Home / Literasi / Menulis “Feature News” dengan “Storytelling” Jurnalistik untuk Wartawan

Menulis “Feature News” dengan “Storytelling” Jurnalistik untuk Wartawan

PWI Musi Rawas Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik Menulis Feature dan storytelling. (FOTO: Dok. PWI Musi Rawas)

KINGDOMSRIWIJAYA – Setiap hari, ribuan informasi berseliweran di layar ponsel kita, ada yang fakta, banyak yang hoaks. Judul berita muncul silih berganti, dibaca sekilas, lalu terlupakan begitu saja. Di tengah banjir informasi seperti ini, ada satu jenis tulisan jurnalistik yang justru bertahan lebih lama di ingatan pembaca, di lingkungan komunitas jurnalis (wartawan) disebut “feature news” ada juga yang menyebutnya “ficer” atau disebut juga “karangan khas” (karkhas)

Feature news bukan sekadar berita biasa yang mengejar kecepatan. Ia adalah karya jurnalistik yang menonjolkan sisi human interest, kedalaman cerita, dan daya tarik naratif. Berbeda dengan berita langsung (straight news) yang menggunakan struktur piramida terbalik, feature memberi ruang bagi jurnalis/ penulis untuk menggali konteks, melukiskan suasana, menghidupkan tokoh, dan menyampaikan makna di balik sebuah peristiwa.

Kunci dari kekuatan feature terletak pada storytelling jurnalistik, yaitu teknik menyusun fakta-fakta hasil peliputan menjadi sebuah narasi yang memiliki alur, tokoh, konflik, dan pesan, tanpa mengubah kebenaran. Storytelling bukan sekadar hiasan gaya bahasa, melainkan cara berpikir dalam menyusun informasi sehingga pembaca tidak hanya mengetahui fakta, tetapi juga merasakan dan memahami maknanya secara utuh.

Mari mengenal apa Feature News? Feature news adalah karya/ tulisan jurnalistik yang lebih menekankan pada aspek cerita, detail, dan human interest dibandingkan sekadar penyampaian fakta. Kata “feature” sendiri berasal dari bahasa Inggris yang berarti “ciri khas” atau “keistimewaan”.

Feature berfungsi menjawab pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa” yang sering kali tidak sempat terjawab dalam berita biasa. Ia menghadirkan pembaca lebih dekat pada pengalaman manusia melalui cerita yang dibangun berdasarkan fakta yang telah diverifikasi.

Feature adalah karya nonfiksi, seluruh tokoh, dialog, peristiwa, dan detail yang disajikan haruslah nyata, bukan hasil karangan. Yang membedakannya dari berita langsung (straight news) atauberita keras adalah cara penyajian, bukan tingkat kebenaran faktanya. Perbedaan mendasar antara feature dan straight news terletak pada cara penyampaian dan daya tahannya terhadap waktu. 

Straight news lebih kepada waktu yang lebih singkat, lugas, dan apa adanya—bahkan gampang sekali kadaluwarsa. Sementara feature tidak langsung to the point, tidak mudah kadaluwarsa, dan akan selalu memiliki konteks jika ditulis secara menarik.

Feature juga berbeda dari karya fiksi seperti cerpen. Feature ditulis berdasarkan fakta, sedangkan cerpen boleh ditulis berdasarkan fiksi atau data karangan. Namun, feature mengadopsi teknik-teknik penceritaan dari sastra—seperti dialog, deskripsi, dan pengembangan karakter—untuk menyajikan fakta dengan cara yang lebih hidup.

Menurut William E. Blundell (1988) dalam The Art and Craft of Feature Writing, feature adalah karya jurnalistik yang bertujuan menghubungkan pembaca dengan pengalaman manusia melalui cerita yang dibangun berdasarkan fakta.

AS Haris Sumadiria (2016) dalam Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature menjelaskan bahwa feature adalah tulisan jurnalistik kreatif yang menggabungkan ketepatan fakta dengan keindahan penyajian. Feature tidak mengurangi prinsip objektivitas, tetapi memberikan ruang lebih luas bagi penulis untuk menggunakan teknik deskripsi, narasi, dialog, dan penggambaran suasana agar informasi menjadi lebih mudah dipahami dan dinikmati pembaca.


Karakteristik Utama Feature News.

Ada beberapa ciri yang secara konsisten dijumpai dalam berbagai literatur jurnalistik mengenai feature dan menjadi karakteristik utama. Pertama, tidak terikat pada struktur piramida terbalik. Feature memiliki keleluasaan menyusun informasi secara bertahap, bukan langsung menempatkan fakta terpenting di paragraf pertama.

Kedua, mengutamakan narasi, deskripsi, dan kutipan. Feature dibangun melalui adegan-adegan yang hidup, bukan sekadar rangkaian data. Ketiga, memiliki daya tahan waktu yang lebih panjang dibandingkan straight news. Sebuah feature bisa tetap dibaca dan relevan meski ditulis beberapa minggu atau bulan setelah peristiwa terjadi.

Keempat, menyajikan fakta dengan sentuhan literer, memanfaatkan pilihan kata, metafora yang proporsional, dan variasi kalimat untuk menciptakan pengalaman membaca yang hidup, tanpa mengorbankan akurasi. Kelima, mengutamakan human interest, yaitu menempatkan pengalaman manusia sebagai pusat cerita sehingga isu yang tampak abstrak menjadi lebih mudah dipahami dan dirasakan oleh pembaca.

Feature news merupakan salah satu bentuk karya jurnalistik yang memadukan akurasi fakta dengan kekuatan narasi. Keberadaannya menjadi semakin penting di era digital ketika publik tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat, tetapi juga konteks, makna, dan pengalaman yang membantu memahami realitas secara lebih utuh. Berlandaskan prinsip-prinsip jurnalistik seperti verifikasi, independensi, dan akurasi, feature memungkinkan jurnalis menghadirkan cerita yang informatif sekaligus menyentuh sisi kemanusiaan pembaca.

Sebelum sampai pada pembahasan apa storytelling jurnalistik, seorang wartawan/ jurnalis harus terlebih dahulu paham dan mengerti mengenai konsep dasar feature karena ini menjadi fondasi sebelum mempelajari teknik storytelling, struktur narasi, dan strategi penulisan feature dengan storytelling jurnalistik.

Storytelling Jurnalistik

Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang memahami dunia melalui cerita. Sejak zaman prasejarah, pengetahuan, nilai, tradisi, dan pengalaman hidup diwariskan melalui narasi. Cerita membantu manusia mengingat informasi, memahami hubungan sebab-akibat, serta membangun keterikatan emosional terhadap suatu peristiwa. Dalam konteks komunikasi modern, prinsip ini tetap berlaku. Informasi yang disampaikan dalam bentuk cerita cenderung lebih mudah dipahami, diingat, dan memengaruhi cara seseorang memaknai realitas dibandingkan informasi yang disajikan hanya dalam bentuk data atau fakta yang terpisah-pisah.

Dalam dunia jurnalistik, konsep tersebut melahirkan pendekatan storytelling jurnalistik, yaitu teknik menyampaikan fakta melalui struktur naratif yang menarik tanpa mengurangi akurasi, objektivitas, dan integritas jurnalistik. Storytelling bukan berarti mengubah fakta menjadi cerita fiksi, melainkan menyusun fakta hasil peliputan ke dalam alur yang logis, hidup, dan bermakna sehingga pembaca dapat memahami peristiwa secara lebih mendalam.

Menurut Jack Hart (2011) dalam Storycraft: The Complete Guide to Writing Narrative Nonfiction, storytelling jurnalistik adalah proses mengorganisasi fakta-fakta hasil peliputan menjadi narasi yang memiliki alur, karakter, konflik, serta penyelesaian sehingga pembaca merasa mengikuti perjalanan sebuah kisah nyata. Hart menegaskan bahwa teknik naratif tidak boleh menggantikan fakta, tetapi justru menjadi sarana untuk memperjelas dan memperkuat penyampaian fakta.


Mark Kramer & Wendy Callb(2007) dalam Telling True Stories menyatakan bahwa jurnalisme naratif merupakan bentuk pelaporan yang tetap berlandaskan disiplin verifikasi, tetapi memanfaatkan teknik-teknik sastra seperti pembangunan adegan, dialog autentik, detail observasi, dan pengembangan karakter agar realitas sosial lebih mudah dipahami oleh pembaca.

Dengan demikian, storytelling jurnalistik dapat dipahami sebagai perpaduan antara disiplin pelaporan fakta dan seni bertutur. Jurnalis tidak menciptakan cerita, melainkan menemukan cerita yang memang telah ada di balik fakta-fakta lapangan.

Dalam konteks jurnalistik, pembaca tidak hanya ingin tahu apa yang terjadi, tetapi juga ingin merasakan makna dari peristiwa tersebut. Storytelling dalam jurnalisme bukan sekadar bercerita demi hiburan, melainkan menyusun fakta dalam bentuk narasi yang bermakna.

Storytelling memberikan beberapa manfaat penting dalam penulisan feature.

Pertama, meningkatkan keterlibatan pembaca (reader engagement). Cerita yang dibangun melalui adegan, tokoh, dan konflik mampu membuat pembaca bertahan hingga akhir tulisan. Kedua, membangun empati. Pembaca tidak hanya mengetahui fakta, tetapi juga merasakan pengalaman orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Ketiga, mempermudah pemahaman informasi yang kompleks. Isu-isu seperti perubahan iklim, kemiskinan, kesehatan, atau kebijakan publik sering kali lebih mudah dipahami apabila dijelaskan melalui pengalaman nyata seseorang.

Keempat, meningkatkan daya ingat pembaca. Penelitian dalam psikologi komunikasi menunjukkan bahwa manusia lebih mudah mengingat cerita daripada sekadar angka atau data statistik. Dan kelima, memberikan makna terhadap fakta. Storytelling membantu pembaca melihat hubungan antara berbagai fakta sehingga mereka memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai suatu isu.

Prinsip Dasar Storytelling Jurnalistik

Meskipun menggunakan teknik bercerita, storytelling jurnalistik tetap tunduk pada prinsip-prinsip dasar profesi jurnalistik. Pertama, Berbasis Fakta Sepenuhnya. Artinya, seluruh peristiwa, dialog, kutipan dan detail yang disajikan harus benar-benar terjadi dan diperoleh melalui observasi maupun wawancara. Jurnalis tidak diperkenankan menambahkan dialog yang tidak pernah diucapkan atau menciptakan konflik yang sebenarnya tidak ada. Kedua,  Berpusat pada Manusia (Human-Centered). Sebuah isu sebesar apa pun akan lebih mudah dipahami apabila dijelaskan melalui pengalaman individu yang konkret. Daripada menulis “lima belas ribu hektare sawah mengalami kekeringan”  feature dapat dimulai dari kisah seorang petani yang kehilangan seluruh hasil panennya.

Ketiga, Memiliki Fokus Cerita yang Jelas. Storytelling bukan berarti menceritakan seluruh hal yang ditemukan selama peliputan, melainkan menentukan satu benang merah utama yang menjadi arah seluruh tulisan. Keempat, Memiliki Struktur yang Jelas. Ada bagian awal, tengah, dan akhir, meski tidak selalu tersusun secara kronologis. Penulis dapat memulai dari adegan paling dramatis, kemudian bergerak maju atau mundur sesuai kebutuhan narasi.

Anatomi Struktur Penulisan Feature

Feature memerlukan kerangka yang jelas agar alur cerita mudah diikuti pembaca. Struktur dasar feature terdiri dari empat hingga lima bagian utama.

1. Judul (Head) – Judul feature harus menarik perhatian sekaligus mencerminkan nada atau suasana cerita, tanpa harus membocorkan seluruh isi tulisan. Judul yang baik biasanya singkat, memuat unsur suasana atau sudut pandang cerita, dan menghindari kata-kata klise.


2. Lead – Gerbang Menuju Cerita. Lead adalah elemen paling menentukan nasib sebuah feature. Di sinilah pembaca memutuskan apakah akan melanjutkan membaca atau berhenti. Lead harus mampu menjadi “grabber” (paragraf pembuka) yang menarik pembaca masuk ke dalam cerita.

Dalam dunia jurnalistik ada dikenal beragam Jenis-jenis lead yang lazim digunakan. Ada Lead anekdotal – Membuka cerita dengan sepenggal kisah kecil atau momen spesifik yang merepresentasikan tema besar. Lead deskriptif – Melukiskan sebuah adegan atau suasana dengan detail sensorik yang kuat. Lead kutipan – Dimulai dengan pernyataan kuat dari salah satu tokoh dalam cerita. Lead pertanyaan – Mengajukan pertanyaan yang menggugah rasa ingin tahu pembaca. Lead kontras – Menghadirkan dua kondisi yang saling bertolak belakang. Lead statistik yang dihidupkan – Menggunakan data atau angka, tetapi dikemas dengan cara yang tidak kering.

3. Bridge atau Nut Graf: Jembatan Menuju Inti Cerita – Setelah lead, feature dilanjutkan dengan bridge (nut graf). Bagian ini berfungsi menjelaskan opening anecdote dan menempatkannya dalam konteks yang lebih luas. Nut graf menjadi penghubung yang memungkinkan pembaca berpindah dari lead yang emosional menuju body yang lebih informatif.

4. BodyBody adalah bagian terpanjang dalam feature, tempat jurnalis mengembangkan cerita secara utuh. Setiap paragraf dan kalimat harus efisien, tanpa ada ruang bagi kata-kata yang sia-sia. Informasi disajikan secara logis dan koheren sehingga pembaca dapat mengikuti alur dengan mudah.

5. Ending atau Kicker – Penutup feature memiliki tanggung jawab sama besarnya dengan pembuka. Kicker harus memiliki semacam “punch line” (kalimat kunci) yang membantu pembaca mengingat keseluruhan cerita. Metode yang paling disukai adalah membiarkan salah satu tokoh memberikan kutipan kuat yang merangkum makna cerita, atau menggunakan teknik “circle kicker” yang kembali ke adegan di lead dengan pemahaman lebih dalam.

Elemen-Elemen Storytelling dalam Feature

Dalam sebuah karya feature news yang baik memiliki lima unsur utama berikut. Pertama,  Tokoh (Character). Tokoh adalah pusat cerita, jembatan yang menghubungkan fakta abstrak dengan pengalaman konkret pembaca. Tokoh yang baik memiliki tujuan, tantangan, konflik, dan mengalami perubahan sepanjang cerita berlangsung. Tokoh tidak harus seorang yang terkenal; seorang petani, nelayan, guru, atau pedagang kecil dapat menjadi tokoh utama yang kuat.

Kedua, Latar atau Setting. Latar mencakup tempat, waktu, kondisi sosial, budaya, dan suasana yang memperkuat konteks cerita. Deskripsi latar yang baik membantu pembaca membayangkan lokasi kejadian secara hidup, seolah-olah ikut hadir di sana. Ketiga, Konflik. Konflik adalah mesin penggerak cerita. Tanpa konflik, sebuah narasi akan terasa datar dan kehilangan daya tarik. Konflik tidak selalu berupa pertentangan fisik, tetapi bisa berupa perjuangan hidup, perubahan sosial, tekanan ekonomi, atau dilema moral.

Keempat, Plot atau Alur. Plot adalah susunan peristiwa yang membentuk cerita, meski tetap berbasis fakta. Alur ini menuntun pembaca dari satu adegan ke adegan berikutnya secara logis, membangun rasa ingin tahu sekaligus mempertahankan momentum cerita. Kelima, Resolusi dan Pesan. Setiap cerita yang baik memerlukan penyelesaian. Resolusi memberi penutup yang memuaskan, sekaligus menghadirkan pesan atau makna yang ingin disampaikan.


Selain lima elemen di atas yang pada storytelling dalam feature, juga perlu diperhatilan elemen teknis mencakup dialog dan detail. Dialog adalah salah satu teknik sastra paling kuat dalam feature. Dialog mampu memperlihatkan sikap dan karakter tokoh tanpa penjelasan panjang lebar. Namun, seluruh kalimat yang dikutip harus benar-benar diucapkan oleh narasumber, bukan hasil rekaan penulis.

Detail dan deskripsi sensorik adalah “bahan bakar cerita”. Detail dapat berupa warna, suara, aroma, tekstur, ekspresi wajah, hingga benda-benda kecil yang menyimpan makna. Prinsip fundamental dalam teknik ini adalah “show, don’t tell” – perlihatkan, jangan sekadar katakan.

Alih-alih menulis “dia sangat sedih”, tulislah “air mata mengalir di pipinya saat ia menatap foto putranya”. Teknik ini menuntut penulis mengandalkan detail konkret dan adegan nyata, bukan generalisasi dan abstraksi.

Strategi Penulisan Feature yang Efektif

Menulis feature yang kuat tidak pernah lahir semata-mata dari imajinasi. Ia lahir dari proses yang disiplin. Pertama, Menemukan Ide dan Menentukan Angle. Ide feature dapat muncul dari mana saja, peristiwa sehari-hari, obrolan dengan tetangga, data statistik, maupun tren sosial. Namun tidak semua ide layak diangkat menjadi feature. Penulis perlu menilai apakah sebuah ide memiliki unsur human interest yang kuat, relevansi dengan pembaca, unsur kebaruan, dan potensi konflik.

Setelah menemukan ide, langkah berikutnya adalah menentukan angle atau sudut pandang – cara unik untuk melihat sebuah cerita. Satu peristiwa yang sama dapat menghasilkan berbagai angle berbeda.

Kedua, Melakukan Riset Mendalam. Riset merupakan fondasi utama sebelum menulis feature. Riset dapat dilakukan dengan membaca artikel-artikel terdahulu, mempelajari laporan penelitian, mengakses data statistik resmi, hingga mengidentifikasi tokoh-tokoh yang relevan untuk diwawancarai.

Ketiga, Observasi Lapangan. Salah satu ciri khas feature adalah kekuatan deskripsinya, dan deskripsi yang baik hanya dapat diperoleh melalui observasi langsung. Penulis perlu menghabiskan waktu di lokasi peristiwa untuk mengamati kondisi fisik tempat, ekspresi wajah narasumber, bahasa tubuh, suara di sekitar lingkungan, hingga benda-benda kecil yang menyimpan makna.

Keempat, Wawancara Mendalam. Wawancara untuk feature berbeda dari wawancara untuk berita langsung. Pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti “apa yang Anda rasakan saat itu” atau “bagaimana kehidupan Anda berubah” cenderung menghasilkan jawaban yang jauh lebih kaya. Teknik mendengarkan secara aktif juga penting: memberi ruang bagi keheningan dan memperhatikan bahasa tubuh.

Kelima, Mengumpulkan Data Pendukung. Cerita personal yang kuat perlu diperkuat dengan data yang kredibel. Data berfungsi memperluas konteks, sehingga pengalaman individu dapat dipahami sebagai bagian dari persoalan yang lebih besar. Keenam. Menyusun Peta Cerita. Setelah seluruh bahan peliputan terkumpul, penulis perlu mengorganisasi bahan tersebut menjadi peta cerita, mencakup tema utama, angle, tokoh utama, konflik, data pendukung, adegan-adegan penting, hingga rencana klimaks dan penutup.


Ketujuh, Menjaga Keseimbangan antara Narasi dan Fakta. Feature yang hanya berisi cerita personal tanpa data pendukung akan kehilangan bobot jurnalistiknya. Sebaliknya, feature yang terlalu dipenuhi data akan terasa kering. Data sebaiknya disisipkan secara strategis pada saat pembaca membutuhkan konteks.

Kedelapan, Proses Revisi Berlapis. Draf pertama sebuah feature hampir tidak pernah langsung siap diterbitkan. Proses penyuntingan biasanya dilakukan dalam beberapa tahap, memeriksa struktur dan alur cerita, memastikan akurasi setiap fakta, menyempurnakan pilihan kata dan ritme kalimat, hingga mengevaluasi kekuatan pembuka dan penutup.

Etika dan Kesalahan Umum.

Kebebasan gaya bahasa dalam feature sering kali disalahpahami sebagai kebebasan untuk mengarang atau mendramatisasi fakta. Padahal, seluruh kreativitas tetap harus tunduk pada disiplin verifikasi jurnalistik. Ada prinsip etika yang wajib dijaga, mencakup akurasi seperti nama, tanggal, lokasi, dan angka harus benar-benar diverifikasi. Kemudian menghormati privasi dan martabat narasumber – terutama ketika feature mengangkat kisah yang melibatkan kerentanan atau trauma.

Prinsip etika lainnya adalah objektivitas – opini pribadi penulis tidak boleh mendominasi fakta yang disampaikan. Dan transparansi – jika menggunakan metodologi tertentu, jelaskan kepada pembaca.

Selain etika, ada beberapa kesalahan yang paling sering dilakukan jurnalis atau wartawan pemula, meliputi tulisan/ artikel tidak memiliki angle yang jelas. Opening atau pilihan lead yang datar dan kurang menarik. Terjebak atau lebih banyak dominasi penjelasan dibandingkan penceritaan (terlalu banyak “telling”). Menulis dengan deskripsi yang berlebihan, banyak kutipan yang tidak bermakna. Data yang tidak valid dan tidak menyatu dengan cerita, kemudian terjebak pada penggunaan bahasa yang terlalu puitis, mengorbankan fakta demi dramatisasi. Ending tulisan yang lemah, serta mengabaikan proses penyuntingan

Artikel menulis feature news dengan storytelling yang panjang ini, Anda harus menanamkan pemahaman bahwa kekuatan sejati sebuah feature tidak terletak semata-mata pada kepiawaian teknis penulisnya, melainkan pada kemampuannya menjembatani jarak antara data yang dingin dengan pengalaman manusia yang hangat dan nyata.

Feature news dengan storytelling jurnalistik adalah seni menyajikan fakta dalam bentuk narasi yang hidup, menggabungkan kekuatan informasi dengan daya tarik cerita. Pembaca tidak hanya mengetahui sebuah peristiwa, tetapi juga memahami dan merasakan maknanya.

Nah ini yang penting “Menguasai teknik penulisan feature membutuhkan latihan yang konsisten”, berlatih mengamati lingkungan sekitar dengan seluruh pancaindra, berlatih menulis berbagai jenis lead, berlatih menerapkan prinsip “show, don’t tell”, serta terbuka menerima kritik dan masukan.

Di tengah dunia yang semakin kompleks dan dibanjiri informasi instan, cerita yang ditulis dengan jujur dan mendalam tetap dibutuhkan untuk mengingatkan pembaca bahwa di balik setiap angka, kebijakan, atau peristiwa besar, selalu ada kisah manusia yang layak untuk didengar.  (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *