Home / Literasi / Wartawan dan Perpustakaan Pribadi, Rak Buku Menyimpan Amunisi dan Menyusun Dunia

Wartawan dan Perpustakaan Pribadi, Rak Buku Menyimpan Amunisi dan Menyusun Dunia

Perpustaakaan pribadi wartawan senior Syahdanur di rumahnya di Jakarta. (FOTO: FB @syahdanur).

KINGDOMSRIWIJAYA – Rabu pagi, 8 Juli 2026, seorang wartawan senior Syahdanur mengirim pesan melalui WhatsApp, pesannya adalah sebuah foto ruangan yang dikeliling rak buku dan ada meja kerja. “Perpustakaan pribadi kecilan” tertulis di bawah foto.

Saya pun merespon pesan itu, “Masuk ke beberapa rumah wartawan, tidak ditemukan perpustakaan kecil seperti ini Bang”. “Bang Syahdanur” demikian saya memanggilnya adalah seorang wartawan senior yang pernah bergabung dengan salah satu surat kabar terbesar di Indonesia, Harian Merdeka – surat kabar yang pertama kali terbit dua bulan setengah setelah Indonesia merdeka, tepatnya 1 Oktober 1945 –, menjawab pesan saya. “Sebagai profesi wartawan, kita memang tidak bisa lepas dari buku sebagai referensi dan pengetahuan. Logika sederhana saja, sebelum kita menulis sesuatu, wartawan harus tahu apa yang akan ditulisnya dengan benar”.

Saya terdiam di dalam hati bertanya pada diri sendiri, “Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), masih perlu kah wartawan atau jurnalis membaca buku atau punya perpustakaan buku?” Pertanyaan ini coba saya tanyakan ke AI, dan AI memberikan jawabannya.

Berikut jawabannya. “Di era kecerdasan buatan (AI), peran perpustakaan dan kebiasaan membaca buku justru semakin krusial bagi wartawan. Meskipun AI dapat merangkum dan menganalisis data dalam hitungan detik, buku menyediakan fondasi kredibilitas, kedalaman analisis, dan etika yang tidak dapat ditiru oleh mesin”.

AI memberikan alasan mengapa buku dan perpustakaan tetap wajib dimiliki oleh wartawan/ jurnalis modern. Pertama, untuk pengecekan fakta dan konteks mendalam. AI itu rentan terhadap fenomena halusinasi atau memberikan informasi yang salah. Buku yang terpercaya memberikan konteks sejarah, budaya, dan sosial yang akurat untuk menghasilkan liputan mendalam.

Kedua, untuk menghindari bias algoritma. AI cenderung menyajikan informasi berdasarkan pola yang sering muncul di internet. Membaca buku dari berbagai sudut pandang membantu wartawan menemukan ide orisinal dan sudut pandang (angle) berita yang unik. Ketiga, untuk menjaga etika dan intuisi manusia. Jurnalistik membutuhkan empati, skeptisisme, dan penilaian moral. Buku melatih nalar kritis dan kemampuan bahasa, memastikan tulisan tetap memiliki sentuhan kemanusiaan yang tidak dimiliki oleh teks buatan mesin. Keempat, pusat referensi portabel. Memiliki perpustakaan fisik atau akses ke koleksi literatur khusus memungkinkan jurnalis melakukan riset cepat, bahkan saat koneksi internet tidak stabil atau ketika platform AI sedang tidak dapat diakses.

Buatkan artikel penjelasan tentang wartawan dan buku dengan gaya feature article naratif sepanjang 7000 kata. Ceritakan Bagaimana wartawan berinteraksi dengan buku, sejak kapan wartawan bertemu/ membaca buku? Apakah di rumah wartawan harus ada rak buku/ perpustakaan pribadi? Apa manfaatnya? Wartawan mana di Indonesia dan dunia yang mempunyai perpustakaan pribadi? Apa arti perpustakaan pdibadi harus ada di setiap rumah? Bisa kah gerakan literasi dimulai dari rumah? Jelaskan dengan referensi.

Wartawan dan Buku

Buku dan jurnalisme adalah dua kekuatan yang saling melengkapi, satu menjaga kedalaman dan konteks, satu menyampaikan kecepatan dan kebaruan. Sejak awal kemunculannya, wartawan tidak pernah terpisah dari bacaan—buku menjadi sumber pengetahuan, landasan analisis, dan gudang referensi yang tak tergantikan.

Sejak kapan wartawan bertemu dan membaca buku? Jawabannya, hubungan antara wartawan dan buku sudah ada sejak abad ke-16, jauh sebelum surat kabar harian modern lahir. Pada masa itu, bentuk awal berita berupa buku berita atau pamflet yang merangkum peristiwa penting—seperti perang, perjanjian, atau bencana—yang diedarkan secara terbatas. Penulis dan pengumpul berita saat itu sudah harus membaca catatan sejarah, dokumen, dan tulisan terdahulu untuk menyusun laporan yang akurat.

Keberadaan rak buku yang ada di rumah wartawan, berdiri seperti pagar halus, tak menghalangi apa pun, tetapi menandai bahwa di dalamnya ada dunia yang dipilih untuk dipelihara. Di rumah lain, buku hanya numpang di sudut—ditumpuk saat musim kado, hilang perlahan saat musim pindah. Dan di rumah yang lain lagi—mungkin jarang tetapi nyata—buku menjadi semacam meja kerja kedua, tempat pikiran kembali menemukan bentuknya.


Ilustrasi wartawan membaca buku di ruang perpustakaan pribadi. (FOTO: AI)

Wartawan/ jurnalis adalah salah satu profesi yang paling sering “tersentuh” buku. Bukan sekadar karena wartawan menulis, melainkan karena wartawan hidup dari kebiasaan mendengar, menimbang, memverifikasi, dan merangkai cerita. Buku—fiksi maupun nonfiksi—adalah gudang verifikasi sekaligus laboratorium imajinasi. Ia tidak selalu memandu berita secara langsung, tetapi hampir selalu menjadi bagian dari cara wartawan menatap kenyataan.

Untuk memahami hubungan antara wartawan/jurnalis dan buku, kita harus mundur ke masa di mana berita tidak dikirim melalui gelombang elektromagnetik atau ketukan layar sentuh, melainkan melalui goresan tinta di atas serat-serat kertas. Hubungan wartawan dengan buku bukanlah sebuah kebetulan romantis, melainkan sebuah keniscayaan eksistensial.

Seorang jurnalis pertama kali bertemu dan membaca buku jauh sebelum mereka tahu bagaimana cara menyusun sebaris kalimat berita yang memikat. Pertemuan itu biasanya terjadi di masa kanak-kanak yang sunyi, di pojok-pojok perpustakaan sekolah yang berdebu, atau di ruang tamu rumah orang tua yang dipenuhi majalah-majalah bekas.

Sejarah mencatat bahwa jurnalisme dan literasi buku adalah dua anak kandung dari rahim yang sama, yakni mesin cetak Gutenberg. Ketika Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak pada abad ke-15, komoditas pertama yang mengubah wajah dunia adalah buku (Alkitab), yang kemudian segera diikuti oleh lembaran-lembaran berita pamflet—embrio dari surat kabar modern. Sejak saat itu, siapa pun yang memilih jalan hidup sebagai pencatat zaman (wartawan) secara otomatis mengikat janji suci dengan dunia teks.

Bagi seorang wartawan, buku adalah cinta pertama sekaligus guru spiritual. Mengapa? Karena jurnalisme, pada bentuknya yang paling murni, adalah tindakan membaca dunia dan menuliskannya kembali. Anda tidak akan bisa menulis dengan jernih jika Anda tidak membaca dengan rakus. Buku memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh keriuhan berita harian: konteks, kedalaman, dan perspektif.

Di Indonesia, ikatan ini terlihat jelas sejak masa pergerakan nasional. Tokoh seperti Marco Kartodikromo (1890–1932)—wartawan sekaligus penulis—sudah menggabungkan peliputan berita dengan tulisan sastra dan pemikiran kritis yang berakar dari bacaan luas. Sejak itu, setiap wartawan terkemuka selalu membangun kebiasaan membaca buku sebagai bekal utama pekerjaannya.

Wartawan berinteraksi dengan buku bukan sekadar hiburan, melainkan alat kerja yang mendasar. Buku menjadi sumber konteks dan latar belakang, karena berita hari ini tak lepas dari sejarah masa lalu; buku memberikan gambaran utuh agar tulisan tidak hanya permukaan. Buku memperkaya wawasan lintas bidang, politik, ekonomi, budaya, sains, olahraga, budaya dan lainnya, maka buku membantu wartawan memahami isu secara komprehensif sebelum meliput. Buku juga melatih gaya bahasa dan narasi dalam menulis berita, dan buku nonfiksi mengasah ketajaman analisis; buku fiksi atau sastra melatih kepekaan kata dan kemampuan bercerita.

Tidak hanya itu, bagi wartawan/ jurnalis buku menjadi bahan rujukan/ referensi dan verifikasi terhadap data, teori, dan pandangan ahli di dalam buku menjadi pembanding agar laporan jurnalistik lebih akurat dan kredibel. Buku membantu karya jurnalistik lebih dalam dalam penyajian dan penulis. Makanya banyak hasil liputan panjang yang diterbitkan menjadi buku—seperti karya jurnalisme investigasi atau laporan lapangan.

Kebiasaan Membaca Wartawan

Sejak kapan wartawan bertemu buku? Jawabannya, “Sejak ia belajar bertanya”. Ini pertanyaan yang menarik sekaligus memberikan jawaban yang menarik. Membaca buku membuat kita punya ritme, menunda keputusan, merujuk kembali, membandingkan. Itulah yang kemudian menjadi kebiasaan jurnalis/ wartawab ketika ada klaim, ia akan bertanya—dari mana sumbernya, siapa yang diuntungkan, apa yang hilang dari cerita?

Buku juga memberi wartawan bahasa untuk menyebut sesuatu yang sebelumnya hanya terasa. Dunia tanpa istilah kadang sulit dikritik karena kritik butuh kata yang tepat. Buku menyediakan kata, istilah sejarah, konsep sosial, teknik penulisan, bahkan etika berpikir. Dengan kata lain, wartawan bertemu buku bukan hanya saat membaca satu judul tertentu. Ia bertemu buku setiap kali pikirannya berhenti dan berkata: “Saya perlu rujukan.”


Ilustrasi wartawan membaca buku di ruang perpustakaan pribadi. (FOTO: AI)

Bacaan wartawan tidak identik dengan membaca santai dari awal sampai akhir. Studi tentang praktik membaca berita menunjukkan adanya dua mode yang relevan bagi jurnalisme, yaitu distant reading untuk menjelajah cepat dan close reading untuk meneliti detail. Kebiasaan berpindah cepat antar bagian teks yang lahir dari budaya surat kabar bahkan meluas ke novel, esai filsafat, dan handbook.

Judul-judul berita wartawan yang rajin membaca buku menunjukkan bahwa membaca bagi wartawan adalah kegiatan reflektif dan evaluatif. Sebuah penelitian D. Diaz, M. Achugar,  “I say that from a journalistic point of view”: A preliminary study on the reading practices of Uruguayan journalists” (2026) menyebutkan, dalam studi kasus wartawan Uruguay, mereka membaca dengan tiga rutinitas utama, yaitu membangun skenario luas dari sebuah peristiwa, mengkritisi isi teks berdasar pengetahuan sebelumnya, dan memonitor karakter teks, terutama saat membaca karya sesama wartawan.

Menurut A. Solanki, Virali Patoliya, dalam “Exploring The Role Of Reading In The Development Of Writing Abilities” (2024), membaca juga terkait dengan kualitas menulis seorang wartawan. Literatur yang lebih umum tentang hubungan membaca-menulis menyatakan bahwa paparan terhadap beragam teks memperbaiki koherensi, organisasi, orisinalitas, kelancaran, dan argumentasi tulisan. Dalam konteks jurnalistik, pengalaman jurnalistik yang memberi ruang wawancara, riset, dan penulisan tentang isu nyata juga meningkatkan motivasi menulis, regulasi diri, dan berpikir kritis.

Wartawan dan Perpustakaan Pribadi

Pada bagian ini ada pertanyaan yang bisa ditanyakan kepada wartawan/ jurnalis. “Apakah wajib ada rak buku atau perpustakaan pribadi di rumah wartawan?” Tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan, namun sangat disarankan dan hampir selalu dimiliki oleh wartawan yang ingin berkualitas.

Di dunia dan di Indonesia, banyak wartawan hebat  yang memiliki perpustakaan pribadi. George Orwell, seorang wartawan sekaligus penulis memiliki perpustakaan pribadi yang memengaruhi pandangannya tentang kebebasan dan kekuasaan, tercermin dalam bukunya “1984” dan “Homage to Catalonia”. Tom Wolfe wartawan pelopor jurnalisme baru memiliki koleksi luas tentang sains, budaya populer, dan sejarah sosial yang mendukung tulisannya “The Right Stuff”. Ada Barbara Ehrenreich, wartawan investigasi yang menulis “Nickel and Dimed” dengan mengandalkan koleksi buku ekonomi dan sosiologi untuk membedah ketimpangan sosial. Ada Arne Laurin, pemimpin redaksi Prager Presse, surat kabar yang terbit di Praha, mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk mengoleksi buku, terutama literatur jurnalistik

Di Indonesia ada Rosihan Anwar (almarhum), wartawan senior dan pendiri harian Pedoman ini memiliki koleksi ribuan buku yang menjadi sumber utama tulisannya tentang sejarah, budaya, dan agama. Mochtar Lubis (almarhum) pendiri harian Indonesia Raya dan penulis novel Senja di Jakarta mengumpulkan buku-buku sejarah, politik, dan sastra yang menjadi rujukan kritik sosialnya. Ada Oei Hiem Hwie (Pak Wie), mantan wartawan yang mendirikan Perpustakaan Medayu Agung di Surabaya, menyimpan ribuan buku langka, arsip koran, dan dokumen sejarah yang kini terbuka untuk umum. Juga Goenawan Mohamad, pendiri Majalah Tempo yang juga seorang wartawan yang menunjukkan kehidupan intelektual berbasis bacaan/ buku.

Kemudian ada wartawati senior Leila S. Chudori, yang pernah bergabung dengan majalah Tempo juga penulis memiliki koleksi buku sejarah dan sastra yang menjadi dasar karya-karyanya seperti Laut Bercerita. Dan, Najwa Shihab, jurnalis senior yang menjadi ikon generasi muda ini kerap memperlihatkan sudut rumahnya yang dipenuhi hamparan rak buku, mirip sebuah perpustakaan publik mini dan pernah menjadi Duta Baca Indonesia.

Ada beberapa alasan yang mengharuskan wartawan/ jurnalis memiliki perpustakaan pribadi. Seperti alasan, ketersediaan akses cepat sehingga Informasi yang dibutuhkan bisa didapatkan kapan saja tanpa harus menunggu ke perpustakaan umum. Alasan berikutnya, memiliki koleksi buku sesuai kebutuhan. Buku yang dikumpulkan adalah yang berkaitan dengan bidang liputan, sejarah, atau referensi khusus yang jarang ditemukan di tempat lain.


Ilustrasi wartawan membaca buku di ruang perpustakaan pribadi. (FOTO: AI)

Juga alasan yang mungkin klise, membangun kebiasaan. Keberadaan buku di ruang pribadi mengingatkan pemiliknya untuk terus membaca dan belajar. Bahkan di era digital, buku cetak atau koleksi terstruktur tetap berharga karena menyajikan informasi yang telah melalui proses penyuntingan dan verifikasi mendalam, berbeda dengan arus informasi cepat yang seringkali belum teruji.

Perpustakaan Pribadi & Gerakan Literasi

Perpustakaan pribadi tidak berarti harus memiliki ribuan buku mahal. Memiliki perpustakaan pribadi adalah simbol dari keinginan belajar. Menandakan rumah itu adalah tempat di mana pengetahuan dihargai. Juga sebagai warisan bagi anak dan cucu. Kebiasaan orang tua membaca akan menular; penelitian menunjukkan anak yang tumbuh dengan buku di rumah memiliki kemampuan literasi lebih baik.

Perpustakaan pribadi bisa menjadi penyeimbang informasi. Menjadi sumber yang terpercaya di tengah derasnya berita yang belum tentu benar. Juga sebagai ruang kebebasan berpikir. Di dalam buku terdapat berbagai pandangan yang melatih kita tidak mudah menghakimi. Perpustakaan pribadi itu tidak harus besar—cukup satu atau dua rak dengan buku yang dibaca dan dipelajari bersama sudah menjadi awal yang berharga.

Perpustakaan pribadi adalah pernyataan politik dan budaya. Ketika sebuah keluarga memutuskan untuk memiliki rak buku di rumah, mereka sebenarnya sedang membangun “monumen perlawanan” terhadap kedangkalan berpikir.

Di era algoritma media sosial, kita hanya diberi informasi yang sesuai dengan preferensi kita (filter bubble). Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat. Namun, sebuah perpustakaan pribadi yang beragam—berisi buku-buku yang mungkin berseberangan dengan keyakinan kita—memaksa kita untuk berhadapan dengan “Yang Lain” (The Other).

Perpustakaan di rumah adalah simbol bahwa rumah tersebut adalah tempat belajar yang tidak pernah selesai. Ia mengirimkan pesan kepada anak-anak yang tumbuh di sana bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang berharga, bahwa rasa ingin tahu adalah hal yang dirayakan, dan bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan, bukan beban sekolah.

Perpustakaan pribadi adalah “ruang sunyi” di tengah dunia yang terlalu bising. Ia mengajarkan kita tentang kesabaran. Membaca buku membutuhkan waktu, fokus, dan ketekunan—tiga hal yang perlahan hilang dari manusia modern yang terbiasa dengan konten berdurasi 15 detik.

Dari perpustakaan pribadi yang ada di rumah bisa menjadi pemicu hadirnya gerakan literasi. Selama ini gerakan literasi sering dibayangkan sebagai program sekolah, kampanye media, atau kegiatan perpustakaan. Perpustakaan pibadi di rumah adalah mesin paling stabil untuk membentuk kebiasaan membaca. Di sisi lain, literasi bukan hanya soal membaca teks. Literasi juga berarti kemampuan menilai informasi—sebuah kualitas yang sangat dekat dengan kerja wartawan, verifikasi, konteks, dan kesadaran sumber.

Literasi yang sesungguhnya adalah kemampuan mengolah informasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan. Gerakan literasi yang dimulai dari pemerintah atau sekolah seringkali gagal karena mereka memperlakukan membaca sebagai kewajiban administratif, bukan sebagai kebutuhan jiwa.

Jadi wartawan dan buku adalah dua entitas yang saling menghidupkan. Buku memberi wartawan “akar” agar ia tidak mudah tumbang oleh badai hoaks dan opini publik yang liar. Sebaliknya, wartawan memberi buku “sayap” dengan cara membawa pengetahuan dari lembaran kertas ke dalam realitas sosial melalui pemberitaan yang mencerahkan.

Wartawan/ jurnalis dan buku adalah pasangan yang tak terpisahkan sejak kelahiran jurnalisme itu sendiri. Buku memberikan kedalaman, konteks, dan kebijaksanaan yang tidak bisa didapat sekadar dari berita harian. Perpustakaan pribadi—baik bagi wartawan maupun setiap keluarga—bukan sekadar penyimpanan buku, melainkan ruang pemeliharaan akal budi. Dan gerakan literasi yang sejati tidak dimulai dari gedung besar, melainkan dari satu rak buku di sudut rumah dan kebiasaan membaca yang ditularkan dari orang tua ke anak. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *