Gua Jepang di Km 5 Palembang. (FOTO: D Oskandar)
KINGDOMSRIWIJAYA – Dalam catatan sejarah tertulis, Jepang pada masa lalu berhasrat membangun sebuah imperium di Asia. Pemerintah Jepang ingin membentuk sebuah Negara Asia Timur Raya dengan Jepang sebagai pemimpinnya.
Jepang juga berambisi mengusai sumber daya alam untuk menjadikan negara dengan pasukan “Dai Nippon” tersebut sebagai sebuah kekuatan militer terkuat di dunia. Oleh sebab itu Jepang berhasrat menguasai negara-negara atau kawasan Selatan Asia yang memiliki SDA berlimpah, termasuk Indonesia dengan ekspansionisme militer sejak awal abad ke-20.
Tentara Jepang pun berangkat menuju Asia Tenggara guna mendapatkan bahan baku industri guna memenuhi kebutuhan sumber-sumber ekonomi, dan untuk menciptakan suatu landasan pasok ekonomi yang penting demi kelangsungan perang di kawasan tersebut. Indonesia pun diserang. Penyerangan Jepang ke Indonesia pertama kali pada 10 Januari 1942, pasukan atau tentara Jepang menyerbu daerah Kalimantan yaitu Tarakan dan Balikpapan.
Menurut Suliswantoro Bangkit Primantono dan Johannes Hanan Pamungkas dalam penelitian “Studi Bunker Jepang di Lumajang Tahun 1942-1945” (2017), selama berkuasa di kawasan yang kemudian memproklamasikan diri sebagai negara Republik Indonesia, selain mengambil SDA dan SDM (Sumber Daya Manusia) – Romusha – saja, namun Jepang juga membuat sistem pertahanan untuk mempertahankan wilayah yang dikuasainya. Jepang membuat banyak bunker, gua dan lubang perlindungan yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar di seluruh Indonesia.

Gua atau bunker yang banyak tersebut juga ada atau dibangun di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Salah satunya, Gua Jepang yang berada di Jalan AKBP H Umar atau di belakang Pasar Km 5. Masyarakat menyebutnya “gua” walaupun bangunan tersebut adalah “bunker”. Pada pekan ini Dinas Kebudayaan Palembang yang melakukan survei ke gua Jepang tersebut berencana menaikan statusnya dari Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) menjadi Objek Cagar Budaya (OCB).
Selain, gua Jepang di Jalan AKBP Umar tersebut, di Palembang ada beberapa bunker lainnya yang menjadi peninggalan tentara Jepang atau Dai Nippon. Ada bunker Jepang di kawasan Jakabaring, di Lorong Sikam Plaju, Kawasan Lebong Gajah Prumnas Sako, Jalan Joko dan di belakang Rumah Sakit Charitas.
Survei dilakukan Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Palembang Septa Marus Eka Putra dan staf bersama Vebri Alintani Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya (AMPCB) dan anggotanya. Saat survei ke gua Jepang di Jalan AKBP H Umar, walau bangunan gua atau bunker masih terlihat berdiri kokoh namun bagian depannya telah roboh. Gua yang berada di lahan seluas sekitar dua hektare dipenuhi semak belukar dan sampah, lahannya diduga ada yang djual oknum warga.
Ketua AMPCB Vebri Alintani, menyayangkan terbengkalainya gua-gua peninggalan Jepang yang ada di Palembang, bahkan sampai ada yang lahannya diperjual belikan. “Seharusnya gua ini dan lahannya menjadi milik negara namun telah dikuasai oknum, dan ada dijadikan pemukiman. Setelah Indonesia merdeka, tanah yang sebelumnya dikuasai Jepang seharusnya dikembalikan ke negara. Tapi karena prosesnya lambat, tanah ini malah dikuasai oknum warga”, katanya.
Menurut Vebri, ke depan AMPCB akan melakukan kajian agar peninggalan-peninggalan Jepang ini sebagai defence heritage atau budaya yang bernilai pertahanan termasuk Gua Jepang.

“Kita akan lakukan kajian dan membuat rekomendasi dengan meminta dan mengadvokasi pemerintah karena pemerintahlah yang punya wewenang, punya kekuasaan dan anggaran untuk merevitalisasi gua Jepang ini. Gua-gua Jepang yang ada di Palembang kini kondisinya sudah sangat memprihatinkan, terancam hancur atau punah sehingga butuh perhatian serius pemerintah”, katanya.
Gua Jepang atau bunker peninggalan Jepang lainnya yang ada di Palembang, seperti halnya gua atau bunker Jepang yang ada di daerah lain, memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya alternatif bagi masyarakat di Palembang atau Sumatera Selatan (Sumsel). Jika kemudian jadi ditetapkan sebagai cagar budaya maka diperlukan upaya lebih lanjut untuk memperbaiki kondisi gua dan memastikan pengelolaan yang baik sehingga bisa menjadi destinasi wisata di Palembang.
Instalasi Militer Jepang
Balai Pelestarian Cagar Budaya atau Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V Jambi telah mendata gua atau bunker Jepang yang ada di Palembang. Ada tujuh bunker Jepang di Palembang. Pertama, bunker Charitas di Jalan Sudirman Kelurahan 20 Ilir Samping Rumah Sakit Caritas. Kedua, bunker Jepang AKBP Umar di Jalan AKBP Umar No. 533 Rt. 5B Kelurahan Ario Kemuning Kecamatan Ilir Timur I. Ketiga, bunker Jepang Karya Ibu di Jalan Rimba Kemuning Km 5 Kelurahan Ario Kemuning, Kecamatan Ilir Timur. Keempat, bunker Jepang Jalan Joko di Jalan Joko RT 21 Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Ilir Barat II, yang masuk dalam area Kodim 0418 Palembang/ Kodam II Sriwijaya, di sini ada dua bunker.
Kelima, bunker Jepang Jakabiring di Jalan Simpang Tiga Binangun (arah MAN 3 Palembang). Keenam, bunker Jepang Kompleks Pertahanan Jepang Sikam di Jalan Lorong Sikam Kelurahan 16 Ulu Kecamatan Plaju di sini ada dua buah bunker dan enam buah tempat meriam. Ketujuh, Kompleks pertahanan udara Jepang Lorong Hikmah di Lorong Hikmah Jalan Kapten Ruben Kadu, Telaga Putri Plaju Darat di sini ada emat pertahanan udara/tempat meriam.
Menurut Muhammad Riyad Nes dalam penelitiannya, “Tipologi Instalasi Militer Jepang di Kota Palembang, Sumatera Selatan” (2018) bunker atau masyarakat menyebut gua Jepang tersebut merupakan instalasi militer pada masa pendudukan Jepang, yang dibangun berkelompok di suatu kawasan secara tersebar di Kota Palembang.

Berdasarkan posisi atau letaknya bunker di di Palembang dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu bunker di daerah perbukitan dan bunker di daerah pertambangan minyak. Bunker yang berlokasi di wilayah perbukitan berbentuk persegi dan bentuk huruf U mempunyai ruang di dalam, sedangkan di wilayah pertambangan minyak berbentuk persegi dan mempunyai halaman terbuka di dalamnya dan terdapat kedudukan meriam di sekitar luar bunker.
Kondisi ini berdampak pada jenis bangunan pertahanan yang dipersiapkan dalam menghadapi serangan musuh, bangunan pertahanan pada masa itu dibangun menyebar tidak terpusat dan ditempatkan di lokasi yang stategis dan mampu mengamankan areal yang luas. Selain itu bunker juga dibangun untuk menghambat laju pergerakan musuh.
“Adapun fungsi dari instalasi militer tersebut adalah untuk mempertahankan wilayah tambang minyak di Kota Palembang dan sebagai basis pertahanan serta tempat untuk mengintai musuh”, tulis Muhammad Riyad Nes.
Tentara Jepang mendarat di Palembang setelah berhasil menduduki Tarakan di Kalimantan. Dari situ tentara Dai Nippon selanjutnya menyerang daerah lain di Hindia Belanda, daerah kedua yang menjadi sasaran adalah Palembang atau Sumatera. Serangan ke Palembang terjadi dini hari Sabtu tanggal 12 Februari 1942, dua hari kemudian pada 14 Februari 1942 ratusan pasukan payung Jepang dan berhasil menguasai Palembang dalam waktu singkat. Tentang serangan Jepang ke Palembang ditulis sejaraan Mestika Zed dalam buku “Kepialangan Politik dan Revolusi: Palembang 1900-1950” (2003).
Menurut catatan sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel) Djohan Hanafiah dalam “Sejarah Perkembangan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang” (1988), Palembang memiliki kedudukan khusus dalam strategi militer Jepang karena Palembang kaya akan minyak mentah dan Jepang butuh itu untuk angkatan perangnya.

Pada masa itu daerah Palembang dan sekitarnya mengutip JJ Nortier dalam “De gevechten bij Palembang in Februari 1942” (1985), merupakan wilayah yang kaya akan ladang minyak se Sumatera yakni kilang minyak BPM (Bataafse Petroleum Maatschappij) di Plaju dan NKPM (Nederlandse Koloniale Petroleum Maatschappij) di Sungai Gerong yang merupakan dua perusahaan pemasok minyak penerbangan beroktan tinggi dan penyuplai sebagian besar angkatan udara di Pasifik.
Catatan lain dari D Jong dalam “Het Koninkrijk” (1969), di sisi lain kepentingan akan memenangi Perang Asia Timur Raya ini Jepang membutuhkan sekitar 7,9 ton minyak. “Dengan latar belakang menjadi bukti konkret bahwa Jepang akan memanfaatkan penuh perekonomian Palembang pada tahun 1942-1945 sebagai pendukung dan penyokong kekuatan perang”, tulis Andromeda Aderoben, Ira Septiansi, dan Syarifuddin dalam “Ekonomi Perang Jepang di Palembang, 1942-1945” yang terbit tahun 2022.
Mengapa tentara Jepang membangun banyak bunker di wilayah yang didudukinya? Seperti penjelasan Muhammad Riyad Nes, bunker-bunker Jepang tersebut adalah instalasi militer yang dibangun sebagai bagian strategi pertahanan Jepang dalam Perang Dunia II.
Dalam menghadapi potensi serangan balik dan invasi, dari tentara sekutu terutama Amerika Serikat dengan kekuatan industri dan militer yang jauh lebih besar, bagi Jepang ini menjadi ancaman nyata keberlangsungan kekuasaan Jepang di wilayah pendudukan. Maka tentara Jepang mengembangkan strategi pertahanan yang berfokus pada pertahanan statis yang mendalam yaitu dengan membangun garis pertahanan berlapis dengan memanfaatkan bentang alam dan struktur buatan untuk memperlambat dan menghancurkan musuh sebelum mereka mencapai target strategis.
Selain itu tentara Jepang dilatih untuk melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan. Mereka dididik dan dilatih bertempur dengan fanatik dan tidak menyerah, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Hal ini tercermin dalam taktik “Gyokusai” atau serangan bunuh diri terhormat.

Alasan utama pembangunan bunker dan gua di Indonesia karena kondisi geografis indonesia yang mendukung sebagai wilayah kepulauan dengan topografi yang beragam, mulai dari pegunungan vulkanik, hutan tropis yang lebat, hingga garis pantai yang panjang dan berliku. Kondisi ini menyediakan banyak lokasi alami yang ideal untuk pembangunan benteng pertahanan bawah tanah.
Gua-gua alami dapat dimodifikasi dan diperluas, sementara lereng bukit dan tebing pantai dapat digali untuk membangun bunker yang tersembunyi dan sulit dijangkau. Tentara Dai Nippon juga melihat adanya ancaman serangan balik sekutu yang akan berusaha merebut kembali beberapa wilayah strategis di Nusantara. Bunker atau gua adalah cara efektif untuk bertahan dari serangan udara, pendaratan amfibi, dan serangan darat.
Tentara Jepang belajar dari data dan peristiwa sejarah pada pertempuran di Pasifik, seperti pertempuran Guadalcanal dan Iwo Jima, menunjukkan betapa efektifnya pertahanan statis Jepang yang memanfaatkan bunker dan posisi-posisi tersembunyi dalam menghadapi gempuran tentara sekutu. Pengalaman ini kemungkinan besar mempengaruhi strategi pertahanan Jepang di Indonesia.
Kemudian dari data sejarah, di beberapa lokasi, ditemukan bunker yang dilengkapi dengan fasilitas komunikasi seperti telepon dan telegraf, yang mengindikasikan peran pentingnya sebagai pusat komando. Juga ditemukan sisa amunisi dan perbekalan yang menjadi bukti bahwa bunker dan gua juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan amunisi, bahan bakar, makanan, dan perbekalan militer lainnya.
Dalam membangun bunker tersebut, tentara Jepang memanfaatkan tenaga kerja lokal atau pengerahan tenaga kerja paksa yang disebut Romusha dari penduduk lokal. Catatan sejarah menyimpan keterangan saksi sejarah dan catatan dokumenter yang menceritakan tentang penderitaan Romusha yang dipaksa bekerja dalam kondisi yang sangat buruk selama pembangunan bunker dan gua.
Bukittinggi dan Morotai

Kini di seluruh pada beberapa daerah di Indonesia banyak tersisa bangunan bunker Jepang atau gua Jepang yang diberdayakan sebagai destinasi wisata yang menarik wisatawan domestik dan mancanegara datang. Salah satu yang gua Jepang yang terkenal sebagai destinasi adalah gua Jepang yang ada di Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar).
Masyarakat menyebut gua ini sebagai “Lubang Japang” atau Lubang Jepang yang merupakan salah satu objek wisata yang yang berada di tengah taman panorama di Ngarai Sianok di bawah kota Bukittinggi. Lubang Japang ini memiliki panjang 1400 m dan berkelok-kelok. Terowongan ini letaknya sekitar dua meter di bawah permukaan tanah kota Bukittinggi.
Pada masa lalu, Bukittinggi pernah menjadi markas besar Angkatan Darat ke-25 Jepang untuk Sumatera. Di sekitar kota ini, terutama di daerah Ngarai Sianok, ditemukan jaringan gua yang digunakan sebagai tempat persembunyian, penyimpanan, dan pusat komando.
Di kawasan timur Indonesia ada juga gua atau bunker peninggalan Jepang yang terkenal di Morotai yang juga menjadi destinasi wisata. Bunker tersebut berada di Pulau Morotai, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara.
Bunker ini peninggalan Perang Dunia II dibangun sekitar tahun 1944, ketika Jepang menjadikan Morotai sebagai pangkalan militer di kawasan Asia Pasifik. Bunker terbuat dari beton yang kokoh, dirancang untuk menahan serangan bom dan peluru. Di dalamnya memiliki ruang-ruang kecil di dalamnya yang digunakan untuk menyimpan senjata dan amunisi serta sebagai tempat persembunyian tentara.
Kini bunker Jepang di Morotai menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik. Pulau Morotai juga memiliki Museum Perang Dunia II yang menampilkan berbagai artefak perang, termasuk senjata dan dokumen sejarah. (maspril aries)






