Home / Budaya / (Diskusi Dialektika Buku) – Ketika Dampu Awang bertaut dalam Perempuan di Tengah Labirin Mal: Membaca Kumpulan Cerpen dari Serakan AI oleh Maspril Aries

(Diskusi Dialektika Buku) – Ketika Dampu Awang bertaut dalam Perempuan di Tengah Labirin Mal: Membaca Kumpulan Cerpen dari Serakan AI oleh Maspril Aries

Oleh: Dedi Irwanto Muhammad Santun (Penggemar Berat Cerpen-Cerpen Sejarah)

Dikotomi Realitas Modernitas vs Nostalgia Tradisional

Ketika Artificial intelligence (AI) mewabah. Maka ada adagium, “Kecerdasan AI itu sesuai dengan penggunanya. Artinya jika sang pengguna bodoh, jelas AI-nya juga akan menjadi bodoh. Sebaliknya, jika penggunanya cerdas, maka AI mampu menjadi alat meningkatkan kualitas diri si penggunanya”. Karena hasil pekerjaan AI itu tetap harus “dihakimi” dan “dinilai” si pengguna. Kecerdasan Bang Maspril (panggilan akrab Maspril Aries), sebagai pengguna AI, menurut saya yang mampu mengelola racikan kata-kata, bukan asal comot, dalam kumpulan cerpen berjudul “Perempuan di Tengah Labirin Mal” ini. 

Sebanyak 32 kumpulan cerpen yang dibukukan ini, dalam penilaian saya, sangat menarik, karena dari teknologi AI, Bang Maspril, mengangkat sebuah tema besar dalam buku ini tentang dikotomi modernitas vs tradisionalisme. Tema ini terlihat mencolok, dengan titiknya pada ketika satu cerita pendek diperpanjang dengan kelanjutannya, Bagian 1 dan Bagian 2-nya.

Persoalan modernitas vs tradisional ini diangkat dalam beberapa konteks. Pertama, hibritas budaya, yang terbaca ketika narasi perempuan mal dari budaya modern dalam “Perempuan di Tengah Labirin Mal” dihadapkan dengan narasi Dampu Awang dalam sosok laki-laki tradisional dalam cerpen“Dampu Awang dan Kutukan Sungai Musi”. Bang Maspril mencoba melihat kontras zaman, dari sebuah fakta realitas masa kini, mal dan perempuan, dengan fiksi masa lalu, Dampu Awang dan Sungai Musi.

Kedua, transisi kultural, terbait dalam cerpen “Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah itu” ketika dihadapkan dengan “Trilogi Cerpen Ponsel Tua”. Bang Maspril dalam babakan cerita ini melihat suatu proses peralihan masyarakat dari tatanan hidup lama, membaca dan membeli di toko buku, menuju tatanan hidup baru berbasis teknologi dan insdustrialisasi, membeli online, dari ponsel tua, buntut yang walau diserang “Malware” dan “Hang”, tapi tetap canggih, mengetik dan memesan berbagai barang secara digital.


Ketiga, dualisme masyarakat, Bang Maspril menambahkan, sebuah kondisi di mana dua sistem sosial yang berbeda, tetapi mampu hidup berdampingan dalam satu wilayah. Bang Maspril, menampilkan si Roni, wartawan dari Sinar Cakrawala yang berjuang di tengah gempuran kehidupan modern yang cepat berubah, dalam cerpen “Obituari yang Tidak Pernah Ditulis”. Dihadapkan dengan sangat apik oleh Bang Maspril, ketika juga menampilkan Sulistio, Kapten dari Brigade Garuda Hitam ditengah kancah perjuangan Perang Kemerdekaan sepanjang tahun 1945- November 1949, dalam cerpen “Sumpah Garuda Hitam”. Pada tataran ini Bang Maspril, mampu memaksa AI untuk membuat cerita dalam bingkaI satu modern dan satu tradisional. Tidak saja memaksa AI untuk mengembangkan dua narasi berbeda zaman, tetapi ada kemampuan besar Bang Maspril, dalam mempengaruhi narasi ini. Bang Maspril mengembangkan lewat AI cerita dari sosok sang wartawan “benaran”, Goenawan Mohamad untuk “Obituari yang Tidak Pernah Ditulis”. Sekaligus juga sosok Noerdin Pandji, ayahanda Gubernur Alex Noerdin untuk “Sumpah Garuda Hitam”. Peran besar, Bang Maspril, tidak saja memerintah AI untuk mengadaptasi kedua sosok itu menjadi cerita pendek, tetapi ia memberi penilai yang baik dan lugas, dari tugas pengembangan yang diamanatkan ke AI.   

Mengurai Konteks Sejarah dan Konteks Sastra

Sebagai penulis Sejarah, saya ingin mengeksplor, bingkai cerita pendek “Perempuan di Tengah Labirin Mal” sebagai sebuah gambaran historis, bagaimana fenomena psikologis dan sosiologis yang nyata, dari paparan modernitas ekstrem kota. Hidup ditengah kepungan mal merupakan realitas budaya-ekonomi yang membingkai perempuan urban modern abad ke-21. Tatkala era awal 1960-an, sebagai bentuk simbol modernisasi nasional, tiba-tiba para perempuan kita dibuatkan Sarinah Mal oleh Bung Karno. Yang tujuan awalnya, mal mampu menjadi etalase barang produksi dalam negeri sekaligus simbol bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara modern lainnya.

Tetapi, mal mulai berubah pendulum, sejak era Orde Baru menjadi kata yang apparel dengan ledakan konsumerisme, memicu lahirnya kelas menengah baru dengan daya beli lebih tinggi. Mal bergeser dari sekadar tempat belanja menjadi pusat rekreasi keluarga, budaya nongki remaja urban. Selanjutnya, mal di mana era kita hidup sekarang ini, bertransformasi dalam pengalaman sebagai akibat gempuran belanja online, bergeser dari shopping center menjadi lifestyle center. Mal memiliki tujuan dengan fokus baru “dominasi” kuliner, arena hiburan anak, coworking space, hingga tempat ibadah yang megah untuk menarik pengunjung secara fisik. Kondisi seperti inilah, dalam bahasan cerita Bang Maspril, yang sekarang menyandera perempuan kita, sekaligus “menguras” kelelakian laki-lakinya. Tetapi walau perempuan “tersandera” dan laki-laki “terkuras”, mereka hanya bisa mengumpat dalam “kutukan diam”, beban luka yang tidak terucapkan.


Menariknya, Bang Maspril dalam cerpen “Dampu Awang dan Kutukan Sungai Musi” mempertunjukan metafora sebaliknya. Walau bukan berangkat dari realita, tokoh Dampu Awang, adalah OKB (orang kaya baru) yang tatkala merantau menggunakan kapal kecil, tetapi ketika pulang berkapal besar. Ketika berubah menjadi “besar”, Dampu Awang merasa malu, menolak dan mengusir ibu kandungnya nan miskin. Sang ibu terzalimi, berdoa meminta supaya Musi mengutuk anak durhakanya, badai dahsyat datang, Dampu dan kapalnya membatu di Batu Ampar, 1 Ilir, Palembang. Berbeda dengan masa sekarang ketika kita di tengah labirin mal, maka pada masa lalu dalam labirin “kekayaan-nya”, kutukan tidak diam, kutukan nyata dengan kerja kutukan menjadi matra penghancur, kutukan diteriakkan.

Pada konteks sastra, Bang Maspril, mengideisasikan narasi-narasi tentang realisme dan romantisme, yang dalam pertentangan seperti inilah, Bang Maspril, melalui mesin penjelajah AI-nya, ingin menuliskan bahwa selalu ada suatu paradoks modernitas. Dimana ada situasi dalam kehidupan manusia, saat kemajuan teknologi modern yang tetap berjalan beriringan dengan masih kuatnya kepercayaan ritual tradisional dalam labirin “kutukan”, sapatha, khas Palembang. Bang Maspril melalui mesin penjelajahnya masih melihat relevansi kuat tentang makna kutukan, baik dalam nostalgia masa lalu maupun realitas masa kini.

Melalui buku kumpulan Cerpen setebal 212, (mengingatkan sosok pendekar Wiro Sableng), Bang Maspril membuat inisiasi cerita yang mengedukatif. Bang Maspril membuktikan bahwa di kumpulan cerpennya ini memuat pelajaran sejarah, dari narasi masa lampau yang selalu berkontinuitas dengan realita, di masa kini dalam gerusan perubahan zaman. Pelajaran ini jika dipahami selalu terjalin baik dalam setiap pergantian sajian cerita pendek dari judul ke judul berikutnya. Dengan begitu, setelah selesai membaca buku kumpulan cerpen ini, ada banyak pengetahuan dan nilai mengenai sejarah dan nilai dari perubahan masa yang akan kita dapatkan. Yang paling menarik dari buku ini, Bang Maspril ingin memberitahu kepada kita semua, bahwa kehadiran AI di depan kita saat ini tidak menggusur pekerjaan, tetapi sebaliknya malah membantu. IA bagi Bang Maspril hanya sumber inspirasi, tetapi Bang Maspril sebaliknya merubahnya lebih bisa beradaptasi dalam menarasikan cerita-cerita pendek yang dikumpulkannya. Pokoknya, melalui tulisan ini Bang Maspril ingin tetap mendudukan AI sebagai robot narasi yang diciptakan oleh Bang Maspril untuk membangun cerita-cerita pendeknya. Selamat membaca. ●

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *