Home / Bisnis / Gas Indonesia (Sumsel) Stop, Singapura Bisa Gelap Gulita

Gas Indonesia (Sumsel) Stop, Singapura Bisa Gelap Gulita

Berita Harian Batam Pos Tahun 2018 tentang pasokan gas Indonesia ke Singapura. (FOTO: Maspril Aries)

KINGDOMSRIWIJAYA – Hubungan Indonesia dan Singapura sedang hangat. Hangat yang tidak panas gara-gara kabut asap atau jerebu yang kemudian meluas sampai ke urusan pasokan gas bumi atau gas alam dari Indonesia ke negara pulau tersebut. Untuk urusan gas, Indonesia secara resmi memberlakukan pengurangan (bukan stop) aliran gas bumi melalui pipa menuju Singapura sebesar 31 BBTUD (Billion Bristh Thermal Unit Per Day). Keputusan ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pemerintah Indonesia melalui SKK Migas resmi memangkas pasokan gas alam ke Singapura sebesar 31 BBTUD. Pasokan gas tersebut sebanyak 15 BBTUD berasal dari sumur gas di Natuna Barat dan sebanyak 16 BBTUD dari Grissik di Sumatera Selatan (Sumsel). Menurut Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, langkah ini didasarkan pada Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, khususnya Pasal 8 ayat (1) yang mengutamakan pemanfaatan gas alam untuk kebutuhan dalam negeri.

Gas yang mengalir Singapura melalui pipa bawah laut dialihkan atau disalurkan ke PLN Batam melalui jalur pipa WNTS–Pulau Pemping–Batam (dari Natuna) dan ke kebutuhan listrik Batam, Bintan, serta Sumatera melalui jalur PT Transgasindo Indonesia (TGI). Menurut Menteri Bahlil, kebijakan ini bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional, dan pemerintah sedang meninjau kemungkinan tidak memperpanjang kontrak ekspor yang akan berakhir 2028.

Pasokan 31 BBTUD tersebut berasal dari wilayah produksi yang dikelola Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Medco E&P Grissik, PetroChina Jabung, Prime Natuna EP (Natuna Blok Sea A), serta Medco (South Natuna Sea Block B). Total ekspor gas pipa Indonesia dari Laut Natuna dan Sumatera Selatan dan Jambi mencapai 409,55 BBTUD, selain pula sekitar 146 kargo LNG yang dikirim ke Singapura.

Langkah Indonesia memotong pasokan gas sebesar 31 BBTUD ke Singapura merupakan manifestasi nyata dari doktrin ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Menurut Menteri ESDM, pemotongan pasokan gas ke Singapura tersebut tidak melanggar aturan, karena masih dalam batas minimal ekspor.


Tanpa listrik patung Merlion tidak bisa semburkan air. (FOTO: Aina RA)

Atas keputusan tersebut Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan, bahwa pasokan gas dari Indonesia tersebut dilindungi kontrak komersial; pihak importir akan mengambil langkah hukum untuk melindungi hak kepemilikan kontrak.

Apa yang terjadi saat ini, masalah pasokan gas bumi dari Indonesia ke Singapura mengingatkan kepada Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) periode 2008 – 2013 & 2013 – 2018 Alex Noerdin (almarhum). Gubernur Alex Noerdin sejak awal masa menjabat, jika bicara tentang energi Sumsel selalu mengingatkan bahwa pasokan energi untuk listrik di Singapura dari Sumsel (Grissik) yang berasal dari Blok Corridor di Musi Banyuasin (Muba).

Alex Noerdin sempat berseloroh, “Singapura menyelenggarakan balapan Formula One pada malam hari dengan listrik tidak boleh padam. Dari mana gasnya untuk menggerakkan pembangkit listriknya? Dari Sumsel,” katanya.

Harus diakui, walaupun ini akan dibantah oleh Singapura. Selama ini energi listrik Singapura sangat bergantung pada pasokan gas bumi dari Indonesia. Singapura mengandalkan suplai gas alam melalui pipa bawah laut dari Indonesia yang berasal dari West Natuna dan Grissik atau Pagardewa di Sumatera Selatan (Sumsel).

Mari ingatan kita mundur ke belakang ke tahun 2021, Singapura terancam krisis listrik akibat terkendala pasokan gas dan serta melonjaknya harga gas dan harga bakar lainnya. Di sisi lain tingginya permintaan gas membuat harga gas di pasar internasional pun melonjak. Data menunjukkan, sejak Januari 2021 harga gas alam telah naik hingga 250 persen. Kenaikan harga gas berdampak kenaikan tajam tarif dasar listrik.

Kenaikan harga gas dan berkurangnya pasokan gas masa itu berdampak juga di Singapura saat itu. Ancaman krisis listrik tahun 2021 bisa dilacak dari jejak digital media massa yang saat itu ramai memberitakan krisis listrik yang mengancam Singapura. Situs media online menulis berita dengan judul “Bukan Hoax! Negara Tetangga Bisa Hidup Gelap Gulita Gegara RI” dan “Ini Nyata! Gegara RI, Singapura Bisa Hidup dalam Kegelapan.” Berita lainya berjudul “Pilunya Singapura: Diambang Krisis Listrik-Tagihan Membengkak.”

Krisis energi di Singapura tersebut terjadi pada Oktober – November 2021 akibat gabungan gangguan pasokan gas dari Indonesia, harga LNG melonjak global, dan permintaan tinggi. Imbasnya, ada tiga perusahaan retail listrik di Singapura memutuskan berhenti dari bisnis listrik. Singapura adalah negara yang menerapkan pasar listrik terbuka untuk rumah tangga sejak 2018.


Karyawan Medco yang mengawal sumur gas Grissik di Blok Corridor. (FOTO: Humas Medco)

Tiga perusahaan retail listrik yaitu iSwitch perusahaan retail listrik independen terbesar di Singapura, Ohm Energy dan Best Electricity memutuskan menghentikan bisnis untuk menjual setrum ke konsumen. Kemudian perusahan lainnya, Union Power juga akan menghentikan sekitar 850 akun retailnya untuk reorganisasi bisnis.

Selama ini energi listrik Singapura sangat bergantung pada pasokan gas alam dari Indonesia. Singapura mengandalkan suplai gas alam melalui pipa bawah laut dari Indonesia yang berasal dari West Natuna dan Grissik atau Pagardewa di Sumatera Selatan (Sumsel). Otoritas Energi Singapura atau EMA (Energy Market Authority) Singapore menjelaskan adanya pembatasan gas alam dari West Natuna dan rendahnya gas yang dipasok dari Sumsel.

Berdasarkan data BP Statistical Review of World Energy 2021, konsumsi gas alam Singapura pada 2020 sekitar 1,22 miliar kaki kubik per hari (BCFD), naik dari 2019 sekitar 1,21 BCFD. Sementara itu ekspor gas RI ke Singapura dari dua ladang migas tersebut selama ini rata-rata 737,2 BBTUD berarti sekitar 60 persen pasokan gas Singapura berasal dari Indonesia. 

Data dari PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) mencatat tahun 2019 pasokan gas dari Indonesia yang berasal dari Grissik (Sumatera Selatan) sebesar 410 MMSCFD atau naik 1 persen dari tahun 2018 sebesar 406 MMSCFD.

Pasokan gas untuk energi listrik Singapura dari Sumsel sudah sejak lama berlangsung. Bermula dengan dibangunnya jaringan pipa gas dari Pagardewa – Grissik ke arah Duri dan Dumai serta ada yang menyebrang ke Batam di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melalui pipa bawah laut. Dari Batam pipa gas tersebut tersambung ke Singapura. Jaringan pipa transmisi gas dari Grissik sampai ke Singapura panjangnya mencapai 468 km berdiameter 28”.

Pembangunan jaringan pipa dari Grissik – Duri – Batam dan Singapura yang bermula tahun 1998, pada beberapa lokasi pipa gas di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) sempat menuai gugatan ke pengadilan negeri dari perusahaan perkebunan yang ada di daerah itu, karena melalui lahan mereka.

Kemudian pada tahun 2003 pipa transmisi Grissik – Batam – Singapura selesai pembangunannya. Ini merupakan jaringan pipa hilir gas bumi pertama yang melintasi batas negara antara Indonesia dan Singapura. Pipa transmisi ini kemudian dioperasikan oleh PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) Grissik-Batam-Singapore Transmission.


Marina Bay Sands Resort yang disebut resort termahal di dunia. (FOTO: Maspril Aries)

Berikut gambaran pasokan gas dari Indonesia ke Singapura yang dimulai tahun 2001. Gas dialirkan melalui pipa gas bawah laut Natuna – Singapura (West Natuna Transportation System/WNTS). Pipa ini menyalurkan gas dari Lapangan Gas Natuna Barat ke Singapura. Panjang pipa Global Energy Monitor dan LNG Atlas sepanjang 640 km data lain menyebutkan panjang pipa 654 km dan 656 km.

Sementara pipa gas bawah laut dari Sumatera dimulai dari Batam – Singapura (Grissik/Batam/Singapore Pipeline) dan mulai beroperasi tahun 2003 dengan panjang pipa menurut LNG Atlas 468 km dan menurut Global Energy Monitor sekitar 465 km, tapi ada juga yang menyebutkan panjang pipa bawah laut Batam – Singapura sepanjang  470 km.

Pipa gas antara Batam – Singapura dengan sumber gas dari Grissik, Sumatera Selatan peresmian operasinya pada 4 Agustus 2003 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri bersama Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong di Batam. Peresmian tersebut menandai dimulainya ekspor gas Indonesia ke Singapura melalui pipa bawah laut. Sejak saat itu Indonesia menjadi pemasok energi utama bagi Singapura melalui kontrak jangka panjang. Gas tersebut dimanfaatkan untuk untuk pembangkit listrik serta sektor industri dan petrokimia Singapura.

Berdasarkan data 2025 produksi listrik Singapura mencapai sekitar 60,1 TWh (terawatt-hour) dengan konsumsi/demand listrik sekitar 60,4 TWh. Sekitar 91% listrik Singapura dibangkitkan menggunakan gas alam. Produksi listrik dari gas mencapai sekitar 54,8 TWh.

Selama ini energi listrik Singapura sangat bergantung pada pasokan gas alam dari Indonesia. Singapura mengandalkan suplai gas alam melalui pipa bawah laut dari Indonesia yang berasal dari West Natuna dan Grissik atau Pagardewa di Sumatera Selatan (Sumsel).

Jadi bayangkan apa terjadi dengan listrik di Singapura jika pasokan gas dari Indonesia terhenti? Selain gelap yang melanda, jaringan dan penggunaan internet juga tidak dapat beroperasi maksimal di negara tersebut.


Salah satu tempat menarik wisatawan di Singapura. (FOTO: Maspril Aries)

Gas Asean

Bagi negara-negara Asean termasuk Indonesia dan Singapura, pernah bersepakat membangun jaringan pipa gas alam melalui pipa bawah laut sebagai bagian kerja sama Trans-ASEAN Gas Pipeline (TAGP), kerja sama energi di bidang gas intra Asean dengan fokus pada sektor mineral dan energi yang diarahkan untuk membangun jaringan/ interkoneksi di bidang energi dan utilitas untuk sub-sektor gas bumi di kawasan Asia Tenggara.

Kerja sama ini ditandatangani pada tahun 2002 dalam sebuah nota kesepahaman (Memorandum of Understaning/MoU) TAGP yang ditandatangani oleh wakil seluruh negara anggota ASEAN. Kerja sama ini melibatkan berbagai perusahaan migas baik itu nasional maupun swasta di negara-negara ASEAN.

Ada PetroleumBrunei, The Cambodian National Petroleum Authority (CNPA), Pertamina, Petronas, Myanmar Oil and Gas Enterprise (MOGE), The Ministry of Energy and Mines of Laos PDR, Philippine National Oil Company (PNOC), Singapore Petroleum Co. Ltd., Petroleum Authority of Thailand, dan Petro Vietnam. Diantara negara-negara Asean tersebut Indonesia adalah pemilik cadangan gas terbesar di Asia Tenggara sebesar 170,07 triliun standar kubik kaki. Di dunia Indonesia berada pada 13 dari negara-negara penghasil gas utama di dunia.

Pengiriman atau ekspor gas alam ke negara-negara Asean menjadi pilihan karena memang lebih menguntungkan dan murah dibanding pengiriman gas alam dalam bentuk LNG menggunakan kapal. Di Asean pengiriman melalui gas jaringan pipa tumbuh rata-rata sebesar 40 persen per tahun. Pengiriman gas alam dalam bentuk LNG terus mengalami penurunan.

Singapura adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak memiliki sumber daya energi yang dapat dieksplorasi. Untuk memenuhi kebutuhan energi khususnya gas alam, Singapura mengimpor dari negara tetangga, Indonesia dan Malaysia. Awalnya Singapura mulai membeli gas alam dari Malaysia sejak 1992 guna memenuhi kebutuhan pembangkit listrik Senoko. Ada sekitar 1,55 miliar kubik meter gas per tahun yang dikirim langsung dari Kertih, Trengganu melalui Segamat, Johor (Malaysia) dan diteruskan ke Singapura. 

Gas dialirkan dari Malaysia tersebut disalurkan melalui pipa yang panjangnya sekitar 730 km yang dibangun dalam program Malaysia  Peninsular Gas Utilisation (PGU-II) fase 2. Namun kerja sama ini terhenti,  Singapura protes karena menganggap Malaysia telah memasok gas alam dengan kualitas CO2 yang rendah ke Singapura. Kemudian negara itu beralih membeli gas dari Indonesia dengan alasan kualitas gas alam Indonesia yang berasal dari Natuna jauh lebih baik karena mengandung 72 persen karbon dioksida.


Transportasi umum di Singapura yang nyaman pada malam hari. (FOTO: Maspril Aries)

Lalu mulailah beroperasi jaringan gas Indonesia – Singapura dari ladang gas di Natuna Barat melalui jaringan pipa gas lintas negara yang dioperasikan pada tahun 2001, dari ladang gas menuju ke Pulau Jurong untuk kepentingan  pembangkit listrik dan perusahaan petrokimia.

Pembangkit listrik Singapura yang beroperasi dengan gas dari Natuna adalah SembCorp Co-Gen, Tuas Power dan Power Seraya. Berdasarkan kesepakatan kerja sama yang ditandatangani tahun 2001 Indonesia mengekspor gas sebesar 325 juta kubik kaki per hari dengan durasi kontrak kerja sama perdagangan selama 22 tahun. 

Singapura sebagai negara pulau dengan wilayah yang terbatas membutuhkan dukungan sumber energi lebih ramah lingkungan. Jadi ke depan diperkirakan akan tetap membutuhkan pasokan gas alam dari Indonesia sebagai penggerak energi dan industrinya.

Sebelum krisis energi melanda Singapura tahun 2021 ini, Manager Regional Office 4 PT Transgasindo Indonesia (TGI) Oddi Jaka Rinaldi di Stasiun Metering Gas milik PT TGI di Pulau Pemping di Harian Batam Pos yang terbit 28 September 2018 menyatakan, hingar bingar dan terang benderang Singapura ternyata tak bisa dilepaskan dari peran gas bumi Indonesia. Tanpa suplai dari Pemping di Batam, Provinsi Kepri, Singapura hanyalah negara gelap gulita.

Menurutnya, untuk suplai gas ke pembangkit listrik di Singapura, 50 persen gasnya berasal Grissik yang mengalir menuju stasiun Pemping. Jika terjadi gangguan pada salah satu mesinnya, maka bisa dipastikan Singapura akan gelap gulita. PT TGI adalah anak perusahaan PGN yang bertugas menjadi transportasi gas alam ke pelanggannya di Sumatera, Batam dan Singapura.

Pengurangan pasokan gas Indonesia ke Singapura pada Oktober 2026 merupakan titik penting dalam perubahan paradigma energi Indonesia. Selama puluhan tahun, gas dipandang sebagai komoditas ekspor. Kini pemerintah semakin memandangnya sebagai instrumen ketahanan energi nasional. Bagi Indonesia, manfaat utama adalah bertambahnya ruang untuk memenuhi kebutuhan listrik dan industri domestik. Namun terdapat risiko reputasi investasi dan potensi sengketa kontraktual yang harus dikelola secara hati-hati. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *