungg-tunggu masyarakat Indonesia puluhan tahun lalu. Lampu studio menyala terang, peserta duduk tegang di belakang meja, mikrofon siap menangkap setiap kata. Pembawa acara melontarkan pertanyaan cepat, dan jawaban harus datang seketika. Nama acara itu ‘Cerdas Cermat’, acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan sesuatu yang diklaim sebagai pendidikan bagi bangsa”

Cerdas Cermat, atau CC pada masa itu adalah format lomba kuis yang menguji pengetahuan, ketepatan, dan kecepatan berpikir. Di era Orde Baru, acara ini menjadi salah satu andalan TVRI, satu-satunya stasiun televisi negara saat itu. Bagi banyak orang yang lahir di era 70-an hingga 80-an, nama ini membangkitkan nostalgia. Anak-anak sekolah berlatih hafalan, orang tua menyaksikan di ruang tamu.

Acara ini dirancang dengan format pilihan ganda atau jawaban singkat yang hanya memiliki satu jawaban benar. Tidak ada ruang untuk analisis mendalam, debat ide, atau perspektif alternatif. Pada masa itu, apa pun keputusan juri CC harus diterima.

Tapi yang ini bukan ingin membahas tentang Lomba Cerdas Cermat, melainkan cerita tentang peserta lomba karya tulis, khususnya lomba karya tulis untuk komunitas jurnalis atau wartawan. Dalam sebuah obrolan, beberapa wartawan duduk sambil menyeruput kopi dang menghisap rokok membahas banyak hal, tapi tiba-tiba fokus pada lomba karya tulis jurnalis/ wartawan. Pembahasannya bukan tentang tema lomba atau hadiah lomba melainkan tentang juri, ada pertanyaan ada argumentasi tentang juri. Pembicaraan bermuara pada pertanyaan, kiat menang dan juri, “Bagaimana bisa menang lomba dan bagaimana kapasitas seorang juri lomba karya tulis wartawan, tapi belum pernah mengikuti sebuah lomba karya tulis, apa lagi menjadi pemenang, sekarang menjadi juri lomba karya tulis?”


Ilustrasi pemenang lomba karya tulis dengan hadiahnya. (FOTO: AI)

Pertanyaan ini tentu butuh jawaban. Dengan pengalaman beberapa kali mengikuti lomba dan menang (ada juga yang tidak menang) dan beberapa menjadi juri dari tingkat lokal, daerah sampai nasional, dari lomba karya tulis fiksi dan non fiksi, saya mencoba memberikan perspektif dari pertanyaan tersebut. Dalam sebuah lomba karya tulis, juri adalah sosok yang sering tak terlihat (panitia lomba sering tidak memberi tahu siapa jurinya) tapi sangat berpengaruh.

Jika di atas membahas tentang cerdas cermat, maka kini saatnya berbagi cerita dan perspektif tentang juri lomba karya tulis yang jelas memiliki perbedaan dengan juri LCC. Berbeda dengan cerdas cermat yang menekankan kecepatan dan ketepatan hafalan, lomba karya tulis menuntut analisis, kreativitas, riset, dan penyampaian argumen yang koheren. Apa lagi pesertanya sering adalah wartawan, mahasiswa, guru, atau profesional yang terbiasa mengolah informasi dan opini.

Juri Lomba Ideal

Bagaimana jika seorang juri untuk lomba karya tulis belum pernah mengikuti lomba serupa, apalagi menjadi pemenang? Apakah ia masih layak? Jawaban yang umum dan membenarkannya adalah, bisa saja, asal kapasitas dan pengalamannya mendukung. Pendidikan tinggi (misalnya gelar magister atau doktor di bidang terkait), pengalaman hidup yang kaya, kemampuan membaca dan menganalisis teks secara mendalam, serta integritas pribadi bisa menjadi modal utama.

Seorang dosen senior yang telah membimbing ratusan skripsi, seorang editor berpengalaman di media massa, atau seorang praktisi yang memahami etika jurnalistik bisa menjadi juri yang luar biasa meski tidak pernah “bertanding”.

Namun, ada syarat penting. Juri tersebut harus mau belajar konteks lomba, memahami rubrik penilaian yang transparan, dan siap berdiskusi dengan sesama juri untuk menghindari subyektivitas. Pengalaman hidup yang tinggi – seperti pernah menjadi wartawan di daerah konflik, mengelola media komunitas, atau menulis buku – justru bisa memberikan perspektif lebih, akan lebih kaya lagi jika juri tersebut pernah mengikuti lomba dan pernah menjadi pemenang. Karena menilai karya tulis bukan soal siapa yang paling hafal aturan, melainkan siapa yang paling mampu melihat potensi dan kelemahan sebuah tulisan secara adil.


Ilustrasi rapat dewan juri lomba karya tulis. (FOTO: AI)

Ini tentang sebuah pengalaman pribadi mengikuti sebuah lomba bagi wartawan tentang satwa, yaitu Harimau Sumatera. Panitia menyelenggarakan lomba karya tulis esai, namun setelah pengumuman ternyata karya tulis yang menang bukan kategori esai melainkan kategori feature news. Untuk membuktikan bahwa karya tulis pemenang tersebut bukan kategori esai mencoba bertanya kepada seorang wartawan senior yang bukan juri, Yurnaldi wartawan senior mantan wartawan sebuah harian terbesar di Indonesia dan menulis buku berjudul “Wartawan & Penulis Diperhitungan: Menang dalam Kompetisi” serta pernah menjadi juri pada berbagai lomba menyatakan, “Karya tulis pemenang ini bukan esai, ini feature news”.

Ini terjadi karena faktor juri lomba atau panitia lomba karya tulis jurnalistik tidak bisa membedakan antara esai dengan feature news. Juri tidak boleh dalam membedakan lomba karya tulis untuk wartawan, apakah kategori opini, tajuk rencana, straight news, indepth news atau investigative news?

Dalam lomba karya tulis ada banyak jenis lomba yang berbeda. Misalnya, ada Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang lebih menekankan metodologi, data primer/sekunder, dan sistematika akademik. Bobot orisinalitas dan kontribusi ilmiah lebih tinggi. Ada Lomba Esai Umum yang lebih fleksibel, menekankan kedalaman pemikiran dan gaya penulisan, kemudian ada Lomba Karya Jurnalistik dengan penekanan pada kaidah jurnalistik seperti 5W+1H, objektivitas, akurasi, kecepatan aktualitas, sudut pandang (angle), dan dampak sosial.

Lantas, seperti apa juri ideal untuk lomba karya tulis, terutama yang pesertanya wartawan? Pertama, ia harus kompeten di bidang jurnalistik: memahami kode etik, teknik investigasi, penulisan feature, dan isu-isu kontemporer. Kedua, objektif dan tidak punya konflik kepentingan. Ketiga, mampu memberikan feedback konstruktif, bukan hanya angka. Keempat, terbuka terhadap gaya penulisan berbeda dan perspektif beragam, karena wartawan sering membawa sudut pandang lapangan yang unik. Kelima, memiliki integritas tinggi – tidak mudah dipengaruhi sponsor atau tekanan eksternal.


Buku karya wartawan senior Yurnaldi tentang kita menang lomba. (FOTO AI)

Seorang juri ideal juga harus “cerdas cermat” dalam arti sebenarnya, cerdas dalam memahami konteks lomba, dan cermat dalam membaca setiap kalimat. Ia tidak boleh terjebak pada kesalahan teknis kecil sambil melewatkan kekuatan argumen besar. Berbeda dengan Cerdas Cermat yang hitam-putih, penilaian karya tulis bersifat nuansa. Di sinilah pengalaman hidup menjadi kelebihan: seorang juri yang pernah menghadapi tekanan deadline, sensor, atau dilema etika akan lebih empati dan adil.

Seorang juri ideal untuk lomba karya tulis — terutama yang pesertanya wartawan — adalah orang yang memahami konteks lapangan, mampu menghargai beragam gaya penulisan, menguasai ragam bahasa jurnalistik, berintegritas tinggi, dan selalu siap memberi feedback konstruktif, bukan hanya angka.

Peran juri adalah penjaga api juri ideal tersebut. Jika juri bias, maka api bisa padam. Jika juri adil dan kompeten, maka terpilih karya tulis yang terbaik. Bagi para calon juri lomba karya tulis, terutama yang berlatar pendidik atau praktisi senior, jangan ragu. Kapasitas intelektual dan pengalaman hidup Anda adalah aset berharga. Persiapkan diri dengan membaca semua karya secara teliti, diskusikan dengan rekan juri, anda sedang membentuk ekosistem jurnalisme yang berkualitas yang hadir dari jurnalis yang cerdas.

Critical Thinking

Selain kriteria juri ideal di atas, seorang juri lomba karya tulis secara umum harus memiliki kemampuan berpikir kritis atau critical thinking yang kuat. Critical thinking adalah kemampuan menganalisis informasi secara objektif, logis, dan sistematis. Juri harus bisa membedakan fakta vs opini, menilai argumen kuat vs lemah, mendeteksi bias, asumsi, atau kesalahan logika, dan menarik kesimpulan yang tepat dari data yang ada


Alasan mengapa juri lomba karya tulis perlu critical thinking? Karya tulis peserta lomba pasti beragam, dan juri harus bisa menilai mana yang benar-benar berkualitas. Dengan critical thinking, juri bisa menilai orisinalitas ide, apakah karya ini punya ide baru atau cuma jiplak? Mampu mengevaluasi argumen, apakah argumennya kuat, logis, dan didukung data? Yang tidak kalah pentingnya mendeteksi plagiarisme, apakah ada unsur plagiat atau penjiplakan? Kemudian mengidentifikasi kesalahan, apakah ada kesalahan fakta, logika, atau metodologi? Dan membandingkan secara objektif, dengan membandingkan karya peserta secara adil, tanpa bias pribadi.

Juri lomba karya tulis dengan critical thinking akan fokus pada aspek-aspek: 1. Kedalaman analisis. Apakah penulis benar-benar mengolah data dan ide? 2. Kekuatan argumen. Apakah klaimnya didukung bukti yang valid? 3. Konstruksi logika. Apakah alur berpikirnya sistematis? 4. Kreatifitas dan inovasi. Apakah ada ide baru yang ditawarkan? 5. Ketepatan metodologi. Apakah metode penelitian yang digunakan tepat?

Bagaimana kalau juri tidak punya critical thinking, apa resikonya? Maka yang terjadi pada lomba karya tulis tersebut, akan terjadi salah menilai karya yang bagus karena subjektivitas. Meloloskan karya yang plagiat atau lemah, tidak bisa membedakan mana karya yang benar-benar orisinal. Penilaian jadi tidak adil buat peserta lain

Jika ingin menjadi juri yang memiliki critical thinking, berikut cara meningkatkan critical thinking sebagai juri. Pertama, Latih membaca kritis, jangan terima informasi mentah-mentah. Kedua, Biasakan bertanya: Kenapa? Bagaimana? Apa buktinya? Ketiga, Diskusi dengan juri lain. Bounce ide (proses bertukar ide, mengembangkan, dan menyempurnakan gagasan antara dua orang atau lebih). Keempat, Pelajari pedoman penilaian. Fokus pada aspek teknis dan substansi.

Jadi, iya, juri lomba karya tulis wajib punya critical thinking biar penilaiannya objektif, adil, dan bisa menemukan karya terbaik. Iya, jadi juri perlu punya pengalaman atau jam terbang pernah mengikuti lomba agar bisa merasakan dag dig dug dan cemas serta adrenalin yang menyiram tubuh dan pemikiran. Akan lebih lagi jika pernah menjadi pemenang lomba maka biasa merasakan aura dan sensasinya seorang jurnalis menjadi pemenang lomba karya tulis jurnalistik yang tidak bisa dibeli dengan uang atau dengan gelar akademik yang mentereng.

Bagi peserta, terutama wartawan muda, gunakan lomba ini untuk mengasah pena, bukan sekadar mengejar hadiah. Tulis dengan jujur, riset mendalam, dan berani menyuarakan kebenaran. Lomba karya tulis hanyalah panggung. Mari jadikan setiap lomba bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang tumbuh bersama menuju Indonesia yang cerdas, cermat, dan beradab.

Selamat berlomba, selamat menjadi juri lomba karya tulis. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *