Resensi Buku
Judul: Transformasi Konflik: Dari Batu Hingga Algoritma – Evolusi Mesin Perang dan Strategi Global
- Penulis: Laksamana Muda TNI (Purn) Rosihan Arsyad
- Penerbit: Teras Budaya, Jakarta
- Tahun Terbit: Juni 2026 (Cetakan Pertama)
- ISBN: 978-623-8428-79-3
- Jumlah Halaman: xv + 450 halaman
KINGDOMSRIWIJAYA – Laksamana Muda TNI (Purn) Rosihan Arsyad pada pertengahan tahun 2026 kembali meluncurkan buku terbarunya berjudul “Transformasi Konflik: Dari Batu Hingga Algoritma – Evolusi Mesin Perang dan Strategi Global”. Buku yang terbit perdana pada Juni 2026 siap menemui pembacanya. Bagi anda yang berminat bisa menghubungi melalui instagram (IG) @roar_2907.
Buku setebal lebih dari 450 halaman ini bukan sekadar katalog senjata, melainkan sebuah “autopsi geopolitik”. Ada lima poin yang menjadi teras pemikiran dan kutipan kuat yang menjadi tulang punggung narasi buku ini. Pertama, tentang Hakikat Konflik. Bahwa “Niat di dalam hati manusia tidak pernah berubah sejak Kabil mengangkat batunya. Yang berubah hanyalah instrumennya: dari bongkah batu menjadi pedang perunggu, dari senapan lontak menjadi kapal induk bertenaga nuklir, hingga akhirnya bermutasi menjadi baris kode algoritma dan rudal hipersonik…” (Prolog).
Kedua, tentang Tentang Akar Kekerasan. “Perang bukanlah produk sampingan dari revolusi kapitalisme atau peradaban agraris. Perang adalah insting bawaan yang diaktifkan oleh satu puminiversal: Kelangkaan (Scarcity).” (Bab 1) Ketiga, tentang Logistik. “Amatir berbicara tentang taktik, profesional berbicara tentang logistik.” (Bab 2, mengutip prinsip yang dihidupkan oleh Republik Romawi).
Keempat, tentang Paradoks Senjata Nuklir. “Bom atom diciptakan oleh militer untuk memenangkan perang, namun kekuatan destruktifnya yang absolut justru membuat perang besar (Perang Total) menjadi mustahil untuk dimenangkan.” (Bab 8, mengenai doktrin MAD).
Kelima, tentang Perang Modern: “Di abad ke-21, tidak ada lagi parit lumpur yang memisahkan tentara berseragam dari warga sipil yang tidak bersenjata. Dalam Perang Zona Abu-abu, medan pertempuran ada di mana-mana secara serentak…” (Bab 10).

Rosihan Arsyad yang pernah menjabat Komandan KRI Teluk Semangka, Komandan Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Armada Barat, dan Kepala Staf Armada Barat (Kasarmabar), dalam buku ini secara umum menguraikan evolusi konflik manusia secara kronologis dan tematis dalam 19 bab yang padat, dimulai dari prasejarah hingga proyeksi masa depan abad ke-21. Atau buku ini mencatat perihal evolusi konflik dari masa ke masa, tentang mesin perang dan teknologi, strategi global dan politik internasional, konflik sebagai fenomena sosial, serta algoritma dan era digital.
Baca juga: Gubernur Sumsel (1998-2003) Rosihan Arsyad Luncurkan 3 Buku Terbaru
Rosihan yang lahir di Bengkulu kemudian dari TNI AL menjadi Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) (1998–2003), dalam buku terbarunya ini menguraikan evolusi konflik manusia secara kronologis dan tematis dalam 19 bab yang padat, dimulai dari prasejarah hingga proyeksi masa depan abad ke-21.
Apa yang tersaji dalam buku ini dapat kelompokan dalam tujuh bagian. Bagian Pertama yang terangkum pada Bab 1-3, yakni akar primitif dan mesin perang kuno. Penulis memulai dengan membongkar mitos “Noble Savage” (Orang Liar yang Mulia). Melalui bukti arkeologi seperti situs Jebel Sahaba dan Nataruk, buku ini membuktikan bahwa kekerasan komunal adalah insting evolusi yang dipicu oleh kelangkaan sumber daya. Revolusi Neolitik (pertanian) melahirkan konsep hak milik, tembok pertahanan (Yerikho), dan kelas prajurit profesional. Era Perunggu memperkenalkan “senjata murni” (pedang) dan perang rantai pasok geopolitik pertama (perebutan timah). Puncaknya adalah lahirnya Combined Arms (Palu dan Landasan) oleh Makedonia dan fleksibilitas logistik Legiun Romawi yang mengalahkan kekakuan Phalanx.
Bagian Kedua pada 4-5 menguraikan era mesiu dan penguasaan laut. Bab ini menelusuri transisi dari senjata biologis (Longbow) ke senjata mekanis (Crossbow) yang mendemokratisasi kematian, hingga penemuan bubuk mesiu di Tiongkok yang meruntuhkan Tembok Konstantinopel (1453) dan mengakhiri Abad Pertengahan. Di laut, evolusi bergerak dari taktik ramming (Trireme) dan boarding (Corvus Romawi), menuju era Galleon dan doktrin Broadside (tembakan lambung) yang memunculkan Line of Battle. Puncak era kapal kayu diakhiri oleh Pertempuran Trafalgar dan kematian kayu oleh peluru ledak (explosive shells) dan kapal lapis baja (Ironclad) bertenaga uap.
Berikutnya Bagian ketiga dikelompokan mencakup Bab 5-7, yakni industri pembantaian dan dimensi ketiga. Perang Dunia I digambarkan sebagai “mesin ketik kematian” di mana senapan mesin Maxim, kawat berduri, dan artileri parabola menciptakan kebuntuan parit. Dari kebuntuan ini lahir Tank dan taktik infiltrasi Stoßtruppen (cikal bakal Pasukan Khusus). Perang Dunia II membawa dimensi ketiga: Udara. Teori Giulio Douhet tentang pengeboman strategis diuji di Guernica, The Blitz, hingga Badai Api Hamburg. Di laut, dogma Battleship runtuh digantikan oleh Kapal Induk, dibuktikan secara brutal di Pearl Harbor, Midway, dan tenggelamnya Yamato.

Bagian keempat pada bab 8-9 adalah tentang kiamat buatan manusia dan kedalaman mematikan. Bab 8 membahas Proyek Manhattan, fusi sains dan militer, hingga jatuhnya bom di Hiroshima dan Nagasaki yang melahirkan doktrin Mutually Assured Destruction (MAD). Bab 9 mengupas evolusi kapal selam, dari “Kutukan Oksigen” pada U-Boat Jerman, hingga revolusi kapal selam bertenaga nuklir (SSBN) yang menjadi penjaga perdamaian absolut melalui Second-Strike Capability, dan evolusi modern menuju teknologi AIP (Air-Independent Propulsion) dan baterai Lithium-Ion yang sangat senyap.
Bagian kelima, bab 10-11 membedah perang tanpa asap dan mata di langit. Penulisa membedah Peperangan Elektronik (EW), dari Battle of the Beams di WWII hingga virus Stuxnet yang membuktikan kode digital dapat menghancurkan infrastruktur fisik (sentrifus nuklir Iran). Bab ini juga membahas Deepfake dan Perang Zona Abu-abu (Grey Zone Warfare). Bab 11 menyoroti pentingnya intelijen, dari pesawat U-2 dan satelit Corona, hingga operasi Pasukan Khusus (SOF) seperti penangkapan Osama bin Laden, yang membuktikan fusi sempurna antara intelijen dan aksi kinetik.
Bagian keenam mencakup Bab 12-14 membahas Robotika, Antariksa, dan Laboratorium Abad 21. Era drone (UAS) dibahas mulai dari RQ-1 Predator hingga drone FPV murah yang menghancurkan tank di Ukraina, membuktikan bahwa “Sensor Mengalahkan Massa”. Ancaman LAWS (Lethal Autonomous Weapons Systems) dan Drone Swarming memicu krisis etika. Bab 13 membahas militerisasi antariksa, ancaman ASAT, Sindrom Kessler (kiamat orbital), dan teror senjata Hipersonik (HGV) yang mengompresi waktu keputusan hingga ke tingkat Hyperwar. Bab 14 menyoroti paradoks C5ISR, di mana transparansi data justru melahirkan “Obeng Seribu Mil” (mikromanajemen politik), seperti yang terlihat dalam simulasi operasi di Karakas.
Dan bagian ketujuh terbentang pada Bab 15-19 tentang Realitas Nusantara dan Geopolitik Global (Bab 15-19). Bab 15 secara spesifik membahas Quantum Computing bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai “otak strategis” yang dapat mengamankan komunikasi di ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia). Bab 16 mengambil pelajaran dari Iran, yang berhasil menggunakan strategi asimetris, drone murah, dan jaringan proksi untuk menantang hegemoni. Bab 17 mengkritik “Mesin Perang Permanen” Amerika Serikat dan Military-Industrial Complex yang memicu Imperial Overstretch. Bab 18 membahas “Perang Tanpa Peluru” melalui Weaponized Interdependence, Dilema Malaka, Perang Semikonduktor (Chip War), dan monopoli Logam Tanah Jarang (REE) oleh Tiongkok. Akhirnya, Bab 19 memperingatkan tentang “Jebakan Thucydides” antara AS dan Tiongkok, di mana kompresi waktu dan ambiguitas hulu ledak hipersonik berisiko memicu “Kiamat Algoritmik”.

Kelebihan dan Kekurangan
Seorang yang menulis resensi buku, setelah membaca bukunya, maka penulis resensi harus mmengambil posisi denga melihat kelebihan sekaligus kekurangan dari buku “Transformasi Konflik: Dari Batu Hingga Algoritma – Evolusi Mesin Perang dan Strategi Global”.
Kelebihannya, buku ini ditulis dengan narasi mengli dan taktis, seperti layaknya sebuah pertempuran. Penulis berhasil menghindari jebakan penulisan buku militer yang kering dan penuh jargon teknis yang membosankan. Ia menggunakan metafora yang kuat (misalnya: “Mesin Ketik Kematian”, “Palu dan Landasan”, “Obeng Seribu Mil”) yang membuat pembaca awam pun dapat membayangkan kompleksitas medan tempur.
Gaya bahasanya elegan, reflektif, namun tetap tajam secara analitis. Buku ini ditulis dengan kedalaman riset dan perspektif holistik. Buku ini tidak hanya berbicara tentang spesifikasi senjata. Penulis menghubungkan titik-titik sejarah dengan brilian. Ia menunjukkan bagaimana penemuan roda ruji di Zaman Perunggu memiliki DNA yang sama dengan Main Battle Tank modern, atau bagaimana taktik Stoßtruppen di PD I adalah cetak biru bagi Blitzkrieg dan operasi Pasukan Khusus modern. Integrasi antara sejarah, teknologi, geografi, dan psikologi manusia membuat buku ini menjadi sebuah masterpiece studi strategis.
Kelebihan lainnya, buku memiliki relevansi strategis yang kuat bagi Indonesia. Di tengah banyaknya buku strategi yang hanya menerjemahkan teori Barat, buku ini memberikan konteks lokal yang sangat krusial. Pembahasan mengenai ALKI, Dilema Malaka, dan kebutuhan Indonesia untuk memiliki Blue Water Navy serta kemandirian teknologi (seperti Quantum Computing untuk keamanan komunikasi) adalah “tamparan” yang menyadarkan bahwa diplomasi saja tidak cukup tanpa kedewasaan dan kapabilitas strategis.
Buku ini menyajikan dengan memberikan kritik pada hegemoni. Seperti pada Bab 17 dan 18 menyajikan kritik yang sangat tajam dan berdasar terhadap Military-Industrial Complex Amerika Serikat dan ilusi Pax Americana. Penulis tidak ragu membongkar bagaimana “perdamaian” sering kali hanyalah kedok untuk mempertahankan rantai pasok dan keuntungan industri senjata, yang pada akhirnya memicu decoupling dan perang ekonomi global.
Sekarang tiba pada kekuranganannya. Buku ini tebalnya lebih dari 450 halaman tapi kurang dari 500 halaman. Buku ini terdiri dari 19 bab yang ditambah prolog dan epilog. Buku ini memiliki tingkat kepadatan Informasi yang tinggi. Dengan 19 bab yang bahasannya mencakup rentang waktu ribuan tahun, buku ini sangat padat. Bagi pembaca kasual yang tidak memiliki latar belakang sejarah atau militer, banyaknya nama pertempuran, akronimi (seperti C5ISR, A2/AD, HGV, LAWS), dan data statistik bisa terasa membebani (overwhelming). Meskipun terdapat Glosarium yang sangat membantu, pembaca tetap perlu fokus tinggi.

Kekurangan lainnya, isi buku ini didominasi perspektif kekuatan besar (Great Powers). Meskipun penulis adalah perwira TNI yang peduli pada Nusantara, narasi inti buku ini masih sangat didominasi oleh studi kasus dari kekuatan besar (Yunani, Romawi, Inggris, Jerman, AS, Uni Soviet, Tiongkok). Analisis mengenai bagaimana negara-negara Global South atau ASEAN (selain sekilas di Bab 19) merespons transformasi ini secara spesifik bisa diperdalam lebih jauh untuk memberikan bobot yang lebih seimbang.
Selalu, setiap buku yang terbit memiliki kelebihan dan kekurangannya. Meski demikian buku ini perlu dimiliki dan dibaca kalangan militer dan keamanan (TNI/Polri). Sebagai bahan renungan doktrinal bahwa perang masa depan tidak dimenangkan oleh jumlah massa, melainkan oleh integrasi sensor, kecepatan algoritma, dan logistik.
Jika anda adalah pembuat kebijakan (Pemerintah, DPR, Kementerian Luar Negeri & Pertahanan), anda perlu membaca buku ini untuk memahami bahwa keputusan pembelian alutsista atau kebijakan luar negeri harus didasarkan pada anatomi konflik abad ke-21, bukan prestise semata.
Kalangan akademisi/ kampus dan mahasiswa, khususnya mereka yang bergelut dengan ilmu Hubungan Internasional, Strategi, Sejarah, Teknik harus membacanya karena dapat menjadi referensi utama (textbook) yang menghubungkan teori klasik (Clausewitz, Sun Tzu, Mahan) dengan realitas teknologi masa depan (AI, Quantum, Hipersonik).
Masyarakat umum dan pengamat geopolitik perlu membaca buku agar memahami mengapa dunia saat ini terasa semakin tegang, mengapa perang di Ukraina atau Timur Tengah terjadi, dan apa artinya bagi kehidupan sehari-hari kita di era Splinternet dan krisis rantai pasok.
Sebagai kesimpulan dari buku “Transformasi Konflik: Dari Batu Hingga Algoritma” adalah sebuah karya monumental yang berfungsi sebagai cermin sekaligus kompas. Laksamana Muda TNI (Purn) Rosihan Arsyad berhasil membuktikan tesis utamanya, “alat perang mungkin telah berevolusi dari kapak batu hingga algoritma kecerdasan buatan, namun insting dasar manusia untuk mendominasi dan berebut sumber daya yang langka tetap sama”
Buku ini dengan lugas menghancurkan ilusi bahwa perdamaian adalah kondisi alamiah. Perdamaian di era modern adalah sebuah anomali yang rapuh, yang hanya dijaga oleh deterrence (daya tangkal) dan keseimbangan teror. Bagi Indonesia, yang berada di episentrum pusaran Indo-Pasifik, pesan buku ini sangat jelas: kelemahan adalah provokasi terbesar bagi agresi. Kita tidak bisa hanya berlindung di balik retorika diplomasi atau hukum internasional yang semakin tumpul di hadapan perang zona abu-abu.
Buku ini bukan ramalan kiamat, melainkan sebuah peringatan dini (early warning system). Dengan memahami anatomi konflik secara mendalam, para pemimpin dan generasi penerus bangsa dapat membangun kedewasaan strategis, memastikan bahwa ketika badai geopolitik menerpa, Nusantara tidak hanya menjadi penonton yang pasif, melainkan entitas yang mampu bertahan, beradaptasi, dan menjaga kedaulatannya di tengah evolusi mesin perang yang semakin tanpa nyawa. Sebuah bacaan wajib yang akan terus relevan dalam beberapa dekade ke depan.
Selamat membaca. (maspril aries)
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.





