Home / Budaya / Mencari Wali Kota yang Suka Musik Jazz

Mencari Wali Kota yang Suka Musik Jazz

Musisi dan penyanyi yang akan tampil di Festival Jazz Suara Musi 2024.

KINGDOMSRIWIJAYA – Masa kampanye pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024 telah berakhir, kini memasuki masa tenang –dilarang kampanye – sampai hari pencoblosan tanggal 27 November 2024.

Di Palembang juga menyelenggarakan Pilkada yang akan memilih Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang akan memimpin ibu kota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tersebut untuk masa jabatan 2025 – 2029. Ada tiga pasang calon kepala daerah yang berkontestasi – pasangan Fitrianti Agustinda-Nandriani Oktarina, Ratu Dewa-Prima Salam, dan Yudha Pratomo-Baharudin. Siapa pemenangnya? Tunggu setelah 27 November 2024.

Selain Pilkada, pasca Pilkada tersebut Kota Palembang juga akan menggelar hajat sebuah festival musik. Tiga hari setelah hari pencoblosan di Palembang akan berlangsung “Festival Jazz Internasional Suara Musi 2024”. Ini merupakan even Festival Jazz Sungai yang akan berlangsung di tepian Sungai Musi dengan latar panggung jembatan Ampera yang membentang di atas sungai yang membelah kota Palembang.

Festival Jazz Internasional Suara Musi 2024 hadir menjadi bagian dari deretan festival jazz yang berlangsung pada beberapa daerah di Indonesia. Menurut Citra Aryandari dalam buku “Festivalisasi Jazz di Indonesia: Dari Panggung Menuju Peristiwa” (2018), fenomena festival “Jazz” di Indonesia yang masif dan tersebar luas, lebih dari 60 festival jazz diadakan setiap tahunnya.

Menurut I Gde Made Pandu Vijayantara Putra dan kawan-kawan dari ISI Denpasar dalam “Perencanaan Manajemen Seni Pertunjukan Ubud Village Jazz Festival” (2023), Indonesia memiliki banyak jazz festival kurang lebih ada sekitar 70 titik festival jazz di Indonesia, ada yang rutin setiap tahun melaksanakan ada juga yang timbul dan tenggelam. Di Indonesia sendiri Java Jazz merupakan festival Jazz terbesar di Indonesia acara ini digelar setiap tahunnya di Jakarta.


Dulu di Palembang pernah ada Musi Jazz Sriwijaya yang kemudian mati,

Festival Jazz Internasional Suara Musi 2024 terlahir dari gagasan Penjabat (Pj) Wali Kota Palembang Abdul Rauf Damenta. Bagi penyuka musik jazz, maka festival ini adalah obat terhadap kerinduaan pada genre musik yang menurut sejarahnya lahir di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

Mengapa disebut obat kerinduaan? Karena festival musik jazz terakhir kali ada di Palembang sekitar tujuh tahun lalu. Waktu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan dibawah kepemimpinan Gubernur Alex Noerdin sukses menyelenggarakan festival musik jazz yang diberi judul “Musi Jazz Sriwijaya” selama tiga tahun berturut-turut.

Penggagas sekaligus operator dari Musi Jazz Sriwijaya seorang perempuan bernama Irene Camelyn Sinaga yang saat itu menjabat Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumsel. Festival musik jazz tersebut pertama terselenggara pada tahun 2015, kemudian berlanjut tahun 2016 dan 2017. Penguasa daerah berganti, dan Irene pun terbang ke Jakarta, Musi Jazz Sriwijaya setelah itu mati.

Apakah setelah pementasan perdana pada 30 November 2024, Festival Jazz Internasional Suara Musi juga akan mati karena penguasa daerah tak suka musik jazz atau karena faktor lain? Padahal Wali Kota Abdul Rauf Damenta punya rencana festival musik jazz ini bisa diselenggarakan dua kali setiap tahunnya. Agar Festival Jazz Internasional Suara Musi tidak mati, maka melalui Pilkada 2024 saatnya mencari Wali Kota Palembang yang suka musik jazz.

Aneka Festival Jazz

Mengutip Citra Aryandari, festival musik jazz hadir sebagai fenomena budaya yang menunjukkan relasi antara musik Jazz sebagai budaya global dan produk budaya lokal yang terkait dengan identitas dan gaya hidup. Musik jazz di Indonesia tidak lepas dari kehadirannya pada masa penjajahan Belanda di awal abad ke-20.


Gitaris Balawan pernah tampil pada Musi Jazz Sriwijaya. (FOTO: Maspril Aries)

Pada masa itu artis musik dari Filipina juga berperan besar dalam memperkenalkan jazz di Indonesia. Mereka diundang atau datang secara sukarela ke Jakarta dan Bandung untuk bermain jazz di acara-acara atau tempat-tempat umum seperti hotel. Itu sebabnya musik “Jazz” di Indonesia membawa stigma musik borjuis.

Pada tahun 1980-an jazz muncul di beberapa program stasiun televisi dan radio yang menjadikan jazz sebagai genre musik yang lebih dikenal khalayak/publik. Saat ini jazz telah berbaur, dan mulai memasuki kehidupan desa, termasuk festival.

“Karena jazz dianggap ‘kelas tinggi’, melebihi mata pencaharian pedesaan, acara musik yang menampilkan diri mereka sebagai acara ‘jazz’ dianggap menarik dan seksi, memungkinkan terbentuknya pembedaan kelas, juga di pedesaan. Dalam konteks ini, Jazz dikomodifikasi melalui festival-festival untuk berbagai kepentingan, terutama pengembangan pariwisata”, tulis Citra Aryandari.

Dengan demikian, festivalisasi menembus batas-batas kelas sosial. Jazz adalah sarana ekspresi dan artikulasi identitas yang kuat, tidak hanya di panggung dan ruang yang dulu disediakan untuk penggemar jazz, tetapi di ruang baru di masyarakat.

Musik jazz kini telah menembus batas-batas kelas sosial. Sekarang festival jazz bukan hanya diselenggarakan di kota-kota besar saja, sekarang ada festival jazz berlangsung di desa bahkan sampai jauh ke kaki gunung dan ke tepi pantai. Yang terbaru adalah Ngayogjazz yang berlangsung pada 16 November 2024.

Festival Ngayogjazz 2024 dihelat di Dusun Kalimundu, Kalurahan Gadingharjo, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul. Ada ribuan orang datang, termasuk turis asing menyaksikan langsung gelaran yang digelar untuk kali ke-18 tahun ini.

Sejumlah musikus tampil pada empat panggung yang disediakan. Seperti Nationaal Jeugd Jazz Orkest (NJJO) feat. Paju Telu, Sketsa Bunyi KuaEtnika, Ten2Five, Discus, Farah Di dan Sedya Rahayu, serta ShimSham. Ada juga Josias Andriaan Quartet feat Ingga Adriaan, MLD Jazz Project x Suara Kayu, Lantun Orchestra, Jazz Traveler, Neo Trio, serta musikus dari Jogja, Frau.


Flyer Ngayogjazz 2024.

Di Yogyakarta selain Festival Ngayogjazz, juga ada festival jazz yang mengambil tempat pelataran terbuka, seperti Prambanan Jazz Festival sebuah festival musik tahunan di Pelataran Candi Prambanan. Festival ini memadukan musik jazz dengan unsur kebudayaan. Tahun 2024 Prambanan Jazz berlangsung pada 5-7 Juli 2024.

Selain Prambanan Jazz juga ada festival jazz bertempat di alam terbuka diantaranya, Jazz Atas Awan yang berlangsung di sekitar Kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng. Festival ini merupakan bagian dari Dieng Culture Festival.

Ada juga jazz gunung, pertama kali diselengggarakan tahun 2009 yang digagas Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto. Festival yang memiliki label “Jazz Gunung”. Ada Festival Jazz Gunung Ijen, Festival Jazz Gunung Slamet, Festival Jazz Bromo, dan Festival Jazz Burangrang.

Tetap ada aneka festival jazz yang sampai kini masih eksis, setiap tahun masih tampil di atas pentas di ruang tertutup atau di alam terbuka tempat penyelenggaraannya. Festival musik jazz yang sangat terkenal dan salah satu atraksi musi jazz yang terbesar di dunia adalah Java Jazz Festival yang berlangsung pada bulan Maret atau Mei setiap tahunnya. Tahun 2024, Java Jazz Festival berlangsung 24–26 Mei di JI Expo Kemayoran, Jakarta.

Diantara semua festival tersebut, festival musik jazz tertua di Indonesia adalah Jazz Goes to Campus (JGTC) yang diselenggarakan di lingkungan kampus Universitas Indonesia (UI). JGTC festival musik jazz yang sudah ada sejak tahun 1976 yang digagas oleh sekumpulan mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, salah satu motornya Candra Darusman yang kemudian membentuk grup musik jazz Karimata.

JGTC tahun 2024 akan berlangsung 17 November 2024 dan merupakan festival yang ke 47 yang terselenggara bekerjasama dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pada JGTC ini diantaranya menampilkan Chandra Darusman, Andien, Sal Priadi dan Fariz RM yang juga akan tampil pada Festival Jazz Suara Musi 2024.


Grup jazz grup asal Amerika Serikat, Anthony Stanco and Crucial Element tampil pada Musi Jazz Sriwijaya 2015. (FOTO: Maspril Aries)

JGTC dari kampus UI ini hadir mendobrak stigma tentang pertunjukan jazz yang pada tahun 1970-an dianggap sebagai musik kaum elite dan mahal. JGTC mampu menghadirkan musisi jazz dan penyanyi top Indonesia sampai bintang jazz kelas dunia, diantaranya musisi Braxton Cook dan penyanyi R&B Keith Martin.

Festival jazz seperti JGTC juga ada di kampus Universitas Gajah Mada (UGM) yang diselenggarakan dalam Economic Jazz XIX dengan menghadirkan musisi internasional Lee Ritenour dan penyanyi R&B Phill Pery tahun 2014 dan pernah menghadirkan grup musik jazz asal Jepang Casiopea.

Nilai Ekonomi

Harmoni musik jazz ternyata mampu menggairahkan ekonomi dan budaya desa, salah satunya dipertunjukan pada Ngayogjazz 2024, selain irama jazz yang memukau dengan berkualitas, juga membawa dampak positif bagi warga lokal. Festival ini bisa mengangkat perekonomian dan sekaligus memperkenalkan Dusun Kalimundu, Kalurahan Gadingharjo, Kapanewon Sanden ke dunia luar.

Selain nonton hiburan musik gratis, warga juga berpartisipasi dalam perputaran ekonomi lokal. Ada UMKM dan ada angkringan yang berjualan di arena Ngayogyajazz. DI arena festival ada berbagai stan yang disediakan untuk menampilkan beragam produk kerajinan dan kuliner potensi Dusun Kalimundu.

Diakui oleh Pemerintah Kabupaten Bantul bahwa Ngayogjazz 2024 menjadi lebih dari sekadar festival musik. Acara ini memperkuat hubungan antarwarga, memperkenalkan Desa Sanden kepada dunia, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Ini membuktikan selalu ada nilai ekonomi yang hadir dalam setiap penyelenggaraan festival musik. Apa lagi jika itu festival musik profit. Kajian perihal sisi ekonomi dalam sebuah festival musik menurut A Brandão & RF de Oliveira dalam “Internationalization Strategies in Music Festivals” (2019), telah berkembang pesat sejak tahun 2012. Artinya dimensi ekonomi-bisnis mengalami perkembangannya dalam ranah festival musik hingga saat ini.


Flyer Festiva Jazz Suara Musi 2024 berlangsung 30 November 2024.

Salah satu contohnya pada festival musik skala internasional, seperti Prambanan Jazz Festival (PJF) telah memberi dampak ekonomi bagi semua stakeholder dan bagi ekosistem. Menurut Jessica Christiani dalam “Perspektif Bisnis Dalam Prambanan Jazz Festival Yogyakarta” (2022), hal yang dengan eksplisit terlihat adalah meningkatnya angka pariwisata yang ketika ditelaah lebih dalam juga memberi manfaat bagi UMKM, masyarakat sekitar kawasan Candi Prambanan, serta bagi negara.

Bagi para kepala daerah atau siapa pun yang terpilih sebagai Wali Kota Palembang, perlu memperhatikan hasil penelitian J Knight, K Brennan dan kawan-kawan dalam “The Future of UK Music Festivals” (2021) bahwa eksistensi festival musik tak hanya berbicara tentang euforia perayaan, namun juga tentang benefit yang dihadirkan. Dampak terhadap sektor ekonomi, sosial, budaya daerah setempat tentu dirasakan langsung oleh individu maupun kelompok masyarakat.

Jadi kelak, Festival Jazz Internasional Suara Musi bisa diteruskan oleh Wali Kota Palembang yang baru, tidak bernasib seperti Musi Jazz Sriwijaya. Belajar untuk memahami bahwa festival musik memberi dampak yang sangat besar dalam dunia seni, kebudayaan, pariwisata dan ekonomi.

Festival musik seperti festival jazz yang jumlahnya lebih dari 70 festival di seluruh Indonesia, menjadi bukti bahwa festival musik adalah paket lengkap yang memiliki daya (kekuatan) dalam berbagai sisi. Untuk mencapai itu, mari mengenal musik jazz lebih akrab.

Mengutip I Gde Made Pandu Vijayantara Putra, musik jazz telah menyebar ke seluruh dunia, budaya tradisi setempat mulai bersinggugan dengan musik jazz sehingga terkenal dengan imporvisasinya. Musik jazz banyak menggunakan alat musik seperti gitar, trombon, piano, trompet, dan saksofon. Elemen penting dalam jazz adalah elemen penting seperti blue notes, improvisasi, polyrhythms, syncopation, dan shuffle note.

“Dalam perkembangannya, jazz sering dikenal dengan musik yang memusingkan dan sulit dimengerti karena sentuhan-sentuhan bahasa musik lokal yang terimprovisasi di dalam musik jazz tersebut. Namun seiring dengan perkembangan zaman, musik jazz mulai berinteraksi dengan genre lainnya sehingga mudah diterima semua kalangan. Seperti di Indonesia saat ini, jazz dapat berkolaborasi dengan genre keroncong dan dangdut serta musik tradisional”, tulis I Gde Made Pandu Vijayantara Putra.

Selamat menikmati Festival Jazz Internasional Suara Musi pada 30 November 2024. (maspril aries)

Tagged: