KINGDOMSRIWIJAYA – Ini tentang sebuah program yang patut mendapat apresiasi dan memberi acungan jempol untuk program yang digagas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muba tak hanya bicara peluang, ini sebuah gerak nyata. Pemkab Muba melalui Disnakertrans Muba melaksanakan program kerjasama pelatihan Bahasa dan Budaya Jepang. “Pemkab Muba kini mempersiapakan generasi muda dari daerah agar siap bersaing di dunia kerja internasional, khususnya di negeri Sakura, Jepang”, kata Kepala Disnakertrans Muba Herryandi Sinulingga, Jumat (10/10).
Menurutnya, Muba memiliki visi besar membangun generasi emas yang berdaya saing global, Pemkab Muba terus berinovasi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). “Melalui Disnakertrans Muba, salah satu langkah strategis ditempuh dengan menjajaki kerja sama Diklat Bahasa dan Budaya Jepang bersama Fenkai Global Indonesia atau FGI”, ujarnya.
“Sekarang ada ada tiga generasi muda dari Muba tengah menjalani pelatihan di Fenkai Global Indonesia. Mereka mengikuti pelatihan untuk mempersiapkan diri dan kemampuan menapaki karier di Jepang. Mereka adalah Laura Julia dari Sekayu untuk mengikuti program kuliah di Osaka, Jepang. Kemudian Rizki Abrorri dan Farel Firdaus, keduanya dari Sungai Lilin untuk mengikuti Program IM Japan”, kata mantan Kepala Dinas Kominfo Muba.
Program IM Japan
Program IM Japan adalah program pemagangan resmi ke Jepang yang merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia dan organisasi Jepang bernama IM Japan (International Manpower Development Organization, Japan). Program ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis dan etos kerja peserta melalui pengalaman kerja langsung di Jepang.

Tujuan dari program ini adalah meningkatkan kompetensi teknis (hard skill) sesuai bidang kerja yang dipilih. Meningkatkan soft skill seperti kedisiplinan, tanggung jawab, etos kerja, dan jiwa kewirausahaan. Dan memberikan pengalaman kerja internasional yang bisa menjadi modal untuk berkarier atau membuka usaha setelah kembali ke Indonesia.
IM Japan sendiri adalah organisasi nirlaba yang dibentuk oleh asosiasi perusahaan-perusahaan Jepang. Tujuannya adalah untuk mendatangkan tenaga kerja asing melalui jalur pemagangan, sekaligus memberikan pelatihan dan pengalaman kerja yang bermanfaat bagi peserta dari negara mitra seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Pakistan.
Bidang magang yang umum mencakup, konstruksi, manufaktur, perawatan lansia, pertanian dan perhotelan. IM Japan sejak dimulai tahun 1993, program ini telah meluluskan lebih dari 45.000 alumni. Banyak dari mereka yang sukses membuka usaha sendiri atau menjadi tenaga ahli di berbagai sektor industri setelah kembali ke Indonesia.
“Laura Julia, Rizki Abrorri dan Farel Firdaus adalah anak muda dari Muba yang siap berkarir di Jepang. Muba no tameni issyookenmei ganbarimasu yang artinya berjuang sekuat tenaga untuk Muba lebih,” kata Sinulingga.
Pelatihan dan keberangkatan tiga anak muda dari Muba tersebut ke Jepang nanti menurut Kadisnakertrans Herryandi Sinulingga menjadi bagian penting dalam strategi Pemkab Muba menyiapkan SDM unggul dan siap Go Internasional. Berdasarkan hasil rapat dengan Fenkai Global Indonesia, program diklat akan berlangsung selama dua bulan, mulai 27 Oktober 2025 mendatang.
JLPT N4 atau JFT A2
Sementara itu Direktur Fenkai Global Indonesia, Muhammad Febrani Musuko kepada Sinulingga, menjelaskan bahwa program di FGI dirancang untuk mencetak peserta yang kompeten dan memiliki kemampuan bahasa Jepang sesuai standar internasional, dengan target pencapaian JLPT N4 atau JFT A2.
“Kami berharap kerja sama ini dapat berjalan maksimal. Peserta dari Muba diharapkan menjadi contoh sukses bagi daerah lain dalam program penempatan tenaga kerja ke Jepang”, ujar Febrani.

Apa itu JLPT N4 atau JFT A2? Ini adalah tentang standar tingkatan kemampuan bahasa Jepang. Pada tingkat JLPT N4 atau JFT A2 mencerminkan penguasaan dasar bahasa Jepang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari sederhana, seperti berkomunikasi dalam situasi umum dan memahami percakapan dasar.
JLPT N4 (Japanese-Language Proficiency Test – Level N4) adalah ujian kemampuan bahasa Jepang yang diakui secara internasional, terdiri dari lima tingkat dari N5 (paling dasar) hingga N1 (paling mahir). N4 adalah tingkat kedua dari bawah, dan mencerminkan kemampuan dasar yang lebih tinggi dari N5.
Pada JLPT kompetensi yang diukur adalah membaca, yaitu memahami teks pendek dalam bahasa Jepang dasar, termasuk informasi umum dalam kehidupan sehari-hari seperti iklan, jadwal, atau surat pribadi sederhana. Kemudian mendengar berupa kemampuan memahami percakapan sehari-hari yang pelan dan jelas, terutama dalam konteks yang familiar. Menguasai kosakata dan tata bahasa (Menguasai sekitar 300–400 kanji dan 1.500 kata umum).
Kemudian JFT-Basic A2 (Japan Foundation Test for Basic Japanese) adalah tes yang dikembangkan oleh Japan Foundation untuk menilai kemampuan bahasa Jepang dasar, terutama bagi calon pekerja asing yang ingin bekerja di Jepang melalui program Specified Skilled Worker (SSW).
Kompetensi yang diukur JFT adalah berbicara dan mendengar, yaitu mampu melakukan percakapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari seperti belanja, transportasi, dan pekerjaan dasar. Kemudian kemampuan membaca dan menulis dengan memahami kalimat sederhana, instruksi, dan informasi tertulis yang umum. Serta menggunakan sekitar 1.000 kosakata dan kanji dasar.
Target pengguna dari JFT adalah dirancang khusus untuk calon pekerja asing yang ingin bekerja di Jepang di sektor-sektor seperti perhotelan, perawat lansia, konstruksi, dan lain-lain. Ini diakui oleh pemerintah Jepang sebagai bukti kemampuan bahasa untuk visa kerja SSW.
Visa kerja SSW (Specified Skilled Worker) di Jepang adalah izin tinggal dan bekerja bagi warga negara asing yang memiliki keterampilan khusus di bidang-bidang industri tertentu yang mengalami kekurangan tenaga kerja di Jepang.

Atau SSW (Tokutei Ginou) adalah skema visa kerja yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang sejak April 2019. Tujuannya adalah untuk mengisi kekurangan tenaga kerja di sektor-sektor penting dengan mendatangkan pekerja asing yang memiliki keterampilan praktis dan kemampuan bahasa Jepang dasar.
Sementara itu, Kepala Disnakertrans Muba Herryandi Sinulingga menyambut baik sinergi dengan Fenkai Global Indonesia. “Pemkab Muba terus membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan SDM. Kami sangat mendukung pelatihan bahasa dan budaya Jepang ini. Ini peluang besar bagi generasi muda Muba untuk menembus dunia kerja global. Kami ingin anak-anak Muba mampu bersaing di panggung internasional”, katanya.
Menurut Sinulingga, keikutsertaan peserta asal Muba menjalani pelatihan di Fenkai Global Indonesia merupakan bukti bahwa putra putri Bumi Serasan Sekate sangat kompeten dan sangat mampu bersaing di dunia kerja internasional jika dilatih oleh orang orang yang tepat dan mereka yang mau bekerja keras untuk meraih mimpi besarnya.
Kepada generasi muda Musi Banyuasin Herryandi Sinulingga mengajak untuk mengikuti pelatihan Bahasa Jepang yang dianggarkan oleh Disnakertrans Muba bagi 80 generasi muda secara gratis akhir tahun 2025. “Pelatihan direncanakan selam dua bulan lebih sesuai SOP ditetapkan oleh penyelenggaran magang dan kerja di Jepang”, katanya.
Program Disnakertrans ini sejalan dengan visi dan misi Bupati HM Toha dan Wakil Bupati Kyai Rohman yaitu “Muba Maju Lebih Cepat” dengan menghadirkan SDM unggul, berkompeten, dan memiliki sertifikasi internasional yang membuka peluang kerja luas di luar negeri.
“Kami ingin anak-anak muda Muba tidak hanya siap bekerja, tetapi juga menjadi duta daerah yang membawa nama baik Muba di tingkat global. Mari sama-sama kita wujudkan”, ujarnya kepada kingdomsriwijaya.id/. (maspril aries)






