Home / News / PTBA Membantu Memberantas Stunting, Salurkan 1.250 Box Susu di Lawang Kidul

PTBA Membantu Memberantas Stunting, Salurkan 1.250 Box Susu di Lawang Kidul

Penyerahan bantuan susu oleh Community Engagement Section Head PTBA, Junardi, kepada pimpinan UPT Puskesmas Tanjung Enim. (FOTO: Humas PTBA)

KINGDOMSRIWIJAYA, Tanjung Enim – Lawang Kidul atau Kecamatan Lawang Kidul di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) adalah salah satu kawasan yang terdekat dengan area pertambangan batu bara PT Bukit Asam (PTBA) Tbk yang kerap disebut sebagai “Kawasan Ring 1”.

DI sini, di sebuah desa di Kecamatan Lawang Kidul, seorang anak berusia dua tahun terlihat lebih kecil dari usianya, tubuhnya yang kurus. Ia aktif bermain, tapi langkahnya pendek, pucat, dan mudah lelah. Di balik kelucuannya itu, tersimpan masalah serius yang dialami jutaan anak Indonesia, masalah itu bernama “stunting”.

Kini, harapan baru hadir untuk anak-anak seperti dia. PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, menyalurkan bantuan sebanyak 1.250 box (kotak) susu untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi 26 anak stunting di wilayah tersebut. Bantuan itu diserahkan oleh Community Engagement Section Head PTBA, Junardi, kepada UPT Puskesmas Tanjung Enim untuk selanjutnya didistribusikan kepada anak-anak penerima manfaat.

Pemberian bantuan ini bukan sekadar pemberian simbolis, program ini dirancang sebagai intervensi gizi jangka menengah, namun cukup panjang untuk menunjukkan perubahan pada proses tumbuh kembang anak.

Konteks penting dari kehadiran dan bantuan PTBA di Lawang Kidul adalah, penanganan stunting membutuhkan kolaborasi multi-pihak, dari pemerintah daerah, fasilitas kesehatan seperti Puskesmas Tanjung Enim, dunia usaha, dan masyarakat. Ketika jaring pengaman sosial dan fasilitas publik belum sepenuhnya menjangkau, kontribusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menjadi pengisi celah yang berarti.

Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno mengatakan, “Program ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional. PTBA tidak hanya berfokus pada pencapaian kinerja bisnis, tetapi juga berkomitmen untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui program bantuan susu ini, kami berharap dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak sekaligus berkontribusi dalam upaya percepatan penanganan stunting, khususnya di wilayah Lawang Kidul”, ujarnya.


Penyerahan bantuan susu oleh Community Engagement Section Head PTBA, Junardi, kepada pimpinan UPT Puskesmas Tanjung Enim. (FOTO: Humas PTBA)

Menurut Eko, peningkatan kualitas kesehatan anak adalah investasi penting bagi masa depan bangsa. Pencegahan dan penanganan stunting tidak bisa bergantung pada satu pihak saja, butuh kerja sama pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat agar berjalan berkelanjutan.

“Harapan kami, bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi anak-anak penerima dan mendukung terciptanya generasi yang lebih sehat, cerdas, serta berkualitas. PTBA akan terus berupaya menjalankan program TJSL yang memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi masyarakat”, katanya, Jumat (30/10).

Penyerahan bantuan susu di Lawang Kidul adalah langkah awal yang baik. Namun seperti diketahui bersama, intervensi gizi tunggal tidak cukup. Keberhasilan menurunkan prevalensi stunting sangat bergantung pada determinan non-gizi: sanitasi dan air bersih, pola pengasuhan, pendidikan ibu, hingga ketahanan pangan keluarga.

Justru di sinilah nilai kolaborasi menjadi nyata. Jika bantuan PTBA dilanjutkan dengan pendampingan tenaga gizi Puskesmas, edukasi orang tua, serta penguatan posyandu desa, 26 anak di Lawang Kidul itu memiliki peluang nyata untuk tumbuh optimal.

Sebab pada akhirnya, memerangi stunting bukan sekadar soal menyelamatkan 26 anak di satu kecamatan. Ini soal menjamin bahwa generasi mendatang Indonesia, para calon insinyur, dokter, guru, dan pemimpin, tumbuh dengan tubuh sehat dan otak yang berkembang penuh. Susu dalam 1.250 box itu, jika dikelola dengan baik, adalah investasi kecil untuk masa depan yang jauh lebih besar.

Apa Itu Stunting?

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, masa sejak konsepsi hingga anak berusia dua tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan stunting sebagai tinggi badan anak yang berada di bawah minus dua standar deviasi (-2 SD) dari standar pertumbuhan WHO untuk usianya.


Penyerahan bantuan susu oleh Community Engagement Section Head PTBA, Junardi, kepada pimpinan UPT Puskesmas Tanjung Enim. (FOTO: Humas PTBA)

Dampaknya jauh lebih dalam daripada sekadar tubuh pendek. Anak stunting berisiko mengalami hambatan perkembangan otak dan kognitif, daya tahan tubuh yang lemah hingga rentan terhadap infeksi, serta kemampuan belajar yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Di kemudian hari, mereka cenderung berprestasi lebih rendah di sekolah dan berpenghasilan lebih rendah sebagai orang dewasa. WHO bahkan menyebut stunting sebagai “biaya kesehatan masyarakat terbesar di dunia” karena efeknya lintas generasi.

Di Indonesia sendiri, masalah ini masih jauh dari selesai. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2024 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia mencapai 19,8 persen, atau setara sekitar 4,5 juta anak. Persis seperti dikatakan UNICEF, sekitar 6 juta anak Indonesia mengalami stunting, angka yang berpotensi menghambat lompatan ekonomi dan kemajuan sosial bangsa.

Menyadari urgensi tersebut, pemerintah Indonesia sejak lama menempatkan stunting sebagai agenda nasional prioritas. Tahun 2013, Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Anemia dan Malnutrisi pada Ibu Hamil dan Anak Balita. Kemudian diperkuat dengan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, yang mengatur peran lintas kementerian, termasuk intervensi gizi spesifik dan sensitif di tingkat kabupaten/kota.

Pemerintah juga menargetkan penurunan stunting hingga di bawah 14 persen sesuai target RPJMN 2020–2024, dan terus diperbarui dalam RPJMN berikutnya. Intervensi dilakukan melalui program seperti pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil, pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi ASI eksklusif, peninggian dapur sehat, serta penguatan posyandu dan desa siaga stunting.

Di tingkat internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut mendorong agenda global melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Target 2.2 dari Tujuan Kedua (Tanpa Kelaparan) secara eksplisit menyatakan: menghilangkan segala bentuk malnutrisi pada 2030, termasuk mencapai target internasional pada stunting dan wasting pada anak di bawah lima tahun pada 2025. UNICEF, WHO, dan Bank Dunia menjadi mitra utama pemerintah Indonesia dalam program percepatan penurunan stunting, mulai dari penguatan data, dukungan anggaran, hingga edukasi gizi keluarga. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI 

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *