Home / Opini / Kita Peringati Hari Buku dengan … “Selfie” Bersama Buku

Kita Peringati Hari Buku dengan … “Selfie” Bersama Buku

Oleh: Udo Z Karzi (Tukang tulis, tinggal di Bandar Lampung)

HARI Buku Nasional kembali datang pada Minggu, 17 Mei 2026. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, linimasa media sosial akan dipenuhi foto orang memegang buku. Ada yang memeluk novel setebal batu bata, ada yang memajang puisi sambil menyeruput kopi, ada yang mengunggah rak buku dengan caption penuh semangat: “Membaca adalah jendela dunia.” Setelah itu? Ya sudah. Buku kembali ditaruh di meja. Kadang malah jadi alas charger.

Kita memang bangsa yang unik. Di negeri ini, buku sering lebih dihormati sebagai properti foto daripada sebagai bahan bacaan. Buku tampak gagah di Instagram, tetapi nasibnya sering mengenaskan di ruang tamu, perpustakaan, dan toko buku. Buku menjadi simbol kecerdasan yang cukup dipamerkan, tidak perlu dibaca sampai tamat. Bahkan kadang tidak perlu dibuka sama sekali.

Maka, mungkin memang sudah saatnya slogan Hari Buku Nasional diperbarui secara lebih jujur: “Mari Kita Peringati Hari Buku Nasional dengan Selfie Bersama Buku.”

Setelah selfie, terserah.

Toh kita memang hidup di zaman ketika kesan lebih penting daripada isi. Orang ingin tampak membaca, bukan sungguh-sungguh membaca. Sebab membaca membutuhkan kesabaran, sementara media sosial melatih kita menjadi makhluk yang emosinya lebih cepat daripada pikirannya. Kita lebih suka menggulir layar daripada menggulir halaman. Lebih tahan menonton video tiga jam tentang teori konspirasi daripada membaca esai lima halaman.

Ironisnya, semua itu sering dilakukan atas nama “literasi digital”.         

Istilah yang terdengar modern, canggih, dan sangat seminar. Padahal dalam praktiknya, banyak orang menganggap literasi digital cukup dengan bisa membuat utas, membagikan tautan, atau berdebat panjang di kolom komentar. Padahal membaca serius—apalagi membaca buku—tetap saja dianggap pekerjaan kuno yang tidak menghasilkan engagement.

Buku kalah oleh notifikasi.

Kita kini hidup dalam peradaban yang sangat cerewet tetapi malas membaca. Semua orang ingin bicara, sedikit yang mau mendengar. Semua ingin berpendapat, tetapi malas memahami. Maka jangan heran jika ruang publik kita penuh orang yang reaksinya seperti petasan: meledak dulu, berpikir belakangan. Bahkan kadang tidak berpikir sama sekali.

Dalam esai-esai sebelum ini, saya berkali-kali mengingatkan soal ironi ini. Tentang negeri yang ribut bicara literasi tetapi sepi pembaca buku. Tentang acara literasi yang ramai spanduk dan flyer, tetapi toko buku makin berguguran. Tentang masyarakat yang bangga menyebut dirinya “melek digital”, padahal membaca satu bab buku saja ngos-ngosan.

Ada yang lebih menyedihkan lagi: kondisi perbukuan kita memang tidak sedang baik-baik saja.

Harga buku makin mahal. Distribusi buku di daerah seperti permainan tebak-tebakan. Buku baru terbit di Jakarta, pembaca di daerah kadang baru melihatnya berbulan-bulan kemudian—kalau sempat datang. Banyak toko buku kecil mati perlahan. Perpustakaan sering lebih mirip gudang proposal kegiatan daripada ruang hidup bagi pembaca.

Buku menjadi barang mewah di negeri yang terlalu sering pidato soal pendidikan.

Lucunya, di tengah situasi seperti itu, kita masih gemar membuat acara “Gerakan Literasi”. Ada seminar, webinar, festival, lomba membaca puisi, diskusi, hingga talkshow tentang pentingnya membaca. Semua berlangsung meriah. Narasumber difoto. Moderator bergaya serius. Peserta pulang membawa sertifikat.

Tetapi setelah acara selesai, buku kembali sunyi.

Persis seperti nasib perpustakaan sekolah: ramai saat akreditasi, sepi setelah itu.


Kadang saya membayangkan buku-buku di rak sedang saling bercakap-cakap pada malam hari.

“Besok Hari Buku Nasional,” kata sebuah novel.

“Oh ya? Siap-siap difoto lagi,” jawab kumpulan puisi.

“Dibaca tidak?”

“Jangan bercanda.”

Dan, memang begitu kenyataannya. Banyak orang membeli buku lebih karena takut terlihat bodoh daripada karena ingin belajar. Rak buku menjadi dekorasi intelektual. Buku dipamerkan seperti tanaman hias. Sampulnya dipotret dari berbagai sudut. Isinya? Tuhan yang tahu.

Padahal membaca bukan sekadar aktivitas akademik. Membaca—terutama membaca sastra, sejarah, dan filsafat—adalah latihan menjadi manusia yang lebih utuh.

Sastra mengajari kita memahami luka orang lain. Sejarah mengingatkan bahwa manusia sering mengulang kebodohannya sendiri. Filsafat melatih kita berpikir sebelum bertindak. Tiga hal ini sangat penting di zaman ketika emosi lebih cepat viral daripada akal sehat.

Apa pun profesinya, orang memang perlu membaca sastra, sejarah, dan filsafat.

Dokter perlu sastra agar tidak melihat pasien sekadar angka laboratorium. Politikus perlu sejarah agar tidak mengulang kesalahan yang sama sambil pidato penuh percaya diri. Pegiat media sosial perlu filsafat agar sadar bahwa tidak semua hal harus dikomentari.

Sebab tanpa membaca yang mendalam, manusia mudah sekali menjadi labil. Sedikit tersinggung langsung marah. Sedikit berbeda langsung curiga. Sedikit informasi langsung merasa paling benar. Otak dipakai hanya untuk menyimpan password Wi-Fi dan menghafal diskon marketplace.

Kita menyaksikan itu setiap hari.

Orang begitu mudah membenci hanya karena potongan video 30 detik. Mudah termakan hoaks. Mudah tersulut provokasi. Bahkan banyak yang bangga dengan ketidaktahuannya. Seolah malas membaca adalah bentuk perlawanan terhadap kaum intelektual.

Padahal membaca bukan soal menjadi sok pintar. Membaca adalah usaha sederhana agar manusia tidak berubah menjadi makhluk yang seluruh hidupnya dikendalikan emosi sesaat.

Tetapi tentu saja, membaca buku memang tidak semenarik konten pendek. Buku tidak memberi sensasi instan. Ia meminta waktu, kesabaran, dan keheningan. Sesuatu yang makin langka hari ini. Dunia digital membuat kita terbiasa hidup dalam potongan-potongan perhatian. Sedikit baca, pindah. Sedikit lihat, bosan. Sedikit berpikir, lelah.

Akhirnya, kita menjadi generasi yang tahu banyak judul buku, tetapi sedikit isi buku.

Mungkin itu sebabnya Hari Buku Nasional sering terasa seperti ritual tahunan yang lucu sekaligus menyedihkan. Semua orang mendadak cinta buku selama 24 jam. Setelah itu kembali sibuk menggulir layar tanpa arah.

Buku-buku kembali sepi.

Rak-rak kembali berdebu.

Perpustakaan kembali sunyi.

Dan kita kembali hidup dalam kegaduhan yang dipenuhi orang-orang yang berbicara terlalu banyak, tetapi membaca terlalu sedikit.

Namun begitulah. Barangkali memang beginilah cara bangsa ini mencintai buku: dipotret dulu, dibaca kalau sempat.

Maka mari kita rayakan Hari Buku Nasional dengan penuh khidmat. Ambil buku terbaikmu. Cari cahaya yang bagus. Atur sudut kamera. Buat wajah serius sedikit. Unggah ke media sosial dengan caption bijak.

Lalu setelah itu?

Ya terserah. Buku toh sudah cukup bahagia karena akhirnya disentuh juga. ●

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *