Home / Literasi / Berdosakah Cerpen Tanpa Konflik dan Klimaks?

Berdosakah Cerpen Tanpa Konflik dan Klimaks?

Ilustrasi membaca buku di perpustakaan. (FOTO: AI)

KINGDOMSRIWIJAYA – Dalam ruang perpustakaan yang sejuk, masih tercium aroma kertas buku yang lama tersimpan di deretan rak buku. Dua orang sahabat tengah berdiri di sisi rak, jemari mereka menyusuri punggung-punggung buku yang berjajar rapi, masing-masing menyimpan kisah, rahasia, dan suara-suara yang tak pernah usang.

Hari itu keduanya tengah berteori dengan merujuk pada kajian literasi untuk menjawab beberapa pertanyaan yang nyangkut di otak. Ada beberapa pertanyaan yang butuh jawaban. “Apakah setiap cerpen harus ada unsur klimaks dan konflik, tidak boleh datar? Jika tidak ada konflik, apakah cerpen tersebut berdosa kepada pembaca atau penulisnya?”

Pertanyaan lainnya, apakah cerpen tanpa konflik dan klimaks menjadi tidak bermakna? Jika tidak ada klimaks atau konflik dalam sebuah cerpen tidak dapat disebut/diklasifikasikan sebagai cerpen? Siapa/teori apa yang mengharuskan seperti itu? Apakah cerpen tanpa konflik sama seperti prosa liris, apa itu prosa liris?”

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah bagian diskusi yang mereka lakukan berdua. Dua orang tersebut adalah Santo dan Rini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bagian dari membaca setelah membaca cerpen berjudul “Cahaya yang Tertinggal di Santorini”.

Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/693074/cahaya-yang-tertinggal-di-santorini

“Sudah baca cerpen Cahaya yang Tertinggal di Santorini? Yang penulisannya dibantu atau kecerdasan buatan AI alias Artificial Intelligence“, tanya Rini.

Santo menjawab, “Sudah. Cerpen kering, tidak bisa menjadi palum, tetap terasa haus. Dalam alurnya, tidak ditemui adanya konflik dan klimaks, padahal kekuatan Cerpen ada di situ. Sentilan sebuah cerpen tidak kelihatan, cenderung datar. Intinya, percobaan seperti ini di bantu kecerdasan buatan. Berlajar dari cerpen Cahaya yang Tertinggal di Santorini, tetap saja AI dak bisa menggantikan manusia dalam hal penulisan cerpen, karena ada emosi yang tidak muncul oleh AI”.


Penulis yang masih menggunakan mesin ketik. (FOTO: AI ChatGPT)
Penulis yang masih menggunakan mesin ketik. (FOTO: AI ChatGPT)

Pertanyaan yang tengah dicari jawabannya, layaknya benang kusut, menarik keduanya ke dalam labirin pemikiran. Bisa dibayangkan pada para penulis, di hadapan layar kosong atau halaman putih, bergulat dengan tuntutan akan plot yang bergejolak, karakter yang bersitegang, dan puncak narasi yang memukau. Namun, di sudut lain, dalam hati mereka ada bisikan: bukankah hidup itu sendiri seringkali mengalir tanpa gemuruh, tanpa ledakan drama yang mencengangkan? Bukankah ada keindahan dalam momen-momen sunyi, dalam renungan yang dalam, dalam detail-detail kecil yang nyaris tak terlihat?

Struktur Cerpen

Secara perlahan pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai menemukan jawabannya. Mengutip Ahmadun Yosi Herfanda, cerita pendek – disingkat menjadi cerpen – adalah tipologi fiksi yang dalam sastra Inggris (Barat) dikenal sebagai cerita pendek. Memang dari sanalah tipologi karya sastra modern ini berasal, dan baru masuk ke khasanah sastra Indonesia pada dasawarsa 1930-an, dengan hadirnya cerpen-cerpen Muhammad Kasim dan Suman HS, lalu disusul cerpen-cerpen Hamka, Armijn Pane dan Idrus.

Penyingkatan “cerita pendek” menjadi cerpen pertama kali diusulkan oleh Ajip Rosyidi, dan sampai sekarang menjadi istilah yang sangat lazim dalam sastra Indonesia. Cerpen atau cerita pendek adalah fiksi atau cerita rekaan yang mengungkapkan satu masalah tunggal dengan satu ide tunggal yang disebut ‘ide pusat’. Lazimnya, cerpen memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi pada satu saat, sehingga memberikan kesan tunggal terhadap konflik yang mendasari cerita tersebut.

Cerpen, atau cerita pendek, adalah bentuk karya sastra yang padat dan ringkas. Menurut Edgar Allan Poe, yang dikenal sebagai salah satu pelopor cerpen, karya ini harus mampu memberikan satu kesan tunggal kepada pembaca. Ia berpendapat, “Sebuah cerpen harus dibaca dengan sekali duduk, dan harus meninggalkan kesan yang mendalam”.


Ilustrasi peluncuran buku kumpulan cerpen. (FOTO: AI ChatGPT)
Ilustrasi peluncuran buku kumpulan cerpen. (FOTO: AI ChatGPT)

Menurut Ahmadun, secara konvensional, cerpen dibangun oleh metode bercerita, sejak teknik bertutur (narasi, deskripsi, dan dialog), alur (plot, dengan konflik, klimaks, dan ending-nya), penokohan (karakterisasi dengan watak-watak tokoh cerita), sudut pandang, serta penggambaran latar cerita secara hidup (setting). Metode bercerita yang dapat dianggap sebagai metode penulisan cerpen itu, dalam disiplin penulisan kreatif (creative writing) disebut elemen cerpen, dan dalam disiplin sastra disebut unsur instrinksik cerpen. (Materi diklat penulisan cerpen – cara mudah menulis cerpen)

Menurut Diah Irawati, Harris Effendi Thahar, dan M. Ismail N dalam “Refleksi Budaya Lubuklinggau dalam Kumpulan Cerpen Bulan Celurit Api Karya Benny Arnas”: karya sastra lahir karena adanya keinginan dari pengarang untuk menuangkan ide-ide kreatif dan imajinatif yang dilihat, dirasakan, dan diperhatikan dalam kehidupan nyata.

Santo mulai menyusun jawabannya dengan sebuah perumpamaan: Bayangkan kita duduk mengelilingi api unggun pertama dalam sejarah peradaban. Udara dingin, langit penuh bintang yang belum bernama, dan satu-satunya kehangatan adalah lidah api yang menari-nari serta kebersamaan kita.

Lalu, seorang tetua mulai berbicara. Ia tidak menyajikan data atau fakta. Ia merapal sebuah kisah: tentang seorang pemburu pemberani, seekor binatang buas yang mengancam desa, dan pertarungan hidup-mati di bawah bulan purnama. Kita menahan napas saat sang pemburu terluka (aksi menanjak), kita bersorak dalam hati saat tombaknya menemukan sasaran (klimaks), dan kita menghela napas lega saat ia kembali membawa kemenangan (penyelesaian).

Sejak saat itu, sebuah hukum tak tertulis seolah terpatri dalam DNA naratif kita: cerita adalah tentang perjuangan. Cerita adalah gunung yang harus didaki. Ada kaki gunung yang landai tempat kita berkenalan (eksposisi), ada lereng terjal penuh rintangan (konflik), ada puncak yang menantang untuk ditaklukkan (klimaks), dan ada jalan turun yang melegakan menuju rumah (resolusi).

Dalam kajian ilmiah seperti teori sastra yang dipelajari sejak dulu dari kitab-kitab yang terpajang di rak buku perpustakaan. Secara teori, dalam pelajaran konvensional, cerpen memang sering dibangun dengan struktur naratif yang mencakup: Orientasi (pengenalan tokoh dan latar), Komplikasi (munculnya konflik), Klimaks (puncak ketegangan), Resolusi (penyelesaian masalah), dan Koda (penutup atau pesan). Struktur ini membantu menciptakan ketegangan, kejutan, dan pengalaman emosional yang memikat pembaca.


Menulis karya sastra masih menggunakan mesin ketik. (FOTO: AI ChatGPT)
Menulis karya sastra masih menggunakan mesin ketik. (FOTO: AI ChatGPT)

Sebuah karya fiksi dibangun oleh unsur-unsur pembangun, hal tersebut juga dimiliki oleh cerpen. Unsur-unsur pembangun yang dimiliki oleh cerita pendek terdiri dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam “Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi” (2013: 23), bahwa unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Sementara itu, unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.

Konflik & Klimaks

Santo bergumam sendiri, mengulangi kembali pertanyaan yang ada dalam benaknya. Apakah dalam sebuah cerpen harus ada konflik dan klimaks? Dalam penulisan cerpen, ada beberapa elemen yang umumnya dianggap penting, seperti konflik dan klimaks. Namun, tidak semua cerpen harus mengikuti struktur yang sama. Konflik merupakan permasalahan atau tantangan yang dihadapi oleh karakter. Konflik ini bisa bersifat internal (dalam diri karakter) atau eksternal (antara karakter dan lingkungan). Konflik kerap kali menjadi pendorong utama plot dan membuat cerita menarik. Tanpa konflik, cerita bisa terasa datar atau monoton.

Kemudian klimaks adalah titik puncak dalam cerita, di mana ketegangan mencapai maksimum dan konflik mulai terpecahkan. Peran klimaks memberikan kepuasan emosional kepada pembaca dan menandai perubahan penting dalam cerita.

Ada banyak teori narasi dalam penulisan, seperti struktur tiga babak (Freytag’s Pyramid), menekankan pentingnya konflik dan klimaks. Namun, penulis besar dunia seperti Virginia Woolf atau Franz Kafka menunjukkan bahwa cerita bisa lebih tentang pengalaman atau suasana daripada struktur tradisional. Jadi dalam sebuah cerpen tidak harus selalu memiliki konflik dan klimaks untuk dianggap sebagai cerpen. Penulis bebas untuk bereksperimen dengan struktur sesuai visi artistiknya.

Dalam praktik kreatif, tidak ada keharusan absolut bahwa cerpen harus memiliki konflik atau klimaks. Ini poin pentingnya: a. Cerpen reflektif atau kontemplatif bisa bersifat datar, lebih menekankan suasana, pemikiran, atau perasaan daripada aksi. b, Cerpen impresionistik kadang hanya menangkap momen atau kesan tanpa perkembangan konflik. c. Cerpen eksperimental bisa menolak struktur naratif tradisional dan tetap dianggap sah sebagai karya sastra.


Ilustrasi membaca buku di perpustakaan. (FOTO: AI ChatGPT)
Ilustrasi membaca buku di perpustakaan. (FOTO: AI ChatGPT)

Tzvetan Todorov seorang pemikir Bulgaria-Prancis yang sangat berpengaruh dalam bidang filsafat, teori sastra, semiotika, dan sejarah intelektual melalui teori naratologinya menyatakan, “Cerita adalah perubahan dari keseimbangan ke ketidakseimbangan, dan kembali ke keseimbangan.” Namun, perubahan ini tidak harus berupa konflik besar; bisa juga perubahan suasana hati, pencerahan batin, atau sekadar pergeseran cara pandang. Dan menurut Burhan Nurgiyantoro dalam “Teori Pengkajian Fiksi” (2010), “Bukan konflik besar yang menjadi tolok ukur, melainkan intensitas pengalaman yang dihadirkan”.

Makna, dalam sastra, tidak selalu muncul dari pertarungan atau ledakan dramatis. Kadang, makna lahir dari “keheningan,” dari “apa yang tidak terjadi”. Cerpen-cerpen seperti “A Clean, Well-Lighted Place” karya Hemingway menawarkan pengalaman eksistensial, bukan ledakan dramatik.

Berikut beberapa kutipan dari sastrawan dunia tentang cerpen dan konflik:

“Cerpen adalah sepotong kehidupan yang dipadatkan, seringkali tanpa perlu ledakan atau perang besar, cukup dengan kegelisahan kecil yang getir” (Goenawan Mohamad). ” Bukan ledakan konflik yang membuat cerita hidup, melainkan napas kehidupan yang meresap di dalamnya” (Raymond Carver). “Cerpen adalah seni mengisyaratkan, bukan menegaskan” (Anton Chekhov). “Sastra bukanlah soal apa yang terjadi, tetapi bagaimana merasakan apa yang tidak terjadi” (Haruki Murakami).

Jika anda tidak suka dengan sebuah cerpen, anda sebagai pembaca/ penikmat sastra (cerpen) perlu memahami, bahwa menulis cerpen berarti memasuki ruang kebebasan. Konflik dan klimaks bisa menjadi pilihan, bukan paksaan. Cerpen yang lirih, datar, atau penuh perenungan tetaplah cerpen selama mengandung jiwa cerita—sebuah pengalaman, suasana, atau pencerahan yang ditawarkan kepada pembaca.

Jadi cerpen tidak berdosa jika tanpa konflik atau klimaks. Ia hanya memilih jalannya sendiri. Sebagaimana kata Kahlil Gibran, “Seni adalah langkah dari alam menuju yang tak terbatas.” Cerpen adalah seni, dan seni adalah kebebasan.

Dalam konteks kajian sastra, meskipun cerpen umum identik dengan keberadaan konflik sebagai pendorong alur, cerpen kontemplatif menunjukkan bahwa karya bisa bermakna dan efektif walaupun konflik lebih samar atau bahkan absen, selama bahasa dan suasana mampu membangkitkan resonansi emosional dan intelektual pembaca. (maspril aries)

Tagged: