Buku “Sebuah Lakon – Bayangan Pucat Memudar” (FOTO: Maspril Aries)
KINGDOMSRIWIJAYA – Ada banyak buku sastra yang sudah ditulis dan diterbitkan, yang banyak adalah buku kumpulan puisi atau antologi puisi , buku kumpulan cerita pendek, novel dan esai. Dari yang banyak itu ada juga yang sedikit jumlah bukunya, buku naskah lakon atau naskah drama.
Di antara yang sedikit itu ada buku berjudul “Sebuah Lakon – Bayangan Pucat Memudar” adalah salah satunya. Buku yang ditulis Iswadi Pratama diterbitkan Lampung Literature pada November 2024. Bagi yang berminat dengan buku naskah lakon, buku ini sudah bisa dibeli secara online.
Memang tak banyak buku genre naskah lakon atau naskah drama bisa ditemui di rak toko buku. Buku seperti ini memiliki segmen pembaca tertentu khususnya mereka yang suka membaca karya sastra atau naskah lakon untuk pementasan di panggung teater. Buku seperti ini lebih mudah dicari di pasar online.
Sastrawan dan budayawan Lampung Udo Z Karzi atau Zulkarnain Zubairi menyebut buku naskah lakon karya Iswadi ini masuk kategori karya-karya langka. Karena memang tak banyak buku-buku naskah lakon atau naskah drama diterbitkan oleh penerbit. Mungkin alasannya pasar semata, yaitu sepinya pembeli buku bergenre yang satu ini.
Sebagai karya langka, Udo menulis di laman media sosial, “Saya merasa beruntung bisa membaca karya-karya langka – terlebih drama – semacam ini”, tulisnya seraya menulis, sempat membaca buku naskah drama semacam “Bentrokan dalam Asrama” karya Achdiat K Mihardja yang diterbitkan Balai Pustaka pertama kali tahun 195 dan buku naskah drama “Bunga Rumah Makan” yang ditulis Utuy T Sontani.

Bagi Iswadi Pratama buku “Sebuah Lakon – Bayangan Pucat Memudar” bukan buku pertama yang ditulis pria yang mengenyam kuliah di Ilmu Pemerintahan Fisip Universitas Lampung (Unila). Ia juga pernah menulis dan menerbitkan buku puisi dan kumpulan cerpen, serta menulis dua buku teater yaitu, “Teater Asyik, Asyik Teater” terbit tahun 2009 dan buku berjudul “Mensyarah Stanislavski” bersama Ari Pahala Hutabarat, Ahmad Jusmar dan Imas Sobariah (2013).
Pada halaman pembuka buku “Sebuah Lakon – Bayangan Pucat Memudar” Iswadi menulis kutipan pembuka yang mengajak pembaca menuntaskan bacaan buku setebal 126 halaman.
“Panggung sudah kosong, penonton sudah pulang. Sejumlah teman telah pergi. Tinggal tas lusuh penuh berisi pakaian dan seberkas lakon yang penuh catatan dan koyak di setiap tepi. Itulah saatnya rindu padamu menjadi prahara. Membongkar dan mengacaukan seluruh kenangan yang sudah kutata sebagai nostalgia.”
Lalu pembaca diajak untuk berada di depan panggung menyaksikan “Larut malam. Di dalam kamar. Jo baru saja melepaskan jas panjangnya. Ia tampak mabuk. Jo membuka pakaian panggungnya: sebuah wigs warna blonde, bra dan payudara palsu, dan meletakkan di meja. Lalu ia melepas celana komprangnya yang ia gunakan untuk menutupi pakaian dalam: rok mini berenda. Jo melepas rok itu sehingga kini ia hanya mengenakan lagging—seperti telanjang.”
Sebagai sebuah naskah lakon atau naskah drama, buku ini tersusun dari sembilan Babak. Mengisahkan tentang sekelompok orang yang hidup dan menghidupi panggung teater dengan segala persoalannya yang pelik. Di situ para tokoh mengalami situasi-situasi yang sangat dramatis mirip-mirip dengan naskah-naskah yang meraka mainkan.
Buku “Sebuah Lakon – Bayangan Pucat Memudar” disebut sebagai sebuah naskah lakon, apa sama dengan naskah drama atau berbeda? Mencari jawabanya, iseng-iseng bertanya pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence atau AI.

Jawabannya: Naskah lakon adalah teks tertulis yang memuat cerita, dialog, dan instruksi untuk pertunjukan teater, baik itu teater tradisional maupun modern. Naskah lakon biasanya ditulis dengan struktur yang lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan.
Naskah Drama adalah teks tertulis yang memuat cerita, dialog, dan instruksi untuk pertunjukan drama, dengan fokus pada konflik dan karakter. Naskah drama biasanya memiliki struktur yang lebih rigid dan mengikuti aturan-aturan dramaturgi.
Beda antara keduanya: Naskah lakon lebih fokus pada pertunjukan teater secara umum, sedangkan naskah drama fokus pada pengembangan konflik dan karakter. Struktur naskah lakon lebih fleksibel, sedangkan naskah drama memiliki struktur yang lebih rigid. Gaya bahasa naskah lakon dapat menggunakan bahasa yang lebih santai dan kontemporer, sedangkan naskah drama menggunakan bahasa yang lebih formal dan dramatis. Kemudian, pengembangan karakter, naskah drama lebih fokus pada pengembangan karakter dan konflik, sedangkan naskah lakon lebih fokus pada cerita dan plot.
Keduanya sama-sama teks tertulis yang memuat cerita, dialog, dan instruksi. Tujuang artistiknya sama-sama bertujuan untuk menghibur, mendidik, atau mengkritik masyarakat. Dalam pengunaan bahasa, keduanya menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan dan cerita. Naskah lakon dan naskah draa sama-sama dapat mempengaruhi emosi penonton atau pembaca.
Contoh naskah lakon adalah “Wayang Wong” (teater tradisional Jawa) dan “Komedi Stambul” (teater rakyat). Naskah drama contohnya “Hamlet” karya William Shakespeare dan “Drama Kita” karya Usmar Ismail.
Apakah jawaban AI ini benar atau salah silakan menilainya sendiri. Secara umum, naskah lakon dan naskah drama adalah dua bentuk tulisan yang penting dalam dunia teater, masing-masing dengan karakteristik dan kegunaan yang berbeda.
Meskipun memiliki perbedaan dalam fokus dan struktur, keduanya berkontribusi pada pementasan teater yang sukses. Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang keduanya, kita dapat menghargai seni teater dan dampaknya dalam menyampaikan cerita serta tema yang relevan bagi masyarakat.

Dengan demikian, naskah lakon dan naskah drama tidak hanya berfungsi sebagai panduan bagi para pelaku seni, tetapi juga sebagai sarana untuk mengeksplorasi dan merefleksikan kehidupan manusia, seperti kehadiran buku “Sebuah Lakon – Bayangan Pucat Memudar” yang memang layak dibaca.
Siapa Iswadi Pratama
Dalam komunitas seni dan sastra nama Iswadi Pratama sudah dikenal luas. Tidak semua pembaca atau penikmat karya pria kelahiran Tanjung Karang, 8 April 1971 bisa kenal sosoknya. Iswadi Pratama adalah pendiri dari Teater Satu yang ada di Bandarlampung. Kelompok teater ini berdiri tahun 1996 diprakarsai Iswadi bersama istrinya Imas Sobariah. Selama 28 tahun teater ini berdiri sejumlah prestasi pernah diraih. Di dalam negeri, dua tahun meraih predikat Teater Terbaik se-Indonesia versi Majalah Tempo pada 2009 dan 2013. Tampil pada sejumlah festival teater di seluruh Indonesia seperti Ubud Writers and Readers Festival dan Festival Salihara.
Juga mengikuti residensi di luar negeri serta pementasan di Malaysia, Jerman, Australia, dan Jepang. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Sanggar Teater Satu merupakan Rumah Budaya Nusantara tempat berproses kreatif dan tempat pertunjukan bagi siapapun yang ingin bekerja sama.
Dalam “Dekulturasi Budaya Yunani dalam Anthropodipus Adaptasi Oedipus di Colonus oleh Iswadi Pratama” (2024) Adhy Pratama Irianto, Jaeni, Sukmawati Saleh menulis, Iswadi Pratama, pendiri dan direktur artistik Teater Satu Lampung merupakan seniman yang memelajari dua disiplin ilmu seni sekaligus, sastra dan teater. Karya-karyanya sarat dengan kritik ideologis dan respon terhadap situasi politik dan lingkungan sekitarnya.

Ada yang mengatakan, naskah lakon yang disusun oleh Iswadi Pratama sangatlah puitis, memenuhi setiap adegan dengan keindahan bahasa yang mendalam. Kata-kata yang diucapkan oleh para aktor penuh dengan makna dan refleksi, mengajak penonton untuk merenung dan mengidentifikasi diri mereka sendiri dalam kisah yang diperankan. Dalam buku “Sebuah Lakon – Bayangan Pucat Memudar” naskah lakon yang puitis jarang dijumpai.
Di Teater Satu, Iswadi tidak hanya berperan sebagai sutradara, tetapi juga sebagai penulis naskah. Karya-karyanya sering kali mencerminkan realitas sosial dan budaya yang kompleks. Ia menggunakan bahasa yang sederhana namun puitis, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Iswadi Pratama adalah seniman yang menekuni dua bidang seni sekaligus, yaitu sastra dan teater serta pernah tercatat sebagai wartawan atau jurnalis surat kabar lokal yang terbit di Bandarlampung.
Dalam komunitas teater di Lampung, Iswadi Pratama adalah figur yang mampu mendekatkan kembali publik pada teater, juga teater pada publiknya. Salah satu penghargaan yang diberikan negara pada Iswadi pratama atas keberhasilan, kreativitas, dan inovasi yang dilakukannya adalah dengan menjadikan Iswadi Pratama sebagai “Maestro” di bidang seni pertunjukan sejak tahun 2018. Iswadi Pratama dan Teater Satu merupakan grup teater yang produktif dan memiliki reputasi baik di tingkat nasional dan internasional. (maspril aries)






