Ilustrasi segala usia, tua, muda, milenial, gen-z suka baca Komik manga “One Piece”. (FOTO: AI)
PROLOG:
Di dunia yang penuh dengan cerita, ada satu kisah yang berhasil mengikat hati jutaan orang di seluruh penjuru jagat, termasuk di Indonesia. Bayangkan ini, sebuah bioskop di Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang atau Makassar. Ratusan, bahkan ribuan orang berkumpul, bukan untuk menonton film Blockbuster Hollywood, tetapi untuk sebuah episode anime.
Kisah itu adalah One Piece. Selama lebih dari dua dekade, kita telah berlayar bersama Monkey D. Luffy dan krunya, Bajak Laut Topi Jerami, dalam pencarian harta karun legendaris yang ditinggalkan oleh Raja Bajak Laut, Gol D. Roger. Namun, One Piece bukan hanya tentang harta karun. Ia adalah sebuah epik tentang persahabatan, kebebasan, dan perjuangan melawan ketidakadilan.
Saat seorang pemuda berambut hitam dengan topi jerami di layar akhirnya mencapai puncak kekuatannya, diiringi oleh suara genderang yang ritmis dan tawa yang lepas, seisi bioskop meledak dalam sorak-sorai yang membahana. Di luar gedung bioskop, di tengah hiruk-pikuk dunia maya, di antara deru kendaraan dan riuh pasar tradisional, terdengar sebuah nama yang menggema di bibir anak-anak, remaja, hingga orang dewasa di seluruh jagat, “One Piece”.
Ini bukan hanya sekadar judul komik atau anime, tetapi One Piece telah menjadi fenomena budaya yang menembus batas hiburan, menyusup ke dalam percakapan sehari-hari, memicu kontroversi, bahkan menimbulkan kekhawatiran di kalangan penguasa.
KINGDOMSRIWIJAYA – Di sebuah ruang kerja kecil di Jepang, pada tahun 1997, seorang mangaka muda bernama Eiichiro Oda mulai menorehkan tinta di kertas, menciptakan dunia yang kelak menjadi salah satu fenomena budaya global terbesar. One Piece, komik yang lahir dari imajinasinya, pertama kali muncul di majalah Weekly Shonen Jump pada 22 Juli 1997. Kisah ini mengikuti petualangan Monkey D. Luffy, seorang pemuda ceria dengan topi jerami yang bercita-cita menjadi Raja Bajak Laut dengan menemukan harta karun legendaris bernama “One Piece.” Namun, di balik petualangan penuh tawa dan aksi ini, terdapat lapisan narasi yang mendalam tentang kebebasan, persahabatan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Eiichiro Oda, lahir di Kumamoto, Jepang pada 1 Januari 1975, ia adalah otak di balik penciptaan One Piece. Ia terinspirasi dari cerita-cerita bajak laut klasik, seperti Treasure Island karya Robert Louis Stevenson, serta pengaruh budaya pop Jepang, termasuk anime seperti Dragon Ball karya Akira Toriyama. Oda tidak hanya menciptakan karakter dan alur cerita, tetapi juga merancang simbol utama yang menjadi jantung narasi One Piece: bendera Jolly Roger milik Kru Topi Jerami (Straw Hat Pirates). Bendera ini, yang menampilkan tengkorak dengan topi jerami khas Luffy, bukan sekadar lambang bajak laut, melainkan simbol kebebasan, solidaritas, dan perjuangan melawan otoritas yang korup.
One Piece adalah sebuah seri manga (komik Jepang) yang sangat populer di seluruh dunia. Dua tahun setelah komik ini terbit di majalah mingguan Weekly Shōnen Jump milik Shueisha, Jepang, karya Eiichiro Oda diadaptasi menjadi film kartun (anime) yang diproduksi oleh Toei Animation. Episode pertamanya pertama kali ditayangkan di Jepang pada 20 Oktober 1999 di stasiun televisi Fuji Television.
Komik One Piece kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia komik One Piece diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dan pertama kali beredar tahun 2002, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Komik ini pertama kali beredar pada tahun 2002. Pada tahun itu juga film kartun atau animasi serial One Piece pertama kali ditayangkan di Indonesia di stasiun televisi RCTI. Setelah itu, seri ini juga pernah ditayangkan di stasiun televisi lain, seperti Global TV dan Spacetoon.
Di tahun 2023 hingga 2024, khususnya, gelombang popularitas One Piece mencapai puncaknya. One Piece bukan hanya sekadar judul komik atau anime, tetapi One Piece telah menjadi fenomena budaya yang menembus batas hiburan, menyusup ke dalam percakapan sehari-hari, memicu kontroversi, bahkan menimbulkan kekhawatiran di kalangan penguasa.
Tapi bukan hanya karena serial anime-nya yang akhirnya mencapai arc (bagian atau segmen dari sebuah cerita panjang yang memiliki fokus tema, konflik, dan perkembangan karakter tertentu terpenting) —Final Saga—melainkan karena sesuatu yang jauh lebih besar: bendera One Piece, yang tiba-tiba menjadi simbol yang dilarang. (Final Saga dalam One Piece bukan hanya penutup cerita, tapi juga simbol dari pencarian kebenaran yang telah lama disembunyikan).

Bendera hitam dengan tengkorak berhias topi jerami dan dua tulang bersilang di bawahnya—yang dalam dunia One Piece adalah bendera bajak laut, sempat menjadi bahan perdebatan panas menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera dari kisah fiksi itu dilarang untuk dikibarkan.
Void Century
Mari kita fokus kembali ke alur cerita One Piece yang menceritakan seorang anak muda bernama Monkey D. Luffy, yang menelan Gomu Gomu no Mi—buah iblis yang memberinya tubuh karet—dan memulai petualangan mencari harta karun legendaris bernama One Piece, yang konon ditinggalkan oleh Raja Bajak Laut terakhir, Gol D. Roger.
Dalam alur cerita berikutnya, One Piece bukan sekadar cerita petualangan bajak laut. Di balik tawa, pertarungan, dan makanan yang selalu jadi fokus utama Luffy, tersimpan dunia yang sangat kompleks, dunia yang dibangun di atas konflik ideologi, penindasan sistematis, dan perjuangan melawan tirani global. Dunia One Piece adalah dunia yang dibagi oleh kekuasaan tiga pilar: Pemerintah Dunia (World Government), Marinir (Marines), dan Bajak Laut (Pirates). Namun, di balik semua itu, ada satu rahasia besar yang disebut Void Century—100 tahun yang hilang dari sejarah.
Void Century atau abad kekosongan adalah periode misterius selama 100 tahun dalam sejarah dunia One Piece, sekitar 900–800 tahun sebelum cerita utama dimulai. Fakta penting dalam alur cerita, semua catatan sejarah dari masa itu dihapus oleh Pemerintah Dunia. Bagi siapa pun yang meneliti Void Century dianggap kejahatan berat, bahkan bisa berujung eksekusi mati.
Void Century atau “100 Tahun yang Hilang” menjadi salah satu pilar utama yang menopang seluruh alur cerita One Piece, Void Century adalah misteri yang disebut dalam alur cerita komik manga karya Eiichiro Oda.
Selama periode Void Century ada sebuah kerajaan kuno (Great Kingdom) yang sangat kuat dan maju. Kerajaan ini berkonflik dengan kelompok atau aliansi 20 kerajaan, yang kemudian membentuk Pemerintah Dunia dan para Tenryuubito (bangsawan dunia). Perang besar terjadi, dan pada akhirnya, kerajaan kuno tersebut hancur dan sejarahnya dihapus. Semua pengetahuan tentang kerajaan tersebut, serta peristiwa yang terjadi selama 100 tahun itu, lenyap.

Pemerintah Dunia melakukan segala cara untuk memastikan tidak ada seorang pun yang mengetahui kebenaran. Siapa pun yang berusaha menggali sejarah ini akan dieksekusi mati. Hal ini dilakukan untuk melindungi kekuasaan mereka dan menjaga agar rahasia kelam di balik berdirinya Pemerintah Dunia tetap terkubur. Sejarah ini hanya bisa dibaca melalui Poneglyph, batu-batu prasasti raksasa yang tidak bisa dihancurkan dan berisi ukiran-ukiran kuno dan hanya bisa dibaca oleh segelintir orang seperti tokoh Nico Robin dan Kozuki Sukiyaki. Dan tokoh Imu, adalah sosok misterius yang memimpin Pemerintah Dunia, diyakini sebagai tokoh yang menjaga rahasia Void Century dan memegang kekuasaan absolut.
Dalam sejarah Void Century, ada seorang tokoh misterius yang bernama Joy Boy. Dia adalah figur legendaris dari kerajaan kuno tersebut. Nama Joy Boy pertama kali disebut melalui Poneglyph di Pulau Manusia Ikan. Joy Boy adalah seorang pria yang hidup 800 tahun lalu dan memiliki hubungan penting dengan Putri Duyung saat itu. Dia membuat sebuah janji yang tidak bisa dia tepati, dan meninggalkan Poneglyph sebagai surat permintaan maaf.
Joy Boy menjadi simbol perlawanan dan harapan. Dia memiliki hubungan dengan senjata kuno, dan perannya dalam Void Century sangat krusial. Beberapa teori menyebutkan bahwa Joy Boy adalah sosok yang sangat penting, mungkin bahkan kapten dari kerajaan kuno yang melawan Pemerintah Dunia. Joy Boy nama yang terus bergema seperti bisikan hantu di tengah kegelapan Abad Kekosongan. Joy Boy menjadi sosok sentral dari Kerajaan Kuno yang dihancurkan itu. Namanya pertama kali muncul dalam sebuah Poneglyph kuno yang ditemukan di Pulau Manusia Ikan, tertulis sebagai surat permintaan maaf.
Joy Boy adalah seorang tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya, 900 tahun yang lalu. Ia membuat sebuah janji besar kepada para penduduk Pulau Manusia Ikan, yang kemungkinan besar adalah membawa mereka untuk hidup di daratan di bawah sinar matahari yang sesungguhnya, menggunakan sebuah kapal bahtera raksasa. Namun Joy Boy gagal menepati janjinya. Surat permintaan maafnya kepada Putri Duyung Poseidon pada masa itu adalah bukti penyesalannya yang mendalam.

Joy Boy juga meninggalkan warisan dan sebuah ramalan. Ia meramalkan bahwa suatu hari nanti, seseorang akan muncul untuk menyelesaikan janjinya, membawa “fajar” bagi dunia, dan membebaskan semua orang dari penindasan. Ia juga meninggalkan harta karun paling luar biasa di pulau terakhir, Laugh Tale—harta karun yang kemudian dinamai “One Piece” oleh dunia.
Jolly Roger
Perjalanan One Piece dimulai dari sebuah goresan tinta di atas kertas. Eiichiro Oda, sang mangaka, memiliki visi yang jelas sebuah cerita tentang petualangan, persahabatan, dan pengejaran mimpi termustahil. Di pusat cerita itu ada seorang anak laki-laki bernama Monkey D. Luffy, yang bercita-cita menjadi Raja Bajak Laut. Dan setiap kapten bajak laut yang terhormat membutuhkan sebuah bendera, sebuah Jolly Roger.
Di sinilah hubungan antara komik dan benderanya menjadi begitu intim dan personal. Logo One Piece yang ikonik—tengkorak yang menyeringai dengan topi jerami yang usang—tidak diciptakan oleh sebuah tim desain korporat. Dalam cerita, logo itu digambar sendiri oleh Luffy. Goresannya yang sedikit kekanak-kanakan, tidak sempurna, dan penuh semangat adalah cerminan langsung dari karakternya. Itu bukan simbol teror yang dingin dan kejam seperti bendera bajak laut lainnya. Itu adalah pernyataan, “Kami mungkin bajak laut, tapi kami adalah bajak laut yang mengejar mimpi dengan tawa dan kebebasan”.
Topi jerami yang bertengger di atas tengkorak itu adalah kuncinya. Topi itu sendiri adalah pusaka, sebuah janji yang diwariskan dari Raja Bajak Laut legendaris, Gol D. Roger, kepada Shanks si Rambut Merah, dan kemudian dipercayakan kepada Luffy. Ia bukan mahkota emas, bukan simbol kekuasaan, melainkan simbol janji dan mimpi. Dengan meletakkannya di atas logo tengkorak, Eiichiro Oda secara brilian mengubah citra bajak laut.
Jolly Roger Topi Jerami bukan lagi sekadar penanda “bahaya, melainkan telah menjadi simbol pemberontakan terhadap status quo, penolakan terhadap takdir yang dipaksakan, dan deklarasi kebebasan pribadi.
Monkey D. Luffy, saat ia pertama kali melukisnya di atas layar kapalnya yang pertama, Going Merry. Momen ini sangat penting. Itu adalah saat di mana sebuah kru kecil yang terdiri dari seorang kapten karet, seorang pemburu bajak laut, seorang navigator, seorang penembak jitu, dan seorang koki, secara resmi mendeklarasikan keberadaan mereka kepada dunia. Mereka menaikkan bendera mereka bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk mengumumkan bahwa mereka bebas.

Dalam alur ceritanya tokoh lainnya, yaitu Nico Robin: Sang Arkeolog Penutur Sejarah. Sebagai anggota Bajak Laut Topi Jerami ia adalah kunci untuk mengungkap misteri Void Century. Sebagai arkeolog dari Pulau Ohara, Robin adalah satu-satunya yang mampu membaca Poneglyph, tulisan kuno yang berisi sejarah dunia.
Kemudian di Pemerintah Dunia ada Vegapunk seorang ilmuwan jenius dan rahasia dunia. Dr. Vegapunk adalah ilmuwan terhebat di dunia One Piece, bekerja untuk Pemerintah Dunia tetapi memiliki agenda sendiri. Ia adalah penemu teknologi canggih seperti Pacifista dan Seraphim, serta peneliti Buah Iblis dan Poneglyph. Vegapunk memiliki pengetahuan luas tentang Void Century, termasuk rahasia senjata kuno dan energi yang digunakan Kerajaan Kuno.
Joy Boy sendiri selama berabad-abad, dianggap mitos. Namun, seiring perjalanan Luffy, kepingan puzzle tentang Joy Boy mulai terungkap. Ada spekulasi kuat bahwa Luffy adalah reinkarnasi atau penerus dari Joy Boy, yang ditakdirkan untuk menyelesaikan apa yang Joy Boy mulai. Luffy disebut sebagai penerus semangat Joy Boy, terutama setelah membangkitkan kekuatan Hito Hito no Mi, Model: Nika, yang disebut sebagai “Genderang Pembebasan” oleh Zunesha.
Terungkap bahwa Buah Iblis yang dimakan Luffy, yang selama ini dikenal sebagai Gomu Gomu no Mi (Buah Karet), sebenarnya adalah sebuah Buah Iblis tipe Zoan Mistis dengan nama asli Hito Hito no Mi, Model: Nika.
Nika adalah nama seorang dewa kuno yang legendaris, dikenal sebagai “Dewa Matahari” atau “Prajurit Pembebasan”. Ia adalah sosok yang membawa tawa dan kebebasan kepada para budak. Kekuatannya, yang kini dimiliki Luffy, adalah perwujudan dari kebebasan itu sendiri—kemampuan untuk bertarung dengan cara apa pun yang bisa dibayangkan, hanya dibatasi oleh imajinasi.
Pemerintah Dunia telah berusaha mendapatkan buah ini selama 800 tahun, bahkan sampai mengubah namanya di ensiklopedia Buah Iblis untuk menyembunyikan kekuatan sejatinya. Mereka tahu bahwa buah ini dan penggunanya adalah pewaris semangat Joy Boy. Luffy, dengan tawanya yang lepas dan hasratnya yang membara untuk kebebasan, secara tidak sadar berjalan di jalan yang sama dengan Joy Boy. Dialah orang yang diramalkan akan kembali untuk menantang para “dewa” di Marijoa dan membawa fajar baru bagi dunia.

EPILOG:
Jadi, mengapa One Piece begitu dicintai di penjuru jagat termasuk Indonesia? Jawabannya sama berlapisnya dengan misteri Abad Kekosongan itu sendiri. One Piece adalah kisah petualangan yang seru, komedi yang mengocok perut, dan drama persahabatan yang mengharukan. Nilai-nilai tentang nakama, tentang tidak pernah menyerah pada mimpi, dan tentang melawan segala rintangan, adalah nilai-nilai universal yang dapat diterima oleh siapa saja. “Para Nakama” (sebutan untuk para One Piece di Indonesia) menemukan sebuah keluarga dalam komunitas ini, sebuah tempat di mana mereka bisa berbagi tawa, tangis, dan antusiasme tanpa dihakimi.
Namun, di lapisan yang lebih dalam, resonansinya menjadi jauh lebih kuat. Kisah tentang sejarah yang dimanipulasi oleh penguasa, tentang kebenaran yang dibungkam demi mempertahankan kekuasaan, dan tentang perjuangan generasi muda untuk mengungkap kebohongan masa lalu, adalah narasi yang sangat akrab dengan banyak bangsa di penjuru jagat.
Indonesia adalah bangsa yang pernah mengalami masa-masa di mana sejarah ditulis ulang oleh rezim, di mana suara-suara kritis dibungkam, dan di mana para pahlawan sejati justru dilupakan atau dicap sebagai pemberontak. Ketakutan Pemerintah Dunia akan kebenaran adalah cerminan dari ketakutan semua rezim otoriter di dunia.
One Piece mengajarkan kita bahwa menjadi “bajak laut” tidak selalu berarti menjadi penjahat. Terkadang, dalam dunia yang diatur oleh ketidakadilan, menjadi penjahat di mata penguasa adalah satu-satunya cara untuk menjadi pahlawan bagi rakyat. Ia mengajarkan kita bahwa warisan terpenting bukanlah emas atau kekuasaan, melainkan kehendak dan sejarah.
Pada akhirnya, One Piece bukanlah sekadar cerita tentang mencari harta karun. Itu adalah cerita tentang menjadi harta karun itu sendiri — menjadi pribadi yang bebas, yang mengetahui sejarahnya, dan yang berani memperjuangkan fajar bagi dunia. Dan itu adalah sebuah pelayaran di mana kita semua, termasuk Para Nakama Indonesia, dengan bangga ikut serta.
One Piece bukan sekadar anime. One Piece adalah lebih dari sekadar cerita tentang bajak laut. Ia adalah metafora perjuangan manusia melawan tirani, melawan lupa, dan melawan ketakutan. Ia adalah cermin yang memantulkan betapa sering sejarah ditulis oleh pemenang, dan betapa mahalnya harga kebenaran. (maspril aries)
(Artikel ini diperkaya informasi dari AI)






